
Flashback ketika Egnor hendak mendatangi Dion.
Malam itu, Egnor mendatangkan dokter yang merupakan temannya untuk memeriksa Viena. Viena tak sadarkan diri dan satu hari itu ia tampak mengeluarkan cairan dalam tubuhnya (muntah). Egnor takut Viena hamil agar dapat megetahuinya lebih dini dan merawatnya dengan baik. Egnor dan Johanes juga cemas Viena mengalamai gangguan mental. Pasalnya prilaku Viena sejak kemarin sangat berlebihan untuk masalah kesedihannya, apalagi ketika Viena menceritakan kisah cinta yang sudah ia jalani bersama Dion.
"Egnor, dugaanmu salah. Adikmu tidak hamil. Dia hanya mengalami gejala gejala yang ..." kata sang dokter namun agak tertahan. Dia agak takut mengatakannya.
"Apa maksudmu David?" Decak Egnor tak sabar.
"Baiklah. Aku akan mengatakannya. Tapi ini masih diagnosisku. Selanjutnya, kau harus memeriksakan kembali pada dokter spesialis kejiwaan!" Jawab David menghela napasnya. Dia merasakan kesedihan yang temannya rasakan.
"Katakan seturut pemeriksaanmu David! Jangan terpotong potong seperti ini! Aku akan menerimanya!" Saut Egnor serius.
"Baiklah, Egnor, Tuan dan Nyonya Jovanca, saya minta maaf, sepertinya Viena mengalami gangguan kejiwaan. Dari sorotan matanya yang kuperiksa dia tampak tak bersemangat dan pandangannya datar. Cairan yang ia keluarkan dari tubuhnya karna ketakutannya terlalu berlebihan sehingga perutnya menjadi kontraksi ringan dan nyeri. Asam lambung naik karna kurangnya asupan makanan. Dia enggan untuk makan karna sistem syarafnya tidak merespon dengan baik. Kepalanya juga sakit karna terlalu banyak berpikir. Sepertinya gangguan ini sangat akut Egnor. Kau harus segera memeriksanya kepada dokter ahli untuk penanganan lebih lanjut dan dini. Viena harus mendapat asukan makakanan, jangan karna kesedihannya yang terlalu mendalam, dia menjadi lemas dan malah sakit yang lainnya." Kata David, teman Egnor itu.
Theres sudah memeluk Anne yang menangis kasihan. Anak perempuan satu satunya yang selalu ceria kini harus mengalami penyakit mental yang akut. Johanes terduduk lemas di sofa kamar Viena. Dia menutup wajahnya. Dia merasa sudah gagal menjadi seorang ayah yang tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Dia sibuk bekerja tanpa memperhatikan perlindungan dan pegawasan pada Viena.
Egnor mengusap dahinya. Dia shock. Sampai seperti ini Viena merasa sedih karna Dion meninggalkannya. Egnor tahu, Viena memikirkan masa depannya yang mana ia takut kalau tidak ada pria yang akan menerima dirinya yang sudah tidak perawan dengan apa adanya.
"David, apa yang harus aku lakukan untuk sekarang? Viena terus seperti ini. Dia akan sadar beberapa saat lagi aku yakin, tapi dia tidak mau melakukan apapun. Makan pun dia tidak ingin. Aku tidak ingin dia kemana mana dulu. Biarkan dia merasakan suasana kekeluargaan yang sangat ia butuhkan. Bisakah, kau membuatkan selang infus untuknya agar dapat menyalurkan makanan?" Pinta Egnor sangat sangat khawatir.
"Ah iya, kau benar Egnor. Aku akan menghubungi asisten perawatku untuk kemari sekarang dan memasangkan infus cairan tubuh untuk adikmu. Tapi, Egnor aku harap ada yang menunggunya. Aku takut ketika sadar dia tidak nyaman dapat melepas infusnya." David menyetujuinya.
"Iya David, kami semua akan menjaganya." Kata Egnor dan mendekati adiknya yang masih tak sadarkan diri, terbujur lemah tak berdaya.
David pun segera menghubungi asisten perawatnya agar datang dan mengurus keperluan infus Viena.
Setelah Viena sudah terpasang infus, semua berhambur ke bawah kecuali Egnor yang masih menunggui adiknya. Untung saja Viena belum sadar, jadi kemungkinan besar dia merajuk karna tidak nyaman dengan infus tidak terjadi. Egnor lalu merebahkan dirinya di sofa kamar Viena.
Selang beberapa jam, mata Viena terbuka. Dia merasa dirinya panas. Dia baru saja bermimpi berhubungan badan dengan Dion. Namun ketika dia membuka matanya, dia berada di kamarnya yang agak remang karna lampu tidur saja yang menyala. Dia juga tidak merasakan kehadiran Dion dan lagi dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya yang mana tangannya terlilit jarun infus. Kepalanya pening dan berat, dahinya mengernyit dan kringat kembali menderai pada pelipisnya. Dia merasa bersedih dan sangat perih. Kata kata itu terngiang lagi.
~Selamat tinggal Viena..~
"AAAARRGGGHHH!!!!" Teriak Viena dan tak lama dia menangis.
Egnor langsung terperanjat. Dia mendekati Viena.
"Viena, Viena tenanglah, aku disini." Kata Egnor meraih tangan adiknya.
"Aaarrrggghhhh, huhuhu huhuhu .. Dion..." Kata Viena menangis tersedu. Di melihat selang infus yang sangat menganggunya. Dia menghempaskan tangan kakaknya lalu melepaskan infusnya dengan paksa dan memegang kepalanya.
"Tenang Viena. Tenang ...aku disini. Kakakmu tidak akan meninggalkanmu!" Kata Egnor menarik tubuh Viena masuk dalam pelukannya. Viena sempat meronta namun Egnor menahannya.
"Dion kak, Dion.. dia sudah meninggalkanku .. huhuhuhuhu ...." Kata Viena lagi terus menangis.
"Menangislah, aku akan menunggumu .." balas Egnor mengusap usap punggung adiknya agar lekas tenang.
Dan tangisan Viena juga terdengar oleh ayahnya. Johanes segera ke atas dan menemui anak perempuannya.
"Egnor?" Panggil ayahnya memasuki kamar Viena.
"Tidak apa apa, dad!" Kata Egnor mencoba menenangkan.
Johanes mendekati anaknya itu dan mengelus punggungnya.
"Viena, masih ada Tuhan yang mencintaimu, kau jangan begini. Meskipun tidak ada pria lagi yang mencintaimu, tapi aku dan kakakmu akan selalu bersamamu. Tenanglah nak.." kata Johanes.
Viena masih menangis sampai beberapa menit sampai dia lelah dan kembali tertidur. Egnor benar benar merasakan kesesakan yang dialami adiknya. Dia harus selalu menjaganya. Khususnya dari pria pria yang tidak bertanggung jawab yang hanya memanfaatkan kepolosan Viena.
Egnor dan Johanes pun kembali tertidur. Tak berapa lama kemudian, Egnor mendapatkan panggilan telepon. Sejak dia memenangkan kasus legalitas lahan tanah, Egnor jadi memiliki banyak kenalan di dunia hukum. Dia juga banyak mengenal orang orang dari badan intelejen kota dan detektif. Bahkan ada beberapa dektektif yang meminta pekerjaan darinya. Jadi, ketika itu Egnor meminta tolong pada seorang detektif untuk mencari keberadaan Claudia.
"Halo!" Egnor mengangkat telepon.
"Tuan Egnor Jovanca? Saya Edward, detektif yang anda tugaskan untuk mencari seorang wanita berusia 21 tahun dengan nama Claudia Stephanie Gie."
Egnor : "Ah iya Edward, bagaimana? Apakah anda sudah mendapat kabar?"
Edward : "Ya Tuan! Nona Claudia sekarang berada di Honolulu dan dia bekerja sebagai resepsionis di sebuah perusahaan elektronik."
__ADS_1
Egnor : "Benarkah?"
Edward : "Ya Tuan!"
Egnor : "Baiklah, lalu bagaimana program doktor ku? Apa aku bisa menjalankannya di Honolulu?"
Edward : "Tentu Tuan! Hakim Maden sudah mempromosikan anda di Perguruan Tinggi Hukum Internasional Honolulu."
Egnor : "Thanks God! Baiklah, besok aku akan mengurusnya! Thankyou Edward. Aku akan segera mengirim cek padamu"
Edward : "Terimakasih Tuan! Senang bekerjasama dengan anda. Saya bersedia atas perintah anda lagi Tuan."
Egnor : "Tenang saja Edward."
Panggilan berakhir. Egnor sangat senang karna mendapat kabar tentang keberadaan Claudia. Dia segera ke kamarnya setelah memastikan Viena tenang dan tidur nyenyak. Mungkin dia akan histeris lagi, jadi Egnor dengan segera menuju ke kamarnya mengurus berkas berkas.
Paginya, setelah bergantian menjaga Viena dengan auntynya, dia segera ke bawah membicarakan kepergiaannya ke Honolulu bersama ayah dan ibunya.
"Mom, Dad, selamat pagi. Ada yang ingin ku bicarakan!" Kata Egnor sambil memberi salam.
"Ada apa Egnor?" Jawab ayahnya tampak lesu.
"Mengenai kelanjutan pendidikan doktor ku dad." Kata Egnor lagi duduk bergabung di meja makan.
"Ah iya, bagaimana? Kau dapat di perguruan tinggi mana?" Tanya Johanes mencoba tidak menggabungkan perasaannya memikirkan Viena. Dia harus tetap adil.
"Perguruan Tinggi Internasional Honolulu dad, mom!" Jawab Egnor tersenyum sumringah.
"Wow, selamat sayang! Aku bangga padamu!" Kata Theres menepuk bahi anaknya.
"Thanks mom, tapi dengan begitu aku harus pindah ke Honolulu. Dan lagi aku mendengar kabar kalau Claudia ternyata pindah di sana Dad, jadi Aku akan terbang ke Honolulu besok pagi. Kalian setuju kan?" Kata Egnor memberi pertimbangan dengan nada melemah.
"Aku ikut!" Tiba tiba Viena bersuara dengan wajahnya yang tampak kacau. Dia memaksa mengikuti Egnor ketika menyadari kakaknya keluar dari kamarnya.
"Viena, anakku, kau sudah membaik?" Tanya Theres mendekati Viena.
Viena kembali menangis di pelukan ibunya. Anne tadi yang memapahnya ke bawah ikut mengelus Viena.
"Iya Egnor! Sebenarnya, dad juga ada sebuah pikiran untuk pindah dari kota ini. Dad tidak mau bertemu dengan Jeremy Prime lagi. Dan, rasanya memang kita memerlukan suasana baru untuk menenangkan diri, pengoreksian dan mencoba peruntungan di tempat lain. Siapa tahu, merupakan tujuan akhir kita." Kata Johanes menyetujui kepindahan ini.
"Benar Egnor, kami bisa bersiap siap. Kita bisa menggunakan kapal barang untuk membawa peralatan penting rumah kita." Tambah Theres yang sudah berbincang dengan suaminya sejak kedatangan Jeremy.
"Oh yasudah, baguslah. Kalau begitu aku tidak harus mengkhawatirkan Viena dan kalian semua. Baiklah, bersiaplah, aku akan mengurusnya agar besok kita semua sudah bisa pindah." Jawab Egnor cukup bersemangat.
"Iya, dan Egnor? Sebaiknya kau juga mencari informasi untuk kesehatan Viena. Dia harus segera dibawa ke psikiater sebelum semakin tak menentu." Tambah Johanes masih memikirkan anak perempuannya yang sekarang masih sesenggukan dengan tatapan datarnya.
"Tenang saja dad, setibanya di Honolulu, aku akan segera membawanya ke psikiater terbaik."
Johanes mengangguk. Dia lalu melihat Viena yang sudah terdiam. Dia duduk di kursi dan terdiam. Viena kembali melamun. Jiwanya sudah kembali lain dan tatapannya kosong. Johanes menunduk dan merasa prihatin.
Setelah memastikan Viena makan meski sedikit, dia tertidur dan sudah meminum obatnya, Johanes, Anne dan Theres segera berkemas. Egnor pergi mengurus mobil dan kapal barang yang hendak membawa perabot rumahnya malam nanti terlebih dahulu.
Mereka pun pindah keesokan paginya. Mereka mengambil penerbangan awal. Mereka berpindah ke Honolulu, mungkin untuk selamanya.
"Selamat tinggal Dion, selamat tinggal mantan terindahku .." ucap Viena kembali meneteskan air mata setelah pesawat yang ia tumpangi lepas landas.
...
Comeback ketika Dion mengetahui Viena pindah.
Dion tersungkur terduduk lemah mendengar kepindahan Viena. Dia benar tak menyangka kalau Viena akan pindah secepat ini. Baru saja empat hari mereka berpisah. Mungkin Viena terlampau patah hati terhadapnya. Dion menjadi frustasi. Menyesalpun tak ada guna.
"Tuan, kau baik baik saja?" Tanya tetangga Viena yang agak terkejut karna Dion begitu shock mendengar kepindahan Viena.
Dion pun berdiri.
"Tidak apa apa, te terimakasih atas informasinya. Saya permisi." Kata Dion membungkukan tubuhnya dan kembali ke mobilnya.
__ADS_1
Lagi lagi di dalam mobilnya dia membentur benturkan kepalanya. Cintanya telah hilang. Dia yang membuatnya pergi jauh. Cinta yang begitu besar, penuh kasih dan ketulusan, dia hancurkan hanya karna sebuah modal yang sebenarnya bisa ia dapatkan dari kakeknya.
"VIENNAAA!!! MENGAPA KAU PERGI?! AKU MASIH SANGAT MENCINTAIMU VIENAAA!!!!" Teriak Dion di dalam mobil dan sungguh tidak ada artinya lagi. Semua sia sia.
Saat itulah Dion menangis memanggil manggil nama Viena. Dia lalu meraih ponsel barunya. Dia mencoba menghubungi Viena namun nomornya sudah tidak aktif.
"Kau pasti sangat marah padaku ya Viena sampai kau tidak menyalakan ponselmu??" Kata Dion tersedu. Pria itu menangisi wanita yang ia buat menghilang dari dekapannya.
"Viena, aku sudah menjadi apa sekarang? Jiwa ragamu serasa hilang tidak seperti dulu lagi. Viena, aku akan mencarimu terus. Tak peduli kemanapun aku melangkah, aku akan mencarimu. Kau harus menjadi milikku lagi. Aku akan mendapatkanmu lagi. Aku lah orang yang akan terus mencarimu." Kata Dion lagi masih dalam tangisnya. Dia lalu menghapus tangisnya. Dia menuju ke studion olahraga. Disana dia mencurahkan kekesalannya, kekecewaannya dan penyesalannya. Dia bermain basket sampai semua pakaiannya berkeringat. Bukan hanya itu, Dion berenang dan dia mengingat kebersamaannya dengan Viena ketika melakukan olahraga air itu. Mereka pun sempat bermain di kolam renang pribadi hotel prime jadi Dion begitu sedih membayangkannya.
"Argh! Viena! Viena Viena Viena!!! Kau pindah kemanaaa???!!!!!!" Teriak Dion yang kebetulan hari itu kolam renang sangat sepi. Hanya dia saja karna ini hari biasa. Dia memukul mukul air kolam itu. Air matanya kembali turun.
Setelah menuangkan kesedihannya. Dion pun kembali ke rumah sangat malam. Setelah berenang dia tidak langsung, dia masih mengunjungi tempat tempat yang sering ia dan Viena datangi. Siapa tahu Viena sedang mendatanginya namun nampaknya tidak ada sehelaipun rambut Viena.
Dia tidak tahu apa yang harus ia katakan pada kakek dan ibunya. Mereka berdua pasti sangat kecewa.
"Viena, pelipur laraku, kau dimana? Apa kabarmu? Aku merindukanmu sayang!! Viena, maafkan aku!!!
Tuhan, aku berdoa, dimanapun dia berada, lindungilah dia, jagalah dia untukku dan jika Engkau berkenan, buatlah dia kembali padaku dan aku tidak akan melepaskannya lagi." Tutur Dion di atas tempat tidurnya. Lagi lagi air matanya membasahi pipinya dan dia memejamkan matanya mencoba tidur meski begitu perih. Hanya ada Viena di dalam pejaman matanya.
"Cepat ke rumah sakit Dion, keadaan grandad mu semakin memburuk!" Perintah Jeremy ketika Dion mengangkat ponselnya.
Dion segera bergegas ke rumah sakit. Entah mengapa ketika memasuki rumah sakit, hatinya sungguh pilu. Mungkin dia merasakan aura ibunya yang akan semakin membenci dan mengecewakannya karna nyatanya dia tidak membawa Viena. Namun, ketika Dion tiba tepat hendak menuju ruang tindakan gawat darurat itu, dia melihat ayahnya sedang memukul mukul tembok. Ada beberapa bibinya yaitu adik adik sepupu Jeremy yang menangis sangat pilu karna Martin begitu baik pada mereka.
Dion berjalan pelan. Rio menghampirinya dengan wajah menunduk. Dia juga menangis. Dia menepuk bahu Dion.
"Rio, bagaimana grandad? Apa Dokter sudah memeriksanya?" Tanya Dion dengan wajah lelahnya.
"Tuan Muda, kau harus kuat dan merelakannya." Kata Rico tertunduk lemah.
"Kenapa Rio? Kau bicara yang jelas!!!" Dion menghentak hentakan Rio.
"Tuan Martin sudah dipanggil Tuhan, beliau sudah tenang duduk di sisi kanan Bapa di surga. Aku sangat turut berduka cita Tuan Muda!" Jawab Rio dan asisten setia Martin itu kembali menangis.
Dion kembali tersungkur.
...
...
...
...
...
Lengkap sudah Dion 😭😭
Penyesalan datangnya belakangan, kalau diawal itu Pendaftaran 😂😂
.
Next part 34 ending kayaknya
Bagaimana nasib Viena di Honolulu?
Dan bagaimana nasib Dion setelah kejatuhannya yang bertubi tubi?
.
Jangan lupa LIKE KOMEN yang banyak
Kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa
.
Thnks for read and i love you always!!
__ADS_1
❤❤❤❤❤❤