Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 7


__ADS_3

Penyesalan selalu datang saat terakhir namun jika cinta lebih besar maka penyesalan hanya angin lalu dan bisa saling menerima satu sama lain. Patrick menyadari kesibukannya tapi karena cinta Zhavia padanya tanpa syarat, apa yang dilakukan tidak begitu menjadi masalah besar. saling mengerti satu sama lain kunci harmonisnya sebuah hubungan. bagaimana akhirnya Patrick dapat menemani Zhavia ketika persalinan?


...


Akhirnya Adeline berhasil membuat Zhavia berangkat ke rumah sakit setelah dia menghubungi Viena. Viena memberi nasihat pada Zhavia dan mengatakan resiko yang terjadi jika tidak cepat mengambil tindakan. Viena memang belum pernah melahirkan normal tapi yang ia ketahui, kontraksi ibu yang hendak melahirkan akan berbeda beda. Dapat lambat dapat juga sangat cepat. Gracia juga pernah menceritakan padanya. Adeline sampai melakukan video call pada Viena untuk membujuk anak terakhirnya itu untuk segera ke rumah sakit terlebih dulu .


"Sayang, kau jangan egois begini! Kau menginginkan Patrick yang sedang bekerja. Mungkin baterai ponselnya habis, kita tidak ada yang tahu. Masa kau tidak mengasihi anakmu. Sudah hampir sepuluh bulan kau merawatnya dalam perut sekarang biarkan dia menikmati dunia. Jangan sampai kau menyesal, Via! Setelah aku menutup panggilan ini, aku akan segera meminta Uncle Egnor mu mengirim pesawat jet nya dimajukan menjadi nanti malam. Aku akan memberitahu Lexa, Leon, kakakmu juga Zefanya," kata Viena membuat Zhavia mengerti agar segera ke rumah sakit.


"Kau berjanji akan tinggal mom?" Tanya Zhavia dengan nada melemah.


"Ya, aku akan menetap di sana selama dua bulan bersama Daddy mu, kau tenang saja!! Jadi sekarang, kau turuti Adeline dan Nyonya Chloe. Kau pergi bersama mereka ke rumah sakit. Kami di sini juga akan membantu menghubungi suamimu ok?" Ujar Viena lagi.


"Yes mom!"


"Jangan bersedih dan jangan banyak berpikir. Suamimu bekerja aku sangat yakin! Em, apa suamimu juga masih belum bisa dihubungi, Adeline?" Tanya Viena kemudian pada Adeline yang berada di samping Zhavia.


"Belum nyonya! Sepertinya mereka sedang pertemuan dengan para pengajar jadi ponsel mereka di mode silent," jawab Adeline.


"Ah, kau benar Adeline. Baiklah, tolong jaga anakku dan segera antar ke rumah sakit," saut Viena meminta tolong pada Adeline.


"Pasti nyonya, terimakasih juga atas bujukan anda," ucap Adeline.


"Sudah seharusnya Adeline. Terimakasih ya, untung kau segera menghubungiku," ucap Viena kembali pada Adeline.


"Zhavia hanya menginginkan Patrick dan dirimu nyonya,"


"Baiklah Zhavia, semangat! Tunggu aku datang, oke?"


Zhavia mengangguk sambil memegang perutnya. Sakit itu muncul lagi dan akhirnya mereka berangkat ke rumah sakit.


Adeline masih tampak lincah walau dengan perutnya yang membuncit. Adeline memang selalu membiasakan diri dan tidak mau mengharapkan orang, bahkan sampai sekarang Adeline tidak mau tergantung pada Eden. Adeline hanya meminta pada Eden untuk menyediakan apa yang ia butuhkan, selanjutnya Adeline bisa melakukannya sendiri. Sebenarnya Zhavia pun begitu tapi karena Patrick yang malah memanjakannya di tengah kesibukannya yang membuat Zhavia terus berharap padanya. Berharap bukan hanya satu atau dua hari Patrick bisa meluangkan waktu untuknya.


"Adeline, perutku sakit lagi!!!" Rengek Zhavia kembali meringkup di bangku mobil memegang perutnya.


"Kau mau melahirkan, nak, tenanglah," saut Chloe mengelus punggung Zhavia.


"Patrick belum bisa dihubungi?" Tanya Zhavia dengan nada suara bergetar.


"Sepertinya baterainya habis sedangkan Eden atau Hoshi tidak mendengar panggilanku, Via!" jawab Adeline setengah menoleh ke arah Zhavia.


"Argh, kenapa dia bisa lupa? Patrick, aku ingin melahirkan bersamamu!" gumam Zhavia masih meringis memegang perut nya.


Adeline menarik napas. Dia juga ikut sedih karena teman Zhavia selama ini yang mengerti nya luar dalam ya hanya suaminya. Zhavia malah terkadang tidak ke kamar apartemennya kalau Patrick bekerja. Dia mau menunggung Patrick di kamar apartemennya.


"Aku akan menghubungi aunty Clau mu, Via!" kata Adeline lagi agar Zhavia lebih tenang karena ada keluarga darinya.


Zhavia hanya mengangguk dan sudah bisa menyandarkan tubuhnya di bangku penumpang taxi itu. Sejak mengandung, Adeline memang tidak diijinkan Eden menggunakan mobil. Jadi Eden Yanga mengantar atau Adeline pergi sendiri memesan taxi.


Ketika kontraksi hilang itulah hal ternyaman untuk Zhavia. Namun, jika muncul lagi, yang ada di pikirannya hanya nama suaminya, Patrick.


...


Eden akhirnya bisa meraih ponselnya. Sekarang giliran Hoshi yang menjelaskan apa saja job description untuk para pengajar. Eden membelalakan mata nya melihat puluhan panggilan dari istrinya dan satu pesan. Patrick merasakan aura kecemasan sahabatnya.


"Ada apa Eden?" Tanya Patrick tanpa mengalihkan pandangannya ke Hoshi yang sedang melakukan presentasi.


"Oh my God, Patrick! Kau harus segera ke rumah sakit!" kata Eden dengan nada suara sangat panik.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Patrick lagi kini menoleh ke arah Eden.


"Zhavia hendak melahirkan, perutnya sakit dan terus memanggil namamu!" kata Eden membuat Patrick seketika itu juga berdiri.


"Kau serius Eden?"


"Baca ini!" Kata Eden lagi menunjukan pesan dari Adeline yang seperti nya sangat panik.


Patrick lalu meraih ponselnya dan memang agak curiga mengapa tidak ada pesan atau panggilan yang masuk. Patrick menepuk dahinya.


"Eden, aku lupa mengisi baterai nya!" sungut Patrick menyesali perbuatannya.


"Kau ini kebiasaan!" decak Eden.


"Jadi ke mana Adeline membawa Zhavia?"


"Rumah sakit pusat kota,"


"Sini kunci mobilnya. Biar aku yang ke sana, kau di sini saja menemani Hoshi, Eden," pinta Patrick harus cepat menuju ke rumah sakit.


"Memang harus seperti itu! Sana! Hati hati ya?! Setelah selesai, aku dan Hoshi akan menyusul ke sana," kata Eden memberikan kunci mobil dan Patrick langsung menghambur keluar ruang rapat, menuju ke basement dan melajukan mobil nya ke rumah sakit pusat kota.


...


Zhavia sudah berada di ruang tunggu persalinan. Dia memantapkan diri untuk melahirkan secara normal. Sedikit banyak dia sudah bertanya pada Gracia. Tidak terlalu buruk tapi tidak juga terlalu baik baik saja. Apapun proses melahirkan yang di pilih memiliki kekurangan dan kelebihannya masing masing.


Segala persiapan sudah dilakukan perawat sembari menunggu Zhavia memasuki bukaan demi bukaan. Selang infus sudah terpasang di tangan Zhavia. Dia benar benar merasakan momen penting ini. Untuk sementara hanya Chloe yang menjadi pegangan ketika kontraksi itu muncul lagi. Dan, tak lama Claudia datang juga membantu Adeline dan Chloe memberi semangat pada Zhavia.


"Kau sudah menghubungi Patrick, Adeline?" tanya Claudia memastikan.


"Sudah aunty, tapi sepertinya ponsel Patrick tidak aktif, tapi aku sudah meninggalkan pesan pada suamiku," jawab Adeline.


"Belum sayang, tenanglah ..."


Lagi lagi sakit itu muncul lagi. Dan lama kelamaan sakit itu muncul menjadi sangat sering sehingga perawat kembali harus memeriksa sebelum memanggil dokter Erika. Ketika kedua kali perawat memeriksa Zhavia ternyata sudah masuk bukaan akhir. Zhavia tentu saja di bawa ke ruang persalinan dan perawat sudah memanggil dokter Erika.


Zhavia sudah tampak lemah tetapi tak mengurungkan niatnya untuk mau melahirkan secara normal dan dalam hati masih mengharapkan kedatangan Patrick.


"Nyonya Zhavia, kau sudah siap?" Tanya dokter Erika memasuki ruang persalinan.


"Tidak dok," jawab Zhavia asal yang membuat dokter Erina bingung.


"Lho, kenapa?" selidik dokter Erika.


"Aku butuh Patrick,"


"Ya, kau bisa memanggilnya untuk membantu kau mengejan," kata dokter Erika tidak tahu kondisi sebenarnya.


"Dia belum datang !!!" Pekik Zhavia malah menangis dan kembali menahan sakitnya yang muncul lagi dan lagi.


"Sebentar, biar kuperiksa," kata dokter Erika hendak memastikan keadaan bukaan Zhavia.


"Tapi nyonya, di sini terlihat kau sudah bisa mengejan dan mendorong bayimu keluar, ayo Nyonya, ini akan terasa mudah," kata dokter Erika lagi memberitahu.


"Aku ingin bersama suamiku dok! Eeenngg ..." Tanpa sadar Zhavia malah mengejan karena memang waktunya sudah tiba.


"Suamimu pasti tahu apa yang sedang kau rasakan, setelah ini dia akan merasa bangga padamu nyonya, ayo nyonya dorong lagi!" tutur dokter Erika memberikan semangat.

__ADS_1


"Zhavia?" Panggil seorang pria akhirnya diijinkan masuk setelah Claudia dan Chloe memohon. Patrick sudah mengenakan baju steril dan menghampiri Zhavia.


"Kau datang tempat waktu, tuan!" Kata dokter Erika tersenyum.


"Kau ke mana saya, Pat??? Eeenng ...!!" Zhavia agak beranjak dan melingkarkan tangannya ke lengan Patrick. Patrick menyemangati Zhavia.


"Aku di sini Zhavia, maafkan aku, kau pasti bisa sayang!" balas Patrick mengecup kening Zhavia.


"Sekali lagi nyonya Zhavia, mengejan dan doronglah," kata dokter Erika terus memberi support pada pasiennya itu.


Zhavia kembali mengejan dan karena sudah kehabisan tenaga di awal, Zhavia kurang memberikan dorongan yang kuat. Patrick lalu menolehkan wajah Zhavia.


"Tatap wajahku Zhavia dan sekali lagi lakukan!" Kata Patrick. Zhavia lebih tenang menatap wajah suaminya dan malah mengecup bibir Patrick lalu kembali mengejan. Patrick juga tentu membalas kecupan itu.


Dan tak lama, terdengarlah tangisan anak perempuan itu keluar dari bawah sana. Hampir sepuluh bulan bersemayam di perut Zhavia kini sudah lahir.


Dokter Erika mengangkat anak tersebut untuk diperlihatkan pada Zhavia dan Patrick. Zhavia dan Patrick sangat terharu melihat anak perempuannya lahir dengan selamat dan sehat. Patrick memeluk istrinya itu selagi para perawat masih membersihkan anak dan Zhavia sendiri.


"Selamat tuan dan nyonya Kwan. Anak kalian perempuan dengan berat tiga kilo gram dan tinggi lima puluh centi meter, sebentar kami akan memberikannya lagi padamu untuk insiasi menyusui dini," kata dokter Erika memberi ucapan selamat pada pasiennya.


"Sama sama dok, semua karena penanganan mu," balas Patrick juga mengucapkan terimakasih.


Erika mengangguk dan keluar dari ruangan.


"Zhavia, terimakasih," ucap Patrick menatap kedua mata Zhavia yang tanpak sayup.


"Sama sama Patrick," balas Zhavia tersenyum kecil.


"Kau sudah memberikan kehidupan baru dan keturunan bagiku. Kau luar biasa. Hem, maafkan aku datang terlambat. Aku benar benar lalai lupa mengisi daya pada ponselku, maafkan aku Zhavia!" Ucap Patric mengecupi punggung tangan istrinya.


"Tidak apa apa sayang, kau sudah datang tepat waktu dan memang harus kita yang melihat anak kita untuk pertama kalinya kan?" saut Zhavia.


"Benar Zhavia! Aku akan menghubungi mommy Sandra, dad, Pierre dan Ella. Patricia Zena Lil Kwan telah lahir. Dia sangat lucu Zhavia. Pipinya merah seperti mu, dan matanya ... " gumam Patrick mengingat wajah menggemaskan bayi perempuan mereka.


"Matanya sepertinya akan tajam sepertimu," saut Zhavia.


"Kau bisa saja, apa Adeline sudah menghubungi keluargamu? Biar aku yang menghubungi mereka," tanya Patrick memastikan.


"Sudah Patrick, mereka sudah berangkat ke sini dan mommy dan dad akan tinggal di sini menemaniku sampai dua bulan ke depan," kata Zhavia tampak senang.


"Are you seriously, Zhavia?" Patrick pun ikut senang dengan yang istrinya katakan


Zhavia mengangguk tersenyum.


"Kau bahagia sekali lagi ya?" gumam Patrick sedikit menyesal sikap nya terhadap Zhavia selama ini.


Zhavia mengangguk lagi.


"Maafkan atas kesibukanku Zhavia. Aku hanya ingin membuatnya terlihat sempurna," ucap Patrick pada akhirnya.


"Tidak apa apa sayang, aku mengerti dan sangat mendukung, jangan merasa bersalah. Yang terpenting kau pulang setiap hari, aku sudah senang," balas Zhavia mencoba mengerti Patrick.


Patrick kembali memeluk Zhavia. Dia kini sudah menjadi seorang Daddy dan Zhavia menjadi seorang mommy.


...


lanjut di bawah ya

__ADS_1


tetap LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2