
Masih dengan penuh harap, pria itu berjuang demi hati yang sangat ia cintai. banyak sudah beban di punggungnya karena kesalahan yang ia sendiri perbuat. dia terlalu buta akan cinta sehingga termakan dengan kebohongan yang seakan akan menenggelamkannya. sekarang, apapun yang ia lakukan akan berujung pada kesalahan. apa yang akan terjadi selanjutnya?
...
"Ada apa? Perutmu kembali sakit?" selidik Patrick memastikan perut istrinya dan memegangnya dengan sangat lembut.
"Tidak! Aku ingin mengandung sekali lagi," saut Zhavia malah mengatakan itu yang membuat Patrick merasa Zhavia tidak tersentuh olehnya. padahal selama ini Patrick tidak ingin Zhavia menderita terus menerus.
Patrick tak kuasa mendengar kata kata istrinya. Dia memeluknya dan kembali mencium bibirnya. Mereka berciuman dan menuju ke kamar mereka. Zhavia kembali tak mengatakan karena mereka sudah tidak berhubungan selama berbulan bulan. Patrick menahan semuanya karena akan membuat Zhavia menderita. Dan malam itu mereka berhubungan dengan sangat pelan dan lembut. Patrick tidak menangkap Zhavia yang kesakitan tapi dia tetap curiga. Karena setelah itu Zhavia masih memegang perutnya secara diam diam.
"Aku tahu perutmu sakit! Besok besok jangan menggodaku terus, Zhavia!" kata Patrick memegang tangan Zhavia yang masih memeluknya setelah pergulatan cinta yang cukup panjang itu. mereka sudah berpakaian dan saling berbaring berpelukan.
"Siapa suruh kau terlalu tampan," Zhavia malah menggodanya lagi.
"Besok kita periksakan perutmu! Jangan membantah!" saut Patrick.
"Pat, aku tidak mau ke rumah sakit,"
"Hanya periksa!" Balas Patrick dan dia mengambil selembar kertas yang ingin ia tunjukan pada Zhavia. Zhavia sudah berbaring dan wajahnya agak pucat. Dia tetap memegang perut bawahnya.
"Dengar Zhavia, apa yang kuciptakan untukmu beberapa hari ini," kata Patrick lagi sudah kembali duduk di samping istrinya.
"Sebuah lagu?" Selidik Zhavia sudah menyelimuti seluruh tubuhnya.
Entah mengapa malam ini menjadi dingin dan kepalanya sangat pening. Ya seharusnya dia menahan nafsunya. Zhavia memang memikirkan semuanya. Sejak dia mengalami keguguran dan mengidap penyakit, Zhavia jadi sering khawatir padahal Patrick dan Zena selalu menemaninya. Apalagi suaminya itu. Patrick ke gedung hanya dua hari sekali itupun hanya satu atau dua jam. Sisanya dia merawat dan menemani pengobatan Zhavia.
"Ya, lagu untukmu! Kau dengar ya?"
"Tidak menggunakan piano?" selidik Zhavia.
"Kau dengar saja lirik lagunya," saut suaminya.
Zhavia mengangguk tersenyum.
"Seseorang di suatu tempat pasti ada saja yang mengharapkan kesengsaraan ku.
Terkadang aku berpura pura tak mengenal siapa diriku, tapi di duniaku hanya ada kau.
Peluklah aku dengan erat.
Katakan padaku, yang ada ditengah hatimu,
Akankah kau membiarkanku agar tetap di sini?
Tatapan matamu mengalahkan segalanya tanpa mengatakan apapun.
Aku ingin mendayung di waktu luang,
Aku hanya ingin berkeliling di sekitar pandanganmu.
Seperti keajaiban yang datang setiap hari.
Kenyamananmu adalah hari hariku.
Kamu yang sekarang berbaring di sisiku,
Ini semua seperti surga.
Aku hanya menginginkanmu.
__ADS_1
Hatiku hanya berlayar padamu.
Tak ada yang lain, hanya kau!
Let me hear you say baby.
Sayang, kau lebih manis daripada coklat,
Ini kunci hatiku, bukalah!
Yang kubutuhkan hanyalah dirimu dan suaramu.
Let me hear you say,
Aku bisa melakukan apapun demimu, sayang.
Ketika sesuatu menjadi sulit dan menjadi jadi,
Aku membutuhkanmu lebih dan lebih.
Let me hear you say,
Aku menghindari tatapan orang lain dan menatapmu.
Saat mata kita bertatapan, pandanganmu tak bisa kujelaskan dengan kata kata.
Pandanganmu menerangiku terkadang seperti matahari, terkadang seperti bulan,
Jangan biarkan aku kehilangan satu hari yang cerah ini bersamamu,"
(lirik lagu asli berjudul LET ME HEAR YOU SAY by SEVENTEEN)
Patrick memegang dahi Zhavia dengan satu tangannya yang sudah meletakan lirik lagu miliknya. Patrick menarik napas dan senyumnya menghilang. Tubuh Zhavia kembali hangat bahkan cukup panas.
"Zhavia, sampai kapan penyakit ini menggerogoti tubuhmu? Apa tidak bisa dipindahkan padaku? Sayang, Aku pasti akan membuatmu sembuh. Tuhan, sekali ini saja, kabulkan doaku. Sembuhkan istriku, biarkan dia menjalani hidup seperti sedia kala. Aku sangat mencintainya. Maafkan aku! Istriku seperti ini karena diriku, biarkan aku yang merasakan ini Tuhan," kata Patrick akhirnya ikut berbaring di samping Zhavia dan menangis di lengannya.
Di malam yang dingin ini, Patrick memeluk tubuh zhavia yang menghangat terus menerus. Dia terjaga menunggui istrinya yang benar dugaannya kalau tubuh Zhavia semakin panas. Dia membasuh wajah Zhavia dengan air hangat dan mengompresnya. Akhirnya Patrick memutuskan kembali membawa Zhavia ke rumah sakit dan melakukan observasi lagi.
Paginya Zhavia terbangun sudah berada di rumah sakit lagi. Dia menoleh mencari suaminya yang tidak ada keberadaannya. Dia hanya melihat lembaran di bawah ponsel Patrick. Zhavia meraihnya dan kembali membacanya. Lembaran itu lirik lagu yang suaminya buat untuknya. Zhavia pun tersenyum terharu. Air matanya tak bisa bertahan. Seketika perut bawahnya kembali sakit dan dia merasa ada yang keluar dari bawah sana. Zhavia hendak menekan tombol perawat untuk bisa memeriksanya tapi tangannya agak lemah. Akhirnya dia hanya bisa diam menunggu Patrick atau suster kembali.
Tak lama Patrick kembali dari toilet dan bersamaan dengan itu ibu mertuanya, Viena menghubunginya.
"Bagaimana kabar anakku, Patrick?" Tanya Viena ketika Patrick mengangkat panggilan.
"Kami, kami kembali ke rumah sakit mom, tubuh Zhavia kembali demam. Sepertinya masih ada yang salah dengan dinding rahimnya, mom," jawab Patrick dengan nada suara pelan.
"Hem, aku tahu bagaimana perasaanmu? Jangan menyerah Patrick dan aku akan mencoba membantu! Bisakah aku bicara padanya?" pinta Viena.
Patrick pun memberikan ponsel itu pada Zhavia. Zhavia minta untuk di mode loud speaker karena tubuhnya sangat lemas.
"Mom,"
"Zhavia, langsung saja, apakah tidak sebaiknya kau kembali ke Legacy? Aku yang akan merawatmu?" kata Viena .
Seketika hati Patrick berdenyut dan bergetar. Sepertinya harapannya untuk selalu bersama Zhavia sudah tidak bisa karena sekarang ibunya saja menyuruhnya kembali. Patrick hanya menunduk sementara Zhavia malah memegang tangan Patrick dan mengelusnya.
"Apa maksudmu mom? Bagaimana suami dan anakku?" Zhavia bertanya kembali.
__ADS_1
"Ya, suruh Patrick juga kemari. Lakukan pengobatan di sini!" kata Viena lagi .
"Aku mau di sini saja mom, kasihan Zena dan pekerjaan Patrick," jawab Zhavia berusaha menjadi istri dan ibu yang baik. dia tahu, kemungkinan keluarganya hendak mengambil dirinya lagi.
"Hem, aku sudah tahu jawabannya. Baiklah sayang, aku berdoa selalu untukmu agar kau sehat selalu. Jangan pikirkan apapun. Kalau kau ingin selalu bersama suamimu lakukan. Jangan pernah membohongi perasaanku dan mengikuti kata kata orang sekalipun itu Zefanya," kata Viena akhirnya yang tidak bisa memaksa anaknya.
"Ya mom, aku tahu Zefanya hanya membelaku saja," saut Zhavia menggenggam erat tangan suaminya.
"Benar! Gracia, MomXa dan semuanya merindukanmu. Minggu depan rencana mereka akan menjengukmu bersamaku," ujar Viena.
"Terimakasih mom!"
Panggilan di matikan. Patrick menatap sendu Zhavia. Dia tersenyum agar istrinya tetap semangat.
Dan Zhavia kembali menjalani sebuah pengobatan di mana dilakukan untuk menghambat darah yang mengalir ke area adenomiosis, sehingga ukurannya akan mengecil dan keluhan mereda karena Zhavia menolak melakukan operasi lagi.
Namun, apa yang terjadi? Hal ini benar benar tidak berguna. Kondisi Zhavia semakin mengkhawatirkan. Dokter mengatakan karena sebelum diprediksi penyakit ini, konsidi kehamilan Zhavia memang lemah. Bukan hanya itu ketika melakukan pengangkatan janin, tubuh Zhavia tidak memungkinkan. Pendarahan terlalu banyak. Infeksi terjadi karena sebelum keguguran pun Zhavia sering demam. Belum lagi Zhavia terlampau frustasi memikirkan rumah tangganya dan perkiraan dirinya kalau Patrick masih tidak percaya padanya.
Zhavia bisa bertahan hanya karena obat dan terapi yang mengurangi pendarahan bukan menghilangkan. Patrick selalu menemaninya. Selalu menyemangati dan akhirnya semua perawatan di pindah ke mansion mereka karena Zhavia tidak mau jauh dari Zena. Zhavia tetap menjadi ibu yang baik untuk Zena. Dia tetap mendidik Zena dengan baik. Menemani Zena makan, bermain musik dan apapun meski kondisi tubuhnya semakin melemah. Contohnya saja ketika Zena sudah berusia 3 setengah tahun, Zhavia melihat Zena memegang pisau buah. Zhavia dengan segera memberi tahu bahaya pisau tersebut. Zhavia memang selalu memperhatikan Zena ketika dia tidak ke rumah sakit.
Dinding rahim Zhavia semakin berkembang yang pada akhirnya menyebabkan komplikasi. Zhavia sering mengeluarkan darah seperti datang bulan yang cukup banyak menyebabkan dirinya selalu kekurangan darah. Mengkonsumsi obat dan pada akhirnya melakukan transfusi darah walau tidak membantu.
Sampai akhirnya operasi tahap akhir harus dilakukan. Zhavia pun mengatakan kata kata yang membuat Patrick jauh sangat bersalah. Rasanya dia ingin menukar jiwanya dengan istrinya itu. Dia ingin, dia saja yang merasakan semua penderitaan Zhavia selama ini. Dia rela menukarnya dengan apapun bahkan dirinya.
"Sayang, aku sudah lelah. Aku terima apapun yang terjadi!" tutur Zhavia menunduk dan menitikan air matanya.
"Terjadi apa? Kau hanya di sini dirawat agar lebih intensif, aku disini Zhavia. Setiap malam aku tidur di sini!" jawab Patrick mendongakan kepala istrinya.
"Aku mau ke mansion kita." kata Zhavia kemudian.
"Tapi kau masih harus menjalani operasi ini sayang." Patrick berusaha menjelaskan.
"Sudahlah Patrick, aku sudah menerima semuanya. Aku baik baik saja. Tidak usah ada operasi operasi lagi. Semua percuma!" Zhavia memalingkan wajahnya.
"Ya kau memang baik baik saja. Kita akan pulang. Setelah operasi kali ini saja, dua hari lagi kita pulang ya apapun keputusan dokter. Aku akan membawamu pulang aku berjanji!" jawab Patrick tersenyum dan kembali menolehkan wajah Zhavia.
"Oke sayang, aku hanya mau mengatakan kalau aku akan baik baik saja. aku akan tenang kemudian sayang. Tapi aku mohon kau jaga anak kita. Sayangi dia, jangan pernah memarahinya dan memukulnya, namun beritahu dia dengan tegas kalau dia memiliki salah. Jangan membuatnya menangis sama seperti kau tidak pernah mengijinkan aku menangis Patrick!"
Patrick agak mendelik mendengar penuturan istrinya waktu itu.
"Kau bisa bicara atau tidak Zhavia? Kau mengatakan seakan akan ingin pergi. Katanya kau takut mati!" Patrick memperingatkan.
"Aku hanya berpesan saja sayang karna sekarang saja aku tidak bisa merawatnya kan? Pokoknya kau resapi saja semua pesanku ini. Lindungi Zena sama seperti kau melindungiku. Berikan apa yang dia butuhkan. Jaga dia untukku. Kau mau berjanji kan suamiku?" Zhavia memegang pipi Patrick.
"Pasti Zhavia! Tanpa kau mengatakannya aku akan melakukannya. Sekarang tidak usah berkata macam macam lagi. Makanlah sedikit sup ini." Patrick mengambil sup asparagus yang dibawakan Adeline ketika tadi menjenguk.
"Terimakasih sayang. Aku tidak sabaar untuk pulang ke mansion cinta kita itu!" zhavia tersenyum sumringah.
"Ya kita akan pulang setelah operasimu ya?" Patrick menyuapi sup itu.
...
Next ending ya siapkah hati, jiwa raga dan pikiran. Ingatlah ini hanyalah cerita fiksi 😁
Btw, semoga kalian juga suka sama aku ya ga hanya ceritanya hehe katanya kan kalo fans suka semua muanya jadi semoga kalian berkenan dengan semua cerita yang kubuat 😊
.
__ADS_1
Jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa
Thanks for read and i love you SOMUCH!!