Mantan Terindah

Mantan Terindah
51. Kasmaran


__ADS_3

"Hari ini mama gue pengen ketemu sama lo?"


"Buat apa?"


"Ya ketemu aja, ya udah sana ganti baju. Gue tungguin disini." Suruh Rival baru saja dibukakan pintu langsung saja menyuruh Franda.


Setelah Franda masuk kedalam kamar, ia melihat mamanya Franda sedang duduk didepan Tv, ia mengetuk pintu untuk meminta izin untuk membawa putrinya ke rumah. "Assalamualaikum tante. Boleh aku masuk gak?" Pertemuan mereka tidak cuma sekali saja, jadi sudah tidak canggung lagi diantara mereka.


"Tante, aku boleh kan ngajak Franda keluar bentar ya? mau ngajak ke rumah buat ketemu mama soalnya pengen ketemu."


"Tenang aja tante, cuma sebentar aja kok kenalin ke keluarga." Rival mencoba untuk meyakinkan mamanya Franda.


"Ya udah jangan lama-lama ya." Rival tersenyum dan mengangguk pasti.


15 menit kemudian, setelah itu Franda membuka pintu kamarnya ternyata ia sudah melihat Rival mengobrol dengan mamanya. "Gue udah pamitan sama nyokap lo, katanya boleh iya kan tante?"


"Ya udah mama udah izinin tapi jangan kemalaman ya."


"Ya udah aku pamit dulu sama Franda entar aku anterin balik deh." Sahut Rival kembali.


***


"Ngapain sih dibawa ke rumah segala?" Ucap Franda yang masih belum merasa nyaman padahal ia tau sekali sekarang cowok aneh yang ada dihadapannya kali ini adalah pacarnya.


Rival hanya diam saja dan menggenggam tangan Franda dengan erat, hingga Franda bingung sendiri dengan sikap Rival. Sudah pasti kalau malam seperti ini rumah Rival dipenuhi keluarga yang lagi ngumpul di ruang tamu. "Balik aja yuk, kayaknya mama bakalan marah."


"Lo kenapa sih jadi gini, muka tuh pucet banget." Rival menaruh ponselnya di depan muka Franda untuk perempuan itu berkaca.


"Kenapa?"


"Udah deh masuk aja kedalam." Lanjut Rival yang menyuruh Franda agar lebih rileks lagi.


"Mama tuh setuju kali sama hubungan kita berdua fran, mulai sekarang lo harus manggil aku kamu ke gue ya didepan keluarga gue, dan gue agak risih aja kalau kita udah pacaran kayak gini dibilang gue lo kan kurang sopan kan?" Ucapnya yang memegang bahu Franda. Suasana semakin dingin ditambah pula jam semakin larut ia merasa tidak tenang sama sekali.


Deg,,


"Kamu harus pasang wajah yang senyum, harus ramah, oke. Yuk masuk."


Tv yang masih menyala, ada Roy, Tiffany, papah dan mamah yang lagi ngumpul di ruang tamu yang awalnya fokus memakan makanan ringan yang ada diatas meja. Semua mata dan pandangan kearah mereka yang berdiri. "Loh kok."


"Boleh kan Franda main disini?" Senyum mamanya Rival tampak berbeda ia mencium hal yang sedang kasmaran oh mungkin Rival sudah move on. Pikirnya seperti itu.


"Jadi mereka udah---" Batin Roy yang tersenyum palsu.


"Mau kemana lo kak?" Rival melihat pergerakan Roy yang mulai berdiri. Ia hanya tersenyum tipis menunjuk kearah kamarnya. Rival mencengir simpul dan menyuruh Franda untuk duduk diantara mereka semua.


"Kalian udah lama deketnya?"


"Baru aja mah, dua hari yang lalu iya kan sayang?" Kedua mata Franda terbelalak ketika Rival menyebut kata 'Sayang' sejak kapan cowok itu bisa ngomong seperti itu didepan semua anggota keluarga.


"Eee iya."


"Waduh, pasti lagi anget-angetnya ya kan?" Usil Tiffany yang melipat tangannya diatas dada menggerakkan pergerakan di lengan tangan.


"Sayang aku buatin minum dulu ya, aku permisi dulu ya." Ucapnya yang meninggalkan Franda sendiri diantara mereka.


"Cantik banget sih kamu, kasih tau anak tante ya kalau dia nakal atau badung dia cuma nurut sama orang-orang yang deket sama dia, kan kamu orang terdekat dia pasti dia mau berubah dia juga ketua kelas kan?"


"Iya tante."


"Rival itu anaknya lembut banget, dia bakalan berjuang untuk orang-orang yang dia sayang keliatannya aja kayak gitu padahal dia penyayang banget." Lanjutnya lagi memberi tahu sisi lain Rival. Sedikit kurang percaya atas ucapan dari mamanya Rival tapi mungkin saja benar.


"Dan buat lo harus bahagiain Rival ya, gue yakin kalian pasti bisa lebih baik." Nimbrung Tiffany.


Di dapur, Rival mengambil minuman yang sudah tersedia didalam lemari es, bibi melihat Rival membuat sendiri tumben banget. "Den, buat sendiri aja?"


"Iya nih, buat pacar bi."


"Kalian udah pacaran?"


"Lumayan lah bi."

__ADS_1


"Sukses ya den, kayaknya non Franda suka juga sama den Rival."


"Iya bi? Wah doain ya bi."


Rival membawanya dengan sangat hati-hati dia ruang tamu untuk Franda. "Duh kalian sangat gitu banget, ngobrolin apa sih? Eh makanya sering mampir kesini asik kan nyokap gue?"


"Diminum dulu ya."


"Franda boleh mampir kan mah?"


"Boleh dong val, kamu kalau pengen main kesini main aja ya soalnya disini Tiffany suka sendirian." Franda hanya mengangguk saja.


...•••...


"Makasih ya val."


"Tunggu bentar." Rival menahan lengan Franda ketika ia hendak turun dari mobil.


"Kenapa?"


"Panggilnya jangan Rival dong, sayang kek napa. Udah jadi pacar juga."


"Hah?"


"Sa----sayang gitu. Mana gue pengen denger."


"Sa---gue gak bisa val."


"Ayo dong lo pasti bisa. Sa----"


"Sayang."


"Iya sayang."


Kedua bola mata Franda terbelalak, ia malah ketawa saja dan Rival juga melakukan hal yang sama. "Ya udah balik dulu ya, makasih sekali lagi. Hati-hati pulangnya jangan lupa sholatnya ya."


Rival hanya tersenyum saja.


...•••...


Rival mencoba untuk memejamkan kedua matanya untuk tidur, tapi ia tidak bisa menutup kedua matanya itu.


***


"Mana nih traktirannya kok belum ada sih." Franda diantara sahabat Rival yang mengelilinya. Sebenarnya ini adalah hal atau sesuatu yang membuatnya belum merasa nyaman apalagi ketika Franda tau kalau ia tidak menyangka sama sekali bisa jadian dengan Rival dan ditembak di gudang gak ada kata romantis sama sekali. Disela itu Milka melihat Franda diantara mereka, ia tidak segan lagi memberi tahukan ke Lusi langsung pasti Lusi sudah kebakaran jenggot.


Ketika Lusi masuk kedalam kelas ia melihat pemandangan yang berbeda sekali, Milka mengambil tas dan pergi begitu saja. "Lus, lo tau kan?"


"Iya gue tau."


"Lo tau gak sih kalau misalnya Rival sama Franda tuh udah pacaran aja tau gak?"


"Udah, tapi Rival kayaknya kepelet gitu. Kok mau ya sama Franda cewek cupu gitu."


"Ya kali sama lo lus, gue juga kalau misalnya jadi Rival bakalan milih Franda." Ucap Milka dalam hati.


"Ah nyebelin banget ya jadi orang kesel gue." Lusi berjalan begitu saja dengan cepat tanpa ia tahu orang yang ia tabrak itu.


Hatinya sudah bergejolak, dan kesal sekali kenapa bisa cewek yang selama ini ia benci ternyata malah bisa jadian dengan cowok yang ia suka.


...•••...


Rival mengambil tangan Franda yang menjutai bersebelahan disampingnya, ia menggenggam dengan selah jemari hingga menjadi satu. "Diam aja, jangan protes karna kita tuh udah beda kamu udah jadi pacar bukan musuh atau temen aja. Jadi biarin gue genggam tangan lo biar yang lain tau kalau kita pasangan romantis."


"Cuma status."


"Gue kalau serius udah serius ya pasti serius. Kalau gak yakin lo rasain aja apa yang gue lakuin ke lo. Kalau lo sakit berarti karna gue terlalu apa adanya gak dibuat-buat." Entah kenapa Rival seakan romantis,  semu dan menggemaskan.


Dan itu membuat pasang mata yang menyorot begitu saja. "Mau pesan ini aja ya mas, satu pedas satu enggak."


"Mas saya cocok gak sama pasangan saya yang ada disamping ini?"

__ADS_1


"Cocok banget."


"Udah duduk, disini tuh kalau malam indah banget, apalagi langitnya indah banget banyak bintang ya malam ini."


Hanya diam saja.


"Disini tuh gue sering kesini apalagi pas kecil kayak kak Roy, Tiffany sama gue belum kenal dunia remaja kita tuh plong aja menikmati hidup gak kayak sekarang udah dikit-dikit baper karna dulu kita gak punya rasa yang berat." Ia sambil melihat kearah atas menjelaskan sedikit atau sekilas masa kecilnya.


Dari sudut kiri saja Rival terlihat ganteng dan manis apalagi dikala itu Franda terpesona sambil tersenyum lepas. "Kenapa lo liatin gue gitu? Gue ganteng ya? Emang sih gue ganteng udah bawanya dari sana."


Akhirnya makanan yang mereka pesan pun datang beserta minuman yang hangat. "Makasih ya mas."


"Disini tuh terkenal antri dan panjang banget kalau pengen beli apalagi malam ini malam minggu ya."


"Ya kenapa?"


"Ya karna malam minggu itu malam dimana semua kaum kayak gini berkumpul hahaha."


"Duh kalau makan tuh jangan belepotan gini dong." Rival membersihkan makanan yang ada di bibir Franda dengan tisu yang ada diatas meja. Franda hanya diam saja, perhatian yang sederhana membuatnya malu seperti ini.


"Makasih."


"Coba deh lo coba----" Terdiam sebentar teringat akans sesuatu.


"Maksud gue, eh kamu cobain buka mulutnya."


"Gimana rasanya? Gak pedas kan?" Franda menyipitkan matanya sejenak, ia hanya mengunyah walaupun tetap saja rasanya pedas.


"Pedas."


"Ya udah nih minum, ponakan gue aja tahan banget malah gue sendok bahkan lebih ah lo gitu. Bocah lo."


Dua gelas sudah ia teguk sekali tegukan saja, tenggorokannya pedas dan terasa terbakar. Bibirnya merah dan keringat.


"Kenapa sih kalau makan suka belepotan terus,"


"Kayak bocah banget." Rival semakin lama semakin bawel saja apalagi disaat Franda melakukan kesalahan.


"Val, boleh gak bantuin aku buat deketin kak Roy sama Cerry, soalnya kayak salah paham gitu. Emang kak Manda suka atau mereka udah pacaran?"


"Trus hubungannya sama aku apa?" Sahut Rival yang bingung dan malah menatap Franda seperti itu.


"Bukan gitu, Cerry sahabat aku jadi ya harus bantu dia buat gak salah paham terus sama kak Roy. Tapi kalau gak mau bantuin juga gak masalah." Franda melangkah lebih maju kedepan lalu disusul oleh Rival yang mensejajarkan langkah mereka.


"Kalau hubungan mereka gue juga gak tau persis sih tapi mereka emang deket. Ya udah gue coba buat kasih tau kalau Cerry suka sama dia."


"Eh jangan gitu dong val, entar malah Cerry yang menghindar. Kamu bilang aja kalau Cerry pengen ketemu tapi bilang juga tentang hubungan kak Roy kalau gak ada apa-apa sama kak Manda udah gitu aja sih soalnya aku gak mau sahabat aku sedih." Lanjut Franda yang masih mau Cerry bahagia dan gak menghindar lagi Roy.


Rival memegang dahi Franda dan membalik-balikkan karna ia tampak aneh seperti itu. "Sakit? Udah minum obat belum? Lo aja masih belum becus sama kisah cinta lo udah urusin aja."


"Gak kok ini seriusan."


Rival menarik napas berat "Ya udah entar dikasih tau besok. Udah ah kok jadi bahas mereka."


Biass kalau malam minggu banyak pengamen jalanan yang melipir kearah pembeli yang ramai. Membunyikan gitar, dengan alunan klasik sampai alunan jaz ada juga rock. Mereka biasanya membagi wilayah mereka untuk menyanyi, membawa bungkus permen yang di gunting dibagian atasnya, lalu setelah nyanyian yang mereka bawakan selesai.


"Makasih ya mas, sukses sekali." Rival memberikan uang yang ia ambil langsung dari sakunya dan memberikan uangnya itu.


...•••...


"Makasih ya udah anterin balik, jangan lupa istirahat eh tapi sebelum itu sholat dulu."


"Iya, lo juga ya. Istirahat dan sholat juga jangan lupa, minta sama tuhan buat hubungan kita yang lebih baik lagi. Gue gak mau kalau gue doang yang berjuang karna gak bakalan nyampe harus berdua yang berjuang. Aku, kamu dan akan menjadi kita. Cukup pemilik hati aja yang menyatukan kita berdua ya, gue selalu berharap yang terbaik." Manis banget kan Rival.


"Iya, pokoknya minta aja yang baik-baik. Salam buat mamah papahnya ya. Gue gak bisa masuk kedalam, udah malam." Franda mengangguk saja.


"Tunggu." Panggil Rival kembali.


"Ingat, jangan dengerin orang lain cukup lo percaya gue kalau gue bisa memperbaiki sikap gue." Ia mengangguk saja.


Ia berusaha untuk tetap tenang, menahan rasa gugup yang terus bergejolak. "Val, kenapa sih lo bikin gue bimbang aja."

__ADS_1


__ADS_2