Mantan Terindah

Mantan Terindah
73. Dan Mulai


__ADS_3

...Ternyata lebih sakit dari segalanya tidak ditusuk tapi berdarah, dikhianati dan disakiti....


"Val, Franda val." Rudy ternyata diam-Diam sudah memperhatikan mereka diam-diam dan pada saatnya Rival geram dan bergerak untuk menarik Roy disana. Untungnya ia masih berpikiran kalau ini masih sepi dan tidak terlalu menyangkutkan sebuah masalah besar. Ia menarik baju Roy dengan paksa dan kasar, matanya melotot dan geram sekali. "Maksud lo apa kak? Eh lo masih jadi pacar gue? Gue udah ikutin semua syarat lo kenapa lo malah begini sih?" Franda dan Roy menjadi salah satu mangsanya kali ini.


"Val, sorry val gue udah pa---" Sebelum Roy melanjutkan itu semua dan tambah salah paham lagi ia pun maju satu langkah dan menarik Rival untuk berbicara empat mata.


"Val kita putus, udah gak ada lagi yang harus dijelaskan lo harus bahagia sama Rubi dan gue udah jadian sama kak Roy. Gue gak cinta sama lo maaf val." Mata Rival tercengang orang yang mulai ia sukai bahkan ia jatuh cinta ternyata ini balasannya? pahit banget ya, ia pun juga tidak menyangka kalau Roy sendiri yang akan menjadi pengganti dirinya bukan orang lain.


Ia langsung saja ingin menampar Franda tapi ia mengurungkan hal itu dan dekat sekali hanya 5 cm mungkin. "Gue masih gak nyangka kalau lo bisa setega ini, gue udah mau nerima Rubi balik dan lo malah jadian sama kak Roy? tega banget lo semua. Kak gue heran ya sama lo masih banyak cewek yang suka sama lo tapi kenapa lo malah suka sama Franda kak?" Suara itu berubah menjadi sebuah suara yang serak. Roy sangat tau sekali kalau misalnya Rival benar-benar sungguh tapi apa daya ia juga suka dengan Franda sejak lama. Mencintai satu perempuan itu jauh lebih sulit dari pada mendapatkan keinginan yang berbeda.


"Gue bahagia udah bisa bareng selama ini bareng lo val, gue bahagia banget---"


"Gue udah nyakitin lo maaf, :( Balik ya val sama Rubi. Gue sayang lo val." Hanya sebentar genggaman itu dari Franda. Tangan Rival yang terasa hangat, dan kedua bola mata yang berkaca-kaca sekali. Hingga genggaman itu erat sekali dan sulit untuk dilepas.


"Val, maaf." Lanjutnya sekali lagi. Mereka meninggalkan Rival, Franda sengaja memperdekat jarak duduk mereka di motor agar keadaan semakin nyata. Jahat banget ya Franda?


Rival hanya diam dan termenung. "Gue tau val kalau cinta itu akan datang dihati yang tepat, maksud gue walaupun dia pergi tapi kalau bukan jodoh dia maka akan kembali ke mana dia berasal. Tenang aja val, walaupun Roy jadi pasangan Franda kalau bukan jodoh dia pun dia akan kembali ke lo juga kok." Albert sengaja memberikan semangat, ia tau Rival sangat tidak percaya sekali apalagi ini adalah dua orang yang sangat berharga sekali.


"Iya val, lo harus bahagia ya. Lo pasti dapatin orang yang jauh lebih baik." Sahut Bima yang juga mendukung Rival yang lagi down.


"Tega banget ya! Padahal gue udah mulai berubah." Masih belum terima sama sekali.


***


Franda termenung disebuah taman, ia sedih dan menggenggam kedua tangannya sendiri. Roy hanya memperhatikan Franda yang diam dan sedih banget mungkin melakukan hal ini. "Jangan sedih lagi ya, gue selalu dukung apapun itu yang terbaik buat lo fran."


"Jangan sedih dong fran, walaupun gue tau posisi gue adalah kakaknya Rival yang seharusnya membela dia tapi entah kenapa gue jauh lebih sedih kalau gak membela lo fran. Gue sayang sama lo, bahkan ketika lo bilang suka sama gue. Gue pengen loncat dan teriak sekencang-kencangnya. Sayang cuma khayalan aja fran. - Roy.


Untung aja masih ada roti belum ia makan tadi di sekolah "Makan dulu ya, jangan sedih lagi. Rival tuh orangnya emang gitu cuma emosi doang kok. Mau gue suapin?"


"Ya udah, ngenggggg ngengggggg, buka mulutnya pesawat mau lewat..."


"Ih apaan sih kak Roy."


"Nih diminum dulu entar sakit, pacar gue dong!"


Matanya melotot "Gak bercanda biar gak terlalu serius ya hehe."


"Kakak lucu juga ya."


"Iya dong gue kan badut hahaha makanya lucu, emesss emessss."


"Haha." Mereka tertawa bersama dan garing emang.


***


"Makannya yang banyak biar tambah endut, gimana seharian ini bareng gue?"


"Seneng kok kak."


"Kak, kenapa sih kakak baik banget sama aku? Padahal aku jahat loh kak."


"Karna gue sama lo." Batinnya. Gak mungkin bakalan bilang ini langsung, Jaga image lah ya.


"Karna lo orang baik, dan orang yang paling gue sayang hehe."


"Kakak sayang sama aku?"


"Iya dong, gak boleh?"


"Tapi---- Tapi rasa sayang itu gak boleh melebihi dan berharap lebih ya kak aku takut entar kakak kecewa."

__ADS_1


"Haha santai, pede banget." Roy sengaja mengacak-ngacak puncak kepala Franda yang masih rapi.


"Ah kakak ih." Biasa kalau ada yang suka jail gitu tuh manjanya keluar.


Seneng banget,  Bisa bareng Roy tapi gak ada yang marah-marah gak jelas ngambek-ngambekkan dan sok tau segalanya. Siapa lagi kalau bukan Rival. Tapi gimana semua sudah terlanjur.


Terasa timpang, berjalan tampa arah dan tujuan. Menyakiti adalah kata yang sakit, dan itu dialami oleh Franda. Menyakiti orang yang telah membuatnya bersalah. Sebenarnya gak ada sama sekali niat awal buat menyakiti Rival bahkan sampai sekarang berkelanjutan tapi apa boleh dikata semua berubah menjadi bubur. "Andai aja kalau ini sebuah kenyataan, gue bakalan bahagiakan lo fran. Tapi gue ingat Rival."


Rival adik gue, gue masih bisa menjaga hati. Tapi gue gak bisa menjaga pikiran yang ingin merubah itu semua menjadi indah. Gue bahagia ketika gue dekat dengan lo dan gue indah ketika semua akan menjadi sebuah kenangan.


***


...Ketika dikhianati akan ada hati yang lama yang masih ada, tapi cukup seperti itu kah?...


Roy sengaja berangkat lebih awal dan ini masih jam 6.30 pagi matahari pun mungkin baru terlihat setengah.


Mengendarangi motor untuk pergi ke sekolah. Ini adalah kali pertama Roy untuk berangkat bareng Franda, cuaca masih cerah belum banyak polusi yang sudah merajalela. Embun pun masih ada dan matahari indah sekali untuk dilihat kekuningan.


Walaupun hanya sekedar pacar pura-pura Roy oun merasa bahagia banget, apalagi ketika Franda bilang rasa suka itu. Ia tau banget rasa suka itu hanya sekedar angin kelewat bukan rasa yang sebenarnya.


"Kak Roy."


"Eh ada tante juga, hari ini Franda bareng aku ya tante. Sebelumnya aku pernah kesini inget gak? masih boleh kan kesini?" Ramah Roy. Auranya masih segar dan aroma parfum yang melekat dan khas sekali.


"Iya tante ingat, kok kamu mirip temen kamu yang bawa mobil itu ya, siapa ya fran?"


"Dia adik aku tan. Rival kan maksud tante?" Jelas Roy yang memperjelas pertanyaan itu.


"Ya udah mah, kita berangkat dulu ya bilangin sama papah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Tan, berangkat dulu. Assalamualaikum." Roy mengikuti apa yang Franda lakukan.


Seperti biasa deg-deggan dan rasa itu aneh.


"Fran, udah siapkan buat jalanin skanario ini?"


"Siap dong kak, kak Manda gak marah kan?"


"Gue jomblo fran, jadi mah bebas aja. Dan Manda pun hanya sahabat gue doang kok. Tenang aja." Sahutnya dengan singkat dan Franda hanya mengangguk saja ucapan itu.


"Pagi-pagi gini sejuk banget, oh iya gue ramal kalau Rival jemput lo pasti ngomel dulu. Iya kan?"


"Iya banget kak, ngomel mulu. Suka kesel aja kalau ngomel kepagian, tapi ya gitu deh dia. Emang gitu ya kak?"


"Hahaha iya banget, tapi dia orang yang baik kok fran." Gemingnya.


Skanario yang dimulai entah ini akan berakhir dengan baik atau semakin runyam. Tapi ya sudah lah semua sudah terlanjur seperti itu.


Rintik hujan perlahan mulai terasa dan membasahi seragam mereka, Roy lebih mempercepat kecepatan motor yang awalnya normal.


"Gue harus cepet-cepet ya fran, lo pegang gagang yang ada di motor belakang gue ya."


"Hahah iya kak, buruan."


Dan, tidak salah lagi. Hujan semakin lebat dan tidak bisa dilanjutkan kalau terus menerus dikejar. Roy memutuskan untuk mampir ke rumah gubuk yang ada peneduhnya. "Wah sial, gue gak bawa jas hujan. Gimana nih lanjutin buat berangkat dengan kebasahan atau dengan menunggu disini?"


"Gimana ya kak aku uts nih."


"Ya udah kalau lo gak bisa ikut gue yang marahin gurunya, enak aja." Memasang wajah yang yakin kalau ia berani memarahi dan protes kalau benar suasana yang terjadi.

__ADS_1


"Yakin kakak berani?" Melihat bola mata Roy yang tampak fokus dengan kedua tangan diatas dada.


"Hahaha gak lah, gue dikeluarin dari sekolah. Jangan dianggap seriusan gue bercanda doang kok fran." Ia menengadah tangan ke rintikan hujan yang turun dari genting seperti ia lakukan dulu masih kecil dan diikuti oleh Franda.


"Pernah gini kak aku kecil kalau main trus hujan suka gini, kata temen aku airnya mengapung."


"Hah mengapung?"


"Aku juga bingung hahaha."


Dan mereka pun tertawa sambil menunggu hujan reda.


Ini yang bahagia, tertawa, tersenyum bahkan bisa cerita tentang masa lalu yaitu masa kisah yang pernah terjadi diantara mereka masing-masing. Itu yang tidak dimiliki Rival, cowok belagu yang sukanya marah gak jelas dengan hal yang sepele.


"Hei, diem aja? Ayok! Mau disini terus?" Ternyata Roy sudah menunggangi motornya.


"Oh iya kak."


"Kalau enggak nunggu pasti kita udah kebasahan kayak yang itu ya, kunci dalam sesuatu itu sabar."


Sabar menanti dan sabar mempertahankan hati yang sakit - Roy.


Setiap kali bertemu dengan Franda ia terus saja merasa ada getaran atau magnet yang menarik dari arah yang tidak terduga. "Lo gak bawa jaket kan?"


"Iya kak."


"Sama, berarti kita jodoh kayaknya."


Tak ada jawaban.


"Bercanda." Ralatnya.


***


"Buruan balik yuk, Eh val." Seharian ini Roy dan Franda memang keterlaluan sekali apalagi ketika. Melambaikan tanpa ada rasa salah, saudara rasa musuh. Tidak baik memang, kalau gara-gara ini doang.


Franda melewati Rival begitu saja, tatapan mata Rival kosong dan ketika Rival ingin menarik tangan Franda, Albert menangkisnya agar membiarkan Franda pulang bareng dengan Roy.


"Sorry val, biar lo cepat lepas dari gue." Gerutu Franda dalam hati.


"Val, mereka kayaknya lagi deket. Tapi kan lo berdua udah putus atau gimana?"


"Tau nih Franda semakin hari semakin ngelunjak ya." Rudy semakin geram dengan sikap Franda yang begitu gampang mempermainkan hati cowok.


Rival memegang bahu Rudy, "Dia bukan seperti itu, dan kita masih pacaran."


Awalnya Rival ingin langsung pulang tapi ia lebih memilih untuk menenangkan diri terlebih dahulu, seharian galau. Lebay banget sih! Cara orang beda-beda jadi biarkan mereka dengan caranya masing-masing.


"Rival mana? Kok gak balik?" Ucap Tiffany yang tidak hentinya mondar-mandir membuka gorden karna biasanya kalau malam seperti ini mereka duduk di ruang tamu sambil ngobrol satu sama lain walaupun ada yang sibuk sendiri dengan ponselnya.


"Emang dia gak ada didalam kamar?" Tanya Roy yang asik WA dengan Franda, ya sedekat itu sekarang. Tapi ini boongan untuk melepas Rival dari Franda setelah itu siap-siap untuk patah hati sudah resikonya.


Sedih dan kecewa, ini dia seorang kakak yang ia angungkan dan ia hormati seperti itu? Rival hanya diam dan diam saja mengaduk minuman yang ada diatas meja.


Sendirian, Ditengah-tengah keramaian tapi terasa kesunyian disebuah kota. Ia tidak memperdulikan berapa puluh kali ponsel itu berbunyi. Tak perduli sama sekali. Namanya juga anak muda yang masih belum terkontrol akan jalannya cinta yang sebenarnya.


"Hai cowok, boleh duduk disini?" Cewek yang berpakaian seksi seperti lebih tua dari Rival, ia menawarkan diri untuk duduk menemani Rival.


Tapi Rival membalas dengan to the point "Sorry, kursi yang lo pengen dudukin udah ada tamu gue."


"Oh it's fine." Dia pun pergi dengan wajah yang kesal. Belagu banget Rival. Pikirnya.

__ADS_1


Memegang gelas dengan erat, pikiran yang selalu terbayang apa ini keputusan yang bodoh mengikuti kemauan Franda yang menyuruhnya untuk kembali ke Rubi dan malah Roy yang dikabarkan dekat dengan Franda?


Sungguh peristiwa langka.


__ADS_2