
Merendahkan hati adalah sesuatu yang tak salah namun jangan sampai merendahkan diri dan merasa tidak sebanding dengan kenyataan yang ada. Sejatinya semuanya akan adil di mata Tuhan hanya belum saatnya. Gracia kini menyadari kalau dirinya masih pantas bahkan layak menjadi istri seorang Dior. Dan kini dia juga akan menjadi seorang ibu. Lalu, bagaimana tanggapan Dior terhadap Gracia? Dan apakah Gracia akan memaafkan Dior atas perlakuan kasar yang dimunculkan suaminya?
...
Dior memasuki ruang UGD itu. Dia melihat ke arah istrinya yang memandang ke arah jendela sambil memegang perutnya. Dior tersenyum tipis, dia menyadari apa yang ia perbuat pada istrinya semalam. Dior mendekati Gracia. Dia harus meminta maaf pada Gracia dan melakukan apapun jika istrinya membencinya. Dia akan membuat hubungan mereka menjadi sedia kala.
"Gracie .." panggil Dior. Gracia tak bergeming. Dia terus menatap jendela luar.
"Sayang, maafkan aku." Kata Dior lagi memegang lengan Gracia. Gracia perlahan menoleh ke arah Dior. Dia tersenyum. Sungguh hal ini menyayat hati Dior. Setelah apa yang ia perbuat pada istrinya semalam, istrinya masih tersenyum. Dior tak kuasa. Dia segera memeluk istrinya itu. Gracia juga membalas pelukannya. Mereka saling mendekap dan Dior meneteskan air matanya.
"Maafkan aku Gracie, aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Sebisa mungkin aku tidak akan seperti ini lagi tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Mengapa kau berpikir untuk meninggalkanku?" Ucap Dior masih dengan pengakuan dirinya tidak bisa jauh dari istrinya.
"Maaf kak, aku tidak akan pergi lagi dan sepertinya tidak akan mau kemana mana." Balas Gracia hendak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Dulu kau yang mengatakannya, sekarang kau juga mengatakannya, jadi jangan pernah berpikir pergi dariku. Bicarakan baik baik apa yang menjadi masalahmu. Maafkan aku." Kata Dior lagi.
"Iya kak, tidak akan lagi. Aku pasti akan merindukanmu dan menginginkanmu memanjakan ku jika aku jauh darimu." Ucap Gracia tersenyum.
Dior mengangguk dan mengecupi pundak istrinya. Dia lalu menarik diri. Dia memegang wajah istrinya itu.
"Teruslah berpikir seperti itu Gracia karna aku benar benar tidak ingin jauh darimu. Percaya padaku, aku rela meninggalkan semua jabatan, kekuasaan dan kekayaanku demi bersamamu Gracia. Meski kau tidak hamil dan kita tidak mempunyai anak sekalipun aku ingin selalu bersamamu. Percayalah. Aku mohon jangan seperti ini lagi karna aku takut akan melakukan hal yang sama. Aku tidak ingin menyakitimu tetapi juga tidak ingin kau meninggalkanku. Mengertilah Gracia. Aku sangat takut." Ujar Dior dengan tatapannya lurus memandang istrinya.
Gracia tersenyum penuh arti. Dia memang tidak harus meninggalkan pria sebaik Dior. Gracia mencoba mengerti prilakunya semalam karna ingin menahan dirinya agar tidak pergi kemana mana.
Baru saja Gracia ingin memberi tahu kabar yang akan membuat Dior gembira, bibirnya sudah terlebih dahulu diraih oleh bibir Dior. Dior sudah mencium Gracia lebih dulu. Dia melumatt bibir itu dengan sangat lembut dan pelan. Gracia bisa membandingkan. Ciuman kali ini sangat sangat berbeda dengan ciuman tadi malam yang begitu kasar, rakus dan penuh amarah. Ciuman Dior kali ini sungguh seperti Gracia sedang merasakan permen kapas dan Gracia merasa Dior meneteskan air mata untuknya.
"Kak .." panggil Gracia di tengah tengah pergulatan kecupan mereka.
"Hemm??" Dior masih meraih bibir Gracia.
"Jangan menangisiku, aku tidak pantas kau tangisi." Pinta Gracia terharu atas cinta suaminya.
"Aku mencintai mu Gracia. Maafkan perlakuan kasarku tadi malam. Aku masih mengingatnya dan melihat semua tanda cinta yang kuberikan padamu. Aku minta maaf ." Ucap Dior lagi. Dia sangat menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan.
"Sudah kak aku tidak apa apa. Aku sudah senang jika kau menyadarinya. Sudah kak .." Gracia terus meyakinkan suaminya.
Dior akhirnya melepaskan ciumannya. dia menghapus air matanya dan akhirnya duduk di samping tempat tidur Gracia.
"Terimakasih sayang." Ucap Dior mengecupi punggung tangan Gracia. Gracia mengangguk tersenyum.
"Ketika kau sudah sembuh dan pulang ke rumah, aku akan menuruti apa yang kau inginkan termasuk ke dokter kandungan untuk program hamil jika kau ingin hamil atau kita langsung saja program bayi tabung, bagaimana Gracie? Kau ingin kan? Maafkan aku jika selama ini aku sibuk dan tidak memikirkan perasaanmu. Ini tidak akan terulang lagi." Tambah Dior lagi berusaha meyakinkan hati Gracia.
Gracia menggeleng tersenyum. Dior mengerutkan keningnya. Apakah Gracia masih marah padanya namun Gracia tersenyum.
"Kenapa Gracia? Kenapa kau menggeleng? Apa kau ingin yang lain? Kau ingin berlibur? Ya kita bisa pergi ke Honolulu. Aku belum pernah mengajakmu ke sana kan? Atau ke Japanis? Nederland? Oriental? Atau beberapa Minggu di puncak pegunungan Summer? Katakan padaku kau ingin apa atau kemana?" Dior kembali memegang wajah Gracia.
"Tidak ingin apa apa Kak, karna apa yang kuinginkan sudah terjadi." Jawab Gracia masih dalam senyumnya.
"Apa? Apa maksudmu Gracie? Kau jangan membuatku takut ." Dior penasaran.
"Aku .."
"Permisi Nyonya dan Tuan Prime, Nyonya Prime sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Kamarnya sudah siap." Tiba tiba seorang perawat datang memotong kata kata Gracia. Gracia dan Dior pun reflek menoleh ke arah sang perawat.
"Ah iya silahkan . Yang lain juga ingin melihat keadaanmu Gracia. Mom sangat cemas." kata Dior kemudian.
Gracia menghela napas. Dia belum berhasil mengatakan pada suaminya. Namun tidak apa. Setelah di ruang perawatan dia akan mengatakannya. Lagipula kepalanya masih sangat pening dan ulu hatinya begitu perih. Gracia masih sangat lemah dan butuh istirahat.
"Baiklah, mari ikut kami Tuan ke ruangannya. Nyonya Prime tiduran saja. Kami akan mendorong tempat tidurnya." Kata sang suster lagi. Dior pun mengecup kening Gracia sebelum di bawa ke luar ruang unit gawat darurat.
Tetapi, baru saja tempat tidur Gracia keluar dari ruang gawat darurat melewati mereka yang menunggu dan Dior keluar, Marcel yang baru datang dan mengetahui Gracia hamil dengan wajah geram langsung menghampiri Dior dan memberi satu pukulan yang cukup kencang di pipi Dior. Sementara Gracia sudah di bawa ke ke ruang perawatan yang di temani Zhavia, Viena dan Lexa. Mereka tidak tahu amarah Marcel yang meluap ketika melihat Dior.
"Kau keterlaluan! Istrimu hamil namun kau membiarkannya pergi dari rumahmu dan kau menyiksanya, iya?! Dimana janjimu padaku hah?" Decak Marcel menunjuk nunjuk Dior yang sudah terhempas ke dinding. Revo, Pammy tentu menahan Marcel karna dia ingin memukul Dior lagi. Dion dan Leon pun membantu Dior.
"Mengapa kau memukul anakku hah?!" tanya Dion sedikit tidak terima.
"Anakmu memang berbohong sepertimu! Mengapa dia membiarkan Gracia pergi? Aku sudah sangat kesal ketika Viena mengatakan Gracia pergi dari rumah kalian dan menemui ayahnya di apartemen! Kau tahu tidak, Gracia hendak pergi ke luar negri bersama Revo dan kalau sampai hal itu terjadi bagaimana? Gracia hamil kan?" Marcel begitu terbawa emosi.
Dior menoleh ke arah Marcel dan menatap tajam.
"Hamil?" selidik Dior.
"Mengapa kau bertanya?! Aku baru datang dan mendengar istrimu hamil tapi apa yang kau perbuat padanya?! Dia anakku, lebih baik kau kembalikan padaku jika kau tidak bisa menjaganya!" gertak Marcel.
"Hamil? Aku tidak tahu, dad? Paman? Dad Revo? Ada apa? Gracia hamil?" tanya Dior benar benar tidak tahu.
"Cih! Kenapa pria ini seketika menjadi bodoh hah?!" Marcel mendesis menolak pinggangnya.
"Iya Dior. Dokter baru saja memberi tahu kami kalau istrimu hamil." Pammy menjelaskan.
Tanpa bicara lagi dan menanggapi kekesalan paman mertuanya, Dior berlari menuju ke ruang perawatan Gracia. Sejak tadi memang istrinya hendak mengatakan sesuatu tetapi selalu terpotong. Sementara Dion dan Leon mencoba menenangkan Marcel dan memberi pengertian mengenai sikap Dior terhadap Gracia semalam. Dan menjelaskan semua yang terjadi. Marcel masih sangat kesal namun dia akhirnya diam . Revo hanya mengangguk. Sebenarnya dirinya pun ambil andil dengan semua ini Karna beberapa kali Gracia bercerita dengannya, Revo tidak tahan dan akhirnya menyarankan anaknya untuk pergi menjauh bersamanya.
__ADS_1
"Aku juga akan meminta maaf pada Dior, Dion. Maafkan aku. Aku sebagai seorang ayah hanya mau memberi kelegaan bagi Gracia." ucap Revo pada akhirnya yang tidak seharusnya mau memisahkan Gracia dengan Dior.
"Dior pasti mengerti. Semua ini hanya kesalah pahaman. Marcel tolong mengertilah." balas Dion dan juga meminta pengertian Marcel.
"Kalau sampai seperti ini lagi, aku tidak akan segan segan membawa Gracia kembali ke rumahku!" ancam Marcel benar benar serius.
"Ya, aku yang memastikan bersama Tuan Dion. Dior tidak akan seperti ini lagi." Kata Leon mewakili majikannya.
Dior pun sudah berdiri di daun pintu ruang perawatan Gracia. Gracia tampak hendak tertidur karna matanya sayu. Viena pun sudah duduk di sampingnya bersama Lexa.
"Gracia!" Dior memanggil istrinya. Semua menatap Dior. Dior mendekati Gracia yang terbingung melihat wajah Dior yang lagi lagi penuh penyesalan. Gracia tidak bisa bangkit. Dia terus berbaring di tempat tidurnya. Viena dan Lexa sudah menyingkir. Dior langsung memeluk Gracia lagi.
"Tidak akan pernah aku meninggalkanmu dan tidak mau berpisah darimu. Kau selamanya hanya milikku bersama anak kita!" Ucap Dior dan sudah mengeluarkan banyak air mata. Viena juga sudah menangis. Dia terharu atas semua kejadian ini. Lexa sudah merangkul nyonya nya.
"Kau sudah tahu kak?" tanya Gracia tersenyum haru.
Dior mengangguk lalu menarik dirinya. Dia menyeka air matanya dulu sebelum menatap istrinya.
"Gracia, kalau kau mu menghukumku atas kebodohan yang kulakukan padamu, hukum saja tapi aku mohon janga menghukumku untuk jauh darimu dan anak kita. Aku sudah tidak sanggup berpisah darimu. Cukup 14 tahun itu saja sudah menjadi hari kekelamanku setiap harinya. Aku tidak mengenal wanita dan cinta sedalam ini. Apalagi sekarang kau sudah hamil. Jangan Gracia!" Tutur Dior. dia benar menyesal dengan apa yang terjadi dua Minggu ini.
"Kau bicara apa kak? Kan sudah kubilang, malahan sekarang aku tidak ingin berpisah barang sedetik saja denganmu karna aku sudah hamil. Aku sudah mengandung anak mu! Aku berhasil kak! Aku menjadikan dirimu semakin sempurna." balas Gracia lagi lagi merendahkan dirinya.
"Tidak! Kita berdua saling melengkapi Gracia! Aku mencintaimu, aku minta maaf, aku minta maaf!!" Dior terus mengecupi lengan Gracia lagi dan lagi. Gracia akhirnya terharu dan juga menangis.
Semua terjadi dengan penuh drama dan berakhir juga dengan penuh drama. Akhirnya Gracia hamil. Sebisa mungkin Dior memberikan yang terbaik bagi Gracia. Ya, layaknya seorang suami yang hendak menjadi seorang ayah. Dior sangat antusias. Dior yang selalu mengantar Gracia periksa kandungan meskipun Viena juga ikut. Selain itu Dior juag sering membawa Gracia ke kantornya karna Dior bisa mengawasi istrinya ini. Sementara Zhavia yang kini mengurus sekolah baletnya. Namun tak menutup kemungkinan Gracia juga datang ke sana memantau sesekali dan hanya sebentar. Dior kadang menemaninya sampai Gracia puas di sekolahnya kadang juga hanya mengantar dan menjemputnya.
Meskipun di tengah kehamilan Gracia, Dior juga harus membantu Zefanya mendapatkan cintanya, Dior selalu bisa membagi waktu. Gracia pun mendukung perjuangan saudara iparnya itu. Ezekhiel ternyata masih hidup dan mengalami hilang ingatan. Dior dan Zhavia juga Gracia yang terkadang memberikan saran membantu Zefanya dan Ezekhiel agar kembali bersama sampai akhirnya Zefanya dan Ezekhiel menikah. Gracia cukup sedih karna tidak bisa menghadiri pernikahan dadakan Zefanya karna menginjak trimester kedua, Gracia sering mengeluh lelah dan mengalami kontraksi palsu padahal kandungan baru menginjak 6 bulan setengah. Dior begitu cemas jadi melarang Gracia keluar rumah. Dia harus di rumah bersama Amy.
Dan akhirnya hari yang di tunggu tiba. Tiga bulan setelah Zefanya menikah, hari ini Gracia sudah berkali kali keluar masuk kamar. Dia mencari cari makanan dan sudah memakan apapun yang ada di meja makan.
"Gracia? Mengapa kau terus makan? Apa semalam kau tak makan?" selidik Viena agak aneh dengan menantunya.
"Makan mom, entahlah aku ingin sekali memakan apapun! Em Mom, kapan Kak Dior pulang?" tanya Gracia malah menanyai suaminya.
"Gracia? Ini baru saja pukul 2 siang. Dior pulang pukul 4 sore. Ada apa?" tanya Viena lagi.
"Tidak apa. Baiklah aku ke kamar dulu mam." balas Gracia menuju ke kamarnya.
'hemm, sudah hampir sepuluh kali lebih dia bolak balik kamar. Apa dia mau melahirkan?' Viena bergumam curiga. Akhirnya dia menghampiri Gracia. Kini kamar Gracia dan Dior berada di bawah karna kamar Zefanya sudah di bawah sudah tidak dipakai lagi. Zefanya sudah tinggal bersama Ezekhiel di mansion Ezekhiel.
Benar dugaan Viena. Gracia sudah tersungkur di lantai dan memegang perutnya.
"Gracia? Kau baik baik saja?" Viena langsung menghampiri Gracia.
"Apa yang kau rasakan hah?"
"Sakit sekali dan sepertinya aku buang air kecil mom!"
"Oh God! Kau pasti mau melahirkan. Ayo ke tempat tidur dulu!" Viena memapah Gracia naik ke tempat tidur nya. Viena segera keluar dari kamar anaknya dan meraih ponselnya. Dia menghubungi Dior dan agar memberi tahu Dion dan Leon yang kebetulan ada di Hotel.
Viena mengatakan pada Dior agar langsung ke rumah sakit karna dirinya, Lexa dan Amy yang akan membawa Gracia ke rumah sakit. Mereka berempat segera ke rumah sakit. Gracia terus merajuk sambil mengalungkan tangannya pada tangan ibu mertuannya.
"Mom, ini sakit sakali oh God! Mom!! Eemmmmm!!!" Gracia mengejang.
"Gracia! Kau jangan melahirkan di sini!" Decak Lexa.
"Sakit MomXa! Eeemmmm!!! Kak Dior ,perutku oh God!!!! Mom ini sakit sekali!" Gracia sudah bersimbah keringat dan tubuhnya mulai melemah.
"Lexa cepat jalankan mobilnya!!" Viena ikut panik.
"Ini sudah sangat kencang nyonya!"
"Sabar Nyonya Gracie!! Sebentar lagi tiba!" Amy juga menyemangati.
Dan sampailah mereka di rumah sakit. Dior sampai lebih dulu karna jarak Hotel ke Rumah sakit pusat kota sangat dekat.
"Gracia, you oke?" Dior langsung menghampiri Gracia yang sudah duduk di kursi roda.
"Temani aku kak, aku takut! Ahhh sakit sekali perutku emmmmm!!!!" pinta Gracia dengan wajahnya yang terus mengerut.
"Iya iya, kau tenang saja!" Dior langsung mengambil alih mendorong kursi roda Gracia dari tangan ibunya.
Ternyata Gracia sudah memasuki bukaan akhir. Namun masih sangat sulit keluar karna bayi Dior dan Gracia sepertinya cukup besar. Gracia sudah memegang Dior bahkan sampai memeluknya ketika harus menghentakan tubuhnya agar bisa mengeluarkan bayinya.
"Ayo nyonya! Sedikit lagi! Tarik napas lalu keluarkan dan hentakan!" Perintah sang dokter lagi. Gracia mencobanya namun sangat sangat sulit. Dia malah menjadi kelelahan. Keringat sudah membanjiri dirinya juga Dior. Gracia menatap Dior dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak kuat kak!" Gracia mendesis.
"Sedikit lagi sayang." Dior meyakinkan.
"Benar Nyonya sedikitt lagi!! Hentakan tubuhmu yang kuat. Tarik napas dalam dalam dan buang . Sekali lagi Nyonya, satu dua tigaaa!!!!" Sang dokter memprovokasi.
__ADS_1
Akhirnya Gracia masih mencoba, dia menarik napas dalam dalam dan ia keluarkan.
"Eemmm ...." Gracia mencoba dengan kuat dan Dior merasakan dirinya juga harus membantunya. Dior malah berpikir mungkin dengan mencium bibir Gracia akan membuatnya lebih semangat mengejan .
Dior lalu mencium bibir Gracia ketika Gracia mengejan. Gracia malah meraih bibir Dior lalu ia menggigitnya kuat kuat. Dior menahannya sampai akhirnya suara tangis bayi itu terdengar.
Cuaps! Terdengar Gracia akhirnya melepaskan gigitan serta ciuman bibirnya pada Dior. Dia sudah terbebas dan merasa lega mendengar tangisan anak mereka. Dior juga begitu. Bibirnya sudah berdarah namun Gracia kembali meraih wajah suaminya lalu mencium serta menghisapp darah yang keluar itu.
"Terimakasih Gracia, kau sudah berjuang dan memberiku seorang anak laki laki! Mommy Gracie!" ucap Dior merasakan pengorbanan dan perjuangan Gracia selama sebelum mengandung sampai mengandung dan melahirkan.
"Terimakasih juga Daddy Dior karna bibirmu akhirnya aku bisa mengeluarkan anak kita. Hosh hosh!" Balas Gracia dengan napas tersenggal.
"Kau terhebat sayang." Dior kembali mengecup kening Gracia. Selesai sudah perjuangan Gracia mengandung dan melahirkan anak mereka. Gracia melahirkan secara normal yang tidak di sangka sangka karna dokter memprediksi Gracia mengandung melalui operasi. Siapa yang tahu Gracia sudah kontraksi sebelum prediksi melahirkan.
Gracia melahirkan seorang anak laki laki dengan berat 3.8kg dan tinggi 51cm. Mereka semua sangat bersyukur kalau ternyata anak Gracia lahir dengan sehat.
"Siapa nama cucuku ini Dior, Gracia?" Tanya Viena sambil menggendong anak mereka.
"Darren." Dior berkata bersamaan dengan Gracia mengatakan namun dengan sebutan nama yang berbeda.
"Glorio." Kata Gracia
Semua orang yang di sana merasa bingung.
"Hahaha! Jadi namanya Darren atau Glorio?" Selidik Zefanya tertawa kecil.
"Kenapa Darren kak?" Tanya Gracia karna dia juga cukup tertarik dengan nama itu.
"Huruf awalan dari namaku dan ditengahnya ada R yang menurutku sangat cocok ketika memanggil namamu, Gracie, Grace ..ada R di sana dan apa kau tahu? Darren mencerminkan sepertimu sayang. Dia akan menjadi anak laki laki yang lembut dan penuh kasih sayang tetapi dia sangat pekerja keras. Dia akan menjadi orang besar namun tetap memeliki hati yang merendah. Bagaimana?" jawab Dior dan kembali menyerahkan pada istrinya.
"Bagus sayang! Aku suka. Darren. Ya aku suka memanggilnya. Darren anak mommy!" Gracia mencoba memanggilnya dan sangat sesuai.
"Lalu mengapa kau menyebut Glorio?" kini Dior yang kembali bertanya.
"Haha, aku hanya memikirkan persahabatan mommy ku dan mommy Vien. G dari nama mommy ku Greta dan bukankah nama tengah Mommy Viena adalah Gloria? Sudahlah aku tidak bisa mengartikan namanya namun sepertinya dengan adanya nama mommy ku dan mommy Vien, anak kita akan selalu dalam lindungan mereka. Mendapatkan berkat di manapun dia berada." jawab Gracia.
"Gloria itu kemuliaan, Gracie! Baiklah sudah diputuskan, nama keponakan ku adalah Darren Glorio Prime . Seorang anak laki laki yang lemah lembut dan pekerja keras. Dia akan menjadi orang besar karna penuh dengan kemuliaan. Amiinn ...." kata Zhavia yang akhirnya menjabarkan arti nama keponakannya.
"Ammiinn .." saut yang lainnya dan Leon yang agak keras karna sambil menggoda anak angkatnya itu.
"Memang Zhavia, kau benar benar pujangga cinta!" Sela Zefanya mengusap kepala kembarannya juga hendak menggodanya.
"Pujangga cinta apa?!! Itu memang arti dari kata Gloria, ya kan mam?" saut Zhavia dan ibunya hanya tersenyum karna terharu akhirnya memiliki seorang cucu.
"Pujangga cinta seperti mantan kekasihmu, cepat kau cari dia sana dan buat nama anak kalian!" Zefanya masih terus menggodanya.
"Kau saja belum hamil! Cepat kau hamil dulu nanti aku menyusul!" celetuk Zhavia tidak mau kalah.
Dior merangkul Gracia dan mereka tertawa kecil melihat tingkah saudara kembar itu. Semua yang di sana juga tertawa.
Lagi lagi, Revo yang juga di sana matanya berkaca kaca. Dia terharu dan menilik hatinya untuk berbicara pada istrinya.
'sayang, kau lihat kan? Gracia sungguh berbahagia dengan Dior bahkan mereka sudah mempunyai anak. Kita sudah mempunyai seorang cucu yang sangat tampan. Hem, kau benar benar peramal yang handal sayang, anak kita bahagia bersama Dior.' gumam Revo tersenyum dan menghampiri Viena untuk melihat cucunya.
...
...
...
...
...
1 episod mau ending ya hehe
.
next part 38
masih terselip dua cerita yaa dan ini akhir kok hehe 😁😁
jangan boseenn ya sama diriku karna masih ada dua bagian yang harus diselesaikan biar tuntas dan legaa hehe 😍😍
.
pada akhir nya Vii selalu ingetin jangan lupa kasih LIKE, KOMEN, karna ini merupakan wadah aku bisa tahu di mana letak kesalahan dan kelebihan untuk mood booster aku 😁😁
Dan boleh juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel .. kasih 5 bintang nya donggss 😍😍
.
__ADS_1
Thx for read and i love you so much much more and again ❤❤