
Manda lo khawatir gak sama kak Roy?" Senggol Rival.
"Eh!"
"Ya khawatir lah kan sahabat gue val."
Sahabat? Cuma sahabat doang? Ternyata ya!!
Sakit tau gak Roy!!
"Gue paling tau kalau lo cemburu dan pengen juga diperhatikan? Kita senasib man." Rival menghampiri Manda yang berdiri didepan. Ia membiarkan mereka didalam ruangan. Nasib mereka kali ini sama, berusaha untuk membahagiakan dan perhatian tapi calon pasangan mereka malah melakukan hal yang diluar ekspetasi.
Manda hanya diam, ia takut kalau Rival memberi tahu Roy.
"Udah gak usah sok diam aja dan semua akan tau man kalau lo itu jatuh cinta kan sama kakak gue?"
"Jangan ngaco val, gue gak suka sama Roy kok." Manda terkejut sekali ketika Rival mengatakan hal itu. Ia takut Rival akan mengatakan yang tidak-tidak kepada Roy dan ketika di sekolah ia akan canggung kepada Roy itu yang ia hindari.
Karna bukan itu saja, semua seakan lebih canggung dan jadi bahan rumpi.
"Ya udah gue kedalam lagi, gue cuma pengen kasih tau doang sih man kalau mau ngomong, ngomong aja sama kak Roy luapin perasaan lo apalagi ini soal hati lo bakalan nyesel kalau lo gak pernah kasih tau kak Roy." Rival menepuk bahu Manda yabg masih diposisi yang sama.
Karna cuma cedera ringan saja Roy pun diperbolehkan dokter untuk pulang ke rumah. "Pelan-pelan kak." Sementara ini Roy berjalan pincang terlebih dahulu untuk ke rumah.
"Val lo bawa motor gue ya, dan tif lo bawa mobil Rival. Dan Manda mana?"
"Dia ada diluar." Sahut Rival.
Cerry dan Franda memutuskan untuk pulang ke rumah dan tidak ikut mengantarkan Roy bersama mereka. "Kak kita pulang ke rumah dulu ya maaf gak bisa ikutan ngantar ke rumah."
"Iya makasih banget ya, udah bantuin ke sini."
Mereka pun mengangguk.
***
Perlakukan Roy dan Rival terlihat berbeda tapi sebenarnya hanya saja Roy jauh lebih penurut ketimbang Rival. Dan Rival merasa kalau Roy seakan adalah anak emas mereka dan ia juga berfikir kalau dirinya adalah anak biasa saja.
Ia menyunggingkan senyum yang biasa saja, ia ke kamar dan apalagi perhatian yang tampak terlihat. Rasa khawatir itu berubah menjadi rasa yang cuek dan bodo amat.
Roy hanya bisa menarik napas sebentar dan pasti merasakan hal yang sama. Ia tau kalau Rival pasti haus akan perhatian.
"Lo sih bawanya kenceng banget gak bisa rem kan?"
"Lo gak papa kan Roy?" Manda meras bersalah sekali dengan kejadian hari ini.
Kadang cinta itu sulit ditebak, akan datang disaat yang tidak terduga sama sekali. Contohnya sama Manda berkat mereka bersama rasa itu tumbuh menjadi rasa yang berubah menjadi cinta. Cinta yang mungkin bertepuk sebelah tangan.
Roy sendiri hanya menganggap Manda sebatas teman biasa, dan itu yang akan membuat Manda membentengi dirinya kalau Roy gak akan pernah dan sampai kapan pun gak akan pernah jatuh cinta. Makanya dari itu rasa itu terus ia sembunyikan dan ia tutupi dalam-dalam.
Apalagi Franda yang ia ketahui jadi pacar Rival ternyata disukai oleh Roy, ia tau sekali kalau Roy jatuh cinta pasti akan menunjukkan sikap yang berbeda pula. Sebagai perempuan pun ia tau itu.
"Makasih ya man, udah nganterin sampai rumah. Eh sorry ya tadi, ada yang lecet gak?"
"Alhamdulillah enggak kok. Gimana masih sakit?"
"Enggak kok makasih ya."
"Ehem, ada gue nih disini." Tiffany berasa seperti nyamuk ditengah-tengah mereka.
Wajah Manda berubah kepiting rebus.
Dan.
"Ape sih lo! Udah sama telfon Hito, telfon tunangan ala-ala lo berdua hahaha. Aw sakit."
"Rasain lo pikir enak, wleee." Tiffany memilih untuk pergi dan meninggalkan Roy dan Manda berdua.
"Emang mereka tunangan?"
"Iya man, biasa anak alay, makanya lo jangan kayak mereka alaynya. Biasa gitu."
***
"Makasih ya cer."
__ADS_1
"Ya udah gue balik dulu kali ya." Franda pun mengangguk dan masuk kedalam rumah.
Senyum manis yang tergambar di pikiran Franda masih sangat terasa sampai saat ini, Apalagi Roy yang sempat menggenggam erat jemari tangannya. Getaran itu ada, dan mampu membuat jantung yang berdebar lebih kencang dari biasanya tapi ia tahan dan ia tau disana ada Cerry dan ada Manda dua orang yang menyukai laki-laki yang sama.
"Loh kok bau obat? Kamu tau kemana toh?"
"Habis dari rumah sakit mah." Mendengar rumah sakit langsung shock dan mengecek dari ujung kepala sampai ujung kaki tapi tidak ada balutan perban sama sekali.
Franda tersenyum tipis. "Bukan Franda kok mah, tapi kak Roy."
"Roy?" Nama itu masih asing dan ilang sering ia dengar adalah Rival karna Rival yang sering mampir ke rumah.
"Dia kakaknya Rival, yang sering jemput Franda mah."
"Kenapa dia ke rumah sakit?"
"Remnya blong."
"Trus gak papa?"
"Alhamdulillah udah baikkan cuma luka dibagian tangan sama kaki tapi dia udah diperbolehkan balik ke rumah." Air putih yang ada diatas meja pun ia teguk karna tenggorokan yang mulai kering.
"Itu sih juga jangan dianggap remeh sayang."
"Iya mah, tapi entar ada rencana buat jengukin ke rumah kak Roy."
"Berarti ketemu Rival dong?"
"Mereka kan satu rumah mah, ya pasti lah hahaha."
***
...Sekali lagi cinta itu bukan untuk dipaksakan tapi cinta itu butuh perasaan...
Ini sudah berbeda, bukan dulu dan ini sekarang. Cinta itu tumbuh karna nyaman dan karna sebuah perhatian, Rubi bukannya tidak baik. Ia baik dan itu dulu bukan sekarang.
Rival sudah tidak ada hati lagi. Hati itu sudah singgah dihati yang lain. Bahkan ia rela mengiyakan suruhan Franda untuk kembali dengan Rubi dengan alasan yang tidak signifikan sama sekali.
Di meja makan ia hanya diam dan diam saja tidak ada kata semangat disana.
"Ayo dong kenapa diam aja?"
Rubi berusaha untuk memberikan suapan sebagai tanda baik untuk Rival memperbaiki kesalahan yang telah lalu.
"Enak kan?"
"Hm."
"Val kok diem aja sih, kenapa kamu sa---" ketika tangan Rubi ingin memegang dahi Rival langsung ditepisnya dengan santai.
"Gue gak papa kok rub." Senyum yang datang mengibaratkan cinta itu tidak ada lagi dan tertutup rapat.
Seharian ini bareng Rubi, sesuai janji Franda kalau ia akan menerima balikan kalau misalnya Rival menerima Rubi. Perjanjian macam apa itu?
Tanpa ini masih ambang wajar.
Rival merasa bosan, ia pun mengambul kunci mobil lalu pergi begitu saja. "Rub kayaknya gue balik deh, lo gak papa kan balik sendiri?"
Bahkan tak ada kata-kata basa basi ngajak pulang bareng. Setega itukah Rival?
Rubi tersenyum kecut dan mengangguk, padahal ia sudah menyiapkan kata-kata yang sudah ia persiapkan tadi malam. Semua pupus begitu saja. Air matanya menetes, tanpa disuruh. Meremas rok sekolah yang ia kenakan.
Flashback ON
Ia mondar-mandir di kamar hanya untuk mempersiapkan kata-kata yang ingin ia ucapkan ketika bertemu Rival besok. "Duh apaan ya."
"Val, maaf gue ya gue----"
"Ah apaan sih alay. Ulang lagi." Ia kembali mendekat kedepan cermin dan memegang sisir sebagai mikrofon.
"Val sorry gue, masihh cin---"
"Akh gue grogi gak bisa ngomong!!!"
Flashback OFF
__ADS_1
Dan ternyata sia-sia, Rival malah cuek dan dingin kayak es batu. Raganya memang Rival tapi hatinya bukan yang ia kenal itu.
Rasa optimis itu berubah menjadi pesimis, tidak ada kata lagi untuk berubah seperti semula.
Chiko ya Chiko, orang yang selalu ada dihidup Rubi ia pun berinisiatif untuk menelfon Chiko sahabat setianya. "Chik lo kesini ya, gue butuh lo!"
Inilah bertepuk sebelah tangan, cinta yang sudah terbalik dulu Rival yang selalu memperlakukan Rubi seperti ratu berubah menjadi orang biasa yang tidak ada kata spesial lagi.
"Rubi?" Matanya yang sudah tidak sembab lagi, tapi terlihat kalau ia tadi menangis.
"Lo habis nangis? Gimana Rival?"
"Gimana dia apanya chik? Lo mau pesan apa?" Sahut Rubi yang mengalihkan pembicaraan.
"Rubi, lo kenapa sih? Masih aja berharap sama Rival, lo tau kan lo tuh cantik rub baik, kaya, pintar masih banyak cowok yang mau sama lo."
"Tapi gue gak bisa kehilangan Rival chik gak bisa!" Seketika ia menunduk, Ia tau kalau Rival sudah bukan Rival yang dulu tapi bagaimana pun kalau bicara tentang hati itu hal yang paling susah untuk dicapai apalagi kalau udah cinta mati. Ia tau itu salah tapi susah!
"Udah lah rub, jangan sakitin hati lo demi dia."
"Oh iya lo kesini sen---"
Rubi sontak menggeleng pelan "Bareng sama---"
Dan mengangguk. "Ya udah, gue bisa apa lagi rub. Udah yang pending gue dukung yang terbaik lo aja ya." Memang persahabatan itu ada yang saling suka tapi takut buat mengungkapkan, ada yang sahabat yang mengingatkan dan ada sahabat yang saling dukung.
Dan ini katagori yang kedua.
***
Hari ini adalah hari jum'at dimana hari yang paling lebih cepat pulang ke rumah.Tapi..
"Franda kamu bisa ke kelas XII IPA 1 buat antar ini."
Eh tunggu itukan kelas Roy! Otomatis ia akan bertemu dengan Roy. Dan semua disana ada kakak kelas yang cogan. Ya ampun! Bakalan malu. Tapi gimana ini adalah suruhan dari kepala sekolah yang gak bisa ia tolak walaupun malu. "Eh itu kan Franda ngapain dia?" Reno melihat dari dalam kelas yang menyorot langsung kalau Franda mengarah ke kelasnya. Sedangkan Roy asik mengobrol dengan Manda.
"Man, lo udah belum ngerjain tugas?"
"Belum nih, susah banget!"
"Kenapa gak bilang sama gue aja kan bisa gue bantu sahabat tuh gitu fungsinya saling bantu."
"Iya Roy iya entar." Sahut Manda yang selalu memandang Roy seperti itu.
"Permisi, kak Roy!" Panggil seseorang dari luar kelasnya.
"Eh Franda." Ketika Roy ingin berdiri tangan Manda dengan refleks menahan agar tidak berdiri.
"Masuk aja fran." Suruh Reno.
Dengan memasang aura pede ia pun masuk kedalam kelas dengan beberapa orang disana.
"Ini kak titipan dari kepala sekolah ke kakak, kalau gitu aku permisi ya kak."
"Buru-buru banget fran." Senyum Roy yang sudah menerimanya.
Franda hanya tersenyum. "Fran."
Ia memejamkan matanya karna malu. "Iya kak?" Ia sengaja tidak memalingkan wajahnya karna grogi apalagi di kelas orang lain "Makasih ya." Langsung menarik nafas lega.
"Iya kak sama-sama."
"Lucu banget sih dia." Gerutu Roy yang terdengar oleh Manda.
Franda mempercepat langkahnya dan mengelus-ngelus dada, jantung yang hampir copot. "Huh syukur senyum itu bikin gue meleleh."
Disela-sela itu, "Oh jadi ini yang berani putusin Rival?" Mereka adalah adik kelas yang mengetahui kabar putus itu, ya kalau udah pacaran sama orang yang populer maka gosip pun akan tercium lebih cepat.
Dan satu yang paling rahasia adalah Franda dan Rival tidak pernah bercerita ke siapapun tanpa terkecuali orang terdekat mereka. Jadi gosip masih di posisi yang sama yaitu kabar putus mereka.
Ia tidak mau menanggapi, bagaimana kalau mereka tau kalau ini cuma rencana? Sekejam itu kah yang selama ini Franda lakukan?
Rasa bersalah itu pasti ada, tapi ya bagaimana pun harus dijalani.
Wajah yang berubah, pikiran yang mulai berfikir.
__ADS_1
Kayaknya ia harus benar-benar mengambil keputusan.
...Harus bahagia, kalau patah hati jangan dipatahin lagi sama rasa sakit. Karna rasa sakit adalah ujian untuk menjadi sesuatu yang terbaik...