Mantan Terindah

Mantan Terindah
Luka berselimut Cinta


__ADS_3

Gani membuka pintu mobil, menempatkan Nadia di kursi penumpang bagian depan. Kemudian ia memutar tubuhnya dan masuk ke dalam mobil, bersiap di kursi kemudi.


Tak ada perbincangan. Mata Gani masih memerah. Rahangnya masih mengeras. Nadia sangat tahu jika Gani masih diselimuti amarah. Itu sebabnya ia pun tak berani membuka suaranya.


"Ambil ponselmu, hubungi adikmu. Suruh langsung ke rumah sakit umum Siloam," ucap Gani, langsung tanpa basa-basi.


Nadia tak berani membantah sedikitpin. Ia pun langsung mengambil ponsel miliknya dan menghubungi sang adik.


"Sudah," ucap Nadia.


Gani menatap sekilas pada Nadia. Lalu tanpa basa-basi pria tampan ini meraih tangan sang gadis. Lalu menciumnya lembut. Tentu saja aksi pria ini sukses membuat sang gadis merinding.


"Gan, aku oke," tolak Nadia halus.


"Aku tahu kamu oke, Nad. Tapi aku nggak oke! Hatiku sakit, Nad. Aku nggak terima kamu diperlakukan seperti itu," ucap Gani, serius.


"Nggak pa-pa, pacarmu kan lagi emosi, lagi cemburu, jadi wajar kalo dia marah," ucap Nadia memperingatkan.


"Dia bukan bacarku, Nad. Jangan sebut wanita tak tahu diri itu pacarku. Aku nggak sudi," jawab Gani marah.


Melihat amarah kembali menyerang Gani, Nadia pun memilih diam.


Lima menit berlalu, Gani kembali bertanya pada Nadia. "Apakah kakimu sakit?"


"Iya, nyeri, tapi sedikit. Kamu jangan khawatir," jawab Nadia, jujur.


Gani kembali meraih tangan sang gadis, lalu kembali menciumnya, sayang.

__ADS_1


"Maafin aku ya, Nad!" ucap Gani.


"Iya, nggak pa-pa. Semua akan baik-baik saja, Gan. Aku pun akan baik-baik saja. Semoga kedua orang tuamu tidak berpikir bahwa kita benar-benar selingkuh ya, Gan!" ucap Nadia lagi.


"Aku nggak peduli, Nad. Apa yang aku yakini, itulah yang benar. Aku nggak mau susah-susah menjelaskan, kalo pas akhirnya mereka malah lebih percaya pada wanita jahat itu," jawab Gani serius.


"Sabar ya, Gan. Percayalah semua akan baik-baik saja." Nadia tersenyum, begitupun Gani. Pria tampan ini pun tersenyum.


Namun, senyuman Gani seperti mengandung arti lain. Diam-diam hatinya berbunga-bunga, karena tanpa ia sadari, ia telah berani mencium tangan wanita yang kini ia sayangi. Bukankah itu kemajuan yang luar biasa.


Bersama Mariska saja ia belum pernah mencium tangan semanis itu. Gani biasanya hanya menggandeng tangan wanita itu. Tidak lebih. Tetapi bersama Nadia, ia malah ingin selalu melindungi gadis ini dengan cinta, dengan kasih sayang.


Entahlah... Gani sangat tidak rela, jika gadis yang kini ada di sampingnya merasa sakit. Meski sedikit. Sungguh, Gani sangat tidak bisa menerima itu.


***


Di sini bukan hanya Gani yang sedang diracuni berbunga-bunga cinta, babang tampan satu kita ini juga sedang dimabuk asmara.


Namun kebahagiaan itu kini terpaksa mereka tunda, karena Bima mendapat panggilan tugas ke Papua sebagai salah satu relawan di daerah rawan konflik itu.


Tentu saja, kabar ini sukses membuat Vita menangis tersedu-sedu. Ia tahu bahwa tugas sang suami sangatlah mulia. Tetapi haruskah pria itu pergi sekarang? Sedangkan bunga cinta yang ada di antara mereka sedang mekar-mekarnya. Sungguh, jika boleh jujur, Vita sangat tidak rela dengan itu.


Vita masih ingin di sini. Di pulau ini, bersama Bima. Dimanjakan oleh pria itu, siang dan malam.


"Apakah tidak sebaiknya Mas batalkan saja, Vita nggak ingin ditinggal, Mas!" pinta Vita, dengan deraian air mata yang sulit diartikan.


"Sayang, mengabdikan diri pada masyarakat adalah cita-cita Mas sebelum meraih gelar dokter. Bahkan Mas daftar sebagai relawan ini, ketika Mas masih koas. Mana bisa Mas batalin begitu saja. Pokoknya, Mas, janji. Mas bakalan sering kasih kamu kabar. Mas bakalan sering telpon kamu. Mas bakalan sering video call sama kamu. Dan yang pasti, Mas nggak akan ngeduain kamu. Kamu tetap istri pertama dan terakhirku," ucap Bima berjanji.

__ADS_1


Vita masih belum bisa menerima ini dengan akal sehatnya. Bayangkan? Cinta yang ada di antara mereka sedang merekah sempurna.


Lalu? Kenapa mereka harus berpisah? Vita sangat tidak rela. Sungguh!


"Sayang, sini!" rayu Bima sembari menarik tangan sang istri dan membawa wanita cantik itu ke atas pangkuannya.


"Nggak lama kok, Yang. Hanya emam bukan saja. Mas janji, selesai tugas ini, Mas nggak akan daftar relawan lagi. Mas bakalan nemenin kamu. Oke," rayu Bima.


"Ikut!" pinta Vita.


"Boleh! Tapi setelah situasi kondusif. Di sana sedang tidak aman, Sayang. Aku nggak mau kamu kenapa-napa," jawab Bima.


"Lalu, kalo di sana bahaya, kenapa masnya pergi ke sana? Mas pikir Vita nggak takut kalo masnya kenapa-napa!" balas Vita kesal, ketus, jutek, marah.


Bima tersenyum sebab dari situ dia sangat tahu, bahwa sangat mencintainya.


"Kan mas dikelilingi bapak-bapak berseragam doreng, Sayang. Mas nggak bakalan kenapa-napa. Mas janji!" jawab Bima, lagi. Masih berusaha menyakinkan sang belahan jiwa.


"Entahlah, Mas. Berat Mas, sungguh!"


"Mas tahu, Sayang. Tapi percayalah, Tuhan akan nglindungin Mas buat kamu. Karena Tuhan tahu, kita saling mencintai dan cinta itulah yang akan membuat kita kuat selama perpisahan ini. Kamu paham kan maksud, Mas. Dan satu lagi yang perlu kamu ingat, pokoknya kamu harus selalu do'ain Mas, supaya bisa pulang dengan selamat. Lalu kita bisa kumpul bareng lagi, seperti ini. Oke!" rayu Bina lagi.


Tak ada pilihan lain. Meskipun ia merengek seperti apapun, bukankah Bima harus tetap pergi.


Surat formulir perjanjian itu sudah ia tanda tangani. Mana mungkin dia bisa mundur lagi.


Bersyukur, perjuangan Bima setelah hampir sehari semalam merayu sang belahan jiwa, akhirnya wanita cantik itu pun mengizinkannya untuk pergi.

__ADS_1


Sebagai salam perpisahan, malam ini, Vita pun kembali melayani sang suami. Melayani pria itu dengan sepenuh hati. Agar Bima selalu ingat, di dalam tugasnya ada seorang wanita yang begitu setia menanti kedatangannya.


Bersambung...


__ADS_2