Mantan Terindah

Mantan Terindah
Janji Bertanggung Jawab


__ADS_3

Kabar buruk itu sedikit membuat Juan kerepotan. Bagaimana tidak? Dia sekarang masih berada di Jakarta. Stella tidak bisa berangkat ke Lombok karena kedua anak mereka sedang sakit. Sedangkan Gani, yang ia minta untuk menggantikan sang istri, malah tanpa sengaja melakukan kesalahan atau lebih tepatnya Gani sedang terkena masalah.


"Ya Tuhan, kenapa harus ada masalah lagi? Kapan hidup ini tenang, damai, sentosa," gumam Juan, sedih.


Untuk menenangkan diri, Juan pun mengambil air minum dan menenguknya. Agar jiwanya terasa lebih tenang.


"Berpikir, berpikir ayo berpikir. Siapa ini yang bisa bantu Gani di sana?" gumam Juan lagi. Semenit kemudian Juan teringat satu nama, yaitu adik iparnya. "Bima.... oh iya, Bima. Siapa tahu dia ada temen atau kenalan yang bisa bantu Gani?" ucap Juan bersemangat.


Tak menunggu waktu lagi, Juan pun menghubungi adik iparnya tersebut.


"Iya, Bang! Ada apa?" tanya Bima di seberang sana.


"Em, gini Bim. Sebelumnya Abang minta maaf. Abang ganggu kamu nggak?" tanya Juan, basa-basi. Karena ia tahu, sang dokter satu ini adalah pengantin baru yang lagi bucin-bucinnya. Ia takut menganggu. Hanya itu.


"Nggak, Bang. Bima free, nih. Vita juga udah tidur," jawab Bima jujur.


"Baru jam segini kok tidur. Emang nggak tempur dulu?" canda Juan, kemudian ia terkekeh.


"Abang bisa aja. Dia lagi nggak enak badan, Bang. Mungkin kelelahan. Tadi rencananya sih mau, tapi tamu tak undang dateng. Terpaksa puasa, Bang! nasib-nasib," Bima ikut terkekeh dan keduanya tertawa senang.


"Astaga! Dasar pengantin baru. Ya udahlah, kamu sabar-sabar. Yang penting kamu udah bisa bikin dia takluk. Kamu cuma puasa beberapa bulan aja, Bim. Kecil itu. Lah Abang satu tahun lebih. Ya Tuhan... ! Kurang sabar gimana coba," Juan menggaruk keringnya yang tak gatal.


"Serius, Bang? Emang kenapa? Kalian dijodohin?" tanya Bima penasaran.


"Enggak, milih sendiri. Tapi lebih tepatnya, aku memaksa kakakmu untuk menikah denganku," jawab Juan jujur.


"What? Kok bisa?" Bima pun penasaran.


"Sudah-sudah, kamu tanya Vita saja, kenapa sejarah kenapa abang bisa puasa lama. Pokoknya intinya, pernikahan kakakmu dengan abang, itu awalnya karena ancaman. Tapi tahluk juga tu cewek. Intinya, kita sebagai laki-laki jangan pernah kasarin dia. Buat dia senyaman mungkin. Cintai dia dengan tulus. Nanti juga bakalan nurut sendiri. Ya kan? Eh.. kenapa jadi ngomongin kita." Juan terkekeh. Sedangkan Bima hanya mendengarkan dan tersenyum senang.


"Emm gini, Bim. Sekertaris Abang, dia lagi ada masalah di Lombok. Kamu ada temen yang bisa bantu ngga?" tambah Juan, mulai memfokuskan perhatiannya pada pokok masalah yang sedang ia hadapi.

__ADS_1


"Di Lombok? Emang ada masalah apa, Bang? Ada sih temen, tapi masalahnya apa dulu?" tanya Bima


"Ini sekertarisku, si Gani. Kenal kan?" tanya Juan.


"Iya, yang bantu Bima urus pernikahan, bukan?" tanya Bima.


"Yes, dia! Dia lagi ada masalah, Bim. Dia tadi nabrak orang dan sekarang ada di rumah sakit xxx, korbannya belum sadarkan diri. Kamu ada kenalan dokter di rumah sakit itu nggak? Setidaknya bisa bantu dia buat ngurus korbannya. Jangan sampai ni korban kenapa-napa," ucap Juan khawatir.


"Oh, ada, Bang. Sebentar, Bima telpon temen Bima. Abang kasih nama korban sama siapa yang tanggung jawab aja. Nanti Bima kabarin," jawab Bima.


"Oke, makasih banyak, Bim, atas bantuannya. Semoga Gani bisa lebih tenang kalo ada seseorang yang bisa ngedampingin dia di saat menengangkan seperti ini. Kamu cepet kirim kabar ke Abang ya, Abang tunggu!" ucap Juan.


"Siap, Bang. Semoga malam ini beliau lagi jaga. Jadi bisa kasih info kita secepatnya," jawab Bima.


Tak menunggu waktu lagi, mereka pun segera melaksanakan tugas masing-masing. Berharap masalah yang di hadapi Gani segera terselesaikan.


***


"Saudara, Gani?" tanya pria berbaju dokter itu.


"Iya, Dok, ini saya," jawab Gani seraya beranjak dari tepat duduknya.


"Perkenalkan saya Ridwan, teman dokter Bima," ucap Ridwan, sembari mengulurkan tangan, mengajak Gani berkenalan.


"Teman dokter Bima? Dokter Bima siapa ya, Dok?" tanya Gani. Mungkin ini adalah efek ngeblank, efek takut. Sehingga mengakibatkan Gani oleng.


"Bima.... Emmm... itu loh yang belum lama ini nikah. Itu Bima yang istrinya orang Jakarta. Kenal kan?" jawab Ridwan, ikutan gugup. Takut dia salah orang.


"Ohhh, Bima yang itu. Suaminya non Vita, Eh! Bener nggak, Dok?" tanya Gani.


"Mungkin. Saya sendiri pun nggak tahu nama istrinya. Pokoknya aku temennya Bima dan aku ke sini buat nemenin kamu atas permintaan abang iparnya Bima," jawab Ridwan lagi.

__ADS_1


"Abang iparnya, Bima? Oh iya, beliau adalah bos saya, Dok," jawab Gani. Akhinya menemukan alasan kenapa ada dokter yang tiba-tiba datang untuk menemaninya.


"Ya, mungkin saja begitu. Oiya, boleh saya mau tahu kronologi kecelakaan ini. Biar nanti kalo ada polisi dateng, saya bisa bantu kamu," ucap Ridwan.


"Sepertinya ni cewek lagi ada masalah, Dok. Dia nyebrang nggak lihat kanan kiri. Dan apesnya saya yang melintas. Untung saya bawa mobilnya nggak kenceng. Entahlah, Dok. Saya masih belum bisa mencerna apa yang terjadi," jawab Gani jujur.


"Oke, nanti kita bisa lihat CCTV jalan, semoga kamu bisa keluar dari kasus ini. Tapi setidaknya kamu tetap mau bertanggung jawab agar si wanita ini bisa sembuh seperti sedia kala," ucap Ridwan dewasa.


"Insya Allah, Dok. Kalo mbaknya nggak bawa kasus ini ke ranah hukum, saya pastikan, saya akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Oiya, Dok, nama saya, Gani, Dok. Sudah tahu kan ya!" jawab Gani gugup.


"Yes! Jangan sungkan." Keduanya terlihat rikuh. Karena ini adalah perkenalan yang aneh menurut mereka. Yang mengenalkan mereka tidak ada di tempat ini. Hanya mereka berdua. Bukankah ini aneh.


"Emmm, dokter sudah tahu bagaimana kondisi perempuan yang saya tabrak?" tanya Gani dengan ketakutan yang ia rasakan.


"Iya, Pak Gani. Saya sudah melihat laporan perkembangannya. Untuk alat Vitalnya saya rasa oke. Tinggal nunggu obat biusnya selesai bekerja. Insya Allah dia akan segera sadar. Hanya saja, ada kabar yang mungkin sedikit membuat si cewek ini shock. Tulang kakinya retak dan kemungkinan dia harus istirahat total di ranjang. Maksudnya dia harus memakai kursi roda untuk melakukan aktivitas hariannya," jawab Ridwan jujur.


"Astaghfirullah hal azim! Itu artinya dia nggak bisa jalan, Dok?" tanya Gani gugup.


"Bisa. Tapi harus sabar. Pemulihannya tergantung pengobatan dan niat dari di korban sendiri. Harus mau dan sabar terapi. Saya yakin bisa berjalan kembali kok. Saya sudah konsultasikan sama dokter yang menanganinya. Sebenarnya selesai operasi tadi, dokter hendak kasih laporan, tetapi dokter tersebut ada halangan, mungkin nanti siang beliau bakal kasih tahu kamu," ucap Ridwan.


"Ya Tuhan... terima kasih banyak, Dok. Saya leg jika demikian. Saya janji, Dok, saya pasti bakalan biayain sampai dia bisa jalan lagi, yang penting dia dan keluarganya tidak membawa kasus ini ke ranah hukum. Bukan saya takut, tapi ini akan menghambat pekerjaan saya," jawab Gani jujur.


"Ya, saya mengerti. Sebaiknya kamu kembali ke hotel. Istirahat lah. Nanti aku titipin pasien ini sama perawat yang bertugas. Nanti kalo ada apa-apa aku hubungi kamu segera!" ucap Ridwan.


"Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih atas bantuannya. Saya janji, saya nggak akan lari. Saya pastikan saya akan mempertanggungjawabkan apa yang telah saya lakukan," jawab Gani, serius. Tak lama, Gani pun mengeluarkan kartu namanya dan memberikan kartu nama tersebut kepada Ridwan.


Ridwan pun mengambil kartu nama tersebut. Lalu mereka pun berpisah.


Gani kembali ke hotel untuk mengganti dan pakaiannya. Beristirahat sebentar, sebelum nanti harus kembali menghadapi kenyataan yang kini sedang menghadangnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2