Mantan Terindah

Mantan Terindah
Bandel Ya?


__ADS_3

Malam pun datang, selepas makan malam, Vita duduk termenung di sofa. Mengangkat kedua kakinya. Menyandarkan tubuhnya di sana. Merenungi nasib yang kini sedang ia jalani.


"Kok di sini, istirahatlah... atau mau Kakak temenin?" tanya Stella.


Vita menggeleng. Tiba-tiba saja air matanya keluar tanpa ia minta.


"Loh... kok malah nangis? kenapa?" tanya sang kakak.


"Aku merasa hidupku hampa banget, Kak. Berasa nggak ada tujuan!" jawab Vita jujur.


"Eh, janganlah ngomong begitu! Di dalam rahimmu ada calon baby yang butuh semangatmu. Bagaimana kamu bisa membesarkanya? Kalo kamu pesimis begini? Kasihan dia! Iya kan? " tanya Stella.


"Aku sayang sama bayiku, tapi aku juga mau mas Bima ada di sini, bersama kami. Bersamaku nge-besarin buah hati kami, Kak! Nemenin hari-hari kami," jawab Vita. Lagi-lagi dengan raut wajah sedih.


"Kakak tahu, udah lebih baik sekarang kamu tidur. Berdoa, semoga apa yang kamu inginkan jadi kenyataan. Oke. Tetap semangat demi bayimu!" pinta Stella seraya membantu sang adik berdiri.


Namun Vita masih belum ingin beranjak. Ia memilih duduk manis di sofa. Memikirkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


"Apakah Bima baik padamu?" pancing Stella.


"Awalnya nggak, Kakak udah tahu kan, dia kan sahabat kak Zi, istri bang Zein. Dan saat itu Vita terlibat cinta segitiga dengan mereka. Pakek ngaku-ngaku anak bang Zein lagi. Ya udah mas Bima jadi kesel jadi marah sama Vita." Vita tersenyum mengenang waktu itu.


"Terus, kok kalian bisa bucin gitu? gimana ceritanya?" pancing Stella kepo. Stella menyamankan posisi duduknya agar lebih santai.


"Setelah kami merried aja ya ceritanya," jawab Vita, bersemangat. Membuat Stella senang, setidaknya sang adik bisa tersenyum lagi. Bisa melupakan sedikit kegalauannya tentang Bima.


"Oke! Coba cerita, soalnya kisah kalian menarik juga. Cinta kalian termasuk ekpres. Kakak jadi penasaran," pancing Stella lagi.


"Nggak ekpres juga, Kak. Di awal menikah, kami udah bikin perjanjian buat pisah, setelah seratus hari kepergian almarhum papa. Vita nggak bisa menolak karena hampir setiap hari dia marah, nolak Vita, ngatain Vita pelakor, pokoknya wanita nggak baik lah." Vita menghapus sisa sisa air mata yang masih menempel di pipinya.

__ADS_1


"Terus." Stella semakin tertarik.


"Selepas akad, Vita kan ada kerjaan di Jakarta, sehabis nikah berapa hari gitu, aku lupa. Lucunya, dia itu kesel ama Vita, sempet marah juga kan? Eh masak Vita mau pulang ke Jakarta di anterin. Kan kocak tu bapak-bapak. Harusnya kalo nggak peduli, ya nggak usah aja. Ngapain capek-capek nganter, iya kan. La ini, di anterin sampek ke kosan Nita. Kan waktu itu Vita masih belum mau terbuka siapa Vita!" Vita terkekeh.


"Benarkah? Lalu, apa dia masih masih kesel?" tanya Stella lagi.


"Masih, masih semangat ngomelnya." Vita tersenyum sedangan Stella masih dengan tawa renyahnya.


"Lalu, kok kalian bisa sampek nggak jadi pisah? Gimana ceritanya?" Stella semakin antusias.


"Hari itu Vita ada kerjaan di Lombok. Pas hari itu Fira juga ada di sana. Ketemuan lah kita. Terus Fira nanya, Vita mau main ke rumah bang Zein nggak? istrinya bang Zein pengen ketemu Vita."


"Terus."


"Ya usah siang itu Vita pun mau diundang makan siang ke rumah bang Zein."


"Nggak tahunya, dia juga diundang. Ya udah kita ketemu lah di situ. Di situ tu, muka dia udah merah, seperti seseorang yang lagi nahan marah. Padahal dia ke situ sama cewek. Sama suster Nadia kalo nggak salah. Sahabatnya kak Zi. Vita sih cuek aja yak, kan dia bilang kita mau pisah aja, aku pikir ya udah nggak mungkin dia peduli lah ama Vita, toh dia kesitu ama cewek juga, ya kan? Eh pas mau pulang, dia ngejar Vita tu. Debat lah kami di situ. Ribut, ribut, dia kesel, ehhh ujung-ujungnya Vita dipaksa pulang ke rumah ama dia. Vita nggak mau, ya udah dia ngalah. Karena besoknya Vita mesti ke Belanda kan. Eh, dia ngotot lagi, nganterin Vita ke Jakarta. Aneh kan?" ucap Vita semangat. Sedangakan Stella masih asik dengan tawanya.


"Suamimu unik, jaim tapi cinta. Astaga! Terus!"


"Terus mulu kakak, dah ah. Nanti sampek ke ML segala. Udah sampai situ aja," jawab Vita malu-malu.


"Tapi akhirnya dia tahu kalo mau masih gadis?" pancing Stella lagi.


"Tahu." Vita tersenyum rikuh.


"Wahhh, seru ya. Pasti dia seneng banget, akhirnya dia tau kamu bukan wanita murahan," ucap Stella.


"Dia tahu pas kita ketemu di rumah bang Zein. Biasalah bang Zein suka isengin Vita. Lah aku kan nggak mau kalah. Vita balas aja setiap perkataan pria menjengkelkan itu. Sampai Vita nggak sengaja keceplosan bilang kalo Vita masih virgin. Ya itulah pemicu dia ngomel-ngomel. Merasa diboongin katanya. Lah, Vita boong gimana? Dianya yang nggak mau cari tahu tentang Vita, ya kan?" ucap Vita lagi.

__ADS_1


"Emmm, kalian kiyut banget sih. Jadi pengen muda lagi," canda Stella.


"Hilih, suami tampanmu mau di ke mana in?" tanya Vita.


"Astaghfirullah... duh, keasikkan ngobrol. Duh mati aku. Udah sana kamu tidur, masuk kamar. Kan aku lupa. Si pak bos pinta dibuatin kopi tadi. Duh, matilah matilah!" ucap Stella seraya berlari menuju dapur. Sedangakan Vita hanya tersenyum melihat tingkah konyol sang kakak.


Tak terasa obrolan antara Vita dan Stella mengantarkan mereka pada malam yang mulai larut.


Vita pun segera beranjak dari tempat duduknya. Mematikan lampu ruang tamu. Lalu bersiap masuk ke dalam kamar.


Tanpa merasa ada sesuatu yang mencurigakan, Vita pun langsung masuk ke dalam kamar. Namun, terjadi keanehan di sini. Lampu kamar mati, sehingga Vita tak bisa melihat apapun.


"Perasaan tadi nyala! Kenapa sekarang gelap. Siapa yang matiin ya?" ucap Vita seraya melangkah mendekati saklar lampu.


Namun, sebelum ia sampai ke tempat tujuan, tangannya dicekal seseorang. Seseorang bertubuh lebih tinggi darinya. Pria itu bukan hanya mencekal tangannya. Tetapi juga menariknya ke dalam dekapan pria itu. Membuat Vita terkejut setengah mati.


Vita hendak berteriak, tetapi seseorang itu langsung membekap mulutnya.


"Huustt!" ucap seseorang itu.


"Mmmppp! sssppp mu?" suara Vita terdengar kurang jelas.


"Janji nggak teriak ya," bisik seseorang itu. Terdengar sangat lirih. Tidak jelas.


Vita mengangguk. Lalu seseorang itu pun melepaskan bekapan tangannya, sayangnya Vita ingkar janji. Ia pun kembali ingin berteriak. Alhasil, seseorang itu pun kembali membekap dirinya.


"Bandel ya," ucap seseorang itu lagi. Vita semakin gugup. Semakin takut. Pikirannya melayang tak karuan. Ia takut jika pria yang saat ini ada di dalam kamarnya adalah Victor. Pria jahat itu. Pria yang pernah ia tolak. Lalu melakukan berbagai cara untuk menekannya. Vita takut. Sangat-sangat takut.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2