Mantan Terindah

Mantan Terindah
Rencana Untuk Vita dan Bima


__ADS_3

Juan masih belum bisa bernapas lega. Tubuhnya gemetar. Jantungnya berdetak sangat kencang. Napasnya ngos-ngosan. Air matanya tak terasa ikut menetea seiring dengan aliran napas yang keluar dari hidungnya.


Meski Bima sudah ditangani oleh tim medis, tetap saja ia belum bisa tenang. Selama ia belum mendapatkan kabar yang melegakan.


Juan mencoba tenang. Berdoa dan terus berdoa. Berharap adik iparnya itu baik-baik saja. Jujur, Juan sangat takut terjadi sesuatu pada Bima. Usahanya sudah sampai di sini. Tinggal selangkaj lagi. Setidaknya kabar bahwa Bima masih bernapas. Itu saja. Itu sudah bisa membuatnya sedikit tenang.


Sejam berlalu, kabar tentang keadaan Bima masih belum ia dapatkan. Namun ada kabar yang cukup membuat Bima bisa tersenyum senang.


Kabar tersebut datang dari Laskar. Pria paruh baya itu berhasil mendapatkan dalang dari kasus yang menjerat Vita dan Bima saat ini. Pria tersebut tidak lain adalah saingan bisnis ayah Luis. Yang masih medendam hingga sekarang.


"Bagaimana keadaan Bima?" tanya Laskar, di seberang sana.


"Masih dirawat intensif, Om. Saya takut mau kasih kabar ini ke Vita, Om. Tapi Bima butuh, bagaimana menurut Om, jika saya minta Zein untuk m m bawa Vita ke sini?" tanya Juan meminta pertimbangan.


"Tidak! Jangan di tempat itu. Sebaiknya setelah Bima sadar, langsung bawa pulang ke Batam. Zein suruh bawa Vita ke Batam saja. Kita ketemu di sana. Aku rasa Batam tempat terbaik untuk mempertemukan mereka," jawab Laskar. Kali ini pria paruh baya ini menginginkan yang terbaik untuk semuanya.


Laskar hanya tidak rela, mereka dipermainkan lagi oleh orang-orang jahat itu. Laskar sangat tahu bagaimana Batam. Setidaknya di kota itu ia memiliki banyak anak buah yang bisa menjaga keamanan Vita dan Bima.


"Baik Om, jika itu yang terbaik menurut Om," jawab Juan, patuh.


Laskar sudah begitu banyak berkorban untuk keluarganya. Bukankah tak ada alasan baginya untuk tidak patuh pada pria itu. Laskar mau bersusah payah bolak-balik dari Batam- Jakarta- Semarang demi Vita. Demi keluarganya. Sungguh, Laskar sekarang sudah seperti ayah baginya.


Masalah di masa lalu sepertinya sudah tak ada berlalu. Tak ada lagi kata dendam dan benci di antara mereka. Laskar begitu baik menunjukkan ketulusannya. Begitupun dengan Juan dan keluarganya. Rasanya sayang saja jika waktu yang mereka miliki ini hanya dimanfaatkan untuk membenci.


Bukankah saling menghargai, mengasihi dan menyayangi seperti ini lebih baik.


"Jaga dirimu, ingat... selama masih di tempat itu, kami harus waspada. Itu bukan daerah kita. Mengerti!" ucap Laskar memperingatkan.

__ADS_1


"Baik, Om. Saya mengerti!" jawab Juan.


"Bagaimana dengan asistenmu? Dia baik?"


"Dia sudah saya kirim ke Surabaya, Om. Dia sudah pulih."


"Syukurlah! Semoga semuanya baik-baik saja. Oke, jika Bima sadar cepat kabari Om. Jangan beri tahu apapun pada Vita, kita kasih kejutan untuknya. Sebagai hadiah dia telah mengandung calon baby, calon penerus keluarga kita," ucap Laskar, sembari terkekeh.


Juan terkejut, sebab ia belum mengetahui kabar ini. "Wah, Om... Om serius?" tanya Juan.


"Ya... apakah kamu tidak tahu, kalo akan ada Bima junior?" balas Laskar.


"Tidak Om, sungguh!" Juan tersenyum senang.


"Sepertinya istrimu juga belum tahu. Tadi Om ada ngobrol sama Sera, bener itu ibu mertuamu namanya Sera?"


"Iya, Om, Itu nama ibu dari istri saya," Juan jadi eksaited mendengarkan cerita Laskar.


"Sungguh, Om. Di tengah ketegangan yang ada, setidaknya ada kabar bahagia untuk kita. Saya senang Om!" ucap Juan.


"Hah, baiklah. Sekarang Zein ada di Semarang, sedang ngurus jenazah tanpa identitas itu. Zein juga aku larang menemui Vita. Takut Vita malah mau ikut campur rencana kita. Jadi berabe. Nggak jadi kejutan kan? Sudah Om lapar gara-gara ngurusin kalian. Om mau makan. Jika tidak, ibu ratu bisa ngamuk nanti. Om takut!" ucap Laskar sembari bercanda.


"Oh, siap, siap, Om. Sebaiknya Om jangan melawan ibu ratu. Kita rakyat jelata mendingan cari aman Om," balas Juan tak kalah kocak.


"Kamu bener. Kita bisa garang di luar. Di kandang, kita pura-pura mlempem saja. Biar aman hahaha!" Laskar tertawa senang.


Sedangkan Juan pun sama. Pria tampan ini sedikit merasa terhibur bisa bercengkrama dengan Laskar. Kapan lagi bisa bercengkrama akrab begini. Iya kan?

__ADS_1


Tak ada perbincangan lagi di antara mereka berdua. Namun, Juan masih harap-harap cemas. Sebab sampai detik ini belum ada kabar apapun mengenai Bima. Juan memang harus sabar menunggu.


***


Di sisi lain, kabar kehamilan Vita belum sampai ke telinga banyak orang. Bahkan Zein sendiri yang saat ini sibuk mengurus jenazah tanpa identitas itu pun belum tahu kabar ini. Namun ia senang, sebab Bima telah ditemukan.


"Tapi belum bisa ditemui Zein, dia masih belum sadar!" ucap Juan.


"Tak apa, Jun. Yang penting dia masih napas, yakin... dia pasti sembuh!" jawab Zein.


"Itu yang kita harapkan, Zein. Semoga dia tak mengalami luka dalam. Karena tubuhnya babak belur, Zein. Aku takut Vita shock dan tak kuat melihatnya. Apa lagi sekarang dia lagi hamil muda. Kita harus tetep jaga emosinya, ya kan?" ucap Juan


"Ha? Hamil? Vita hamil?" Zein juga ikut senang.


"Kabarnya sih begitu. Makanya papaku minta jangan kabari Vita dulu. Nanti kalo Bima sudah sadar, bisa kita bawa ke Batam. Kamu bawa Vita juga ke Batam ya, itu perintah papamu!" ucap Juan sesuai dengan apa yang Laskar perintahkan.


"Oke, nggak masalah soal itu. Tapi alasannya apa?" tanya Zein.


"Ya, bilang aja, ibu kangen. Apa gimana? atau kakaknya mau dia ke sana. Begitu kan bisa!" jawab Juan.


"Bener juga ya, oke deh. Semoga kisah merek bisa happy ending! Nggak sabar juga aku lihat pasangan bucin itu ketemu," ucap Zein.


"Ya, semoga setelah ini nggak ada lagi masalah yang berat Zein. Kasihan mereka!" ucap Juan.


"Bener, Bro. Kasihan mereka. Semoga habis ini mereka bisa bareng. Rumah tangganya adem ayem. Nggak ada lagi rintangan," balas Zein.


"Ya, aku harap juga demikian!"

__ADS_1


Juan dan Zein begitu tulus mendoakan kebaikan untuk rumah tangga Vita dan Bima. Mereka ikhlas meskipun harus bersusah payah mempersatukan mereka kembali. Setidaknya apa yang pernah Vita lakukan di masa lalu untuk merek berdua, kini mereka bisa membalasnya dengan menyatukan kembali cinta mereka. Bukankah rencana ini indah?


Bersambung...


__ADS_2