
Karena tubuh Zhavia demam dan tekanan darahnya rendah, Patrick memutuskan untuk merawat Zhavia di rumah sakit agar penanganannya lebih intens. Namun, harapan hanya tinggal keinginan. Kondisi Zhavia malah bertambah parah. Sebelum melakukan tindakan yang lebih mendalam atau operasi, Zhavia sudah meminum obat anti nyeri atau terapi hormon untuk mengurangi frekuensi pendarahan tapi tetap tidak cukup. Zhavia terus merasa nyeri dan datang bulan yang berlebihan. Tubuhnya juga semakin melamah. Sudah tiga bulan sejak divonis Zhavia hanya meminum obat dan terapi tapi tidak ada hasil sembuh.
Zhavia sudah pasrah dan menerima apapun perawatan yang Patrick dan Dokter sarankan. Akhirnya Zhavia harus melewati prosedur selanjutnya yang pastinya membuatnya tersiksa karena ketebalan lapisan rahim sudah masuk ke dalam otot rahim dan itu sangat dalam.
Sebenarnya, dokter mengatakan penyakit ini tidak terlalu berbahaya kalau ukuran nya kecil dan terletak di luar lahir, tetapi milik Zhavia terdapat di dalam rahim dan cukup tebal. Patrick terus menyemangati Zhavia agar tidak pantang menyerah menjalani perawatan. Patrick sampai membawa Zhavia ke Nederland karena pengobatan di sana lebih baik. Namun, yang dikatakan dokter di Nederland tetap sama. Zhavia harus menjalani prosedur yang ada. Cara satu satunya jika ingin sembuh yaitu pengangkatan rahim tapi sebelumnya dokter hendak menghilangkan jaringan penebalan itu dengan menggunakan alat ultrasound khusus.
Karena sudah dua kali Zhavia melakukan prosedur tersebut, mereka kembali dari Nederland karena hal ini bisa juga dilakukan di Honolulu. Zhavia kembali melakukan perawatan ini satu kali tapi entah mengapa Zhavia tetap sering demam dan me geluh pada perut bawahnya. Namun, terkadang Zhavia tidak mengatakan pada Patrick. Hal ini yang membuat dirinya makin menderita tapi tidak ingin merepotkan suaminya yang sudah setiap hari merawatnya.
Seperti hari ini lagi lagi Patrick harus melarikan Zhavia ke rumah sakit. Dia mendapatkan Zhavia pingsan di dekat kamar Zena. Hari itu Patrick sebentar ke gedung musiknya untuk pengawasan rutin. Dia hanya melihat beberapa proyek lirik lagu yang akan diorbitkan setelah itu kembali. Hanya sekitar dua jam Patrick pergi. Tadinya dia mau mengajak Zhavia tapi Zhavia tertidur setelah meminum obat di sore hari.
"Patrick, mengapa aku di rumah sakit lagi?" Tanya Zhavia tersadar sudah pagi subuh dan melihat Patrick memandangnya.
"Tubuhmu demam, kau pendarahan lagi, mengapa kau tidak mengatakan padaku? Otot otot perutmu tegang. Kata dokter sudah sering kau seperti ini," kata Patrick dengan penekanan tetapi tetap memegang tangan istrinya dengan erat.
"Tapi tubuhku tidak hangat Patrick," saut Zhavia berkelit.
"Tetap saja! Zhavia tolong, jangan seperti ini. Kau harus mengatakan padaku apa yang mau rasakan. Sakitmu adalah sakitku. Deritamu adalah deritaku. Jangan seperti ini lagi, berjanjilah padaku, aku memohon," pinta Patrick mengecup tangan Zhavia.
Zhavia hanya mengangguk. Dia hanya tidak ingin membuat repot suaminya. Selain itu jika sedikit saja dia mengeluh, Patrick langsung memanggil dokter atau merawatnya di rumah sakit. Hal ini membuatnya tidak bisa bersama sama dengan Zena. Padahal Zhavia ingin menebus waktu lima bulan dia pernah meninggalkan Zena waktu itu.
"Zhavia, jangan bersedih, aku melakukan ini untuk kesembuhanmu, maafkan aku!" kata Patrick membelai wajah mulus istrinya.
"Aku ingin Zena. Aku ingin bersama Zena, Patrick. Kau sendiri yang bilang akan menuruti semua keinginanku. Tolong, bawa aku kembali ke rumah," kata Zhavia sambil memandang Patrick penuh harap.
Patrick juga memandang istrinya dan memegang wajahnya. Dia menarik napas panjang. Ya, dia memang tidak boleh lagi membuat istrinya ini bersedih.
"Baiklah, kita akan pulang setelah mendengar hasil dari dokter, ya?" kata Patrick pada akhirnya.
Zhavia akhirnya tersenyum. Dia memeluk Patrick sementara Patrick lagi lagi meneteskan air matanya.
"Tuan Patrick. Kondisi Nyonya Zhavia semakin mengkhawatirkan. Masih ada dua cara yang bisa menyembuhkannya tapi aku tetap tidak yakin karena tubuhnya semakin lemah. Namun, kalau anda tetap ingin mencoba, kami akan terus menjalankannya," kata dokter memberitahu.
"Untuk pengangkatan rahim? Istriku tidak setuju. Dia yakin dia masih bisa sembuh dengan cara lain. Dua cara selain pengangkatan rahim apa?" tanya Patrick.
"Mengangkat jaringan yang menebal atau yang bertumbuh dengan cara operasi. Namun sekali lagi, kita harus tetap berdoa agar operasi berjalan dengan lancar dan kita bisa memperkecil penebalan tersebut," jawab sang dokter.
"Lakukan! Aku harus menuruti istriku, selain pengangkatan rahim, lakukan saja dulu," balas Patrick menghargai permintaan istrinya.
Dokter mengangguk. Dokter mempersiapkan semuanya dan sudah menjadwalkan satu Minggu operasi akan dilaksanakan. Tentu saja dalam waktu satu Minggu itu kondisi Zhavia malah melemah karena dia takut menjalani ini. Namun, dia juga tetap ingin sembuh.
Satu Minggu akhirnya tiba. Zhavia menjalani operasi tetapi karena kondisi tubuh Zhavia yang kembali demam dan membutuhkan banyak darah, dokter belum bisa mengangkat keseluruhan penebalan tersebut takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Dokter berpesan jika terjadi pendarahan lagi akan kembali diperiksa. Dokter berharap hanya satu kali operasi walau hanya memperkecil tidak dapat berkembang lagi.
Zhavia kembali pulang ke mansion. Dia berusaha menjadi ibu yang baik. Dia mengurus Zena yang semakin hari semakin bertumbuh. Sebentar lagi Zena akan berusia tiga tahun. Zhavia senang melihat tumbuh kembamg Zena yang begitu pesat. Zena sudah mengetahui nama nama barang di sekitarnya dan sudah hafal not angka pada piano.
"Do re mi fa sol la si do ..." Kata Zena sambil menekan tuts piano.
"Heeebbaaattt!! Dessy, Zena hebat bukan?" pekik Zhavia tersenyum lebar.
"Benar nyonya. Dia menurun bakat Daddy nya," saut Dessy yang sudah datang membawa obat Zhavia.
"Yes, i love Daddy and mommy," sela Zena.
"Pintar! Sekarang Zena harus tidur siang. Nyonya, ini obat anda. Sebentar lagi tuan akan pulang," balas Dessy juga memberitahu.
"Hem, bukannya baru satu jam yang lalu dia pergi?" gumam Zhavia meraih obatnya.
"Entahlah, tadi dia menghubungi rumah
Zhavia mengangguk. Dessy pun meninggalkan Zhavia di ruang musik itu. Dia harus menemani Zena tidur siang. Zhavia pun hendak mengambil obatnya tapi seketika nyeri itu datang kembali setelah satu Minggu ini tidak lagi merasakan.
"Aaahhh, mengapa sakit lagi? Apa kembali menebal? Oh Tuhan, kapan penderitaan ku berakhir! Aku jadi sulit bernyanyi. Hem Zhavia ini sudah takdirmu," keluh Zhavia masih memegang perut bawahnya dan mencoba meminum obatnya.
Zhavia menahan sakit itu dan akan mengatakan pada Patrick nanti ketika pulang. Dia tidak boleh seperti ini. Dia harus sembuh walau dia tahu kecil kemungkinan ini terjadi.
Zhavia kembali menghadapkan diri ke depan piano dan dia memainkan sebuah lagu serta menyanyikannya. Sudah lama dia tidak bernyanyi walau sesekali dia tetap bernyanyi dengan pelan. Zhavia memainkan dan menyanyikan lagu Rewrite the Star by Zac Efron ft. Zendaya.
__ADS_1
"You think it's easy, You think I don't want to run to you. But there are mountains.
And there are doors that we can't walk through. I know you're wondering why
Because we're able to be, Just you and me
Within these walls, But when we go outside
You're going to wake up and see that it was hopeless after all.
No one can rewrite the stars,
How can you say you'll be mine?
Everything keeps us apart,
And I'm not the one you were meant to find.
It's not up to you!
It's not up to me!
When everyone tells us what we can be.
How can we rewrite the stars?
Say that the world can be ours.
Tonight,"
(Pikirmu mudah, pikirmu aku tak ingin berlari menujumu, tapi ada gunung gunung dan di sana ada pintu yang tak bisa kita lewati.
Aku tahu kau bertanya tanya, mengapa, karena kita bisa jadi diriku dan dirimu di dalam tembok ini, tapi saat kita keluar, kau akan bangun dan melihat bahwa semua ini tiada harapan.
Tak ada yang bisa menulis ulang bintang bintang.
Segalanya terus memisahkan kita dan aku bukanlah orang yang ditakdirkan untuk kau temukan.
Tidak terserah padamu, tidak juga terserah padaku!
Saat semua orang memberitahu kita apa yang boleh dan tidak.
Bagaimana bisa kita menulis ulang bintang bintang?
Katakan bahwa dunia ini tidak bisa menjadi milik kita, malam ini.)
Zhavia bernyanyi dengan penekanan yang seharusnya dan penghayatan sambil memejamkan matanya. Beberapa kali dia mendengar lagu ini yang mana ingin sekali ia mengulang takdir. Kalau saja waktu itu dia tidak melarikan diri dan tetap bersih kukuh pada Patrick mungkin dia tidak akan mengalami penyakit ini. Zhavia sebenarnya takut tapi dia yang harus menjalaninya.
"Ehem, kau menyanyikan lirik yang salah! Mengapa kau menyanyikan lirik itu?" Tanya Patrick sudah tiba. Dia menghampiri Zhavia dan duduk di sampingnya.
"Karena aku Zendaya, aku tidak menyanyikan part Zac Efron, kau ini bagaimana?" saut Zhavia yang merasakan aura kesedihan otrick akan lirik lagu itu.
"Jadi biarkan aku yang menyanyikannya!" Balas Patrick kini mengarah pada piano tersebut dan kembali memainkan lagu tersebut pada lirik di awal.
"You know I want you
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep saying our hands are tied
You claim it's not in the cards
Fate is pulling you miles away
__ADS_1
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny?
What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you, and it's up to me
No one can say what we get to be
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours
Tonight!"
(Kau tahu aku menginginkanmu,
Bukan rahasia yang coba kusembunyikan.
Aku tahu kau menginginkanku,
Maka jangan terus berkata tangan kita terikat.
Itu tak mungkin, tapi nasib menarikmu jauh sekali.
Tak terjangkau olehku, tapi kau di sini, di hatiku,
Jadi siapa bisa menghentikanku, jika aku memutuskan bahwa kau lah takdirku.
Bagaimana bila kita tulis ulang bintang bintang?
Katakan kau tercipta untuk jadi kekasihku
Tak ada yang bisa pisahkan kita
Kau kan jadi orang yang ditakdirkan kutemukan.
Terserah padamu, dan terserah padaku.
Tak seorang pun bisa tentukan hubungan kita
Bagaimana bila kita tulis ulang bintang bintang?
Mungkin dunia bisa jadi milik kita, malam ini.)
Patrick bernyanyi sambil menatap mata Zhavia yang sudah menahan air matanya di kelopak. Mata wanita itu berkaca kaca merasakan kegigihan suaminya yang ingin ia sembuh dan selalu menemaninya.
"Begitu seharusnya, Zhavia ku!" Kata Patrick lagi sudah berhadapan dengan istrinya dan memegang wajahnya.
"Hem, tapi pada kenyataannya bukan kita yang menulis takdir kita Patrick," balas Zhavia menundukan kepalanya dan kembali memegang perut bawahnya.
...
lanjut part 19 ekstra di bawah ya
tetap LIKE dan KOMEN part ini yaa
__ADS_1
thanks for read and i love you 😍