Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - VIENA DION PART 32


__ADS_3

Dion melangkahkan kakinya keluar rumah sakit setelah memastikan kondisi ibunya sudah terawat dengan baik meskipun masih belum ada laporan akhir. Rika masih koma dan membutuhkan selang selang infus serta alat bantu pernapasan dan pendeteksi jantung.


Hari ini setelah tiga hari paska Dion meninggalkan Viena, Dion akan melangsungkan pertunangannya dengan Estefanny. Sungguh dirinya masih mengukuhkan Viena di hatinya. Hanya nama wanita itu yang masih ada di pikirannya. Semua kenangan yang ia buat bersama Viena masih berlari lari di alam sadarnya. Setiap memejamkan mata, Dion melihat wajah Viena. Dia ingin sekali mendengar suara Viena. Namun, ketika dia menggunakan nomor kantor untuk menghubungi nomor Viena yang selalu ia ingat, ponsel Viena tidak aktif. Dion berpikir hal yang wajar. Pasti Viena mematikannya atau sedang sibuk. Pernah sekali juga Dion melintas di rumah Viena, tampak sepi dan hanya terlihat Anne sedang membuang sampah. Dia sangat tak sanggup merasakan semua ini namun ini sudah menjadi keputusannya.


Dion menghela napas melajukan mobilnya menuju ruang pertemuan Hotel Prime untuk acara pertunangannya. Banyak saudara Dion dari ayahnya yang hadir. Paman paman Bibi bibi sepupu Dion. Hanya Martin dan Rika yang tidak hadir. Rika memang sedang terbujur lemah, sedangkan Martin tidak tahu sama sekali pertunangan ini.


Dion tidak pernah berdebat lagi dengan ayahnya. Dia memasrahkan semua pada ayahnya. Dia sudah tidak ada wewenang lagi. Jiwa dan raganya seperti sudah hilang dan sama sekali tak berada sejak tidak ada lagi Viena yang selalu mewarnai harinya hampir setiap detik. Dan sejak ibunya di rawat dan sampai sekarang belum ada tanda tanda kesadaran. Kedua wanita itu yang selalu mengurus, merawat dan melayani Dion dengan baik namun kini lenyap seperti tertelan bumi.


Dion kembali menghela napas memasuki ruang pertemuan. Tapi, dia seperti menangkap gelagat Estefanny yang mencurigakan bersama seorang pria yang Dion tidak mengenalnya. Pernah sesekali Dion ke perusahaan ayahnya Estefanny dan bertemu dengan asisten dan sekertaris mereka. Dion agak mengenali juga beberapa keluarganya namun pria ini, Dion tidak pernah tahu. Munculah rasa penasarannya dan kegelisahannya. Pasalnya entah mengapa sedikitpun Dion tidak punya simpati pada Esetefanny. Padahal, banyak yang mengakui kalau Estefanny sungguh cantik. Kulitnya putih bersih hampir selaras dengan Viena. Namun, tidak ada Dion berpikiran untuk nanti tidur bersamanya jika mereka menikah nanti. Dion malah ada pikiran sedikit nakal dan jahat untuk menyelingkuhinya dan berhubungan dengan Viena. Hem, memang sesuatu yang bodoh menurutnya.


Dion pun mengikuti Estefanny perlahan dan memperhatikan kedua orang tersebut. Mereka berdua berdiri di hadapan di lorong samping ruang pertemuan ini. Tak berapa lama si pria mencium Estefanny dengan sangat kasar dan Estefanny sangat menikmatinya.


"Heng, begini yang dibilang papa wanita baik baik! Aku tidak terima! Aku tidak mau menjadi pelarian!" Decak Dion penuh dengan amarah. Dia hendak menghampiri pasangan itu dan menghajar habis pria itu. Dia juga ingin memarahi Estefanny, namun ketika dia hendak bergerak, mereka berdua tampak berbicara. Dion berpikir harus merekam pembicaraan mereka terlebih dahulu agar ayahnya malu dan tidak memaksanya lagi. Entah apalagi yang akan diperbuat ayahnya untuknya.


"Estefanny, ini anak ku, kenapa kau malah menikah dengan Dion?" Tanya pria itu memegang wajah Estefanny.


"Sayang, aku harus menikah dengan Dion agar derajat anak kita terus naik. Ayahku kan tidak setuju denganmu. Tapi aku berjanji aku akan terus mengunjungimu. Aku hanya menganggap kau yang menjadi suamiku, Aksel!" Jawab Estefanny meyakinkan dengan penuh kasih sayang.


"Tapi kau pasti berhubungan dengan Dion kan?"


"Tenang saja, nanti aku akan mengelabuinya sehingga seakan akan Dion menyetubuhiku padahal tidak, jadi dia juga akan menganggap anak ini dalah anaknya! Kau tenang saja sayang. Perusahaan nya akan bergabung dengan perusahaan ku. Jika aku sudah menguras dan mendapat warisan dari ayahku, aku rela meninggalkannya dan kita bisa pergi, Aksel. Kau percaya padaku kan?"


Tit! Dion menyudahi rekaman itu. Dia sudah tidak tahan. Kehidupannya benar benar hancur karna kehadiran wanita ini dan ayahnya. Ditambah lagi dia hendak ditipu.


"ESTEFANNY!!!" Panggil Dion menatap nanar Estefanny dan Aksel yang sangat terkejut.


Dion mendekati mereka dan menarik kerah jas Aksel. Dia memukulnya dengan sangat kencang sampai terjatuh dan memukulnya lagi. Estefanny terkejut dengan perlakuan Dion. Dia mencoba menarik tangan Dion, Dion menghampaskan Estefanny dengan sangat kencang. Dion merasa lengah sehingga Aksel dapat juga memukulnya. Dia lalu beranjak dan membantu Estefanny yang agak terpental.


"Apa yang kau lakukan? Dia sedang hamil, kau tidak apa apa sayang?" Bantah Aksel.


"Heng, jangan harap kalian mendapat hotel kakekku! Estefanny, aku membatalkan pertunangan ini, aku akan memberitahu pada semuanya!!!" Decak Dion membenarkan jas nya lalu menunjukan rekaman yang telah iya ambil dan menuju ke ruang pertemuan.


"Aksel, hadang dia, dia harus tutup mulut!" Perintah Estefanny.


"Tapi pukulannya sangat menyakitkan Estefanny!"


"Kau mau kaya atau tidak? Cepat Aksel!!!"


Aksel mengejar Dion yang berjalan sangat cepat. Aksel berhasil menarik jas Dion ketika Dion sudah sampai di pintu memasuki ruang pertemuan tersebut.


"Dion, kemarikan rekaman itu!" Pinta Aksel mencoba menarik tangan Dion yang memegang ponselnya.


"Apa apa an kau! Tidak! Lepaskan!" Gertak Dion terus berjalan ke tengah tengah ruang pertemuan dan semua mata sudah menatap mereka berdua.


Lauren dan istrinya yang sudah berada di depan bersama Jeremy menoleh ke belakang. Lauren sangat terkejut dan panik melihat Aksel. Mengapa pria ini disini pikirnya.


Dan, bersamaan dengan itu semua, Martin datang dengan asistennya yang mendorong kursi rodanya. Betapa Jeremy juga sangat terkejut melihat ayahnya datang.


"Dion!" Panggil Martin. Dion menoleh ke asal suara yang sangat ia kenal dan ia rindukan. Sudah satu minggu ini Dion belum berani menghadap kakeknya.


"Grandad?!" Dion begitu panik.


"Kau sedang apa? Apa yang mau kau lakukan disini bersama keluarga besarku dan keluarga besar Lauren? Mengapa aku tidak mengetahuinya?" Tanya Martin tenang namun tetap terpancar hawa kekecewaan.


"Lepaskan kau!" Kata Dion dulu menghempaskan Aksel yang sangat membuatnya risih.


"Grandad, kau bisa tanyakan semuanya pada anakmu! Aku bahkan sudah tak sudi memanggilnya papa! Dia sungguh tidak menyayangiku. Dia menyuruhku bertunangan dengan WANITA YANG SUDAH HAMIL DAN PRIA INI YANG MENGHAMILINYA! Anakmu Grandad, anakmu yang menyuruhku agar kita mendapatkan tambahan modal untuk kemajuan hotel kita. Maafkan aku grandad, hotel kita mengalami kemunduran. Aaaarrggghhh!!!! AKU SANGAT MENYESAL!!!! Bodohnya aku menurutinya karna aku memikirkan hotel kita, usaha turun temurunmu gran!" Kata Dion menjelaskan dengan nada penuh amarah sambil menunjuk nunjuk orang orang yang ia maksud.


Semua mata telah menatap Lauren dan Jeremy. Mulut mereka juga sudah saling bercuap membicarakan tidak tahu malunya kedua pria paruh baya itu. Lauren sudah duduk melemah, sedangkan Jeremy menatap heran pada Lauren.


"Lauren, benarkah anakmu sudah hamil? Mengapa kau menipuku hah?" Decak Jeremy meraih kerah jas Lauren.


"Hentikan pertanyaan tak bermutumu itu Jeremy! AKU MARTINUS PRIME MEMBATALKAN PERTUNANGAN INI!! Dion, sejak dulu kau memang bodoh! Kau pasti sudah menyia nyia kan Viena kan? Dasar anak dan ayah sama sama bodoh! Tidak berguna! Kalian sungguh membuatku kecewa! Sampai hati kau merendahkan harga dirimu sendiri Dion! Sejak kapan juga kau mendengarkan ayahmu! Mengapa kau tidak bercerita denganku hah? Mulai besok, kalian berdua tidak usah mengurusi hotelku lagi, biar aku saja!!" Kata Martin dengan ketegasan dan kekecewaan mendalam pada cucunya yang kini sudah menunduk lemah. Dion sungguh benar benar sudah jatuh. Dion terpuruk dan berada di titip paling rendah. Benar kata kakeknya. Dia sudah merendahkan bahkan menjual harga dirinya yang di bayar oleh kehilangan Viena. Benar benar membuat Dion tak ada lagi kharisma dan kewibawaannya.


"Tidak ada pertunangan! Dion kau pulang sekarang! Lauren, aku akan menuntutmu karna tindak penipuan. Sebelum Dion memberitahu aku sudah tahu apa yang kau rencanakan. Jeremy, biar kuberitahu, anak Lauren itu sudah mengandung seorang anak. Benar yang dikatakan Dion, pria itu yang menghamilinya. Tapi karna pria itu hanya anak seorang buruh, sahabatmu itu tidak sudi, jadi dia memanfaatkan kelemahanmu untuk membuat Dion menjadi ayah dari cucunya itu. Lauren, mata mata ku banyak di Legacy ini. Jangan meremehkan keluarga Prime! Camkan!" Kata Martin lagi dan napasnya mulai tersenggal lagi.


Kondisinya kembali melemah. Dia sudah memegang dadanya.


"Tuan? Kau baik baik saja?" Tanya Rio asisten setia Martin. Dion juga meliriknya. Dia segera menghampiri kakeknya.

__ADS_1


"Grandad, apa dadamu kembali sakit?" Tanya Dion merangkul bahu kakeknya.


"Sangat Dion!" Jawab Martin memegang dadanya dan merintih.


"Yasudah kita ke rumah sakit! Ayo Rio kita tinggalkan tempat ini!" Kata Dion dengan sigap.


"Lauren, urusan kita belum selesai! Aku akan mengurus laporan tuntutan yang ayahku buat! Kau keterlaluan!" Decak Jeremy kecewa. Jeremy pun juga mengikuti Dion dan Rio. Dan pertunangan pun batal.


...


Di perjalanan, kondisi Martin semakin memburuk. Napasnya semakin tersenggal dan sesak. Kepalanya pening dan suhu tubuhnya kembali tinggi. Tangan dan jari jari Martin yang keriput itu sudah dingin. Dion semakin takut.


"Rio cepat Rio!!!" Perintah Dion panik. Belakangan ini Martin memang memikirkan prilaku aneh anak dan cucunya ini. Apalagi ketika mendengar Rika koma di rumah sakit. Akhirnya Martin menyuruh Rio dan anak buah lainnya mencari tahu tentang Jeremy dan Lauren. Martin sangat mengetahui kedekatan Jeremy dan Lauren. Banyak nya pikiran dan kondisinya yang memang sedang tidak sehat, ditambah umurnya yang sangat lanjut, membuat melemah seluruh raga Martin.


Ketika hampir saja tiba, Dion mendapatkan telepon dari rumah sakit yang hendak memberitahu kalau Rika sudah sadar dan melewati masa kritisnya. Tapi ada satu hal penting yang harus dokter sampaikan pada Dion secara langsung mengenai kondisi ibunya itu.


"Iya dok, sebentar lagi aku juga tiba di rumah sakit, grandadku harus segera di larikan ke emergency room!" Kata Dion pada dokter yang menangani ibunya pada sambungan telepon.


"Tuan Besar Prime kambuh lagi Tuan?" Tanya Dokter ikut cemas..


"Iya!"


"Baiklah, aku juga akan bersiap di unit gawat darurat."


"Terimakasih dok!"


Dan Rio telah memarkirkan mobilnya tepat di depan gedung gawat darurat. Martin segera di bawa menggunakan tempat tidur berjalan dan di periksa lebih dalam. Dion menunggu nya di luar bersama Rio dan tak lama Jeremy juga datang. Dia memanggil anaknya hendak meminta maaf.


"Dion, aku ..


"Sudah diam! Untuk sekarang aku tidak mau mendengar suaramu! Aku minta maaf atas kelancanganku tapi aku tidak ingin tolong!" Sergah Dion memotong ucapan ayahnya yang memanggil namanya.


"Maaf Tuan Prime, sebaiknya kita mengalah, Tuan Muda benar benar merasakan hal sulit karnamu. Mengertilah. Di dalam Tuan Besar sedang berjuang dan lebih baik, anda menemui istri anda terlebih dahulu. istri anda kata Dokter sudah sadar." Rio memberi pengertian.


"Benarkah? Aku akan melihat Rika dulu. Tolong titip Dion dan ayahku." Pinta Jeremy.


"Baiklah."


Jeremy mendekatinya dan terkejut melihat perubahan wajah Rika yang dengan mulut miringnya, tampak pucat dan sedih.


"Suster, ada apa dengan istriku?" Tanya Jeremy pada sang suster.


"Maaf Tuan, sebaiknya anda bertanya pada dokter untuk lebih jelasnya. Setahu saya, Nyonya Rika terkena struk ringan. Dia sulit menggerakan kaki dan tangannya oleh sebab itu Nyonya hanya ingin berbaring saja." Jawab suster singkat.


"Struk ringan?"


"Iya Tuan, untuk kejelasan lebih lanjutnya silahkan tanyakan pada dokter."


Seketika semua penyesalan menggandrungi hati Jeremy. Karna ketamakannya, karna keserakahannya dan kesombongannya, istri yang ia cintai ini terbujur lemah dan tidak bisa bergerak. Padahal dia tahu kalau istrinya ini sungguh mencintai Viena. Jeremy juga tahu kalau istrinya menganggap Viena seperti anak perempuannya yang telah lama meninggal. Sebenarnya Dion memiliki adik perempuan, namun sudah lama meninggal. Gadis kecil itu bernama Silvya. (sudah dijelaskan di Mantan Terindah Season 1.)


Jeremy menggenggam erat tangan istrinya namun Rika tetap melihat keluar. Tatapannya sangat sedih dan kecewa juga penuh kebencian pada suaminya.


"Maaf." Hanya itu kata yang terus terucap di bibir suaminya yang mana sudah tidak berarti apa apa lagi bagi Rika.


...


Sementara itu, Martin nampaknya telah dipindahkan ke ruang ICU karna kondisinya sangat mengkhawatirkan. Semua keadaan sistem pernapasannya sangat lemah. Tekanan darahnya lemah, dan Martin sangat sulit bernapas. Seturut pemeriksaan Dokter, paru parunya telah terinfeksi dan mengalami pembengkakan.


Dion menyetujui semua perawatan yang terbaik bagi kakeknya itu. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apa. Dia bahkan sudah melupakan pasang surut keadaan hotel kakeknya. Yang sekarang dia inginkan kakeknya kembali dengan sehat. Setelah semua perawatan ICU Martin beres, dokter keluar memberitahu pada Dion kalau kakeknya hendak berbicara padanya.


Dion segera masuk dan menghampiri kakeknya. Martin sudah mengulurkan tangannya agar bisa memegang tangan cucu kesayangannya.


"Dion!" Panggil Martin dengan sekuat tenaganya. Dia harus mengatakannya.


"Gran, tidak usah berkata kata dulu. Kau harus pulih. Aku akan menemanimu mengurus hotel kita gran dan aku tidak akan membantah perkataanmu lagi!" Jawab Dion memegang erat tangan kakeknya.


"Kau tidak usah memikirkan masalah modal dan mencarinya dengan cara yang tidak benar." Kata Martin agak terbata.


"Apa maksudmu gran? Aku harus memikirkan dan segera mencari modal lagi gran. Hotel kita benar benar sedang krisis dan membutuhkan dana tambahan gran. Tapi, sebaiknya kau juga tak usah memikirkan gran. Biar aku yang atasi. Sekarang kau harus pulih." Sela Dion mencoba membuat kakeknya diam namun rasanya Martin harus mengatakannya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau yang atasi? Sekarang saja kau dengan bodohnya menuruti perkataan ayahmu!" Decak Martin.


Dion menunduk menyesal. Kenyataannya dia memang tidak bisa sendiri. Dia membutuhkan teman yang bisa mendukungnya. Namun, orang orang yang biasa menemaninya pergi karna ulahnya.


"Aku sudah memiliki warisan untukmu Dion! Kau bisa urus bersama Rio. Aku sudah menyimpannya sebagai aset dan investasi ku untukmu! Semua atas namamu! Semua bisa kau cairkan, aku sudah menyetujui dan menandatangani nya. Gunakan itu sebagai modal untuk menaikan nama hotel Prime lagi. Dan satu lagi, aku mohon Dion.."


"Apa Gran? Katakan apa yang kau inginkan?"


"Rendahkan dirimu, cari Viena. Minta maaf padanya, pada keluarganya dan kembalilah padanya. Jelaskan semua yang terjadi dan katakan pada Viena, ini juga permintaan ku. Aku mohon Dion!" Pinta Martin akhirnya.


Seketika Dion menitikan air matanya. Sungguh dia ingin, dia ingin melakukannya. Dia terlalu merindukan wanitanya itu. Wanita satu satunya yang membuat kehidupannya lebih bercahaya lebih bersinar dan memiliki arti.


Dion mengangguk sambil menggenggam erat tangan kakeknya. Air matanya telah membasahi tangan kakeknya itu. Seharusnya dia mengatakan semuanya pada kakeknya sebelum dia memutuskan Viena. Martin lalu tersenyum bangga pada Dion. Martin yakin suatu saat nanti cucunya akan menjadi orang yang hebat dan membesarkan nama hotel nya karna kejadian ini.


...


Keesokan harinya. Dion telah bersiap dengan penampilannya yang cukup memukau. Dia siap mendatangi rumah Viena dan meminta maaf padanya. Dia ke rumah sakit terlebih dahulu. Dia meminta restu dari ibu dan kakeknya.


Dia sudah mengetahui kondisi ibunya. Dion begitu menyesal dan mengatakan akan memperbaiki kondisi ibunya.


"Mam, aku akan membawa Viena ke hadapanmu hari juga. Buatlah sebuah tanda untukku mam. Aku mohon." Kata Dion sebelum berangkat ke rumah Viena. Namun, Rika tidak memberi respon apa apa. Dia tetap diam dan sudah duduk di kursi roda. Wajah Rika malah menjadi makin bersedih dan pucat. Jeremy yang tidak pulang mengusap wajahnya kasar. Dia yang membuat semua kondisi ini. Dion memaklumi dan mengecup tangan serta kening ibunya. Dia keluar kamar dan menuju ruangan kakeknya.


Martin di sana memberi semangat dan memberkati Dion. Dion pun segera ke rumah Viena.


Sesampainya di sana, Dion merasa ada yang sangat berbeda. Rumah Viena tampak tak berpenghuni. Banyak dedaunan yang jatuh yang tidak tersapu. Biasanya Theres atau Anne atau bahkan Viena membersihkannya. Dion juga pernah melihat Viena menyapu. Dion jadi tersenyum mengingatnya. Dia lalu menuruni mobilnya. Dia mendekati rumah itu dan mengetuk pintunya. Tidak ada jawaban. Dion mengintip melalui jendela yang tak bertirai lagi. Ada perasaan tidak enak menggandrungi hatinya. Jantungnya berdetak tak karuan.


Dion melihat ke arah dalam tidak ada sofa atau barang barang rumah Viena. Hatinya makin tak karuan.


"Viena!!! Kak Egnor!!" Panggil Dion menggedor kencang pintu rumah Viena. Dia terus memanggil Viena, Egnor, bahkan Tuan Jovanca.


Hati Dion semakin tak menentu. Dia takut terjadi sesuatu atau kemungkinan yang paling buruk adalah Viena pindah dari rumah ini. Dion sedikit frustasi. Dia mundur sedikit ke arah garasi dan meneriaki nama Viena.


"VIENAA!!!" Panggil Dion lagi. Dia belum menyerah, akhirnya Dion menuju ke rumah yang dulu ditempati Claudia. Dia kesana untuk bertanya pada orang yang sudah menempati rumah itu.


Namun jawaban yang ia dapat sungguh bagaikan sebilah pisau yang menusuknya berkali kali sampai dia tak dapat berkata apa apa lagi sambil memegang dadanya.


"Seluruh Keluarga Jovanca sudah pindah kemarin pagi ke sebuah kota besar di sekitaran Legacy."


...


...


...


...


...


Tak ada guna dion ku sayang tak ada guna 😭😭


Nasi sudah menjadi bubur, jadi rengginan bisa juga sih, aku cemilin buat ngeliatin kamu nelangsa di pojokan 😭😭


.


Next part 33


Kemana Viena pindah?


Apa yang dialami Viena dan Dion kedepannya?


Bagaimana kondisi Martin?


.


Jangan lupa LIKE KOMEN yang banyak


Kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa


.

__ADS_1


Thnks for read and i love you always!!


❤❤❤❤❤❤


__ADS_2