Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 14


__ADS_3

Stanley menoleh ke belakang melihat pria yang makin lama makin mendekati mereka. Gracia terkejut melihat siapa pria yang datang dan hendak menggendongnya.


"Lepaskan tanganmu dari tunanganku, Stanley!" Perintah pria itu dengan wajah datar dan tatapan yang agak tajam. Gracia sudah mencoba menegakan tubuhnya. Untung kakinya tidak terlalu parah karna Gracia langsung menahan tubuhnya.


"Oh iya Tuan Dior, tenang saja, aku hanya membantunya berdiri!" Stanley melepas pegangannya setelah memastikan Gracia dapat berdiri sendiri.


Gracia menatap takut Dior. Dia tahu Dior jika sudah menunjukan wajah datarnya.


"Kak?" Panggil Gracia lembut.


"Kemarilah!" Dior hanya mengulurkan tangannya dan Gracia meraihnya. Dengan cepat ketika Dior sudah memegang tangan Gracia, dia menggendong Gracia seperti mempelai pria menggendong pengantinnya.


Dior lalu menatap datar Melinda.


"Siapa namamu?" Tanya Dior tenang namun terdengar sangat dingin dan menakutkan.


"Kak.. aku tidak apa apa. Kakiku hanya terkilir biasa nanti juga sembuh." Kata Gracia yang tidak ingin keributan.


"Aku hanya ingin tahu namanya Gracie." Dior menaikan alisnya tak senang dengan protes kekasihnya.


"Aku tidak melakukan apa apa! Aku hanya mengikuti gaya menarinya dan tidak sengaja menyenggol bahunya dan dia terjatuh. Terserah kalian mau mengatakan apa! Gracia juga yang ingin menunjukannya padaku!" Melinda berusaha membela diri.


"Siapa namamu?" Tanya Dior lagi dengan masih tatapan datar.


"Mel, Mel, Melinda Soarez!" Akhirnya Melinda mengatakannya dengan terbata.


"Baiklah kita lihat saja apa yang terjadi nanti jika kau masih mengintimidasi Gracia. Kau seharusnya mengetahui siapa diriku !!" Kata Dior memberi peringatan. Dia sudah mengingat jelas nama gadis yang melakukan pem-bullyan ini. Melinda meneguk salivanya.


Dior lalu membawa Gracia yang masih dalam gendongannya menuruni gedung universitas dan melewati Stanley. Dia masih di sana. Sementara Robert sudah membungkukan tubuhnya memberi hormat pada Dior.


"Thank you Robert! Kembalilah ke kelasmu dan katakan urusanmu denganku jika dosen kelasmu mempermasalahkan keterlambatan!" Kata Dior pada Robert.


"Baik Tuan!"


"Dia siapa kak?" Tanya Gracia mengintip sesaat Robert yang masih menundukan kepalanya. Gracia tidak curiga sedikitpun.


"Kau tidak perlu tahu kalau kau juga tidak memberitahukan masalahmu!" Decak Dior yang masih terbawa emosi dengan pem-bullyan ini juga dan kedekatan tunangannya dengan Stanley. Gracia mendengus menunduk. Dia memang tidak seharusnya menyembunyikan semua ini pada tunangannya.


Sementara Stanley mendekati Melinda perlahan. Melinda sempat mudur mundur kecil.


"Melinda, kau benar benar membuatku jijik!" Umpat Stanley hendak memberi peringatan pada Melinda.


"Apa maumu Stanley?!" Melinda agak takut.


"Tidak mau apapun, hanya ingin memperingatimu lagi jangan menganggu acara drama seni ini dengan perbuatan licikmu! Aku akan melindungi Gracia!" Kata Stanley dengan rahang rahang wajahnya yang menegang.


"Cih! Kau sadar Stanley, dia sudah memiliki seorang Tuan Prime!" Melinda masih berani meremehkan Stanley.


"Aku tidak peduli! Aku tidak suka siapa saja yang mengganggu orang orang yang sudah melekat di hatiku! Aku juga tidak peduli kau perempuan atau laki laki!" Ancam Stanley dengan mata lancipnya yang tajam menatap Melinda. Melinda sampai kembali menjauhkan tubuhnya dan bahkan sampai terjatuh. Stanley berbalik dan meninggalkan Melinda beserta teman temannya.


"Aarrgghh!!! Awas saja kalia berdua!!! Mungkin Tuan Dior Prime Sendiri yang akan membuatmu terpuruk Gracia!! Hubungan kalian akan kubuat hancur dengan Stanley yang menjadi pasangan menari Gracia!!! Lihat saja kalian semua!!!" Melinda berdecih sambil memukul mukul lantai balkon bersemen itu.


...


Dior dan Gracia terdiam di dalam mobil. Rick sudah menghubung hubungi Dior sejak Dior melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Dior masih belum mengangkatnya. Gracia masih memijat mijat pahanya dan agak meringis dengan kakinya yang terkilir namun memang tidak terlalu parah. Gracia merasa Dior marah padanya.


Ponsel Dior terus berbunyi dan rasanya Gracia harus mengingatkan tunangannya itu .


"Kak, angkat dulu panggilannya! Tuan Rick terus menghubungimu!" Kata Gracia memberanikan dirinya mengingatkan tunangannya.


Dior menoleh dan menatap sayu Gracia. Dia akhirnya mengangkat panggilan Rick.


"Tuan Dior! Kau di mana? Hari ini rapat dengan Tuan Besar Prime dan Tuan Janson! Mereka berdua mencarimu!" Suara Rick di sana langsung terdengar ketika Dior mengangkat panggilan.


"Katakan saja apa yang kau ketahui! Aku sedang bersama Gracia." Jawab Dior singkat dan sedikit dingin.


"Tapi Tuan?"


"Aku bisa bertemu dengan mereka di rumah Rick!" Kata Dior lagi tidak membiarkan Rick berkata panjang lebar.


"Tapi Tuan, rapat kali ini mengenai saham!"


"Rick.."


"Baiklah Tuan!" Rick mengerti jika Dior sudah hanya memanggil namanya. Bukan baru satu dua bulan Rick bekerja dengannya.


"Sebaiknya kau rapat dulu kak. Setelah kakiku dibalur dengan jel semua akan membaik. Aku sudah biasa seperti ini." Kata Gracia ketika Dior mematikan panggilan.


"Apa hatiku juga ikut membaik? Bisa kau jelaskan semua ini?" Tanya Dior dengan tatapan penuh harap namun masih tersisa kecemasan di dalam mata indah nya itu.


"Baiklah! Akhir semester nanti akan ada drama musikal. Aku dan Stanley yang menjadi pemeran utama nya. Mr. Ralph menginginkan Stanley yang menjadi pemeran utama pria. Aku tidak mau menjadi pemeran utama wanita karna Kak Melinda menginginkannya. Waktunya di kampus ini hanya tinggal satu tahun lagi, jadi aku ingin memberikan peranku padanya. Tapi, Stanley tidak mau kalau Kak Melinda yang menjadi pemeran wanita. Dia menginginkanku." Gracia menjelaskan semuanya dan nampaknya Dior tidak menyukainya. Wajar jika dia cemburu.

__ADS_1


"Ya, karna dia menyukaimu." Celetuk Dior pelan.


"Kak .. bisakah kita bersikap profesional? Ini profesiku seorang penari. Aku harus menjalani setiap tantangan apalagi ini untuk nilai kuliahku bukan yang lainnya." Gracia berusaha menjelasakn yang sebenarnya harus diutamakan.


"Jadi kau menginginkan peran itu? Jawab padaku dengan jujur!" Tanya Dior dengan nada datar dan terus menatap Gracia.


"Ya aku mau! Karna apa? Karna ini kesempatan untuk ku memiliki pengalaman dan menunjang karir ku ke depannya. Bukan karna ingin dekat dengan Stanley. Kalau bukan Stanley yang menjadi pemeran utama pria, aku juga tetap ingin peran itu!" Jawab Gracia tegas.


Dior merasa penjelasan Gracia masuk akan. Dia mengangguk angguk setuju.


"Baiklah! Aku mengerti! Aku mengijinkanmu berpasangan dengan Stanley!" Kata Dior kemudian. Gracia terkejut dengan tanggapan Dior yang tidak memarahinya atau melarangnya.


"Tapi kau mengerti maksudku kan kak?" Gracia masih berusaha meyakinkan.


"Aku mengerti! Kau tenang saja!" Dior akhirnya tersenyum. Entahlah ini senyum apa. Dia hanya menginginkan Gracia bahagia dan benar, dia harus bersikap profesional.


"Kau mengerti maksudku kan kak? Ini hanya tuntutan karir. Hatiku hanya untukmu kak!" Gracia terus meyakinkan Dior agar tidak salah paham.


"Ya, aku mengerti dan percaya. Maafkan aku! Aku hanya belum mengerti maksud yang sesungguhnya. Tapi, aku mohon. Katakan padaku jika Melinda masih menganggumu. Bisa?" Hanya ini pinta Dior.


"Bisa kak! Aku berjanji! Terimakasih kak! Aku memang yakin, kau tidak akan marah padaku!" Kata Gracia langsung memeluk Dior.


Namun di dalam pelukan itu, senyum Dior menghilang. Dia menundukan dan menenggerkan kepalanya di pundak Gracia. Dia memejamkan matanya merasakan aroma tubuh Gracia. Dia pun mengelus punggung Gracia. Dia harus bersikap profesional dan meruntuhkan kecemburuannya. Dia harus mempercayai Gracia.


"Aku mencintaimu Gracia!" Gumam Dior kemudian mencoba menerima, mengalah dan tidak mau bertindak kasar pada Gracia. Karna memang dirinya tak pantas menyakiti Gracia dengan maksud hatinya.


"Aku juga kak!" Saut Gracia tersenyum dan sesekali mengecup leher Dior.


...


Dior memasuki rumahnya dengan sedikit tidak selera. Hem, bagaimana mungkin seorang pria mengijinkan wanitanya bersanding dengan pria lain. Saling bersentuhan dan berpegangan. Namun ini memang konsekuensi yang harus diambil jika berpacaran dengan seorang pemain seni. Seorang penari yang dipercaya dosennya menjadi pemeran utama drama musikal dan berpasangan dengan seorang pria. Dia harus mengijinkannya dan harus menerimanya.


Dior tidak kembali ke kantor. Setelah mengantar Gracia ke rumah sakit dan ke rumahnya dia hanya berkeliling keliling komplek rumahnya sambil mendengarkan musik di mobilnya. Dan kini dia kembali ke rumahnya.


"Dior?" Panggil ibunya keluar dari kamarnya.


Dior menengok pada ibunya dengan tatapan sangal letih.


"Kau bertengkar dengan Gracia?" Selidik ibunya.


Dior menggeleng.


"Lantas? Mengapa kau terus bersama Gracia sementara ada pekerjaan kantor yang harus kau kerjakan? Dad benar benar tidak percaya dengan kelalaian mu kali ini." Kata ibunya memberitahu.


"Di ruang atas menunggumu!" Jawab Viena menaiki tangga. Dior menghela napas dan mengikuti ibunya.


Viena membuka ruang serba guna rumah mereka yang mana terdapat piano untuk Zhavia berlatih, home theatre, dan juga sofa sofa seperti di ruang tamu. Di dalam sana juga sudah ada ayahnya, Dion, Leon dan Zefanya. Zefanya sedang mempelajari skala dunia pemasaran dengan Leon.


"Sore dad." Sapa Dior memasuki ruangan bersama ibunya.


Dion menatap anaknya yang tampak letih lesu. Dior lalu duduk di sofa single menundukan kepalanya dan menautkan tangannya.


"Zefanya, belajarlah di bawah bersama Paman Leon mu! Viena, buatkan aku dan anak tertuamu ini green tea hangat?" Perintah Dion pelan.


Mereka bertiga pun menyetujui perintah Dion. Zefanya agak takut karna ini kali pertama kakaknya di sidang seperti ini oleh ayahnya. Sebelumnya Dior tidak pernah melakukan kesalahan sedikitpun.


"Mom, apa kak Dior akan baik baik saja?" Bisik Zefanya khawatir.


"Iya! Masa ayahmu akan memukuli kakakmu! Ayo cepat ikuti paman Leon mu!" Perintah Viena pada Zefanya yang memegang buku buku periklanan.


"Ada apa denganmu, Dior?" Tanya Dion setelah memastikan istri dan anak keduanya menutup pintu ruangan.


"I'm so sorry dad!" Jawab Dior tetap menunduk.


"Kau menjaga Gracia?" Tanya Dion lagi yang sudah mengetahui penjelasan singkat dari Rick.


Dior mengangguk.


"Tidak masalah bagiku." Kata Dion membuat Dior benar benar tak enak hati. Dion memang tidak pernah setegas ini pada Dior.


Dior sedikit melirik ayahnya.


"Sungguh! Aku juga melakukan hal yang sama sewaktu mendekati ibumu! Tapi .." Dion meyakinkan. Dia memberitahu Dior selayaknya ayah dan anak.


Dior kini menatap ayahnya dengan rasa penyesalan. Dia tahu apa yang akan ayahnya katakan.


"Kau seorang pemimpin anakku! Kau tidak sepantasnya begini. Untung saja kau sedang rapat denganku, bagaimana jika kau membuat janji dengan petinggi petinggi perusahaan yang mengatas namakan tanggung jawab kita? Kau tahu kan beberapa prinsip seorang pemimpin mengenai hal ini?" Kata Dion penuh kewibawaannya.


"Hargai sesamamu maka engkau akan dihargai, kerjakan apa yang menjadi prioritas organisasi bukan pribadi, dan dapat membagi waktu antara kepentingan pribadi dan kelompok kerja." Jawab Dior menatap ayahnya dengan penuh penyesalan.


"Kau sangat mengingatnya! Aku tidak melarang kau bertemu dengan Gracia atau melakukan kegiatan yang kau sukai, aku tidak melarang! Tapi kau harus tahu pekerjaanmu! Di saat hal itu begitu mendadak bolehlah kau lepaskan semuanya untuk menolong Gracia, namun jika sudah selesai kau harus segera kembali pada aktivitasmu. Kau mengerti maksudku kan?" Dion memastikan dan terus menasehati Dior dengan perlahan.

__ADS_1


Dior mengangguk dan kembali menunduk.


"Jadi dari sekarang, aku harap kau memikirkan bagaimana kau bertindak. Suruh Zhavia atau Zefanya lebih memperhatikan Gracia jika mereka free kelas. Dan bukan kah kau sudah menyuruh Robert, adiknya Rick mengawasi Gracia?" Dion memastikan seturut yang diceritakan Rick.


"Ya dad!"


"Oke sudah beres kan? Dan dari keluarga mana gadis yang menganggu calon menantu ku itu?" Tanya Dion yang mungkin mengenal.


"Soarez Dad." Jawab Dior. Dion mulai menerka nerka siapa orang dari keluarga Soarez.


"Ohh, mungkin dia anak Tuan Benjamin Soarez ya? Coba nanti ku tanyakan paman Leonmu. Aku yang akan mengurusnya. Oke?" Saut Dion mulai mengingat namun tetap harus memastikan pada Leon.


"Thanks Dad!" Ucap Dior masih dengan rasa bersalahnya.


"Aku tidak memarahimu boy! jangan nanti kau katakan macam macam pada mom mu ya?!" Tutur Dion kini bergurau.


"Cih .." Dior berdecih dan tersenyum. Biar bagaimana pun ayahnya sangat menghormati ibunya. Viena sudah ada dibalik pintu dan mendengarnya. Dia tersenyum kecil karna juga sudah memperingati Dion kalau jangan terlalu keras jika memperingati anak anaknya.


Itulah yang terkadang Dior ingin seperti ayahnya. Selalu menghormati dan mendengarkan ibunya. Sejak sesuatu terjadi dalam hubungan mereka.


Begitu juga dengan Dior. Mulai dia berpisah dan kini kembali lagi bersama Gracia, dia tidak ingin melakukan kesalah sekecil apapun. Jadi sebisa mungkin dia harus mempercayai Gracia. Namun, benar apa yang dikatakan ayahnya, dia harus bisa membagi waktu dan harus profesional antara pekerjaan dan hubungannya dengan Gracia.


...


Keesokannya seperti biasa jika memungkinkan, Dior pergi bersama Zhavia dan Zefanya, juga akan menjemput Gracia. Kebetulan mereka bertiga ada kelas pagi dan bersamaan dengan jam berangkat Dior.


Gracia berjalan dengan sedikit pincang namun tidak perlu sampai menggunakan kursi roda atau tongkat. Dior yang melihatnya langsung turun dan memapah Gracia dari atas sana. Rumah Gracia memang harus menaiki tangga dulu. Gracia lalu di dudukan di kursi depan.


Dior masih tampak diam setelah memastikan Gracia duduk dan kembali ke pengemudinya.


Dior pun melajukan mobilnya.


Ketika telah sampai, Zhavia yang membantu Gracia turun. Zefanya sudah menuruni mobilnya dan menunggu Zhavia dan Gracia. Gracia meminta ke kaca jendela mobil Dior dulu.


"Ada apa denganmu hari ini kak? Kenapa terus terdiam?" Selidik Gracia yang merasa pulang kemarin sudah membaik walau memang Dior masih sedikit membisu.


"Tidak apa apa. Belajarlah dengan baik. Nanti kau bisa pulang dengan Zhavia. Rick yang akan menjemputmu. Aku harus mengurus saham grup prime." Jawab Dior mencoba menormalkan wajahnya dan mengelus lembut puncak kepala Gracia.


"Iya kak! Kalau sudah tidak sibuk, kabari aku ya?" Pinta Gracia tersenyum manja.


"Pasti!" Jawab Dior mencubit kecil pipi Gracia. Gracia tersenyum membelai pelan wajah Dior. Dior langsung menaikan kaca mobilnya.


Zhavia kembali memapah Gracia. Tapi, belum saja Dior melajukan mobilnya, Stanley datang langsung menghampiri Gracia dan sedikit menyenggol Zefanya. Zefanya sudah melihatnya dengan geram.


"Gracia! Kakimu masih sakit? Zhavia, biar aku saja yang membantunya berjalan, ayo Gracia!" Stanley mengambil alih posisi Zhavia.


"Kau ini apa apaan Stan? Biar aku saja!" Zhavia mencoba menahan lengan Gracia.


"Tidak apa apa! Pagi ini kelasku langsung bersamanya! Kau tidak usah sungkan! Sini!" Stanley sudah meraih lengan Gracia dan Gracia sulit menolak. Pagi ini mereka memang ada kelas khusus jurisannya. Stanley sudah menggiringnya namun Zhavia tetap mengikuti sampai rasanya Zefanya harus mengatakan sesuatu pada Gracia yang kesal karna dia diam saja.


"Cih, sampai kak Dior dimarahi dad hanya karna ingin bertemu dengannya tapi dia malah diam saja dipegang pegang pria lain!" Zefanya berdecih sebal dan pergi dengan cepat.


"Anya! Kau gila ya berkata seperti itu!" Decak Zhavia yang merasa kembarannya bodoh sementara Gracia merasa itu adalah dirinya. Dia segera menoleh ke belakang melihat mobil tunangannya yang ternyata baru saja malaju dengan pembawaan yang sangat cepat dan penuh penekanan. Dior melihat semuanya. Gracia pun meneteskan air mata. Apa dia terlalu salah?


...


...


...


...


...


Yah Gracie! Jaga lah hatimu, lakik lu uda diomelin bapaknya hehe 😅😅


.


Next part 15


Apakah Gracia akan menjaga jarak dengan Stanley? Apa sebaliknya?


Apa Dior akan berubah menjadi dingin dengan Gracia? Apa sebaliknya?


Hehe ..


.


Pada akhirnya vii meminta dukungan dari kalian melalui LIKE dan KOMEN nya, lalu bisa juga kasih RATE dan VOTE di depan profil novel yaa vii tunggu semua dukungan kalian 😍😍


.

__ADS_1


Thanks for read and i love youuuuu 💕💕


__ADS_2