
Terdengar suara klakson motor, ini baru jam 6.00 pagi loh soalnya.
"Kak Roy? Pagi banget?" Ucapnya yang melihat Roy yang baru jam 6 pagi ia membuka gorden jendela.
Bergegas untuk mandi dan berangkat sepagi ini. Tapi sebelum itu ia membukakan pintu terlebih dahulu.
"Kak Roy masuk dulu, aku mandi dulu ya."
"Siap! Gue juga bawa sarapan nih. Cepetan biar keburu ya." Sahutnya yang menaruh dua bungkus bubur diatas meja. Franda pun langsung saja bergegas kedalam kembali untuk mandi dan sarapan yang dibawakan oleh Roy.
Pagi, matahari begitu cerah sekali diatas awan. Udara masih segar belum terkena polusi kendaraan bermotor, atau asap pabrik yang ada dimana-mana. Biasanya Roy lebih suka pagi dan senja karna dua waktu itu sangat indah. Ketika pagi matahari masih bersembunyi dibalik awan hingga sedikit lebih gelap, dan senja matahari sebentar lagi akan tenggelam karna ingin berganti malam.
Franda sudah siap dengan baju seragamnya ia mengambil dua piring, sendok dan minuman teh hangat. "Yuk kak."
"Ini bubur masih hangat, abangnya baru buka soalnya."
"Hahaha iya kak, Iya." Tanpa panjang lebar mereka pun makan bubur untuk mengganjal perut agar tidak sakit. Itulah pentingnya sarapan pagi agar tidak menghambat aktivitas. "Biasanya gue pakai cabe satu sendok tapi karna bermasalah sama perut gue ya udah gue gak berani lagi."
"Ya lagian kak Roy pagi-pagi kan perutnya sakit."
Keceriaan mereka pun seakan semakin hari semakin serasi saja apalagi Roy yang mudah masuk kedalam pribadi siapapun. Dan disini Franda merasa nyaman sekali kalau dekat dengan Roy. Coba aja Roy nembak duluan pasti Franda diperlakukan seperti putri di kayangan haha lebay banget. Tapi emang seperti itu tanpa dibuat-buat oleh Roy. Itulah yang membuat Rival dan Roy berbeda walaupun mereka kakak dan adik tapi tetap saja berbeda ya sedikit ada persamaan yang minim sekali. "Eh pah, kenalin ini kak Roy temen Franda."
"Hallo om, salam kenal. Saya Roy, hari ini Franda bareng saya boleh kan? Soalnya ada acara gitu di sekolah." Lalu mamanya Franda keluar juga mengantarkan tas kerja.
"Ia temennya Franda pah, anaknya baik." Pujinya.
"Loh kok kamu gak bilang sama papah?"
"Eee maaf pah lupa."
Ia tersenyum simpul "Ya udah kalau gitu papah berangkat duluan ya. Saya titip anak saya ya."
"Iya om." Ia mencium tangan kanan papahnya yang ingin berangkat ke kantor, dan sebagai anak muda yang baik Roy pun juga mengikuti kebiasaan Franda yang juga sama ia lakukan kalau di rumah ketika papahnya berangkat ke kantor.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Dengan motor bututnya ia berangkat. Bersebelan dengan motor Roy canggih dan keluaran terbaru.
"Mah papah berangkat dulu ya, jangan lupa sayum asam ya pakai sambal yang banyak."
__ADS_1
"Iya pah malu ah didepan mereka." Keromantisan papah dan mamahnya hampir sama seperti mamah dan papahnya Roy di rumah, mereka memperlihatkan keromantisan mereka didepan anak-anak sampai-sampai anak-anak mereka iri dan malu sendiri. "Papah kamu romantis juga ya."
"Hahaha gitu deh kalau mereka."
"Sama kayak mamah papah aku di rumah." Sahut Roy yang setuju dengan ucapan Franda.
"Ya udah yuk berangkat entar kita telat lagi."
"Eh tunggu, Beda banget ya sama motor kamu, antara langit sama bumi jauh banget."
"Jangan ngomong kayak gitu ah, gak boleh. Ya udah berangkat yuk." Sahut Roy yang tidak suka kalau ada orang yang membanding-bandingkan itu adalah area yang sensitif.
"Pakai dulu helmnya, hati-hati jangan ngebut."
"Iya tante."
"Kita berangkat assalamualaikum."
***
"Pokoknya kita langsung saja ya ke ruang OSIS soalnya acaranya jam sembilanan gitu dimulai."
"Pokoknya kita harus ke ruang OSIS dulu." Roy meninggikan suaranya agar Franda mendengar dengan jelas.
"Iya kak, jangan ngebut ya kak."
"Pegangan, gue bakalan balap yang ada didepan itu. Satu dua tiga." Kecepatan pun semakin tinggi dan tinggi. Ia harus berpegangan di tas Roy dengan erat, Roy seperti pembalap abal-abal untungnya jalanan tidak begitu ramai karna semua masih lenggang. "Kak jangan kencang-kencang aku takut."
"Iya haha santai aja pegangan."
Dari arah orang yang berdiri saja melihat motor yang lewat seakan seperti angin yang mengibas begitu saja. Mereka bergeming dengan sesuatu yang lewat, "Woy bocah jangan ngebut." Teriaknya memperingati Roy dan Franda disaat ia melintas dihadapan mereka.
Untungnya pagar sekolah terbuka lebar dan parkiran masih lenggang Roy langsung masuk kedalam dan meluncur dengan selamat. "Hahaha selamat sampai tujuan alhamdulillah."
"Ih bikin malu aja kak."
"Cool aja."
Setelah tenda sudah dipasang, kursi-kursi disusun rapi dan penataan pun sudah siap semuanya. Karna hari ini memperingati HUT yang ke 50 jadi tidak ada pelajaran satu harian full dan membuat mereka happy sekali. Ditambah pula hiburan, dan lain sebagainya. "Widih Roy, bareng terus nih."
__ADS_1
"Eh gimana sudah siap? Ya udah yuk Fran." Roy sengaja tidak menjawab pertanyaan mereka karna baru saja pagi sekali ia tidak mau dibikin malu sampai kepiting rebus dikedua pipinya karna salah tingkah.
Setelah menaruh motornya di parkiran Roy dan Franda menuju ke ruang OSIS melihat keadaan disana, mereka membagi tugas dan tinggal dua lagi acara akan dimulai. Dari mikrofon, panggung, kursi-kursi yang disusun rapi, bunga-bunga pelengkap keindahan, cendera mata dan sebagainya. Roy menekankan untuk tetap menjalin kekompakan agar lebih baik dan sesuai ekspetasi yang dibangun.
Jiwa kepemimpinan layak untuk diberikan kepada Roy. "Gimana semua sudah selesai?"
"Tulisannya sudah dipasang belum?"
"Belum Roy."
"Ya sudah sini, Fran bantuin gue buat pasang didepan ya. Bisa kan?"
"Oh bisa kok kak." Roy mengambil tulisan "HUT ke 50" Selentingan pasti akan selalu ada, dan sangat jelas sekali.
"Siapa sih dia, anak OSIS bukan tapi ikut campur, Roy suka kayaknya pilih kasih." Franda merasa tidak nyaman engan ucapan seperti itu. Tapi ia hanya diam selagi tidak merugikan orang lain.
"Cie Roy, bareng sama Franda mulu modus ya?" Ucap Roni yang melihat Franda berdiri didepan pintu.
Roy hanya tersenyum tipis "Apa sih, gue malu tau, ah lo mah."
"Hahaha semangat, sebelum janur kuning melengkung gas aja."
"Ya udah gue kesana dulu."
***
Rival hanya melihat Franda dan Roy begitu dekat, ia kesal sekali. Sebenarnya yang pacarnya itu dirinya atau Roy? "Sudah deh val lo harus kuat dan ini kan cuma temen doang. Dia kan kakaknya lo juga gak mungkin lah."
"Menurut lo cewek sama cowok temenan itu murni?" Rival menatap tajam Albert, Albert hanya diam dan tertawa pelan saja.
"Jadi lo serius pacaran sama Franda?"
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?"
"Dulu aja lo bilang ogah sekarang kecintaan banget, hahaha. Ngaca tuh sama motor gue!"
Ditengah-tengah panggung keakraban terlihat sekali apalagi ketika Franda dibantu oleh Roy untuk memasang tulisan yang dipajang disana. "Bisa gak?"
"Jadi cewek gak tinggi sih." Bicara tentang tinggi Franda agak sensitif dan baperan. Awalnya maksudnya bercanda namun mungkin karna lagi sensitif.
__ADS_1
Melihat wajah Franda yang merubah Roy merasa sedikit peka. "Eh sorry bercanda, gue gak permasalahin kok. Maaf ya."