
...Ada saatnya merasa jenuh, jenuh untuk menutupi semuanya...
"Semakin pesat aja Rival sama Franda, gue yakin Rival tuh sebenarnya suka sama Franda dia gengsi aja."
"Gue juga udah duga banget kalau Rival suka sama Franda. Emang tuh anak gengsian banget haha."
"Eh, kalian tau gak siapa yang punya ini?" Rudi menunjukkan bekas lem ke Albert dan Bima.
"Ini lem kan?"
"Punya siapa ini? Nemu dimana lo?"
"Gue gak sengaja liat lem ini di laci Milka, lo inget gak waktu Franda kena lem? Apa jangan-jangan ulah mereka?"
"Tapi ini bukan bukti yang kuat gitu."
"Iya sih, tapi kayaknya mereka kan mereka berdua gak suka sama Franda secara Lusi suka kan sama Rival?"
"Iya juga sih."
"Tuh Rival lagi liatin Franda lagi ngobrol sama Cerry, haha gak bisa lagi sembunyiin deh lo val."
"Kemarin waktu di gudang aja Rival kayak khawatir banget sama Franda, gimana kalau kita kerjain aja kali ya. Tapi apa?"
"Gimana kalau kita bilang aja Franda sakit berat hahaha."
"Gila lo bert jangan lah kalau Rival tau dihabisin lo."
"Lo berdua jangan ember makanya."
"Iya lah gue gak ember lo tuh bim."
...•••...
Dua cowok ganteng yang lagi berdiri siapa lagi kalau bukan Rival dan Roy dua kepribadian yang sangat berbeda sekali ditambah pula memiliki penggemar yang beda-beda. Kalau ditanya ganteng sih ganteng, tapi terkadang mereka cukup bersaing dalam ketampanan. Biasa namanya juga anak SMA.
"Cer, lo lagi liatin apaan?"
"Gue lagi liatin kak Roy, sumpah ganteng banget."
"Sumpah? Sumpah kali ngomong aja belibet hahaha."
"Oh iya kita samperin mereka aja yuk soalnya kayaknya mepet kalau kita ngulur-ngulur waktu." Cerry pun mengangguk saja.
Ini adalah kali pertama mereka untuk belajar biologi bareng, disatu sisi Franda gugup dan tegang setiap deket sama Roy. Dan disisi lain ia harus mengambil hati Rival supaya bisa dideketin dalam artian supaya nantinya ketika Rival udah jatuh cinta sama Franda maka apapun Rival bakalan nurutin semua itu.
"Kak jadi kan?"
"Oh iya dong makanya kita berdua nungguin kalian. Ya udah masuk aja yuk ke dalam mobil gue sengaja gak bawa motor biar langsung masuk kedalam mobil Rival aja."
Rival mengeluarkan kunci mobilnya dan memberikan ke Roy agar Roy saja yang jadi supir. "Loh kok gue? maksud lo gue yang bawa?"
"Hm, gue lagi gak enak badan lo aja kak." Rival pun lebih dulu berjalan dengan gaya tengilnya masuk kedalam celana. Roy menggeleng pelan.
"Sorry sikap Rival emang gitu kok tolong dimaklumi aja ya."
"Duh parfum kak Roy kok melekat banget sumpah ganteng parah." - Cerry.
"Kenapa sih kak Roy ganteng gini." Franda selalu berdebar kalau deket sama Roy.
"Cer, lo didepan bareng kak Roy ya. Lo cewek cupu lo dibelakang bareng gue, jangan sok seneng gue dan sok geer gue lagi gak enak badan aja." Ketus Rival yang maen ngatur aja.
Dia yang ngatur, dia yang marah. Dasar ya cowok gengsian tuh emang gitu mungkin.
Dari kaca spion Roy lagi dan lagi selalu saja geleng-geleng kepala dengan sikap Rival. Dia suka marah-marah gak jelas, ngomel bahkan ngatur sendiri.
"Eh lo jijik jauh-juh gitu?"
"Enggak."
"Val, ngomong mulu dari tadi, udah deh diem aja. Iyakan cer?"
"Eh, i---iya kak."
"Eh ngomong-ngomong lo bakalan bawain bekal besok gak? Pengen dong."
"Maunya apa?"
"Apa aja deh, yang penting dibawain biar ngirit."
"Val, lo kok minta sama Franda. Gue bilangin mama tau rasa lo."
"Tenang kak gue gak maksa tapi dia juga gak keberatan kan?"
"Iya kak, gak papa. Lain kali lo harus berani sama Rival, Dia emang suka gak sadar diri."
__ADS_1
"Fran, nanti jalan yuk mau gak?"
"Kemana?"
"Haha nama lo Franda? Kok lo yang jawab?"
"Ye, apaan sih."
...•••...
Rival memandangi Franda yang menunduk membaca buku biologi dengan fokus, disamping itu ia menyunggingkan kedua bibirnya keatas, memandangi Franda diam-diam. Entah sejak kapan Rival bersikap seperti ini. "Jadi kalian baca materi aja dulu nanti kalau ada soal entar gue yang kasih penjelasannya ya."
"Caper banget lo kak, natapnya gitu lagi."
"Kak ini kayak gimana ya?"
"Oh ini." Roy dengan senang hati mengajarkan Franda sedangkan Cerry juga kepengen digituin.
"Paham gak?"
"Iya kak, Cer katanya pengen nanya kan?"
"Eh, iya. Yang ini gimana ya?" Sahut Cerry asal menyambung lemparan Franda.
"Bukunya cuma satu aja nih? Susah kan belajarnya."
"Kalian belajar dulu deh, gue laper."
"Bentar." Franda mengambil tisu dan tiba-tiba saja menyapukan bekas makanan yang masih menempel di bibir Rival sontak Rival terkejut sekali mereka saling tatap satu sama lain.
"Maaf."
"Makasih. Nih." Dengan ucapan terima kasih Rival pun menyuapi kentang goreng yang sudah dipotong tipis-tipis ke mulut Franda.
Franda memberikan senyumnya.
"Makasih." Rival hanya mengangguk saja. Rival kali ini sedikit manis.
"Duh kenapa jantung gue gini banget sih."
"Tenang val, lo gak boleh gini dia cuma cewek cupu yang gak spesial itu." Antara hati dan pikirannya seakan bertentangan begitu saja tapi hati disini jauh lebih dominan ketimbang pikirannya.
Belajar Biologi pun belajar dengan lancar, tapi ada satu hal yang lucu Rival selalu mengikut campur Roy ketika ingin memberikan penjelasan ke Franda.
Masih gak ngaku juga kan?
"Kenapa lo liatin gue gitu kan?"
"Jangan bilang lo suka sama ade lo sendiri. Ih ogah."
Bau-baunya Rival mengetahui ekspresi Roy. "Lo jealous kan?"
"Sama?"
"Mau gue ngomong?"
"Apaan sih lanjut aja kali."
...•••...
Belajar pun akhirnya selesai juga, Hari sudah semakin sore kini saatnya mereka pulang ke rumah masing-masing. Awalnya sih Franda pengen nebeng Cerry tapi apa daya semua gagal ketika telfon daro nyokap Cerry.
"Iya mah, tap----" Sambungan telfon langsung saja dimatikan. Cerry pun sedikit kesal dimatikan secara sepihak.
"Kenapa cer?"
"Sorry banget deh fran, gue gak bisa anterin lo balik. Tapi lo mau gue pesanin taksi?"
Franda tersenyum simpul lalu ia memegang bahu Cerry "Gak papa kok biasa aja, gue bisa balik sendiri, nyokap lo?"
"Iyah. Sorry banget ya fran."
"Lo gue anterin ya fran?" Tapi belum Franda menjawab Rival juga menawarkan diri. Padahal dalam hati Franda ingin sekali diantar oleh Roy cowok yang selalu bikin jantungnya berdebar tapi apa daya karna ini sebuah misi maka Rival lah jadi alasan jawabannya.
"Eh iya gue lupa gue kan gak bawa motor, lo aja deh val yang anterin Franda gue naik ojek online aja."
"Bener nih? Ya udah gue aja deh yang nganterin."
Sontak membuat mereka menatap Rival langsung. "Ada yang salah?"
"Lo suka sama dia val? Gue tau kok." Gumam Roy dalam hati, ia sangat tahu sekali sikap adiknya kalau sedang suka sama lawan jenisnya.
"Jadi gimana? mau gak."
"Iya udah."
__ADS_1
Roy sedikit kecewa padahal ia ingin sekali mengatakan sesuatu hal yang penting. "Ya udah kak gue anterin dia dulu ya." Roy mengangguk paham.
"Lo gimana kak?"
"Gampang aja."
Tinggal Rival dan Franda. "Rumah lo masih yang kemarin kan?"
Franda mengangguk paham, ia pun masuk kedalam mobil Rival dengan diam saja.
Fran tanyain ke Rival kak Roy sukanya apa, gue pengen bawa bekel juga besok hehe. Cerry.
"Val."
"Apa?"
"Kak Roy sukanya makanan apa?"
"Lo gimana sih katanya pengen buatin gue bekal kok lo malah pengen buatin bekal biat kak Roy?"
"Siapa yang pengen buatin kak Roy bekal?"
"Lah lo tanya tadi?"
"Ini Cerry nanya gitu."
"Oh. Dia suka sama nasi goreng sama kayak gue juga."
Hampir aja kan?
"Oh gitu, kalau kak Roy udah punya pacar belum?"
"Deket sama Amanda temen sekalasnya tapi gak tau juga udah jadian atau belum."
...Terlintas nama Chiko dipikiran Rival."Ngomong-ngomong lo ada hubungan apa sih sama Chiko? Kok deket banget?"...
Hening...
Tak ada jawaban.
"Ya udah anggap aja pertanyaan gue gak ada."
"Dia temen satu sekolah kita."
"Ye gue juga tau keles, bukan itu ma--- maksud gue hubungan lebih."
"Gak ada,. Emang kenapa?"
"Ya gak papa,." Rival mengaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Oh, kalau tipe cewek lo kayak gimana?"
"Ya yang cantik, hitz, baik kayak Cerry gitu juga boleh."
Asal? Ya emang.
"Oh berarti gue gak tipe lo berarti sayang gue berharap lebih." Suara itu mengecil begitu saja tapi masih terdengar oleh Rival.
"Apa lo bilang? Lo suka sama gue?"
"Bukan gitu, ya udahlah lupain."
"Apa lo bilang? Gue gak suka ya kalau pertanyaan gue gak dijawab."
"Gue gak ada kesempatan bisa deket sama lo, tapi ya udah lah."
"Maksudnya apaan sih? Lo pengen deket sama gue?"
"Udah lupain aja, gak penting juga."
"Ini bocah aneh aja deh."
"Val."
"Gak jadi deh."
"Apaan sih, eh asal lo tau ya gue bukan cowok yang buruk. Gue masih katagori cowok baik-baik, kenapa?"
"Gak jadi."
"Tapi lucu sih. Gue pun percaya itu, lo emang cowok baik-baik terlihat nya aja tapi lo orang yang baik kok."
"Bagus deh kalau gitu. Sorry kalau gue ketus sama lo, gue emang gitu orangnya ceplas ceplos."
"Tapi hatinya baik kok, udah santai aja." Sahut Franda, cowok mana sih yang gak seneng mendengar jawaban kayak gitu.
__ADS_1