
Mariska marah besar, karena seluruh bukti yang Gani sodorkan pada pihak berwajib sangat menyudutkannya. Bukti-bukti tersebut juga dibarengi dengan waktu dan tempat yang sama. Seperti yang Gani ucapkan. Sehingga sekuat apapun Mariska menyangka, wanita itu tetap kalah.
"Silakan diperhatikan, Pak. Saya rasa dari bukti-bukti yang saya bawa ini, pasti bapak-bapak sekalian, bisa menilai. Siapa yang sebenarnya penipu di sini," ucap Gani santai.
"Dia bohong, Pak. Mana mungkin saya melakukan itu. Saya sangat mencintainya Pak. Saya pasti dijebak," ucap Mariska berusaha membela diri.
"Hahaha, dijebak? Dijebak sama siapa, Neng? Bukankah itu kamu yang tersenyum senang? Ketawa-tawa bahagia. Enak ya party pakek duit hasil nipu? Sedap ya rasanya?" ledek Gani, semakin senang mempermainkan emosi Mariska.
"Kamu gila, Gan. Aku bukan wanita seperti itu," tolak Mariska kesal.
"Oh ya, lalu ini apa?" Gani kembali menyerahkan rekaman video pada pihak berwajib.
"Tidak,Gan. Ini bukan aku. Ini pasti salah!" ucap Mariska masih bersikeras menyangkal apa yang dia lihat.
"Satu lagi, Pak. Ini adalah bukti paling real dari semua yang ada. Saya rasa ini semua sudah cukup membuktikan bahwa saya dan teman saya yang dia laporkan tidak bersalah. Saya harap setelah ini tidak ada lagi tuduhan bodoh seperti ini, Pak!" pinta Gani, sembari menyerahkan bukti tranfer dan juga chat yang terjadi antar dirinya dan juga Mariska dalam beberapa bulan ini.
Mariska membelalakkan matanya, bukti terakhir yang disodorkan Gani kepada pihak berwajib seperti mencekik leher wanit itu.
"Aku tidak akan memaafkanmu, Gani!" teriak Mariska kesal. Mencoba menyerang Gani dengan penuh emosi.
"Aku juga nggak butuh maafmu, Ka. Siapa yang sebenarnya salah di sini dan siapa yang sebenarnya butuh maaf," balas Gani sengit.
"Aku mengandung, Gan. Aku mengandung," jawab Mariska mulai mengeluarkan jurusnya.
"Apa urusannya denganku? Memangnya itu anakku? Trik basi, Ka. Nggak bakalan mempan," balas Gani tak mau terpancing dengan akal bulus seorang Mariska.
Tak ingin terpancing emosi, Gani pun memutuskan pergi dari kantor polisi dan menyerahkan kasus yang sedang ia hadapi kepada pihak berwajib serta kuasa hukum yang telah Juan siapkan untuknya.
Gani tersenyum ketika masuk ke dalam mobil yang akan membawanya kembali kepada sang kekasih hati. Pria tampan yang berprofesi sebagai asisten pribadi seorang bos besar ini, sekarang begitu percaya diri melangkah. Karena dia yakin, dia pasti menang dalam kasus ini.
***
__ADS_1
Di pihak Mariska, wanita ini marah besar karena tipuannya tidak mempan untuk pria yang ia incar.
Kini Mariksa sangat menyesal karena Gani tak mau memilihnya. Gani lebih memilih meninmggalkannya. Meninggalkannya sendiri. menyerah pada cinta mereka, membuat Mariska frustasi dan menuduh Nadia adalah penyebab dari perpisahan mereka.
"Ini pasti gara-gara wanita ****** itu. Dia pasti makek pelet buat merebut Ganiku. Awas saja kamu, aku nggak akan tinggal diam. Aku pasti akan melenyapkanmu atau ... aku lenyapkan saja Gani, biar sama sama nggak dapet. Aku nggak dapet, dia juga nggak dapet. Hahaha.... Sepertinya begitu saja, lebih asik. Gani ... bersiaplah menghadapi malaikat maut honey," ucap Mariska dengan tawa menggelegar penuh dendam.
Mariska terus tertawa bahagia, karena beberapa teman dugemnya siap membantunya asalkan bayaran yang mereka minta cocok.
Mariska yang saat ini sedang diselimuti dendam, tentu saja tak berpikir panjang. Ia pun langsung menyanggupi permintaan orang-orang tersebut.
***
Perasaan tak nyaman dirasakan oleh Nadia, setelah kemarin sang adik yang membujuknya untuk menerima cinta Gani, kini ada kedua orang tua Gani juga tak mau ketinggalan.
Untuk membujuk gadis ini, sang ibu dari pria tersebut sampai memasak khusus untuknya.
"Aduh, Bude ... kok jadi repot-repot begini. Nadia sudah sembuh Bude, besok juga udah boleh pulang kok," ucap Nadia, sopan.
"Maafkan, Nadia, Bude. Nadia bukan pacar mas Gani. Kami hanya temenan," jawab Nadia, sembari tersenyum rikuh.
"Ehhhh, jangan menolak. Putra Bude itu tampan loh. Baik lagi. Cakep kan?" canda Bu Lani, masih dengan senyum bahagia.
"Cakep, Bude. Luar biasa, mirip sama Kim Soo Hyun! Mantap pokoknya. Tapi sayangnya kami cuma temenan, Bude. Beneran nggak bohong!" jawab Nadia, berusaha mengimbangi candaan Bu Lani.
"Yo ganteng nu. Wong papahnya orang Korea!" ucap Bu Lani, spontan.
"Papa Gani, orang Korea? maksud Bude?" tanya Nadia, bingung.
Lani pun menatap Nadia kaget. Sebagai ia tak sengaja mengucapakan kata seperti itu. Lani tidak menyadari bahwa celetukannya telah sedikit membuka kebenaran tentang Gani yang selama ini ia dan sang suami tutup rapat-rapat.
Bersambung..
__ADS_1
Hay hay, makasih banyak yang masih setia🥰🥰🥰 Like komen n Vote kalian tetap mak nanti..
Rekomendasi untuk kalian, karya besti emak ni.. bisa kalian tongkrongin sambil nunggu Mas Gani update😘😘😘
Cuplikan promo Kiss
"Kamu tidur di lantai atau di sofa! Tak sudi aku tidur satu ranjang dalam keadaan sadar dengan Upik abu seperti mu! Kalau bukan karena di jebak oleh rekan bisnis ku, mungkin sekarang aku akan bahagia menikah dengan Aluna kakak mu! Tapi, takdir seolah mempermainkan ku dengan harus menikahi mu karena tak sadar menodai mu?!"
Sentak Andreas pada Kinara yang sedang duduk di atas tempat tidurnya membuat gadis lugu itu ketakutan.
Kinara tak menyangka dirinya akan menikah dengan pria kasar seperti Andreas secara tiba-tiba. Dirinya berpikir setelah menikah segala penghinaan yang di dapat nya berganti dengan kebahagiaan.
Namun, harapan hanyalah harapan. Kinara si gadis jelek yang kerap kali di hina dan tak di anggap kehadirannya oleh orang sekitar. Termasuk keluarganya sendiri.
Andreas yang melihat Kinara masih saja tak mengindahkan perintah nya pun mengeraskan rahangnya.
"Apa selain buruk rupa kau juga tuli, huh?! Aku bilang menyingkir dari kasur ku, Bodoh?!" bentak Andreas menggelgar membuat Kinara langsung berdiri dan menjauhi kasur Andreas.
"Kenapa kakak memarahi aku? Bukankah seharusnya aku yang marah karena kakak telah menodai aku?" Kinara bertanya dengan suara pelan seraya menundukkan wajahnya tak berani menatap Andreas yang hanya memakai handuk.
"Cih, jangan berlagak seperti wanita tersakiti?! Seharusnya kamu senang karena ada aku yang menodai kamu meski dalam keadaan tak sadar. Kalau bukan aku sudah pasti kamu jadi perawan seumur hidup karena tidak akan ada laki-laki yang mau menyentuh mu?!" sanggah Andreas membuat Kinara menjatuhkan butiran kristal di pipinya.
Nafasnya tercekat di tenggorokan, seolah ada ribuan jarum menusuk jantungnya sehingga membuat Kinara merasa sesak.
Bukan keinginannya mempunyai wajah jelek. Kinara si gadis buruk rupa yang kerap kali mendapatkan siksaan dan hinaan dari ibu tiri dan kakak tirinya.
Tak punya waktu untuk sekedar merawat diri karena Kinara harus bekerja sebagai pembantu di rumahnya sendiri. Sang ayah tak memperdulikan Kinara karena menyalahkan Kinara atas kematian istri pertamanya dulu. Ibu Kinara meninggal setelah melahirkan Kinara.
"Ingat! Aku menikahi kamu karena tak ingin di sebut tak bertanggungjawab. Jadi, jangan berharap lebih dari pernikahan ini?! Kamu harus sadar diri kalau kamu itu bukan Cinderella dan aku bukan seorang pangeran baik hati?! Jadi, jangan mengira pernikahan ini akan indah seperti kisah Cinderella dan pangerannya?! Itu hanya dongeng?!" tegas Andreas seraya memakai celana nya di hadapan Kinara.
__ADS_1