
Tangan putih itu terus memegang tangan istrinya yang masih terbaring lemah paska operasi pengangkatan anak keduanya. Zhavia kehilangan banyak darah tapi bisa selamat karna pasokan darah miliknya tidak sulit. Patrick terus menemaninya sampai tidak ingat lagi untuk makan. Dia ingin bersama istrinya selalu.
Penyesalan ini terlalu membuatnya kecewa akan dirinya sendiri. Sementara Zhavia juga ingin terus bersama suaminya. Zhavia masih dirawat di ruang ICU untuk perawatan lebih intensif karena setelah operasi, suhu tubuhnya masih terbilang demam.
Sampai akhirnya dia pun tersadar dan mendapatkan suaminya duduk di sampingnya sedang tertidur di dekat tangannya. Zhavia tersenyum tipis. Dia senang kalau suaminya bisa menyadari semuanya walau dia harus kehilangan anaknya. Zhavia meraih ujung kepala Patrick agar terbangun tetapi belum terbangun. Dokter yang menyadari kesadaran Zhavia segera masuk ke ruangan untuk memeriksa.
"Nyonya Zhavia, bagaimana keadaan anda? Hem, Tuan Patrick memaksa untuk terus menemanimu karena sangat cemas. Dia tidak ke mana mana sejak anda keluar dari ruang operasi
Zhavia mengangguk tersenyum.
"Jadi, bagaimana perasaan anda?" Tanya dokter dengan ramah.
"Masih sedikit pusing," jawab Zhavia singkat.
Dan saat itu juga Patrick terbangun. Dia mendongakan kepalanya memastikan keadaan istrinya.
"Zhavia, kau sudah sadar?" Tanya Patrick mengelus puncak kepala Zhavia.
Zhavia mengangguk.
"Tuan Patrick, kita masih memastikan lagi keadaan Nyonya Zhavia karena tubuhnya masih demam, untuk sementara Nyonya Zhavia masih harus berada di ruangan ini. Satu jam lagi kita akan mengadakan pemeriksaan USG untuk melihat rahim nyonya Zhavia apakah terjadi sesuatu karena saya agak khawatir dengan kondisi nyonya Zhavia yang masih lemah," kata dokter lagi pada Patrick.
"Tidak apa apa dok, lakukan yang terbaik," kata Patrick tanpa mengalihkan pandangannya pada Zhavia.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu, semoga kondisi Nyonya Zhavia semakin membaik. Aku akan menyuruh perawat mengalirkan vitamin ke tubuh nyonya,"
"Terimakasih dok," ucap Patrick pelan.
Kini dia menatap netra hitam terang nan satu yang juga sedang menatapnya. Mereka sudah menyadari akan keberadaan masing masing. Walau pandangan Zhavia agak buram karena banyak obat yang mengalir pada tubuhnya.
"Zhavia ... Apa kabar sayang?" Tanya Patrick lebih dulu bicara sambil meraih tangan Zhavia dan mengecupi punggung tangannya.
"Menyedihkan," jawab Zhavia tersenyum tipis.
Patrick mendongakan kepalanya dan kembali menatap istrinya. Satu tangannya membelai pelipis sampai wajah Zhavia.
"Maaf ku tidak berarti lagi. Aku akan melakukan apapun untukmu. Aku tidak akan meninggalkan mu lagi. Aku tidak mau jauh lagi. Aku akan percaya padamu. Aku akan percaya dengan hubungan kita. Tolong Zhavia jangan usir aku. Biarkan aku di sini merawat dan menemanimu. Aku memang pria bodoh tapi biarkan aku tetap di sini. Tolong, aku mohon," kata Patrick dengan pelan dan matanya berkaca kaca.
Zhavia masih melihat suaminya tampak lemah, frustasi dan tak berdaya.
"Seharusnya kau senang Pat kalau anak kedua kita sudah gugur. Kau yang menginginkannya kan?" saut Zhavia menyadarkan suaminya.
Patrick tak berkata kata. Dia beranjak lalu memeluk Zhavia. Dia menangis di pundak istrinya.
"Aku memang suami dan pria yang paling pengecut di dunia. Aku pecundang. Zhavia. Hukuman apapun akan kuterima sekalipun kau meminta perceraian. Entahlah tapi aku benar benar masih ingin bersamamu," kata Patrick seturut kata hati nya.
Zhavia menggeleng. Patrick kembali menarik diri dan saling berhadapan.
"Aku tidak bisa jauh darimu, aku tetap mencintaimu, aku tidak apa apa," kata Zhavia kemudian.
Jantung Patrick berdegup kencang. Dia masih memandang Zhavia.
"Terbuat apa hatimu, Zhavia? Aku sudah sangat bersalah tapi tak sedikitpun kau marah padaku. Apa aku pantas menerimanya?" ujar Patrick memegang wajah zhavia.
"Semua orang pernah salah. besar kecil tetap bersalah. Aku memaafkanmu sayang agar kau tetap hidup dalam bahagia jika pada akhirnya aku harus meninggalkanmu," balas Zhavia juga memegang wajah Patrick.
"Meninggalkan? Apa maksudmu?" selidik Patrick menusuk hatinya.
"Entahlah seluruh tubuhku tidak seperti biasanya lagi. Sepanjang hari tubuhku menghangat dan kepalaku pening. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Waktu hamil Zena aku tidak pernah seperti ini," kata Zhavia memberitahu keluhannya saat ini.
"Semua karenaku Zhavia! Karena aku tidak memperhatikanmu, kau tenang saja. Aku yang akan merawat dan menemanimu. Zhavia jangan seperti ini. Kau harus kembali sehat dan beraktivitas seperti biasanya. Aku akan menyerahkan semua pekerjaan pada Eden dan Hoshi. Aku tidak peduli apa pun hasilnya nanti. Yang sekarang aku tahu aku ingin kembali padamu seperti dulu. Aku ingin menebus segala kesalahanku, tolong terima aku sekali lagi Zhavia, ijinkan aku menjadi bantuan napasmu setiap hati. Ijinkan aku menjadi pegangan hidupmu lagi. Aku Mohon," pinta Patrick dengan wajah memohon dan penuh penyesalan mendalam.
Mungkin inilah yang namanya cinta. Kata kata yang keluar dari mulut suaminya terdengar begitu menenangkannya. Dia memang hanya ingin pria ini. Seperti katanya mungkin rupa dan visual Patrick begitu sempurna tapi di dalamnya kita tidak tahu. Zhavia mau menerima semua itu. Zhavia pun memegang wajah Patrick. Dia tersenyum dan mengangguk pelan. Zhavia lalu menarik wajah Patrick untuk lebih dekat lagi padanya.
"Aku merindukanmu, Pat,"
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu, Zhavia. Cintaku, terimakasih atas maafmu, aku mencintaimu," balas Patrick lalu mencium bibir Zhavia dengan sangat lembut. Satu tetes air mata turun dari mata Zhavia. Dia membalas kecupan itu.
Zhavia masih bersedih tapi apa jadinya kalau benar ia sudah kehilangan anaknya tapi Patrick tidak di sampingnya. Zhavia mencoba mengalahkan egonya agar bisa bersamanya orang yang ia cintai.
Sementara Viena dan Dion yang sudah mendapat kabar sudah mengambil Zena untuk ikut datang ke Springfield. Di sana, di ruangan ICU berdinding kaca itu sudah ada Viena yang menggendong Zena, Dion, dan Dior. Sedangkan Zefanya akan tiba nanti malam. Terlihat tangan Dior mengepal. Dia kesal dengan Patrick tapi dia tahu hanya pria itu yang menjadi tujuan akhir adiknya.
"Dad, kau tidak kesal putrimu diperlakukan seperti ini?" kata Dior agak geram.
"Apa yang harus kulakukan menurutmu dan apa yang akan terjadi jika misalkan aku memisahkan pria itu dengan adikmu?" Dion kembali bertanya pada anak pertamanya. dia juga harus memposisikan dirinya di pihak Patrick dan mencoba memahami apa resiko jika dia sebagai seorang ayah malah membuat orang yang dicintai anaknya menjauh.
Dior masih memandang pasangan itu saling mengecup lalu akhirnya kembali berpelukan. Dior hanya menatap tajam tak sanggup menjawab. Dahinya agak mengernyit tak suka. Dulu Patrick pernah berjanji pada Dior tidak akan menyakiti adiknya lagi. Namun, Zhavia tetap akan mencinta pria yang juga sudah berkorban untuknya.
"Dior, jangan ikut campur dengan rumah tangga mereka. Zhavia dan Patrick sudah menentukan apa yang terjadi. Mereka berdua juga tidak pernah menuntut apapun padamu! Lebih baik cara cara bagaimana memberi pengertian pada Zefanya," kata Dion lagi.
"Benar apa yang dikatakan dad mu Dior! Sebenarnya yang paling sakit hatiku, tapi apa daya begini kenyataannya. Aku akan meminta dokter menemui Zena dengan Zhavia," tambah Viena.
"Mommy, Grandma!" kata Zena yang mengetahui nama ibunya.
"Yes, mommy!" saut Viena mengecup kening cucunya.
Viena pun memberikan Zena pada Dion dan dia masuk ke dalam untuk meminta ijin apakah Zena dipekerkenankan masuk. Ternyata Zhavia sudah bisa dipindah ke ruang perawatan. Di sana Zhavia akhirnya bisa memeluk anak pertamanya. Dia begitu merindukan gadis kecil itu. Zena tentu mengusap usap wajahnya pada dada Zhavia. Zhavia memeluknya dengan erat dan tidak mau lepas serta mengelusi punggungnya sampai akhirnya Zena tertidur.
"Maafkan aku mom, dad, kak Dior, maafkan aku!" ucap Patrick keluar dari ruang perawatan membiarkan Zhavia bersama zena.
Pak!
Tiba tiba Zefanya yang sudah datang malam ini memberi satu tamparan keras untuk suami saudara kembarnya itu. Zefanyadan Ezekhiel datang berdua. Da menitipkan Steve dan Sydney pada Rosie dan Theo.
"Jangan kau meminta maaf! Kau tidak pantas meminta maaf bahkan kau tidak pantas di sini. Lebih baik kau tinggalkan Zhavia! Aku bisa merawat Zhavia juga bersama Zena dan kedua anakku! Kau tidak usah sok sok merasa bersalah dan menyesal!" decak Zefanya dan Ezekhiel berusaha menenangkan.
"Apapun yang kau katakan Zefanya, selama Zhavia masih mau bersamaku, aku akan tetap bersamanya. Tidak ada yang bisa memisahkan kami!" balas Patrick mencoba tegas.
"Patrick, Zhavia milikmu lakukan dengan apa yang kau bisa berikan padanya, kalau kau mempunyai hati, kau tidak akan menyakitinya lagi. Tapi jika hal ini terulang lagi, aku sendiri yang akan memisahkan kalian! Zefanya, tenangkan dirimu, ini rumah sakit. Lebih baik kau temui Zhavia," kata Dior menimpali dan berusaha menjadi kakak yang bijaksana.
"Sial! Tadinya aku sudah berencana tidak mau melihat komposer tengik ini!" Decak Zefanya memasuki ruang perawatan Zhavia. Ezekhiel pun mengikuti istrinya.
Ezekhiel mengambil Zena dari Zhavia agar Zefanya bisa bicara pada saudara kembarnya.
"Zhavia, dia tidak percaya padamu! Dia tidak memberimu kesempatan sampai kau seperti ini!" Zefanya masih meyakinkan.
"Aku yang meninggalkannya bukan dia yang mengusirku!" saut Zhavia lagi sudah dengan wajah datar.
"Iya tapi karena dia tidak percaya dengan ank keduamu kan dan sekarang kau kehilangan anak keduamu!"
"Cukup Anya! Aku mau Patrick dan akan seperti itu seterusnya! Hanya dia yang akan menjadi suamiku sekarang dan besok dan besoknya lagi, selamanya! Seperti kau yang ingin terus bersama Tuan Ezekhiel meski waktu itu dia sudah dinyatakan hilang dan meski waktu dia tidak bisa memberimu keturunan!" balas Zhavia tetap pada pendiriannya.
Deg!
Jantung Zefanya berdebar dan hatinya bergetar hebat. Dia tidak bisa melawan Zhavia sampai kapanpun! Ucapannya terlalu mengenai sasaran sejak dulu dan kebenaran yang selalu menjunjung nya.
Zefanya menarik napas panjang.
"Oke, itu sudah menjadi keputusanmu kalah si keledai itu yang akan selalu membuntutimu!"
"Begitulah! Percakapan selesai Anya! Aku mengantuk! Panggilkan Patrick untuk terus memegang tanganku,"
"Zhavia Zhavia! Ibumu tetap ibumu, ibuku tetap ibuku, tidak jauh berbeda! Sama sama sudah diperbudak oleh cinta! Aku harap Patrick tahu tugasnya selanjutnya," celetuk Zefanya.
Zhavia mengangguk lalu memejamkan matanya. Dia sudah lelah. Dia yakin suaminya juga sudah lelah tapi lagi lagi mereka dihakimi. Zhavia tidak mau. Cukup penderitaan ini dirasakan dirinya dan Patrick, cukup.
...
Keesokan harinya Zhavia diperbolehkan pulang dengan syarat harus rawat jalan dua Minggu sekali tetap memeriksakan rahimnya. Dokter masih mencurigai yang akan dialami Zhavia karena dia melihat sedikit benjolan kecil dekat dinding rahim Zhavia. Tentu hal ini kembali membuat pukulan untuk Zhavia,
Khusus nya Patrick. Dia semakin merasa bersalah mendengar apalagi yang diterima Zhavia. Rasanya ingin dirinya saja yang merasakan itu semua.
__ADS_1
Belum lagi, sekembalinya Zhavia, Zhavia lebih sering berdiam diri. Dia tidak melakukan hal apapun dan Patrick tidak memaksanya. Patrick benar benar menepati apa yang ia katakan. Dia selalu menemani Zhavia di rumah. Dia yang menyuapi dan mengingatkan Zhavia makan sampai sampai dia sendiri sering terlambat makan atau makan hanya satu kali sehari karena terlalu mencemaskan Zhavia. Yang dipikirannya hanya ingin membuat Zhavia tersenyum dan kembali ceria seperti biasanya walau mustahil.
Seperti hari ini, Patrick membawakan lemon cake karena akhir akhir ini Zhavia terus membicarakan itu. Patrick mencarinya dan menemukan Zhavia sedang berendam di bath tub.
"Zhavia? Kau?" Selidik Patrick meneguk salivanya karena melihat Zhavia dengan anggunya berendam karena membuat rambutnya terkunci ke atas. Leher jenjang itu masih sangat membuat darah Patrick memanas.
"Pat? Kau sudah kembali? Kata Dessy kau membeli lemon cake?" kata Zhavia berusaha menghargai apa yang suaminya lakukan terus menerus padanya walaupun pikirannya kadang masih berpusat pada adik Zena.
Patrick tersenyum dan mendekat.
"Iya sayang,"
"Mengapa kau cepat sekali ke gedung? Aku tidak apa apa sayang," kata Zhavia meyakinkan.
"Eden sudah memimpinnya,"
"Hem, sejak aku pulang kau tidak pernah lagi memimpin rapat," ujar Zhavia.
Patrick menggeleng dan membantu Zhavia menggosok punggung belakangnya.
"Aku ingin bersamamu, selalu! Aku hanya memantau sebentar ke gedung dan kembali membawamu lemon cake dari toko Kak Wilson," kata Patrick memberitahu.
"Terimakasih sayang, hemm tanganmu lembut sekali, apa kau tidak ingin bergabung?" ajak Zhavia.
Patrick menggeleng lagi. Dia sedang menahan hasratnya. Dia masih terpikir dengan kondisi Zhavia yang masih suka melemah dan terkadang mengalami flek seperti datang bulan.
"Sayang, aku istrimu, kau berhak, cepat buka bajumu! Aku yang menyuruhmu!" Kata Zhavia memaksa dan akhirnya Patrick menurutinya. Dia bergabung sampai dia tidak bisa menahan karena Zhavia terus menggodanya dengan prilaku manjanya.
Akhirnya mereka berhubungan lagi untuk yang pertama kalinya sejak Zhavia kembali. Namun, Patrick merasa ada yang aneh karena Zhavia tidak sebebas dulu. Dia seperti menahan sakit ketika Patrick memajumundurkan tubuhnya. Patrick sampai berpura pura kalau dirinya sudah selesai dan untungnya Zhavia langsung tertidur. Hal ini juga yang membuat Patrick curiga. Patrick membersihkan Zhavia memakaikannya pakaian lalu dia akhirnya melanjutkan hasratnya sendiri. Setelah itu Patrick bergabung tidur dengan Zhavia dan meneteskan air matanya.
Tidak sampai situ penyesalan juga rasa bersalah Patrick.
Kalau Patrick memiliki acara penting di sekolah musiknya, dia mengajak Zhavia dan Zena. Intinya Patrick tidak mau melewatkan sedikit saja waktu dengna Zhavia.
"Zhavia, kau sudah siap? Hari ini kita akan merayakan artis kecil pertama dari gedung sekolah kita. Katanya dia penggemar lagu Good To Me! Kau pasti mau bertemu kan?" Kata Patrick mengingatkan Zhavia yang masih duduk di pinggir tempat tidur dan menundukan kepalanya.
Patrick mengusap belakang leher Zhavia dan masih tersenyum belum mengetahui apa yang terjadi. Namun, Patrick agak curiga karena tubuh istrinya kembali menghangat.
"Zhavia, kau baik baik saja? Sayang?" Patrick makin mendekat dan memastikan.
Zhavia mengangguk dan tak lama dia mendongakan kepalanya sambil menunjukan telapak tangannya yang sudah menahan darah yang keluar dari mulutnya. Ini sudah kali ketiga Zhavia mengalaminya dua bulan setelah paska operasi pengangkatan janin.
Patrick tentu saja terkejut dan dia tidak mau menunggu lagi. Saat itu juga Patrick melarikan Zhavia ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Seharusnya tidak usah khawatir sayang, kan aku sudah terbiasa. Aku hanya lelah," kata Zhavia berbaring di ruang perawatan menunggu hasil.
"Tidak lelah Zhavia! Ini ada yang salah!" celetuk Patrick.
"Acara artis kecil itu lebih penting sayang!"
"Penting apa? Kau yang lebih penting! Ini sudah ketiga kali kau mengeluarkan darah dari mulutmu! Satu kali aku masih menerima penjelasan dokter kalau masih dilakukan observasi dan melihat kelanjutannya dengan obat. Dua kali aku yang menurutimu untuk tetap di rumah. Sekarang tidak bisa. Sudah sampai tiga kali, dokter pasti sudah tahu apa yang sedang terjadi. Plis Zhavia, jangan pernah meragukan ku lagi! Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku ingin menebus semuanya. Selamanya aku akan menemanimu sampai kau benar benar pulih! Dan ini semua untuk anak kedua kita, Pieter!" kata Patrick lagi.
"Pieter?"
"Ya, entah mengapa aku yakin anak kedua kita laki laki,"
Zhavia tersenyum . Ternyata suaminya sudah sampai memikirkan namanya. Zhavia memeluk Patrick begitu juga dengannya yang mengelus punggung Zhavia sambil tersenyum. Namun, senyum itu tidak lama berkembang ketika dokter mengatakan:
"Tuan Patrick Kwan, Nyonya Zhavia, maaf saya harus mengatakan ini. Nyonya Zhavia mengalami Adenomiosis yaitu penebalan dinding rahim yang terjadi ketika jaringan yang biasanya melapisi rahim (endometrium) bergerak ke luar dinding otot rahim. Saya masih belum memastikan penebalan dinding rahim ini jinak atau ganas. Kita bisa mengetahuinya lewat perawatan yang dijalani Nyonya Zhavia apakah akan membaik atau bertambah parah,"
Patrick lagi lagi hanya bisa menundukan kepalanya dan memegang erat tangan Zhavia.
...
next part 19
dua episod menjelang tamat ya siapkan hati dan pikiran 😇😇
__ADS_1
jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa
thanks for read and i love you 💕