Mantan Terindah

Mantan Terindah
Pasrah


__ADS_3

"Gan, mumpung dia masih dalam kondisi seperti ini, apakah tidak sebaiknya kita tanya maunya Nadia gimana?" tanya Zein pada Gani.


"Saya ngikut saja, Pak. Gimana baiknya saja," jawab Gani, kemudian kedua pria tersebut pun kembali masuk ke dalam ruangan di mana Nadia berada.


"Nad ...." Zein mendekati Nadia, begitupun Gani.


"Maafkan Nadia, Bang. Nadia udah bikin Abang repot gara-gara masalah pribadi Nadia," ucap gadis manis ini.


"Abang nggak ngerasa kamu repotin, Nad. Kamu tenang aja. Emmmm .... Abang ingin nanyain sesuatu sama kamu. Apakah tidak sebaiknya kamu menghindar dulu, Nad. Mengingat kondisi fisik kamu juga tidak memungkinkan untuk melawan dia. Apa tidak sebaiknya kamu pulang kampung saja atau pergi ke tempat yang kemingkinan dia tak bisa menganggumu," ucap Zein, memberi ide.


"Percuma pulang kampung, Bang. Dia kan tahu rumah Nadia," jawab Nadia, jujur.


"Oh, iya juga ya. Astaga! Lalu gimana ini? Kamu punya ide, Gan?" tanya Zein.


Suana hening sejenak. Gani menatap Nadia sekilas. Lalu ia pun berucap, "Untuk saat ini, kesehatan gadis ini adalah tanggung jawab saya, Pak. Gimana kalo dia ikut saya ke Batam saja? Sembari menunggu dia pulih dan bisa beraktivitas seperti sedia kala. Nanti saya sewain rumah untuknya dan melaporkan perkembangannya pada, Bapak. Selaku orang yang mungkin peduli padanya atau mungkin sudah menganggapnya keluarga."


"Bisa juga begitu, Gan. Yang penting dia mau. Aku dan istriku bukan mungkin peduli padanya, tapi kami memang peduli. Istriku sudah menganggap gadis ini adiknya. Gimana Nad, kamu mau nggak ikut Gani ke Batam?" ucap Zein, penuh pertimbangan.


"Maafkan Nadia, Bang. Tapi Nadia nggak mau ngrepotin mas ini. Bagaimana dengan reaksi keluarga beliau, kalau tiba-tiba pulang bawa cewek cacat begini?" tanya Nadia, merasa tak nyaman dengan keputusan yang sebenarnya itu adalah keputusan terbaik untuknya.


"Bener juga, Gan. Gimana reaksi keluarga kamu, seandainya kamu bawa pulang cewek?" tanya Zein.


"Ya kan emak bapak di Jawa, Pak. Di sana kan saya juga sendiri. Lagian nanti dia kan tinggal di tempat terpisah dengan saya, lalu apa susahnya. Lagian dia jadi tanggung jawab saya kan selama dia belum bisa jalan dan pulih. Selepas dia sembuh dan pulih, dia bisa memutuskan mau tinggal di mana dan ke mana kan," jawab Gani.

__ADS_1


Sebagai penengah, Zein hanya bisa menatap kedua anak manusia ini memutuskan apa yang terbaik untuk mereka.


"Maaf, Mas, saya hanya tak ingin merepotkan anda," ucap Nadia, sedikit kurang nyaman dengan keputusan tersebut. Ia hanya tak ingin dinilai memanfaatkan Gani untuk masalah pribadinya.


"Ini bukan masalah repot atau merepotkan, Mbak. Tapi ini lebih pada tanggung jawab saya sebagai pengendara," jawab Gani.


"Bagaiamana, Nad? Kamu nggak usah takut kalo di Batam. Di sana ada papa, mama, ada Safira juga. Kamu udah kenal mereka, Kan? Kamu nggak akan sendirian di sana. Kalau pun nantinya pria ini lari dari tanggung jawabnya, percayalah keluargaku nggak akan nelantarin kamu. Oke," ucap Zein memberi kekuatan.


"Abang yakin, nantinya aku nggak ngrepotin kalian?" tanya Nadia, ragu.


"Nggak Nad, percayalah. aku rasa Zi akan setuju kalau kemu ikuit Gani ke Batam. Setidaknya untuk menghindar dari kejaran pria itu," ucap Zein lagi.


"Baiklah, Bang, kalo Nadia nggak ngrepotin kalian, Nadia mau," jawab Nadia, pasrah.


"Baik, Pak, saya ngikut saja," jawab Gani. Karena mau bagaimanapun ia harus bertanggung jawab atas kesalahan yang ia perbuat. Bukankah begitu.


"Oke ya, Nad... percayalah, nggak akan ada lagi yang bisa nyakitin kamu. Yang penting kamu sendiri jangan goyah. Tekankan pada hatimu, bahwa kamu berhak dapat cinta yang lebih baik dari pria arogan itu. Abang nggak suka sama cowok nggak ada sopan santun begitu. Abang mau, kamu dapet cowok yang nggak arogan, paham kan maksud, Abang?" ucap Zein lagi.


"Insya Allah, Bang. Jodoh nggak akan ada yang tahu," jawab Nadia sedikit tersenyum. Sebab hatinya masih terluka.


"Biklah kalo begitu, maaf... aku nggak bisa lama-lama. Aku pulang dulu, sore nanti aku balik lagi ya. Masalah tiket dan semuanya, nanti kita chat aja ya Gan." Zein tersenyum lalu mengulurkan tangannya sebagai tanpa perpisahan mereka.


"Siap, Pak. Insya Allah, besok pagi kami sudah bisa berangkat ke Batam. Karena tugas saya di sini juga sudah selesai," jawab Gani.

__ADS_1


"Oke, nanti kamu kabari aku aja," pinta Zein. Gani pun menyetujui.


Tak lama berselang, Zein pun meninggalkan ruangan ini dan Gani menarik kursi untuk berbincang lebih dalam dengan gadis yang saat ini sedang dirundung duka itu.


"Kamu oke?" tanya Gani ketika berada tepat di depan Nadia.


"Sekarang, kamu pasti senang kan. Karena gadis yang merepotkanmu ini ternyata adalah gadis bodoh," ucap Nadia, masih dalam lamunan yang menenggelamkan kebahagiaan.


"Jangan bicara begitu! Aku bukan musuhmu," jawab Gani, sedikit pedas, namun ia memang sedikit kesal dengan Nadia.


"Sudahlah, aku mau tidur," ucap Nadia seraya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tanpa terkecuali wajahnya, tentu saja ia enggan dilihat Gani dengan keadaan menyediakan seperti ini.


"Baiklah, sebaiknya kamu memang istirahat. Aku pun mau melanjutkan pekerjaanku yang tertunda karenamu. Selamat siang," ucap Gani, sedikit meledek. Namun, entah mengapa ia merasa senang dengan mainan barunya ini.


***


Di lain pihak, seseorang yang kini berniat menjatuhkan Vita, sedang menyusun rencana untuk memiliki wanita itu secara utuh.


Cinta bertepuk sebelah tangan ternyata telah membutakan mata hatinya.


Pria ini berniat menculik Vita dan memiliki wanita itu. Membawanya pergi sejauh mungkin. Hanya berdua. Hanya dengannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2