Mantan Terindah

Mantan Terindah
Harus Tegas


__ADS_3

"Gan... wait wait... kamu kenapa?" tanya Nadia, berusaha mendekati pria walau bersusah payah.


"Brengsek! Sialan! brengsek, brengsek, brengsek!" teriak Gani marah.


Nadia yang tak tahu apa-apa jadi ikut bingung dibuatnya. Dengan sabar Nadia pun mengelus lengan pria itu dan berkata, "Sabar Gan, Sabar. Sabar, coba minum dulu! Baru cerita, ada apa sebenarnya," ucap Nadia sembari mengambilkan air untuk pria ini.


Gani menatap Nadia sekilas. Lalu menerima air itu dan meneguknya cepat.


"Sabar, sabar, tenangkan dirimu!" ucap Nadia lagi. Masih mengelus lengan Gani. Agar pria yang udah ia anggap sahabat ini, tenang.


Gani marah. Matanya memerah. Hatinya teremas. Merasa dihianati. Merasa dibohongi. Perjuangannya selama ini tidak dihargai. Bahkan diinjak-injak tanpa memikirkan perasaannya.


"Istigfar.... sabar, kenapa to?" tanya Nadia lembut.


"Entahlah, Nad," jawab Gani.


Air matanya keluar seketika. Gani menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa. Jiwanya serasa melayang entah ke mana. Gani benar-benar hancur setelah mengetahui bagaimana Mariska memperlakukannya selama ini.


"Kamu kalo belum siap cerita, ngga pa-pa. Tapi aku siap mendengarkanmu kapan saja," ucap Nadia, berusah mendapatkan pekercayaan Gani.


"Rasanya sakit ternyata ya, Nad," ucap Gani, pelan.


Nadia diam, karena belum mengetahui apa yang telah terjadi.


"Aku hancur, Nad," ucap Gani lirih.


"Sabar, Gan. Emmm, sebelumnya aku minta maaf. Bolehkah aku tahu apa masalahmu?" tanya Nadia.


Gani menghapus sisa-sisa air matanya. Lalu ia menatap Nadia, yang saat ini juga menatapnya. Menanti jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan.


"Apa aku terlalu cuek, Nad?" tanya Gani.


"Tidak kamu baik, kamu perhatian, kamu penyayang. Kenapa emang?"


"Apa aku brengsek?"


"Tidak juga."


"Apa aku tidak bisa calon suami yang baik?" tanya Gani lagi.

__ADS_1


"Tidak, kamu baik. Kamu luar biasa," jawab Nadia. Masih setia mengikuti alir yang Gani ciptakan.


Gani mengalihkan pandangannya. Sebab menurutnya, Nadia berbohong.


"Kamu bohong, Nad. Kamu hanya ingin menghiburku, Kan?" tanya Gani.


"No, Gan. Tidak begitu. Aku serius!" jawab Nadia, tegas. Karena dia memang serius.


"Lalu kenapa dia mempermainkanku?" Gani menatap ke arah jendela, seakan Mariska ada di sana dan sedang mengejek dirinya.


"Siapa yang mempermainkanmu, Gan. Nggak ada. Semua orang sayang sama kamu. Termasuk aku. Aku sayang sama kamu. Sebagai teman dan saudara," ucap Nadia, serius.


Gani melirik Nadia dengan senyum menakutkan. Membuat Nadia merinding.


"Sudah... gini aja, kalo kamu nggak mau cerita sekarang, nggak apa-apa. Yang penting tenang kan dirimu. Jangan berpikir buruk tentang dirimu sendiri. Kamu adalah pria sebaik-baiknya pria. Kamu harus percaya itu. Bahwa kamu baik, memang baik," ucap Nadia seraya beranjak dari tempat duduknya. Meraih tingkatnya dan berjalan mengambil ponsel milik Gani.


Menyalakan ponsel itu lalu kembali duduk di samping pria yang saat ini sedang galau akut.


"Nad!"


"Hemm!"


"Seandainya mantan tunanganmu ngajak kamu balikan, kamu mau nggak?" tanya Gani tiba-tiba.


"Seandainya anak itu bukan anak kandung dia, apakah kamu masih mau balikan sama dia?" tanya Gani lagi.


"Nggak Gan. Aku nggak mau. Bukankah aku udah pernah bilang. Sekali bilang enggak ya enggak. Mau itu anak dia, mau bukan. Bagiku, kalo dia yang dituduh, berarti mereka udah pernah tidur bareng dong. Ya kan, logikanya kan gitu. Dan aku tidak bisa menerima itu. Begitu!" jawab Nadia, jujur.


"Apakah kesucian itu sangat penting bagimu, Nad?" tanya Gani lagi.


"Ini bukan masalah suci apa nggak, Gan. Tapi jujur apa nggaknya. Kalau status dia duda misalnya, kan udah pasti dia pernah begituan, ya kan. Nggak suci dong. Atau mungkin dia pernah begitu, tapi tidak selama berhubungan denganku. Itu sih oke-oke aja. Tapi dia kan melakukannya ketika kami masih ada ikatan. Mau itu dia akui atau nggak. Dan... satu lagi. Kalo seandainya dia nolak, cari aku dong Katakan sejujurnya. Kasih kepastian, baru itu laki. Kan laki harus tegas, Gan. Aku suka laki yang tegas, Sih. Soalnya dia adalah pemimpinku kelak. Jadi harus yang tegas," jawab Nadia, semangat.


Gani diam, tapi dia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang diucapkan oleh Nadia.


Dari ucapan tersebut, Gani bisa menarik kesimpulan, bahwa pria yang baik adalah pria yang punya pendirian. Tegas. Berani mengambil keputusan. Berani berjalan di jalan yang benar. Dan sekarang, Dia merasa dituntut untuk berjalan ke jalan yang itu.


Jalan yang tegas dan tidak bertele-tele. Gani berjanji, besok dia akan membereskan masalah ini. Agar tak ada lagi kekecewaan kedepannya.


***

__ADS_1


Di lain pihak, menjadi istri seorang dokter , memang harus siap ditinggalkan kapan saja. Terlebih dalam hal tugas.


Malam ini, Vita kembali ditinggal oleh sang suami. Karena malam ini ada pasien gawat darurat yang membutuhkan pertolongannya.


"Setelah akhir bulan, Mas, mau kita honey moon, Dek. Biar kita cepet dikasih momongan," ucap Bima serius.


"Oke, kapanpun masnya mau, Vita siap," ucap wanita ayu ini.


"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu bisa mengerti keadaan suamimu. Tapi keadaan seperti ini akan berlangsung seumur hidup kita, Sayang. Aku harap kamu nggak jenuh," ucap Bima memohon.


"Sumpah setiamu menjadi abdi masyarakat telah kamu ikrarkan, Mas. Bahkan sebelum kamu menikahiku. Bukankah aku harus bisa menerima keputusanmu itu. Aku ikhlas. Percayalah! Yang penting, kamu juga jaga kesehatan. Karena untuk menolong orang lain, kamu sendiri harus sehat dan kuat," ucap Vita, memberi semangat sang suami.


"Semoga operasi malam ini nggak selama kemarin ya, Yang. Aku kangen bobo sama kamu," ucap Bima.


"Iya, Sayang. Yuk, sebelum telat. Emmm, Mas, besok Kak Zi undang kita ke syukuran babynya loh. Mau bawa kado apa ya?" tanya Vita.


"Kado? Ahhhh... jangan besok deh!" Bima menatap memelas pada sang istri.


"Loh kenapa? Acaranya besok. Mana bisa ditunda," jawab Vita.


"Nanti aku kena bully, Zein," ucapnya lagi.


"Bully? Bully kenapa?" Vita menatap bingung.


"Aku belum berhasil belah duren, Dek. Nanti dia merasa menang," ucap Bima memelas.


Spontan Vita pun tertawa, menurutnya suaminya ini kadang-kadang aneh. Keluguannya sering sekali mendatangkan tawa.


"Kenapa ketawa, Mas, serius!" ucap Bima.


"Masku, Sayang. Sini Vita kasih tahu. Malam kemarin, Mas udah lihat semua anggota tubuh Vita, dari sini, ini, ini, ini semua udah Mas cium. Cuma tinggal masukin peluru doang kan. Itu ma gampang. Pokoknya kan Mas udah lihat semuanya. Udah ngrasain semuanya, jadi masnya nggak usah gusar. Pokoknya masnya tetap menang. Oke," ucap Vita, mencoba membesarkan hati Bima.


"Eemmm, iya juga ya. Eh, Dek. Pulang kerja nanti, lanjut yuk!" ajak Bima.


Lagi-lagi Vita hanya tertawa. Tak mungkin baginya untuk menolak. Hanya saja, cara Bima meminta begitu menggemaskan dan lugu. Membuat siapapun yang tahu kisah mereka jadi pengen tertawa. Vita Bima, kalian memang menggemaskan.


Bersambung...


Emak boleh dong minta krisan nya di karya terbaru emak🥰🥰🥰Semoga kalian suka😘😘😘

__ADS_1


Jangan lupa like komen n vote ya😗😗



__ADS_2