Mantan Terindah

Mantan Terindah
61. Ternyata


__ADS_3

...Disaat kita terpuruk, ingat ada seseorang yang akan mengerti kita...


"Man, lo liatin Roy gitu banget? Apa lo gak bosan apa nungguin dia segitunya?" Ucap Roni yang juga tau betul tentang perasaan Manda ke Roy dari dulu, ia tau Manda memendam sampai saat ini. Tapi disisi lain ia juga tidak mau kalau Manda hanya sekedar penyuka saja tapi tidak mendapatkan orang yang membalasnya.


Roy sibuk menyusun semua yang benar-benar dengan begitu serius sekali, walaupun seperti itu Roy sangat ganteng sekali ditambah pula karisma yang terpancar begitu saja sampai detik ini.


Semakin dekat saja perayaan HUT yang ke 50 tahun, secara meriah dan mengundang para alumni yang lulus terdahulu beserta beberapa guru senior yang sudah pensiun sebagai penghormatan untuk mereka.


"Lo pasang ditengah-tengah ya gue pengen guru-guru yang datang bakalan terfokus dengan ditengah-tengah itu. Oh iya Roni mana? gue kok gak lihat dia?"


"Eeeee, Roy. Gue pengen kasih tau ini ke lo tapi lo jangan bilang anak-anak ya." Ia berbisik dan membuat Roy membulatkan kedua matanya. Dan pergi gitu aja ke ruang OSIS.


"Roy dengerin gue dulu." Roy tidak perduli. Belum juga ia menyelesaikan ucapannya itu Roy mengambil kesimpulan sesuai dengan apa yang ia tangkap begitu saja. "Hu belum juga gue kasih tau. Susah ya Roy sifat lo kek gitu."


Kalau sudah berhubungan dengan Franda ia selalu tidak tenang, ia juga tau Franda sudah memiliki Rival yang pasti lebih menjaganya tapi tetap saja rasa itu tetap selalu ada yaitu rasa cemas.


Langkah Roy terhenti ketika apa yang ia pikirkan ternyata benar terjadi, Ia mendekat dan membantunya untuk berdiri. "Lo gak papa?"


"Aw sakit banget kak, aku tadi kepeleset doang kok gak papa." Dari kejauhan Lusi dan Milka kesal sekali kenapa ada Roy disana yang membantu Franda. Selalu saja pangeran yang menolong dia Rival atau Roy.


"Ya udah yuk, duduk aja dulu kenapa bisa kepeleset sih?"


"Kakak kenapa bisa ada disini? Kok bisa?" Roy melepas begitu saja siku Franda, ia pun juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


"Kak, kakak kenapa kok kayak panik gitu? Aku kepeleset aja kok kak gak kenapa-napa." Ia pun merasa risih dengan sikap Roy yang terlalu berlebihan.


"Gak papa, gue sa---"


"Sa apa?"


"Gue sayang sama lo." Gumamnya dalam hati.


"Maksud gue, gue perduli sama sahabat gue gitu. Kan lo sahabat gue kan?" Franda tersenyum tipis mendengar hal itu. Tapi perasaan terus saja bergetar.


"Oh iya masih sakit gak? Atau ada yang keseleo gitu?"


"Gak kok kak cuma kepeleset doang, dan entar paling diurut aja trus udah deh sembuh hehehe."


"Ya udah kalau gitu, gue ke kelas dulu. Lo mau gue tuntun ke kelas?"


"Ah gak perlu kok, hahaha makasih kak."


Perempuan mana yang tidak baper dengan sikap Roy yang super baik seperti itu. Bahkan banyak cewek-cewek yang terang-terangkan yang menunjukkan rasa sukanya itu ke Roy tapi ia hanya biasa saja menganggapnya sesuatu yang bercanda.


...•••...


Suara klakson mobil terdengar jelas dari luar. "Rubi?" Ucap Rival yang terkejut sekali ketika melihat mobil papah Rubi dan pasti ada Rubi juga disana. Rival masuk kedalam, dan wajahnya berubah bete.


"Hahaha Rubi val?" Ejek Roy yang melihat Rival seperti itu,


"Ah kenapa dia bisa kesini segala caper banget." Gumam Rival. Ia lebih sibuk memainkan ponselnya.


Papah menyambut Papahnya Rubi mereka emang akrab sekali memang, emang gitu kalau Rubi berkunjung dan pasti bersama papahnya. "Eh bola udah skor berapa?"


"Emang main? Wah saya gak ngikutin soalnya sibuk di kantor sih hahaha. Ya udah duduk yuk duduk." Suruhnya, sedangkan Rival memilih untuk keluar untuk menikmati malam.


Rubi hanya bisa menarik nafas sebentar.


Ternyata benar udara diluar emang sangat indah sekalian menikmatinya. Dari pada didalam, ketemu lagi ketemu lagi.


"Val, lagi ngapain? Bintangnya indah banget ya malam ini." Ucap Rubi yang mendekat kearah Rival yang sedang menikmati indahnya malam. Malam ini memang sejuk dan sangat indah sekali, apalagi angin yang berlalu lalang ia nikmati dengan sejuk.


"Hm, kenapa lo gak didalam aja? Disini dingin entar lo masuk angin." Suara dingin Rival membuat Rubi tersenyum simpul, ia tau Rival masih ada perhatian.


"Makasih ya lo udah perduli sama gue, gue seneng."


Rival hanya bisa diam dan menarik nafas sebentar dengan berat. Lebay juga ucapan Rubi kali ini padahal ia hanya memperingatkan saja tapi pikirannya sudah kemana-mana. "Dulu waktu kita masih pacaran lo pernah bilang ke gue kalau misalnya malam itu indah, malam itu sejuk dan---"


"Itu dulu." Ketus Rival.

__ADS_1


"Tapi lo masih ingat kan?"


"Hm."


"Andai aja semua bisa diubah mungkin kita udah anniversary kali ya val." Sahut Rubi yang terus membahas masa lalu mereka.


"Udahlah semua udah berlalu jadi diungkit lagi rub, entar lo susah move on dari gue. Kita udah punya bahagia kita masing-masing jadi jangan usik kebahagiaan yang sudah tergambar gitu aja. Gue udah bahagia dan lo pun juga bahagia. Kalau lo mau masuk ya udah bareng, mau masuk gak?" Tawaran Rival hanya dijawab dengan senyuman dan langkah yang masih disana. Dan Rival menganggap itu tidak menyetujui.


Flashback On


Semua kenangan itu tidak ada pernah terlupakan, Rival berdiri disamping Rubi mereka pernah menikmati sama-sama keindahan. Semua akan lebih baik ketika lekungan senyuman yang membuat mereka tersenyum. Saat itu, mereka juga sering usil-usilan bareng bahkan Rival pernah membuat Rubi menangis tanpa henti karna keusilannya itu. Tapi itu dulu bukan sekarang, dengan keadaan yang sangat berbanding terbalik. Rival sudah punya seseorang yang membuatnya jauh lebih mengartikan apa itu mengerti dan apa itu sabar.


Rival lebih memilih untuk masuk ke kamarnya, tidak sopan memang tapi seperti itulah. "Eee maaf ya pak emang kayak gitu."


"Ah gak papa saya sudah kenal Rival sudah lama, kan Rubi pacarnya Rival." Tiffany dan Roy hanya bisa saling tatap satu sama lain, berarti Rubi belum mengatakan kalau dirinya dan Rival sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


"Tif, Rubi belum cerita." Bisik Roy yang kebetulan Tiffany ada didampingnya.


"Iya, kak gue juga kaget banget."


***


...Salah paham, ya hanya salah paham saja...


Rival kesal sekali melihat Franda yang tidak bisa dihubungi. "Ah." Rival hanya diam saja di meja makan menaruh ponselnya kedalam kantung celananya. Tiffany hanya geleng-geleng kepala ketika melihat Rival bersikap seperti itu.


Sedangkan Roy berbanding terbalik,  ia santai dan santai sekali. "Gue berangkat dulu ya." Ini menjadi sebuah tanda tanya besar Rival, sebagai adik ia merasa ada yang berbeda dari kakak tertuanya itu. Didalam pikirannya selalu bergelayut pertanyaan-pertanyaan dan ekspresi Roy tadi apalagi ia langsung saja mengaitkan dengan Franda ya dengan Franda. Beberapa waktu lalu ada kaitannya dengan Franda dan Roy sedang berdua entah itu membahas tentang sesuatu tapi naluri itu selalu menjadi keyakinannya.


"Mau kemana lo?"


"Kepo." Sahut Roy yang pergi begitu saja.


"Woy kenapa lo?"


"Ah gak papa." Tanpa panjang lebar, ia tidak pikir pusing dari pada semua terlambat, ia mengambil kunci mobil dan pergi begitu saja kesana.


"Mau kemana lo?"


Ia berjalan untuk ke rumah Franda untuk membicarakan sesuatu. Mengambil kunci motornya dan pergi saja. Walau ia masih ragu tapi Rival merasa ada hal yang aneh.


***


Sebelum menuju ke rumah Franda, Roy mampir dulu ketempat martabak manis langganan papahnya itu, biasa sebagai menu makanan yang tidak hanya tangan kosong aja. "Bang pesan martabak manisnya satu ya, rasa cokelat."


"Siap!"


Roy memastikan kalau Franda ada di rumah.


Roy


"Lo ada di rumah kan?"


^^^Franda^^^


^^^"Siap kak."^^^


Rival memerhatikan Roy dari jarak 2 meter dengan mobil, ia bernafas lega ternyata dugaannya salah, awalnya ia ingin pulang dan tidak melanjutkan untuk menyelidiki Roy tapi ia masih penasaran. Ia tunggu sambil mendengarkan lagu mellow.


Roy mengambil martabak manis yang masih anget daj fresh untuk dimakan. Ternyata arah jalurnya tidak menuju ke rumah melainkan lurus kedepan. Biasanya kalau ingin pulang langsung harus membelokkan ke kiri. Rival tancap gas untuk mengikuti Roy. "Kok arahnya beda?" Pikir Rival yang bingung.


Rival sebagai cowok yakin banget kalau Roy memendam rasa ke Franda, dan ternyata benar. Ia hanya bisa kesal, amarah dan ingin rasanya menghabisi Roy karna telah nikung dari belakang. Orang yang selama ini ia hormati dikesampingkan terlebih dahulu.


Ternyata Franda sudah menunggu Roy didepan rumah tepatnya di teras. "Sorry gue lama."


"Ah gak papa kok kak." Terlihat sekali kalau Roy begitu ganteng dan rapi apalagi parfum yang begitu menyengat sekali sangat-sangat tercium.


"Gue cuma pengen minta tolong aja sih besok buat lo bantuin gue buat dekor soalnya butuh satu orang lagi, wakilnya sih udah masuk tapi rada kurang srek aja sih. Lo mau kan?" Sebenarnya Franda agak keberatan dengan tawaran Roy, tapi ia juga tidak enak hati melihat Roy yang sudah meluangkan waktunya ke rumah. Membawa makanan yang sudah ada diatas meja.


"Ya udah deh kak, tapi maaf kalau entar telat masuknya."

__ADS_1


"Tenang aja gue jemput lo." Semakin meradang lagi, Rival hanya bisa melihat dari kejauhan.


"Oh iya bentar ya kak aku buatin minum dulu didalam." Roy mengangguk paham.


Suasana malam yang begitu sejuk, dari dulu Roy tidak pernah membeda-bedakan mana yang dari kalangan orang kaya, orang biasa atau orang yang dari kalangan mana pun baginya semua sama saja. Dua hal yang membuat Roy jatuh hati dengan Franda adalah satu orang yang sederhana dan tidak neko-neko menjadi dirinya sendiri. Dan kedua dia adalah perempuan pintar yang memperjuangkan apa yang ingin dia perjuangkan itulah karisma yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain.


"Nih kak diminum maaf ya cuma ini hidangannya." Dua teh hangat yang menjadi pelengkap martabak manis malam ini.


"Makasih ya, enak banget kalau malam-malam makan ini sama teh hangat, gue juga kalau malam suka makan ini enak banget. Tapi jangan terlalu sering bisa diabetes."


"Hahaha. Bisa aja. Manis maksudnya?"


"Iya kaya senyum lo." Dan mereka berdua tertawa lepas. Franda ingin sekali Rival seperti Roy yang baik, ramah dan humoris bukan seperti cowok yang makan ceweknya marah-marah gak jelas ngambekkan dan bikin semua seakan horror.


"Besok banyak banget yang datang alumni guru-guru yang sudah pensiunan gitu apalagi dalam HUT nanti itu ada yang nyanyi juga."


"Siapa? Kakak ya?"


"Hahaha kok tau? Tau gue masih gak pede sih suara gue kayak mercon."


"Hahaha bisa aja kak Roy. Pasti bagus. Eh bentar aku ambilin tisu dulu ya mulutnya belepotan gitu."


Eh ternyata tisu yang ingin ia ambil ternyata habis. "Yah habis deh." Dengan wajah yang cemberut pun ia keluar dari dalam.


"Maaf kak tisunya habis."


"Gak papa kok, enak gak? Gue makannya habis jadi gue deh yang makan."


"Ini martabak manis langganan bokap gue dari dulu, dari semua martabak manis cuma ini yang paling enak." Lanjutnya.


"Enak sih martabak manisnya lembut tapi cokelatnya juga gak lembek gitu. Kapan-kapan boleh kali dibeliin lagi."


"Oh lo suka? entar gue beliin lagi."


"Bercanda kok kak. Bercanda aja hehe."


Roy tersenyum.


***


Dua puluh menit kemudian, Roy datang ke rumah suara motor yang terdengar samar. "Buka tif gue males." Suruh Rival langsung. Tiffany hanya mengangguk paham, Rival kayaknya kesal pikirnya seperti itu.


"Lo dari mana kak?" Bisik Tiffany. Tapi Roy hanya diam dan masuk kedalam.


"Dari rumah Franda ya lo?"


"Loh kok tau?" Heran Roy yang wajar masih wajah yang happy sekali.


"Pacar orang itu, emang gak ada cewek lagi apa?" Roy mencoba mendekat dan menjelaskan apa maksud dan tujuannya ke rumah Franda tadi. Tapi Rival malah langsung emosi gitu aja.


"Gak perlu dijelasin semua udah jelas, lo beli martabak manis kan? Sebagai sogokkan? Kak gue tau lo kakak gue tapi ya harus hargain juga dong gue!" Ucap Rival melimpahkan kekesalannya ia tidak menatap Roy matanya lurus kedepan.


"Terserah deh, gue gak ada maksud apa-apa lo bisa tanya langsung sama Franda." Sahut Roy yang langsung pergi ke kamar.


Tiffany mendekat dan berbisik "Lo tadi ke rumah Franda ya?"


"Iye, kenapa?"


"Ah pantas aja, Rival tadi ngikutin lo dari belakang. Lo ngak ngerasa emang?" Tiffany berhembus ringan,.


"Gue gak tau emang dia ngikutin gue? Ya kali gue rebut ceweknya Rival, gue tadi kesana cuma kasih tau tentang HUT di sekolah doang. Trus mampir ke martabak manis langganan papah."


Tiffany kedua bola mata Roy dengan fokus dan tajam lalu ia mendekat. "Lo yakin gak ada perasaan apa-apa sama Franda, gue ada ngerasa yang beda nih. Kan secara gye kembaran lo kak?"


"Lo mulai ketularan Rival ya? Bawaannya curigaan mulu! Ya kali. Emang gue gak boleh baik sama cewek? Trus curigaan mulu ya."


"Ah gue kan cuma nanya doang kak, PMS ya lo? Cie panik pas gue nanya tentang Franda lo suka ya?"


"Kepo maksimallll."

__ADS_1


__ADS_2