
"Cer, diem aja. Lo mau makan juga bisa gue pesenin ya." Ucap Rival yang juga menawari Cerry.
"Gue liat kalian berdua aja udah seneng banget."
"Eh kak sini dong bentar." Ternyata pas banget ada Roy yang melintas dihadapan mereka. Cerry berusaha untuk berdiri ketika Roy mendekat tapi tangan Franda menahannya dan memberikan komando agar ia tidak pergi.
"Apaan?" Sahut Roy yang bingung. Kalau teringat tentang Roy dan Manda, Cerry suka males banget liat Roy karna saking cemburunya itu.
"Hai cer." Sapa Roy, hanya dia yang tidak menatap Roy dengan kehadirannya itu.
"Eh kak." Canggung, ya seakan tidak ada apa-apa. Rasa cemburu itu yang membuat Cerry gundah dan menjauh.
Diam-diam Rival memberikan komando untuk Franda agar membiarkan Roy dan Cerry berduaan dengan kedipan mata genit hahaha.
"Eh kita kesana dulu ya, bye kak."
"Gue juga ya cer, tunggu disini dulu." Sahut Franda yang juga ikut-ikutan pergi.
"Eeeeeeeeh."
"Mau kemana cer? Disini aja." Senyumnya. Tidak bisa dikatakan lagi sungguh indah sekali. Roynya biasa aja sih tapi disini soal perasaan Cerry yang selalu bergetar kalau didekat entah apa yang membuatnya bingung, tapi ya itu yang membuat itu semua bimbang.
"Gendutan ya cer." Sontak Cerry langsung saja refleks memegangi kedua pipinya karna yang paling dominan adalah area pipi yang sudah bulat itu.
"Haha gak kok bercanda, lo tetap cantik lah." Ralat Roy kembali. Antara senang atau gak perlu geer itu semua ini hanya bualan belaka sekilas tapi nyata.
Disisi lain Rival dan Franda mengawasi pergerakan mereka yang bercakap. "Emang si Cerry seriusan suka sama kak Roy?" Dikala itu Franda tau kalau ia masih ada rasa ke Roy, namun ia mencoba untuk tersenyum. Ciri khas dari Roy yang tidak dimiliki oleh Rival adalah bagian senyumnya yang manis tanpa pengawet buatan. Cari pandangnya bahkan sifat dan karakter Roy sendiri yang sangat jarang dimiliki oleh orang lain itulah daya tarik Roy tersendiri.
"Ngeliatinnya gitu banget suka ya? Disini ada pacar lo." Usil Rival tapi tidak dijawab oleh Franda.
"Ganteng banget." Ucap Franda yang asal menjawab.
"Kak Roy." Gumamnya.
...•••...
Didalam benak Franda ia ingin sekali menanyakan sesuatu ke Rival tapi ia masih belum yakin ia hanya bisa memandangi wajah Rival sedekat ini yang sudah menjadi pacarnya. Sesuatu yang mimpi sekali. "Kenapa?"
"Woy lo kenapa?"
"Lo kenapa?" Rival melambaikan tangannya didepan wajah Franda karna perempuan itu hanya bisa tersenyum saja melihat wajahnya.
"Bener kamu yang bikin puisi itu?"
"Oh, iya gue iseng doang kok." Sahutnya yang lebih santai.
"Oh gitu? Tapi aku terharu. Boleh gak aku nanya sesuatu?"
"Hm." Padahal didalam hati Rival juga penasaran dengan pertanyaan itu tapi ia berusaha untung tetap cool dan tidak tegang.
"Itu kalimatnya serius buat aku?"
"Ya enggak lah, gue becandaan doang kok. Ya kali kalau gue serius nulisnya ya iseng lah." Franda mengangguk paham, sialan benar juga pikirannya mulai terbuka dengan ucapan Rival barusan mana, mungkin cowok selevelnya menyukai sosok Franda yang berbeda. Sedikit rasa kecewa yang mendalam, Ia mengambil tas yang ada disampingnya lalu memakainya kembali. Tanpa basa basi berpamitan ke Rival, perempuan mana yang tidak tersinggung dengan sahutan seperti itu.
Tangan Rival mencekal bebas dan erat hingga langkah Franda terhenti. "Kenapa?"
"Gue mau balik, gue capek. Lepas bisa kan?" Raut wajahnya sudah berubah, keceriaan seakan lewat begitu saja dengan ucapan yang terlontar langsung dari mulut Rival. Namun Franda masih bisa tersenyum tipis menutupi sedikit goresan.
"Mau kemana?"
"Balik. Udah deh gue pengen balik val."
"Gak bisa lo harus disini, main pergi gitu aja seenak jidat lo ini semua gue yang bayar. Udah duduk deh makanan juga belum dimakan udah duduk." Ia menurunkan tubuh Franda agar duduk kembali dengan menghentakkan bahunya dengan kedua tangan.
Franda menarik nafas sebentar, ini sebagai pacar atau sebagai orang yang suka ngebully? Pikirnya seperti itu, moodnya berubah rusak. Terkadang Rival terlalu frontal dalam berucap hingga tidak tau kata mana atau kalimat mana yang membuat hati orang lain terluka. Matanya kearah lain ke dinding kaca transparan yang menyorot ke luar.
"Diem aja, coba tuh liat mereka aja pacaran gitu kok kita gak kayak mereka."
"Udah deh gak usah pake ngambek segala, cantiknya hilang entar. Emang pengen dipuji beneran?"
"Ayo dong cantik senyum dong mana nih senyumnya lucu na...."
Akhirnya Franda tidak bisa menahan senyumnya walau sedikit. "Ah apaan sih."
"Nah gitu dong, becanda kali. Ya kali gue gak bangga sama pacar yang secantik ini." Pujinya kembali yang mencairkan suasana.
Nomor tidak dikenal
__ADS_1
Rival tuh suka banget sama pisang keju.
Dan karna penasaran dengan pesan misterius itu, Franda pun menawarkan mencoba untuk menawarkan pisang keju ke Rival dan sebelum itu ia taruh diatas kantung bajunya. "Kok gak pesan pisang keju suka kan?"
Kerutan langsung saja "Kok lo tau?"
"Nebak aja soalnya spanduk yang ada didepan kayaknya enak."
"Oh, gue emang suka banget tuh pisang keju tapi semua itu teralihkan sama manisnya senyum lo."
"Eaaa. Seneng kan?" Jawabnya yang mencolek pipi kanan Franda ia gemas sendiri dengan apa yang ia ucap.
Rival beranjak untuk membeli pisang keju yang ada didepan.
Membulatkan kedua matanya menengok kekanan dan kekiri apakah ada mata-mata yang memperhatikannya. Begini lah rutinitas mereka berdua semenjak mereka berpacaran, sering bareng. Ya bareng-bareng.
Tapi ada satu hal,,
Satu hal yang membuat Rival tidak kunjung berubah yaitu kata-kata yang kasar yang begitu saja keluar dari mulutnya sampai saat ini tidak ada perubahan sama sekali.
...•••...
Rival menaruh motornya, biasa kalau sore pintu rumah masih terbuka dan kebiasaan Roy . "Duh duh jalan-jalan mulu iya deh yang pacaran mulu, kemana aja lo."
"Ya sama pacar gue lah, lo sendiri mblo wkwkw. Ya udah ya kak gue keatas dulu pengen mandi, Tiffany mana sama Hito?" Roy mengangguk mengiyakan pertanyaan Rival.
Ia hanya bisa tersenyum tipis, memang yang ia sangka selama ini Franda menyukai Rival juga buktinya aja mereka sekarang udah jadian. Bararti hadiah yang diberi Franda hanya sekedar baik biasa baik ke teman antar teman bukan hal yang lebih - pikirnya seperti itu.
***
...Kebahagiaan itu bisa didapat dari mana aja termasuk dari orang yang sekarang ada...
"Mau kemana lo val rapi bener?"
"Ada urusan, gue telfonin kak Roy gak angkat dia dimana?"
"Gue gak tau keluar kayaknya deh."
"Ah ya udah deh, eh tunggu bentar tolong kalau kak Roy turun suruh dia buat siap-siap ya. Pake baju yang rapian dikit." Tepuk Rival dibahu Tiffany yang hanya diam tidak mengerti.
"Eeee val."
Mengambil kunci mobil, dan siap ke rumah Franda. Untungnya jalan tidak begitu ramai dan lancar.
***
Rival dan Franda sudah janjian buat mendekatkan Roy dan Cerry untuk ikut diacara dating mereka. Tapi ini ide dari Franda sih lebih tepatnya, ia bahagia banget bisa membuat Cerry dengan Roy bersatu. Rival sengaja membawa Roy juga untuk ikut ke timezone buat main-main gak jelas setelah ia menjemput Franda di rumahnya. Sementara tugas Franda kali ini menyuruh Cerry untuk siap-siap jalan, yang Cerry tau mereka hanya berdua saja. Sengaja memang, agar rencana ini berjalan dengan lancar.
Franda sudah siap ia mengecek mobil Rival tak kunjung datang sedangkan Cerry sudah mengirimkan pesan kalau ia sudah siap untuk jalan. "Duh gimana ini?" Pikirnya yang mengecek detak jam tangan yang terus berputar.
15 menit kemudian... cahaya terang datang dari pantulan lampu sebuah benda. Ya itu sebuah mobil yang datang ke pekarangan rumah suara klakson pun berbunyi mengomando untuk masuk tapi sebelum itu ia keluar dari mobil dengan pakaian santainya. "Nyokap lo mana? Gue pengen izin dulu."
"Ada didalam lagi tiduran gitu."
"Oh gitu padahal gue kepengen terima kasih udah lahirin bidadari dihadapan gue." Gombalnya. Udah terbiasa kali ya.
"Habis ini jemput kak Roy?"
"Iya tadi gue sempat bohong gitu, makanya buruan masuk lo udah kasih tau Cerry kan?" Ia mengangguk saja menandakan benar kalau Cerry sudah menunggu.
Franda pun langsung masuk saja tapi ia lupa dan duduk dibelakang celotehan pun terjadi "Hei gue bukan taksi online ya. Buruan lo ke depan." Suruhnya yang membuat Franda tersenyum saja sudah terbiasa dengan kata kasar Rival.
"Ribet sendiri kan gue harus balik ke rumah lagi jemput kak Roy." Rival menelfon Tiffany untuk mengetahui apakah Roy ada di rumah atau tidak ada.
"Eh, kak Roy ada di rumah gak? Suruh dia siap-siap ya. Gue tunggu." Telfon pun langsung tertutup tanpa menunggu Tiffany menjawabnya.
Egois! Ya memang! Rival memang sosok egois.
...•••...
Setelah turun dari mobil Roy dan Cerry menjaga jarak. Sementara Rival mendekatkan mereka berdua dengan menarik Franda kearahnya. "Eh kita kesana dulu ya entar gabung lagi."
Obrolan pun dimulai. "Kita main basket aja kali ya. Bisa kan?"
"I---ya."
"Hahaha, kaku banget sahabat kamu ya." Ucap Rival yang tertawa lepas apalagi ketika Cerry kaku gitu masukkin bola basket di keranjang gak ada satupun yang masuk kedalam saking groginya kali ya.
__ADS_1
"Iya ya, tapi wajar aja sih sama cowok ganteng setipe kak Roy ya." Sahut Franda dengan polos, kali ini Rival tidak terima sama sekali dibandingan seperti itu.
"Eh apa lo bilang?"
"Apa sih cemburuan banget deh."
Dari tadi Cerry tidak ada masuk pun bola basket padahal tingginya tidak terlalu alias terjangkau, bahkan koin telah beberapa kali ia masukkan. Roy malah menggelengkan kepalanya dan mengambil bola,m untuk mempraktekkan ke Cerry. "Nah gini lo cer pegangnya tuh gini pake kedua tangan sejajar diatas dada trus jangan lupa fokus kedepan liatin lubang basketnya."
1
2
3
Dan masuk!!
"Ye,, akhirnya." Seperti anak kecil loncat-loncat gak jelas sama sekali.
"Haha, lo kenapa cer."
"Eh maaf kak."
"Ya udah kalau gitu giliran lo, ingetin cara gue tadi." Suruh Roy yang memberikan bola ke Cerry untuk mencobanya.
"Yah kok gak masuk sih." Kesal Cerry ia sudah memfokuskan arahan dari Roy tapi ya gak ada yang ngaruh tetap aja nilainya nilil gitu.
"Hahaha ya udah deh lain kali gue ajarin ko ya, udah ah kesana aja yuk." Ajak Roy yang lebih dulu meninggalkan Cerry.
Sementara itu Rival dan Franda juga tidak kalah, Rival mengajak Franda untuk ke tempat mainan anak-anak gitu. "Hah? Apaan ini? Gak mau!" Mana mungkin mau kalau Franda ikut dikala semua yang ada didepannya anak-anak kecil bisa-bisa diketawain oleh mereka apalagi orang tua mereka yang mendampingi itu.
"Ya udah mau kemana?"
"Kesana aja." Rival memasukkan jemari tangannya ke tangan Franda ia tidak membiarkan tangannya itu menjuntai kebawah begitu saja ya seperti pacaran pada umumnya.
Lirikan itu terlihat olehnya namun ia hanya bisa diam saja. "Ya udah samperin mereka aja yuk kali aja udah jadian." Semangat Rival begitu menggebu sekali apalagi dikala seperti ini, moment yang tepat sekali.
Ternyata mereka sudah duduk ditempat makanan yang ada disamping timezone, disana seperti biasa kaku dan canggung apalagi Cerry. "Kok diem-diemen aja?"
Roy melihat jelas tangan yang menggenggam itu. Ia tersenyum tipis dan kearah lain tapi sebelum itu menatap kedua bola mata Franda sebentar. Kedua mata yang saling bertemu satu sama lain. "Eh duduk yuk." Rival menarik kursi untuk Franda.
Dan kini Roy dan Franda saling berhadapan satu sama lain, Ya satu sama lain. "Eh pindah aja deh cewek sama cewek dan cowok sama cowok ya." Ralat Rival.
...•••...
"Gimana cer tadi serukan sama kakak gue?"
"Tenang cer kakak gue gak bareng Manda kok, cuma temen aja. Iyakan kak?" Tanya Rival.
"Ee apaan sih jadi bahas Manda segala, dia temen gue kali." Ketus Roy, dikala itu Cerry merasa sedikit senang karna dugaan selama ini terlalu berlebihan.
Selama perjalanan tidak hentinya sesekali pandangan itu terus saja membuat Franda dan Roy beradu tatap satu sama lain. Namu ia tetap menjaga.
"Ma---makasih kalau gitu ya udah anterin ba---balik." Gugup Cerry begitu kentara sekali apalagi ketika mereka yang memperhatikannya langsung.
"Eh udah jangan gugup gitu dong santai aja. Habis ini cuci kaki trus tidur ya hahaha." Canda Roy yang memegang santai bahu Cerry tapi maksud dari Cerry berbeda karna itu semua seakan berlebih dan membuatnya baper.
"Ehem, couple baru nih kayaknya." Usil Rival yang tidak kunjung henti.
"Kasih tau jadiannya biar ada pesta." Cengir Rival. Roy makin bingung, ia hanya bisa diam dan diam saja.
"Loh diem?"
"Lala lala..."
"Makasih kalau gitu." Cerry turun dari mobil Rival.
Kini tinggal mereka bertiga didalam mobil, Saatnya Rival bikin Roy salah tingkah kembali sekaligus mengetes perasaan Roy ke Franda yang dicurigai suka. "Kenapa?"
"Eh kak, kakak masih ketua OSIS trus gimana masih suka ikut lomba gak?"
"Apa urusan lo? Kepo banget jadi cewek." Jawab Rival yang malah ikut nimbrung.
"Masih kok. Lain kali ikut aja nonton."
"Emang boleh kak?"
"Ya boleh lah." Seperti dayung bersambut, nyambung didepan Rival sendiri. Sebenarnya obrolan biasa tapi ya itu cemburuan banget.
__ADS_1
Padahal dulu benci dan sekarang susah banget dikontrol.