Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 6


__ADS_3

Kadang rasa rindu itu juga dapat menusuk sampai ke tulang sumsum dan bisa melampaui akal sehat. Apalagi bagi mereka yang sedang mengandung. Apa yang terjadi pada Zhavia? Di mana dirimu Patrick?


...


Tujuh hari kemudian,


Zhavia akhirnya merasakan kebahagiaan yang sebenarnya ketika hamil. Selain Patrick yang selalu membagi waktunya untuk Zhavia di tengah kesibukannya, Zhavia juga sudah lega karena mengungkapkan semuanya pada Zefanya. Dan, yang paling membuatnya senang adalah Zefanya menetap di sini selama satu Minggu penuh dan selalu menemaninya. Di saat masa hari cuti Patrick habis, dia masih bisa mempunyai teman yaitu Zefanya dan Ezekhiel. Zefanya dan Ezekhiel selalu mengajak Zhavia. Ezekhiel sama sekali tidak keberatan karena Zhavia memang sendiri dan tidak mau ada perawat atau suster yang Patrick sewa untuk nya. Zhavia lebih suka sendiri dan kedatangan Zefanya sungguh menjadi berarti baginya.


Dan, sekarang Zefanya dan Ezekhiel harus kembali ke Legacy karena masih banyak pekerjaan mereka mengingat mereka ada pemimpin. Zhavia juga tidak menahan mereka dengan permintaan Zefanya harus datang ketika dia melahirkan nanti.


"Zhavia, pokoknya kau tidak usah memikirkan pekerjaan Patrick! Yang kulihat dia tetap memperhatikanmu, semoga setelah kau melahirkan, dia bisa memberikan waktu yang lebih untuk mu dan my Lil Zen," kata Zefanya berpesan


"Iya, Anya, aku yakin Patrick pasti memberi yang terbaik bagiku," balas Zhavia menundukan kepalanya sambil memegang tangan Zefanya.


"Biar bagaimanapun dia bekerja untuk mu dan masa depan Lil Zen, dan jangan sungkan sungkan pergi ke kamar apartemen Adeline dan Eden. Mereka sangat baik. Bahkan Aunty Chloe yang berpesan padaku agar kau selalu beritahu padanya jika membutuhkan sesuatu. Mom juga berpesan kau jangan terlalu banyak berpikir. Makan yang teratur! Apa saja yang kau inginkan cepat beritahu Patrick, dia pasti mengabulkannya!" tambah Zefanya lagi terdengar seperti Viena.


"Iya, Anya ... Tapi aku masih merindukanmu ... Huaaa ...!!" Pekik Zhavia memeluk Zefanya. Rasanya sudah seperti bertemu ayah, ibu dan kakak pertamanya hanya dengan melihat Zefanya. Ya memang sifat Zefanya lebih ke arah Viena ketimbang Dion.


"Hem, sebentar lagi kau akan melahirkan, sebentar lagi kau memasuki delapan bulan dan akhirnya melihat anakmu, sabar lah, aku pasti kembali datang!" saut Zefanya mengelus punggung Zhavia.


"Janji Zefanya!"


"Ya aku berjanji, kalau perlu, aku akan membelikan semua perlengkapan my Lil Zen, semua terlengkap dan terbaik di Legacy, kau lihat saja?" janji Zefanya tersenyum.


"Baiklah Zefanya, kau hati hati bersama Tuan Ezekhiel, kabari aku jika sudah sampai dan bilang sama mommy jangan lupa untuk datang dan merawatmu terlebih dulu ketika aku melahirkan. Kata orang awal awal melahirkan tidak seindah kelihatannya. Semua pasti mengalami kesulitan, aku sudah takut duluan Anya!" kata Zhavia menarik diri.


"Ya, kau tenang saja, aku , mommy, Gracia akan datang dan kita bisa berkumpul bertiga seperti dulu, Yeay! Kau tenang saja! Sekarang biarkan aku kembali ke Legacy dan membenahi semua pekerjaanku sehingga nanti aku bisa di sini sepuasnya, oke?"


"Ya, terimakasih Anya!"


Tak lama kemudian Ezekhiel dan Patrick datang. Ezekhiel baru saja memberitahukan tentang penanaman saham jika gedung sekolah Patrick berjalan dengan lancar. Mereka baru saja melakukan pertemuan online melalui video dengan Dior, Leon dan juga Rick. Patrick cukup tertarik dengan saham dan investasi pegangan Dior ini. Ezekhiel saja sudah masuk dal team Dior.


"Oke, kami sudah selesai, akhirnya suamimu tertarik untuk menanam saham nanti, Zhavia!" Kata Ezekhiel keluar dari ruang kerjanya di apartemen itu.


"Ah bagus sekali tuan Ezekhiel, terimakasih atas bimbingannya," saut Zhavia merasa tuan Ezekhiel mampu membuka pikiran suaminya yang tidak begitu tertarik dengan dunia bisnis.


"Sama sama, Via. Jadi, Anya, apa kau sudah siap? Kita akan terbang pukul 3 sore," ujar Ezekhiel pada istrinya.


"Sudah sayang,"


"Hati hati Zefanya, tuan Ezekhiel. Benar, kami tidak usah mengantar?" tanya Patrick memastikan.


"Tidak usah Patrick kasihan Zhavia. Tadi kan dia kembali muntah dan kontraksi palsu. Sebaiknya dia beristirahat. Kuperingatkan padamu Pat, lebih baik kau menyuruh Zhavia menunggu di apartemen Adeline jadi kalau ada apa apa aunty Chloe dapat memberitahumu," pesan Zefanya secara front.


"Iya Anya, setiap hari aku selalu seperti itu tapi adikmu saja yang tidak mau!" dengus Patrick melirik istri nya.


"Zhavia, mulai sekarang harus!"


"Iya, Anya!"


"Baiklah, jaga diri kalian, hubungi kami jika sudah tahu hari perkiraan lahirnya," kata Ezekhiel mengingatkan.


"Pasti tuan!"


"Oke, kami pulang dulu," ujar Zefanya sudah beranjak dan kembali memberi satu pelukan dan cium pipi kanan kiri pada Zhavia.


Zefanya dan Ezekhiel pun keluar dari apartemen dan menuju ke bandara. mereka kembali ke Legacy.


"Setidaknya kau sudah lega kan, Zefanya sudah mengetahui kehamilanmu?" gumam Patrick mengecupi pundak istri nya.


"Ya sayang, terimakasih, ini semua juga karena mu dan tuan Ezekhiel," saut Zhavia setengah menoleh.


"Dan aunty uncle mu jangan lupa,"

__ADS_1


Zhavia tersenyum dan Patrick makin mengeratkan pelukannya. Sejak saat itu, setiap Patrick berangkat memantau gedung sekolah yang hampir jadi itu, dia selalu mengantar Zhavia dulu ke kamar apartemen Adeline dan Eden. Sekalipun Adeline juga pergi, dia pasti mengajak Zhavia atau meninggalkannya bersama Chloe. Setidaknya Zhavia memiliki teman dan tidak kesepian.


...


Dua bulan kemudian,


"Jadi satu Minggu ini, kalian sudah bisa menempati ruang perawatan, Tuan dan Nyonya Kwan. Aku sudah bicara pada dokter kepala," kata Dokter Erika mulai memberitahu hari perkiraan lahir Zhavia kira kira satu minggu lagi.


"Bagaimana Zhavia? Kau benar ingin melahirkan dengan normal?" Selidik Patrick.


Zhavia mengangguk yakin.


"Jadi kau ingin menginap di sini saja untuk berjaga jaga?" tanya Patrick lagi.


"Tidak, aku mau menunggu di apartemen saja bersama Adeline and mommy Chloe," bantah Zhavia.


"Sayang, kalau kau kontraksi bagaimana?" saut Patrick cemas.


"Tenang saja Patrick, jika rasanya sudah sakit sekali saja, aku akan langsung ke rumah sakit. Benar begitu dok?" kepala Zhavia mengarah pada dokter Erika.


"Tanda tanda melahirkan juga bisa adanya flek, nyonya, jadi jangan meremehkan darah yang keluar sedikit saja," ujar Dokter Erika mengingatkan.


"Oke dok, aku sangat paham,"


"Baiklah, ini vitamin yang masih harus diminum nyonya, aku hanya bisa menerka hari perkiraan lahir anda tepat di tanggal 10. Ini baru saja tanggal 2. Hari perkiraan lahir bisa maju atau terlambat, jadi tetap persiapkan semuanya," pesan dokter Erika lagi.


"Zhavia, sebaiknya besok saja kau sudah menempati ruang perawatan," tutur Patrick lagi benar benar takut.


"Tidak mau Patrick! Kau pasti bekerja dan hanya malam kau menemaniku!"


"Tuan, jangan dipaksa, nanti Nyonya akan stres. Dia tidak boleh merasakan tekanan sedikitpun mengingat hari kelahiran anak kalian, kau paham kan?" sela dokter Erika memperingati Patrick.


"Oh, baiklah dok, aku hanya cemas saja jika aku tidak ada,"


"Ya, aku mengerti, baiklah Nyonya, tetap tenang dan jaga kesehatan,"


"Sayang, aku bersama Adeline dan Mommy Chloe, semua akan baik baiks aja. Yang terpenting kau tidak boleh mematikan ponsel. Oke?" kata Zhavia memegang wajah suaminya agar lebih tenang..


"Baiklah, kau harus terus mengabari ku Zhavia! Aku juga akan meminta tolong pada Adeline dan Mommy Chloe,"


Zhavia mengangguk tersenyum.


Dua hari kemudian, seperti biasa Patrick mengantar Zhavia ke kamar apartemen Adeline dan Eden sekaligus menjemput Eden. Zhavia sudah memberitahu Keluarganya di Legacy. tentu saja semua keluarganya di Legacy mempersiapkan kedatangan mereka. bahkan Egnor mengirim pesawat jet nya untuk menjemput keluarga adiknya itu.


Hari ini Patrick memiliki dua pertemuan penting. Menandatangani surat perjanjian kerjasama investasi. Patrick sudah memutuskan untuk bergabung dengan Prime dan Dimitri Group. Sementara menggunakan nama gedung musik Pat&Via. Selain itu Patrick harus menghadiri pertemuan para pengajar di gedung sekolah musiknya.


"Aku akan pulang terlambat, Via. Namun, aku akan mengusahakan semuanya berjalan dengan cepat sehingga bisa menemanimu," ijin Patrick mengelus pangkal kepala Zhavia.


"Iya Pat, aku baik baik saja bersama Adeline," balas Zhavia tersenyum masih melingkarkan tangannya di pinggang suaminya.


"Seperti baru beberapa kali saja kau pulang terlambat bersama sahabatmu itu," sela Adeline menggoda.


"Semua demi yang ada di sini, Adeline?" saut Eden keluar dari apartemen.


"Ya, aku paham, sudah sana berangkat. Ini bekalmu Eden! Jangan berikan pada Patrick, Zhavia sudah membawakannya!" decak Adeline mengingatkan.


"Kau ini pelit sekali Adeline, aku masih lapar dan suamimu makan sedikit!" balas Patrick mendengus.


"Tidak peduli! Eden, habiskan ya?" kata Adeline pada suaminya.


"Pat, kau sudah diberi ultimatum!" saut Eden ke sahabatnya.


"Sayang, aku sudah membawakanmu banyak, jangan khawatir!" kata Zhavia seketika.

__ADS_1


"Aahh istriku memang pengertian dan lemah lembut," balas Patrick mengecupi kening Zhavia.


"Sudah sana kalian berangkat sebelum terkena traffic jam!" Adeline mengingatkan.


"Baiklah jaga dirimu, Via, i love you," ucap Patrick lagi pada istri tercintanya itu.


Mereka saling mengecup dan melambaikan tangan. Zhavia masuk ke dalam bersama Adeline.


"Nanti siang aku berencana akan ke Honol City Mall, aku mau menghadiri baby fair, kau mau ikut?" ajak Adeline.


"Wah, kedengarannya mengasikan, oke aku ikut Adeline, em tapi apa mertuamu bisa membuatkanku sosis panggang? Aku ingin sekali," saut Zhavia sudah duduk di sofa dan menyalakan televisi.


"Sosis? Kedengarannya lezat, biar aku yang membuatnya Zhavia,"


"No! Aku ingin ibu mertuamu!" bantah Zhavia melirik Adeline.


"Oh God! Yasudah tunggu dia kembali dari Kapel, dia sednag menaruk persembahan. Proyek saru tangan rajutnya terjual hampir 50 pasang, dia membuat seperti ucapan syukur," kata Adeline memberi tahu.


"Mom Chloe memang tak ada duanya, sama sepertimu," gumam Zhavia tersenyum.


"Sepertimu juga, Via,"


Dan mereka menunggu sampai Chloe pulang. Setelah Chloe pulang kira kira pukul sebelas, Zhavia malah tertidur di sofa. Adeline sudah mengatakan pada mertuanya dan Chloe segera membuatkannya. Ketika aroma sosis itu menguar, Zhavia pun terbangun. Dia mengendusi aroma itu, tapi baru saja dia beranjak, Zhavia merasa ada yang mengalir di bawah sana. Pinggangnya juga seketika nyeri dan perutnya melilit.


"Argh!" Zhavia merintih dan kembali duduk. Dia mencoba menetralkan dirinya dan tidak berpikir yang macam macam. Namun, sakitnya muncul lagi dan kali ini dia tidak bisa menahan untuk tidak memanggil nama Adeline. Adeline yang sedang bersiap hendak ke mall, menoleh dan keluar kamar.


"Ada apa Zhavia?" tanya Adeline masih dengan wajah biasa saja.


"Tolong hubungi Patrick, perutku sakit sekali, cepat Adeline!" pinta Zhavia sudah memegang perutnya. seketika Adeline berpikir kalau Zhavia akan melahirkan.


"Oh God! Apa kau akan melahirkan?!" selidik Adeline berjalan pelan ke depan Zhavia.


"Aku tidak tahu, aku mau Patrick, aku mau Patrick, Adeline!!!!" decak Zhavia.


"Oke oke, be calm honey, wait wait! Mom!!! Perut Zhavia sakit mom!" Pekik Adeline sembari kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya.


"Zhavia? Ada apa dengan perutmu?" tanya Chloe keluar dari dapur.


"It's so sick mom!!" rintih Zhavia.


"Tenang, tenang, tarik napas,"


"Aaarrrgghhh sakkiitt sekali, Patrickkk i need youuu!!!" Rengek Zhavia malah menjadi jadi.


"Patrick tidak bisa dihubungi, ponselnya off, Via! Lebih baik kita ke rumah sakit dulu, bagaimana?" Adeline menjadi sangat bingung.


"No! I want Patrick, now!" Zhavia tetap ingin suaminya.


"Tapi Via kondisimu lebih penting, Patrick bisa menyusul," balas Adeline.


"Tidak mau! Aku mau suamiku atau ibuku sekarang sekarang!" kata Zhavia lagi sudah mengalir peluh keringat karena menahan sakit.


"Ibumu di Legacy bukan di bawah lantai apartemen!" decak Adeline benar benar panik.


"No! Aku mau kedua orang itu atau aku akan tetap di sini!!!!! Patrick, mommy! I need you!!!!!" pekik Zhavia lagi.


Adeline dan Chloe bingung. Adeline menghubungi Eden, Hoshi tapi tidak ada jawaban. Sepertinya ponsel Patrick kehabisan energi dan Eden juga Hoshi membuat mode getar karena hari ini mereka memang sangat sibuk.


...


nah lho Pat 😅


next part 7

__ADS_1


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2