
Cinta yang sederhana itu hanyalah menuruti dan mengikuti hati kecil ...
...
Akhirnya Allegra dan Carolyn tiba di sebuah gedung yang dulunya merupakan pabrik minuman sekarang berubah bentuk menjadi sebuah gedung minimalis yang memiliki 5 lantai. Gedung yang memiliki corak kaca pada lantai akhir dan tembok di bawah lantai yang penuh dengan warna putih dan merah.
"Sepertinya di atas itu seperti rumah kaca, Alle?" gumam Carolyn menerka.
"Tidak tahu, ayo masuk kak! Kenapa jantungku berdebar seperti ini?" saut Allegra memegang dadanya.
Carolyn mengangguk. Allegra menggandeng tangan Carolyn. Tidak ada penjagaan. Mereka menuju ke pintu utama. Sama sekali tidak ada yang memberikan keamanan. Ketika Allegra dan Carolyn mendorong pintu kaca itu, mereka berdua terkejut, terlebih Allegra.
Mereka tidak bisa memasuki lobby karena terdapat tali pita berwarna merah dengan satu bunga mawar di detengannya terikat di sebuah pintu ditektor. Allegra mengernyitkan dahinya dan melepas pegangan tangan Carolyn. Dia melangkah maju dan meraih bunga mawar merah itu.
'Kalau kau sudah mengambil bunga mawar ini, kau harus terus melangkah maju!'
Begitulah isi pesan yang menempel di tangkai bunga itu.
"Maju Alle, ini merupakan jebakan cinta, haha!" saut Carolyn meledek.
"Waktu itu Kak Xelino juga memberimu serangkaian kerepotan ini ya?" selidik Allegra yang sangat yakin kalau sepupunya ada di balik ini semua.
"Semua karena cinta, Alle!"
"Cih," saut Allegra dan dia membuka tali yang terikat di pintu ditektor itu dan memasuki lobby. Allegra kembali melihat lihat lagi dia harus kemana.
"Allegra, itu bunga mawarnya lagi! Kalian suka sekali bunga mawar," kata Carolyn kemudian menunjuk ke arah pintu besar dan di sana tertempel satu bunga mawar merah lagi .
"Memangnya kau suka bunga mangkuk kecil di Nederland sana!" Celetuk Allegra dan pergi menuju ke pintu itu.
"Sirik sekali, seleraku beda dengan kalian!" Dengus Carolyn mengikuti Allegra.
'Bukalah pintu ini jika kau siap menerima apa yang akan kuberikan padamu termasuk semua hatiku!'
Begitulah isi pesannya untuk Allegra membuka pintu tersebut.
"Mengapa seperti Alice in Wonderland, sebentar lagi kau akan memasuki pintu pintu kecil Allegra," decak Carolyn terus menggoda Allegra.
"Kebanyakan berkhayal! Jadi kak, aku harus membukanya?" tanya Allegra polos.
"Dobrak!"
"Argh, kau menyebalkan! Aku gugup kak!"
"Tarik napas mu!" saran Carolyn.
Allegra mengikuti saran Carolyn.
"Biar aku yang buka!" Kata Carolyn lagi penasaran dan sedikit gemas dengan Allegra yang lama sekali.
"Nooo!!!! Aku saja!" bantah Allegra karena ini semua merupakan masalahnya.
"Are you ready?"
"Kau sudah mengetahuinya kak?
Carolyn menggeleng.
"Oke, mari kita buka, satu, dua ..."
Kreak ...
Belum saja angka tiga tersebut oleh Allegra, pintu itu sudah terbuka.
Di sana tampak sebuah sajian makan malam yang bergelimang dengan lampu lampu emas yang begitu terang bergantung di atap. Meja dan kursi makan tertata dengan sangat rapi membentuk setengah lingkaran. Yang membuat Allegra terpana juga terkejut sebuah ukiran batu es berlampu merah dengan inisial M❤️A terpajang di tengah tengah.
Satu persatu, orang yang Allegra kenal dan dekat bermunculan. Mulai dari ayah dan ibunya, Jerry dan Angel, ayah dan ibu Morgan, Marcel dan Pammy, serta Rosie dan Theo datang. Dan yang terakhir kakaknya, Jessie menghampiri ya dengan kursi roda yang di dorong Xelino.
"Allegra, kau harus memaafkan Morgan, ini untukmu!" Kata Jessie menyerahkan sebuah gunting karena di depan Allegra dan Carolyn masih terdapat sebuah tali yang tidak bisa membuat mereka berdua masuk.
"Untuk apa gunting ini kak?" tanya Allegra lagi lagi dengan polos dan hati bergetar tak karuan.
"Untuk memutuskan urat syaraf mu Alle karena bertingkah seperti anak kecil sampai Morgan membuat semua ini!" Decak Xelino yang merasakan kegundahan Morgan beberapa hari ini.
Allegra hanya mengerutkan bibirnya sebal sementara Carolyn tersenyum merangkul Allegra. Dia jadi ingat dengan dirinya setahun lalu.
"Jadi, di mana Morgan? Dia pasti di sini kan? Dia itu merepotkan! Sampai menyuruh Bibi Pammy dan Paman Marcel kemari," dengus Allegra mencari cari keberadaan pria nya itu.
"Baca saja dulu pesan di tengah tali itu!" Kata Xelino dan Allegra segera meraih sebuah kertas yang tertempel di sana.
'Bolehkah aku menetap di kota ini bersamamu? Menemanimu dan melihatmu setiap waktu? Kalau kau ijinkan, kau boleh memotong tali ini dan kau harus masuk ke ruang hatiku! SELAMANYA!'.
Deg!
Allegra merasa Morgan akan pindah ke kota ini demi dirinya. Dia jadi ingin cepat cepat bertemu Morgan.
__ADS_1
"Ini semua rencanamu kan kak?" Selidik Allegra melirik Xelino.
"Tidak! Kau lebih keras kepala dari Carolyn, aku tidak mau mempunyai wanita seperti mu! Makanya aku kesal kau memperlakukan Morgan seperti ini!" Decak Xelino dengan wajah agak geram.
"Pria itu, ketika ketemu nanti aku akan menghabisinya!" Allegra menggerutu dan akhirnya menggunting tali yang ada di depannya.
Semuanya bertepuk tangan dan sebuah alunan lagu romantis terdengar. Carolyn menuntun Allegra ke tengah dan saat itulah Morgan datang dengan pakaian jas rapi dan membawa sebuah kotak medium berbahan bludru berwarna hitam.
Jantung Allegra berdegup lebih kencang lagi. Malam ini Morgan begitu tampan. Dia sangat merindukan pria itu tapi dia masih memasang wajah tenang dan datar.
"Hay, Alle, akhirnya kau tiba juga? Aku tahu kau masih mencintaiku kan?" kata Morgan menaik turunkan alisnya.
"Tapi tidak perlu seperti ini, Mor, aku malu dan kak Xelino terus memarahiku. Apalagi nanti mom and dad ku!" sungut Allegra tidak sanggup melihat Ketampanan Morgan baginya.
"Tenanglah, mereka yang malah memarahiku!" kata Morgan lagi makin mendekati Allegra. jantung Allegra semakin berdegup.
"Ada Rosie dan Theo juga, aku jadi malu dan benar benar merasa salah dalam bertindak," tambah Allegra lagi menahan tubuh Morgan untuk terus mendekat.
"Tidak apa apa Alleku sayang, dengan begini kau mendorongku untuk selalu bersama denganmu," balas Morgan tersenyum.
Allegra menundukan kepalanya malu dan menyesal.
"Alle," panggil Morgan mendongakan kepalanya. Allegra mendongak.
"Mulai Minggu depan, aku akan tinggal di sini," kata Morgan lagi.
"Maksudmu?"
"Pabrik ini kubeli karena ingin kujadikan kantor pusat perusahaanku! Jadi aku akan terus ada di sini, tapi ..."
"Tapi apa?
Morgan membuka kotak tersebut terdapat cincin dan kalung berlian yang begitu indah. Apalagi cincinnya yang bermata berlian berbentuk bunga berwarna putih. Kalungnya berliontin bunga mawar putih yang begitu simple tapi sangat elegan dan anggun.
"Kau harus menjadi calon istri ku dan menikah denganku! Will you marry me?
Allegra tidak menyangka kalau Morgan akan langsung melakukan semua ini. Dia menutup mulutnya dan tidak tahu harus bagaimana. Morgan tersenyum tipis. Di lihatnya ayah dan ibunya terlebih dulu sebelum dia mengambil cincin tersebut dari kotaknya. Dia menutup kembali kotak tersebut dan ditaruh di saku. Kini tangannya bebas menerima tangan Allegra.
"Alle, once again, Will you marry me?" Tanya Morgan lagi.
Allegra mengangguk dan meneteskan air matanya lalu mengulurkan tangannya perlahan dan gemetar. Morgan lalu menyematkan cincin bunga putih itu di jari manis putih Allegra.
Semua tepuk tangan serta riuh terdengar mengalahkan alunan musik romantis itu. Semua tampak senang dan terharu menyaksikan pernyataan penuh drama dan keromantisan ini.
Tampak di sana Theo merangkul Rosie karna Rosie meneteskan air matanya. Dia terharu di tempat ini dia bisa meminta maaf pada Pammy karena kesalahannya dan bisa menyaksikan pria yang pernah ia sakiti bahagia. Rosie telah menebus kesalahannya.
"Sekarang, saatnya kau membahagiakan dirimu, Ochieku!" bisik Theo menggoda Rosie.
"Hem, apa yang akan kau berikan, Theo?" tanya Rosie setengah menoleh.
"Hatiku! I love you!" Bisik Theo pelan dan entah mengapa Rosie kembali merasakan apa yang pernah ia rasakan ketika pertama kali menyukai Morgan. Sama seperti sekarang. Dia yakin dia juga menyukai Theo bahkan mencintainya. Rosie menoleh ke arah Theo.
"Jangan katakan apapun, ini hanya ucapan, aku belum memberikan hal yang indah dan sepenuhnya untukmu! Sekarang kita nikmati acara romantis ini sebelum kita kembali ke Legacy?" kata Theo lagi yang merasa belum berhak mendapat jawaban Rosie.
Rosie mengangguk dan menyandarkan dirinya ke dada Theo yang merangkulnya dengan lembut.
...
Morgan dan Allegra memasuki apartemen Allegra. Mereka saling mengecup bibir dan melumatt indera perasa mereka. Seperti sudah lama sekali tidak bertemu padahal baru beberapa hari saja.
"I love you, Alle, aku merasa hatiku semakin melekat padamu! Aku tidak mau berpisah lagi, maafkan aku, Alle!" ucap Morgan di sela sela pergulatan bibir mereka.
"Apa kau tidak membenciku sama sekali Morgan?" tanya Allegra menangkup pipi Morgan.
Morgan menggeleng dan kembali mencium bibir Allegra. Turun ke bawah mengecupi leher jenjang nan putih Allegra dan meremass perlahan bokongnya.
"Morgan, kau sudah yakin akan ku?" tanya Allegra lagi dan lagi.
"Sangat sayang, apa kau masih meragukan ku?" Tanya Morgan kembali mendongakan kepalanya menatap Allegra dengan memastikan.
"Aku mencintaimu Morgan. Aku hanya takut kau kembali pada Rosie dan kurasa kita harus meminta maaf padanya," gumam Allegra merasa bersalah pada Rosie.
"Bisakah kita memikirkannya nanti? Aku ingin melahapmu sekarang Allegra! Kau sangat cantik hari ini dengan riasan tipis mu! aku sangat merindukanmu!" pinta Morgan sudah menenggelamkan wajahnya di depan buah dada kenyal Allegra.
"Jangan tinggalkan atau bohongi aku lagi!" pinta Allegra mencengkram lembut rambut Morgan.
"Tidak akan, namamu sudah ada di pikiran, hati, ingatan, dan jiwa ragaku Allegra. Untuk apa aku melakukan ini semua. Aku sempat tak yakin kau datang, aku takut sekali, aku menangis di depan Xelino," tutur Morgan membuat pengakuan.
"Maka dari itu kak Xelino memarahiku,"
"Maafkan aku Allegra, percayalah Alle, kita akan segera menikah, i love you i love you, Alle!" Kata Morgan lagi kini menggendong Allegra ke tempat tidur dan dengan cepat dia melucuti pakaiannya . Pastinya Allegra dalam diam karena bentuk sempurna tubuh Morgan yang juga besar mungkin dua kali lipat dari tubuh kurusnya.
__ADS_1
Semua terjadi begitu saja ditemani malam temaram dan suara decitan ranjang membuat gelap makin bercahaya karena persatuan cinta mereka.
Keesokan harinya dengan burung burung berkicau, Allegra masih di dalam selimut karena masih tersipu membayangkan apa yang terjadi semalam. Begitu syahdu dan terasa hangat. Beginilah jatuh cinta yang sebenarnya. Rela memberikan semuanya. Ketulusan Morgan tidak bisa ia ragukan lagi.
"Allegra, sampai kapan kau menyembunyikan wajahmu?" tanya Morgan yang gemas dengan tingkah kekasihnya itu.
"Semalam, apa yang kita perbuat Morgan?" tanya Allegra masih dalam balik selimut itu.
"Sesuatu yang ingin kuulang setiap waktu," jawab Morgan membuka balik selimut itu.
"Kau ini! Kak Xelino mengancam harus dia dan Kak Olyn yang menikah terlebih dulu!" dengus Allegra menatap Morgan.
"Bebas ..."
"Tapi kau sudah menodaiku!"
"Tidak akan hanya sekali Alle, tapi berkali kali dan percayalah aku tidak seperti mantan mantanmu!" tutur Morgan memegang tangan Allegra.
"Aku mencintaimu Morgan, more and more!"
"Me too my Alle, jadi apa kau masih ingin bertemu Rosie?"
"Memang?"
"Penerbangan pukul 9, sekarang pukul 7,"
"Aku akan membersihkan diri ... Ahhh!!"
Allegra terjatuh karena masih terkejut dengan daerah pangkal pahanya yang masih berdenyut nyeri akibat serangan Morgan semalam. Mereka baru sama sama melakukannya tapi tidak menutup kemungkinan seorang pria lebih ahli dalam hal ini ketimbang wanita.
Morgan terkekeh sesaat lalu menghampiri Allegra.
"Aku akui kau wanita terkuat sampai kau juga hendak memberikan matamu untuk Kak Jessie, tapi untuk urusan ini, aku yang memegang kendali," kata Morgan menggendong kekasihnya itu ke kamar mandi. Allegra hanya bisa menuruti kekasihnya sambil tersenyum.
"Rosie!!!" Panggil Allegra ketika sampai di bandara. Untung saja Rosie telat bangun dan sulit sekali Theo membangunkannya di kamar sebelah sehingga hampir saja mereka ketinggalan pesawat. Semalam memang Rosie menghabiskan waktu berjalan jalan seputaran pusat kota Springfield bersama Theo.
Rosie menoleh ke arah asal suara. Rosie cukup terkejut Allegra menyusulnya dengan Morgan. Theo juga tidak tahu menau.
"Aku minta maaf Rosie! Semua ini karenaku yang tidak mau mendengarkan Morgan," ucap Rosie setelah memeluk Rosie.
"Tidak Alle, semua ini takdir. Takdir mu memang bersama Morgan," balas Rosie saling berpegangan tangan dengan Allegra.
"Dan kau bersama Theo," bisik Allegra menggoda.
"Entahlah, kau tunggu saja kabar hubungan kami, dia memang sangat baik. Dan kau, aku menunggu undangan pernikahanmu," kata Rosie kemudian.
"Aku akan ke Legacy mengantarnya untukmu, Zefanya dan semua keluarga Prime di sana," ujar Allegra.
"Aku menunggu Alle,"
Morgan juga sudah ada di hadapan Rosie dan Theo.
"Rosie, terimakasih atas bantuanmu, aku minta maaf atas semua kata kata kasarku padamu. Theo aku minta maaf menyakiti wanitamu," ucap Morgan mengulurkan tangannya. dia berjabat tangan dengan Rosie dan sesaat memeluk Theo.
"Santai saja, aku yang akan menyembuhkan lukanya karenamu, haha!" Theo terkekeh dan Rosie sudah tersipu malu.
"Baiklah, Allegra, Morgan, kami kembali dulu, jaga diri kalian dan jangan bertengkar lagi," kata Rosie kemudian.
Morgan mengangguk tersenyum dan merangkul Allegra. Mereka melambaikan tangan menggiring kepergian Rosie dan Theo.
"Lusa aku akan kembali ke Legacy terlebih dulu, kau mau menemaniku kan Allegra? Hanya dua hari mengurus semua keperluan dan kepindahan ku di sini," pinta Morgan menatap penuh kemesaraan.
Allegra mengangguk tersenyum dan memeluk Morgan. Morgan juga mengecup Pangkal kepala Allegra.
Xelino dan Carolyn menikah setelah anak Zhavia dan Patrick lahir lalu satu bulan kemudian pernikahan Xelino dan Carolyn, Morgan dan Allegra melangsungkan pernikahannya di Desa Serena. Mereka berdua membuat garden party di samping lahan taman bunga yang Morgan beli untuk Jessie. Di sana sudah di tanami khusus bunga mawar berwarna putih dan merah.
Tamat ...
...
Akhirnya yaa 😍😍
Mungkin kalian akan bertemu Allegra dan Morgan lagi di kisah kisah kerabat mereka atau di novel mantan terindah the series lainnya yang hanya sekelebat hehe
Terimakasih telah mencintai dua tokoh yang keras kepala ini tapi bisa mencair lagi lagi karena adanya cinta ❤️❤️
.
Next Ezekhiel & Zefanya yuk ...
Lima episod menjelang tamat ya biar kita ke Zhavia & Patrick 😊😊
.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen 😁😁
Thanks for read and i love you 💕