
Jalan-jalan hari ini begitu dipaksakan sekali padahal ia sama sekali tak mau. Sepanjang perjalanan dari rumah sampai di mall sama sekali tak ada obrolan. Mereka hanya diam saja. "Aku boleh nanya sesuatu gak sama kamu?"
"Boleh, kamu mau nanya apa sama aku?" Ketus Tiffany.
"Kenapa sih kamu nggak mau nikah sama aku?"
"Aku sama sekali nggak cinta sama kamu walaupun kita saling mengenal satu sama lain. Tapi aku sama sekali nggak suka sama kamu dia nggak cinta sama kamu ngerti nggak sih sama aku?"
"Kan belum dicoba juga mana kamu bisa tahu perasaan kamu ke aku kayak gimana kalau misalkan kamu nolak duluan?" Ungkapnya terus membuat Tiffany merasa terpojok dan membuat Tiffany merasa tak nyaman berada di dalam mobil sampai-sampai ia ingin keluar dari mobil sebelum mereka masuk ke dalam.
"Oke, aku enggak paksa kamu. Ya udah kita turun dulu yuk masuk ke dalam. Biar santai dan jangan marah-marah ya. Aku nggak maksa kamu kok untuk menikah dengan aku."
"Aku gak mau ya nikah sama kamu." Ucap Tiffany kepada calonnya ini sebenarnya ini bukan sesuatu yang sopan untuk di katakan.
"Kalau kamu nggak mau nikah sama aku ya terus gimana mama kamu? Kan yang selama ini nyuruh itu kan mama kamu buat kamu nikah sama aku?"
"Ya tapi kan yang nikah sama kamu itu aku bukan mama aku jadi menentu kamu mau atau enggaknya itu ya aku bukan kamu atau mama aku. Kenapa sih kamu kayak maksa banget? Emang aku doang uang perempuan di dunia ini sampai-sampai kamu maksain buat nikah sama kamu banyak kok di luaran sana cewek yang jauh lebih cantik dan cewek yang bisa nerima kamu apa adanya bahkan lebih aku kenapa kau malah milih aku sih?" Tiffany sudah kesal sekali dengan laki-laki yang ada dihadapannya kali ini yang terus saja memaksa dan mengikuti kemauan dari mamanya.
__ADS_1
"Kamu jangan kayak gini dong nggak boleh diri anaknya harus berbakti kepada orang tuanya nggak boleh membangkang kayak gitu aku kan ditahan kamu ya karena aku serius!"
"Oke kamu serius sama aku tapi kalau misalkan dalam hubungan kita nggak ada cinta dan kasih sayang ya bakalan bubar juga. Emang menikah segampang itu menikah itu harus kedua belah pihak saling mencintai dan saling menyayangi kalau misalkan kita menikah gara-gara suruhan atau desakan dari kedua orang tua menurut aku sih itu enggak baik banget."
"Maaf ya bukannya aku pengen marah-marah sama kamu nggak jelas tapi aku harap kamu mengerti apa yang aku rasakan kali ini. Aku sudah punya pacar juga India sebentar lagi bakalan ngajakin aku tunangan Jadi kamu jangan ganggu ganggu hidup aku lagi gan tolong kasih tahu kedua orang tua kamu supaya berhenti untuk menjodohkan kamu sama aku. Aku yakin kamu bakalan dapetin yang terbaik dari aku dan aku juga dapetin orang yang terbaik dari pilihan aku sendiri. Kamu ngerti kan maksud aku kayak gimana?" Tiffany kesal sekali hingga ia meninggalkan laki-laki yang di depannya kali ini.
Ia menarik nafas sejenak. "Ya sudah kita masuk dulu ke dalam. Jangan ditekuk gitu dong mukanya santai dan ya udah masuk. Kamu mau makan apa?"
"Aku nggak mau makan apa-apa kok. Aku jalan-jalan aja di dalam biar ngadem."
"Ya udah kalau gitu kita masuk ke dalam ya."
"Aku ngikutin kamu aja deh kemanapun kamu pergi. Udah deket-deket aku nggak suka aku nggak bakalan pergi juga dari sini."
"Jangan gitu dong kayak orang nggak kenal aja sih kita. Aku itu temen kamu dan kamu. Masa kalau kita udah lama nggak ketemu aja? Bahkan seperti orang gak kenal sama sekali?"
"Maafin aku ya! Aku kebawa suasana aja soalnya aku beneran nggak mau nikah sama kamu. Aku pengennya berteman aja nggak mau lebih dari itu."
__ADS_1
"Ya udah makna jalanin aja dulu. Kamu nolak duluan sama aku!" Tiffany pun terdiam.
***
Kenapa bisa seperti ini? Ia sama sekali menolak dia merasa bersalah dengan cowok yang udah baik tadi mall. Rasa-rasanya dia berbuat jahat bahkan ini bukan dia banget padahal ia sama sekali tak ada niatan untuk ketuk dan marah-marah enggak jelas tidak bersikap baik.
Tiffany mengunci kamarnya karena ia sudah bosan dan ia tidak mau menikah dengan laki-laki pilihan mamanya. Namun mama selalu saja memaksa padahal ia sama sekali tak mau. Akhirnya Tiffany pun berontak dan tak terima.
"Mah aku sama sekali nggak mau nikah sama dia mah. Walaupun dia itu adalah teman kecil aku kenapa sih Mama kayak gitu banget sama aku?"
"Aku beneran gak cinta sama dia dan aku beneran gak sayang sama dia!"
"Kamu harus yakin dan coba dulu ya jalanin sama dia kalau nggak kalian saling mengenal satu sama lain aja biar lebih dekat. Mama pengen sekali punya dia sampai dia dia itu orangnya baik banget sama siapapun bahkan orangnya penyayang banget dan dia pernah bilang sama mama kalau misalkan dia pernah suka sama kamu tapi dia nggak berani sama kamu buat ngungkapin." Tiffany terdiam dengan ucapan lama kali ini apa yang harus dilakukan? Sedangkan tak mau menjadi anak yang membantah.
Suasana sudah mulai tenang dan sudah mulai stabil perasaan dan hati Tiffany. "Ya aku mau temenan lagi sama dia atau bahkan menikah sama dia kalau urusan pertemanan aku mau. Mama kan udah punya pacar mah aku juga masih kuliah?"
Mama menarik napas sejenak dengan ucapan petani tidak bisa dipaksa dan tidak bisa bentak-bentak semakin keatas semakin lama ku semakin ia berontak. Mama pun ke dapur untuk mengambilkan air minum kepada kita agar lebih tenang dan lebih adem. "Ini minum air putih biar kamu tenang dan biar kamu jangan kayak gitu. Kita bisa atur semuanya dengan baik-baik." Senyum mama melihat kedua mata Tiffany.
__ADS_1
Tiffany merasa bersalah karena dengan nada yang tinggi kepada mama karena ia lebih terkesan sekali karena mama tidak mengerti perasaannya. "Mah maafin aku ya mah kalau misalkan marah-marah dengan nada tinggi mama enggak marah kan sama aku?"
"Enggak sayang mama nggak marah kok sama kamu makanya harus menang dulu ya jangan marah-marah kayak gitu kan belum juga jalan kan cuma pengen kamu deket sama dia. Dan memang jodoh ya udah berarti kalau memang berjodoh dan jangan di tolak ya?" Tiffany sama sekali belum bisa sama sekali akan ucapkan mama.