
Malam pun tiba. Vita telah selesai diperiksa. Wajahnya begitu kusut seperti memendam kegalauan yang teramat sangat. Di samping itu, wanita cantik ini juga terlihat kelelahan.
"Kamu pucat sekali, Sayang? Coba Mas periksa," ucap Bima sembari memeriksa kondisi kesehatan sangat istri. Menurut Bima, suhu tubuh sangat istri memang normal. Tetapi wajahnya yang pucat, membuat Bima berpikir, bahwa wanitanya ini pasti terkena anemia.
"Apakah tekanan darahmu sering atau pernah rendah, Honey?" tanya Bima.
Vita mengangguk. "Sejak menikah dengan suami pertama, hpir setiap hari aku begadang untuk jagain beliau, dari situ tekanan darahku sering rendah,"jawab Vita jujur.
"Emmm, ya usah nanti sampai rumah aku kasih vitamin, ya," ucap Bima sambil memberikan kecupan di kening sang istri.
"Enak banget punya suami dokter, kalo sakit nggak perlu pergi ke rumah sakit. Asal ngomong aja, langsung diobatin." Vita tersenyum.
"Kamu ini." Bima meraih tangan sang istri lalu menciumnya.
"Ish, jangan cium-cium. Malu sama pak sopir. Nanti dia nggak konsen," bisik Vita.
Bima melirik manja, lalu pria tampan ini tersenyum.
"Vita pengen pulang, Mas. Pengen tidur!" ucap wanita cantik ini.
"Iya, ini kita pulang. Mau makan apa nanti sampai rumah?" tanya Bima.
"Nggak mau, pengennya mandi langsung tidur," jawab Vita.
"Eh... kok gitu? kan kamu punya janji sama aku."
"Janji? Janji apa itu?" tanya Vita, bingung. Karena ia merasa tidak memiliki janji apapun pada Bima.
"Haruskah Mas bilang di sini?" tanya Bima.
"Ya, ya... bilang aja, emang napa? Bilang aja sih!" jawab Vita. Menatap Bima serius, tanpa merasa bersalah sedikitpun. Sedangkan Bima melirik gemas. Ingin memukul kepala wanita yang kini ada di sampingnya. Agar cerdas sedikit.
"Ya Tuhan, beri aku kesabaran yang lebih banyak lagi. Istriku ini, loh. Entah oon entah lambat pintar. Sabar, sabar," ucap Bima, sedikit menggoda sang istri. Sedangkan Vita hanya tersenyum. Sebab, sejatinya ia mengerti dengan janji yang suaminya maksud.
__ADS_1
"Nggak usah senyum. Kamu menyiksaku. PHPin doang... malas ah," ucap Bima. Membuang pandangannya ke luar.
Kali ini Vita tertawa, karena wajah Bima begitu menggemaskan menurutnya.
"Didinya calon baby," canda Vita.
"Hemmm!"
"Jelek tahu!"
"Habis."
"Ih, mana ada begitu! Istrinya sakit masak dipaksa." Vita tersenyum, melirik, menggoda.
"Tadi pas masuk mobil, pikiran Mas udah ke sana. Ehhh... giliran on the way malah bubar. Dah lah, ambyar ... " Bima tersenyum, namun senyum itu mengandung kekecewaan.
"Astaghfirullah... kita ini, dapet masalah segitu besarnya nggak ada sedih-sedihnya. Malah ngebahas urusan R-A. Mas ih!" Vita mencubit gemas perut sang suami. Sayangnya, Bima malas merespon. Meskipun ia sempat mengaduh kecil.
Vita tak ingin membuat suaminya semakin merajuk. Lalu ia pun memaksa wajah sang suami untuk menatapnya.
"Dah ah, malas," tolak Bima.
Vita tertawa lirih. Menurutnya pembicaraan yang mengarah pada urusan ranjang ini ternyata sangat seru dan lucu. Suaminya juga begitu menggemaskan ketika kecewa.
Tiga puluh menit kemudian, mereka pun sampai di kediaman Vita. Sayangnya Bima masih cemberut. Malas berbicara dan hanya mengikuti langkah sang istri.
"Malam ini kita pindah ke kamar kita ya, Mas. Udah selesai dirapihin," ucap Vita.
"Ya udah, ayok. Mas juga udah ngantuk ni," jawab Bima.
"Ngantuk? Jadi, vitamin buat aku?" tanya Vita.
"Ada di tas punggung, Mas. Nanti Mas ambilin," jawab Bima, lagi-lagi tak bersemangat.
__ADS_1
"Oke, yuk!" ucap Vita seraya menggandeng sang suami dan membawa pria itu masuk ke dalam kamar utama rumah ini.
Bima sedikit terkesan dengan kamar mewah ini. Namun, hatinya merasa tidak nyaman. Sebab kamar ini pernah di tempati Vita bersama pria lain.
"Dek!"
"Ya!"
"Emmm, Mas nggak nyaman di kamar ini. Berasa ada yang nglihat. Emmm, kita ke kamar yang kemarin aja, boleh nggak!" ucap Bima, berterus terang dengan ketidaknyamannya.
"Oh, kenapa?"
"Entahlah... Mas hanya merasa tidak berhak tidur di ranjang ini. Mas merasa, ini bukan tempat, Mas. Kamu paham kan?" ucap Bima.
Entahlah, berada di dalam kamar ini, Bima merasa harga dirinya terluka. Mengingat kamar ini bukan berasal dari jerih payahnya. Tetapi jerih payah pria lain yang pernah hadir di dalam kehidupan sang istri.
"Vita paham perasaan, Mas. Mas nggak nyaman karena ini bukan jerih payah, Mas kan? Harga diri Mas terluka, ya?" tanya Vita, langsung pada apa yang ia pikirkan.
Bima mengangguk, lalu tersenyum.
"Apa yang Mas rasakan, sebenarnya juga Vita rasakan. Sudah lama Vita merasakan hal itu. Merasa bahwa Vita tidak berhak atas kamar ini. Entahlah... meskipun Luis sudah mewariskan ini semua, tapi rasa tidak bisa menerima itu tetap ada," jawab Vita jujur.
"Aku tidak memaksamu untuk meninggalkan rumah ini. Tetapi, aku adalah pria, Dek. Aku ingin menghidupi istriku dengan keringatku. Aku ingin menghidupi istriku dengan apa yang aku punya. Aku tidak mau hidup dengan sesuatu yang bukan dari hasil keringatku sendiri. Rumah ini memang hakmu, Dek. Tetapi tidak denganku. Apakah kamu marah jika seandainya aku tidak mau tinggal di rumah ini? Apakah kamu mau hidup bersamamu dengan apa yang aku miliki?" tanya Bima serius.
Vita menatap sang suami, lalu tersenyum bangga. Ya.. dari lubuk hatinya yang terdalam, Vita bangga. Bangga dengan suaminya yang sekarang. Bima begitu sederhana dan tidak serakah. Ia begitu menjunjung harga dirinya sebagai laki-laki. Dan Vita yakin dengan sikap Bima yang demikian bertanggungjawab, Vita yakin, bahwa Bima pasti mampu membawanya menjadi pribadi yang lebih baik. Vita yakin, dengan sikap Bima yang begitu tegas, ia pasti bisa mrmbimbingnya menjadi ibu yang baik untuk anak-anak mereka kelak.
***
Di tengah-tengah ketegangan kasus yang tengah di hadapi oleh Vita dan Bima, ada kabar yang tak kalah mengejutkan. Kabar itu datang dari sekertaris pribadi Juan, yaitu Gani.
Gani sedang dalam masalah besar, karena tak sengaja ia menabrak seorang wanita. Ketika ia hendak menghadiri rapat untuk mewakili Stella di Lombok.
Bersambung....
__ADS_1
Mon maaf ya geng🥰🥰Emak lagi sibuk masak😘😘😘