
Jam besuk untuk Victor telah usai, namun Vita dan Bima mendapatkan perlakuan khusus karena mereka berdua membawa kabar yang menegangkan.
Dilan, putra dari Victor dan Rani di kabarkan sakit. Bocah cilik itu dikabarkan terinfeksi virus deman berdarah. Sehingga dilarikan ke rumah sakit. Sesaat sebelum mereka masuk ke dalam pesawat untuk kembali ke kampung halaman sang ibunda.
"Abang dikasih waktu satu jam untuk bertemu dengan Dilan. Kasihan dia, Bang, nanyain abang terus," ucap Vita, selepas menandatangi surat penanggungjawab untuk mengembalikan kembali Victor ke penjara.
"Makasih banyak Vit, kamu begitu perhatian sama putraku. Maaf atas kesalahanku selama ini." Victor mengenggam erat tangan Vita. Mencoba mengungkapkan apa yang ada di hatinya saat ini.
"Sama-sama, Bang. Vita hanya ingin abang dan Dilan bisa dekat. Kasih sayang di antara kalian jangan sampai terputus. Itu yang Vita harapkan, Bang." Vita tersenyum.
"Kesalahanku meninggalkan putraku, adalah kesalahan paling aku sesali Vit. Seharusnya aku lebih berpikir logis. Tidak mementingkan egoku. Harusnya aku tidak mudah dihasut. Ya Tuhan, apa yang aku lakukan," ucap Victor menyesal.
"Percayalah, Bang. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Vita rasa, Kak Rani juga masih membuka hatinya untuk abang. Bukan hanya Dilan saja yang mengharapkan abang bersama mereka. Vita rasa, Kak Rani juga masih berharap bisa jadi pendamping abang, " balas Vita sedikit bercanda.
"Tidak, Vit. Kalo soal Rani, aku nggak mau terlalu berharap. Aku sudah terlalu sering nyakitin dia," jawab Victor, dengan senyum yang mungkin mengandung penyesalan.
"Jika kak Rani, bisa menerima abang kembali. Apa salahnya kalian mulai dari awal," ucap Vita.
Victor menunduk, menyembunyikan senyum malu. Namun, tak dipungkiri bahwa hatinya bahagia. Merasa senang jika benar, itu adalah kenyataan yang memang terjadi antara dirinya dan juga sang mantan istri.
"Apakah dia pernah cerita sesuatu antara kami?" tanya Victor penasaran.
"Cerita detail sih engga, Bang. Tapi kalo gelagat, bahasa tubuh dia, ketika kami membicarakan abang, Vita rasa ... dia masih ada rasa lah sama abang. Mengingat sampai saat ini dia juga belum membuka hati untuk pria lain." Vita menatap yakin pada mantan abang iparnya itu.
Victor tersenyum. Lalu menatap tangannya yang saat ini diborgol. Jujur Victor merasa insecure untuk mendekati mantan istrinya lagi. Mau bagaimanapun, sekarang dirinya bukanlah Victor yang dulu. Victor yang memiliki pekerjaan. Sekarang, dirinya adalah Victor lain. Victor seorang narapidana.
__ADS_1
***
Di lain pihak, Rani tertidur tepat di samping ranjang di mana sang putra di rawat. Bahkan ketika Victor masuk ke dalam ruangan itu, wanita itu masih asik tenggelam dalam mimpinya. Mungkin dia kelelahan.
"Papi!" pekik Dilan ketika melihat ayahnya datang.
"Stttt, kasihan mami," larang Victor.
Dilan mengerti. Bahkan ketika papinya membopong maminya, bocah tampan ini juga tidak mengeluarkan suara.
Di lain pihak, merasa tidurnya terusik, Rani pun membuka mata.
Betapa terkejutnya wanita cantik ini. Bahwa seseorang yang memindahkan tubuhnya dari samping sang putra ke sofa, adalah seseorang yang sangat ia rindukan. Namun juga ia hindari.
"Eh," ucap Rani, langsung duduk dan menutup dadanya sedikit terbuka dengan slendang yang ada di sampingnya.
"Nggak pa-pa, sorry aku ketiduran. Ke sini sama siapa?" tanya Rani sambil merapikan rambutnya. Ia tak berani bertanya bagaimana Victor mendapatkan izin untuk menjenguk sangat putra. Sebab ia takut akan menyinggung perasaan pria yang memberinya satu putra ini.
"Ada Vita sama petugas di depan. Aku dikasih waktu satu jam buat ketemu Dilan."
"Oh, ya udah.. silakan kalian ngobrol. Aku ke kamar mandi bentar ya," ucap Rani.
Victor pun mengangguk. Mengizinkan sang mantan istri untuk melanjutkan niatnya. Sedangkan dirinya langsung mendekati sang putra. Bercengkrama dengannya. Melepaskan rindu yang ada. Namun, di samping itu, tak lupa, Victor juga mencari tahu, Kira-kira masih adalah peluang baginya untuk mendekati sang mantan istri. Sebab jujur kini, saat ini, hatinya begitu senang bisa bertemu wanita itu.
Victor yakin, kebahagiaannya kali ini pasti tak lepas dari perasaan yang kini tengah tumbuh di dalam hatinya.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Victor pada Rani, yang saat ini hanya diam dan kadang-kadang tersenyum ketika melihat dia pria itu bercengkrama akrab.
"Belum, belum enak rasanya kalo hasil lab Dilan belum keluar," jawab Rani jujur.
"Jangan gitu! Yang jagaian putra kita hanya kamu. Kamu nggak boleh sakit Ayo makan, aku tadi ada minta Vita buat beliin makanan kesukaan kamu. Aku suapin mau?" ucap Victor sedikit bercanda.
"Ih, nggak usah lah. Malulah, masak udah tua gini disuapin." Rani tersenyum.
"Ya nggak pa-pa, kalo kamu mau. Dulu waktu kita bereng, aku nggak pernah manjain kamu. Sekarang ada kesempatan, aku pun ingin manjain kamu," ucap Victor, kali ini dia sungguh-sungguh.
"Ih, nggak usah lah. Teman mana boleh begitu. Oiya kok kamu masih sempet-sempetnya cari makan. Emang boleh sama bapak petugas?" Rani tersenyum sembari membuka oleh-oleh yang dibawakan Vita dan Victor untuknya.
"Aku nggak mau temanan sama kamu. Aku mau lebih dari itu," jawab Victor.
Mendengar jawaban sang mantan, tentu saja membuat Rani sedikit terkejut. Tidak menyangka bahwa Victor akan bersikap seaneh ini.
"Maksudnya nggak mau sekedar teman, apa?"
"Ya nggak mau sekedar teman. Aku mau berjuang bareng memperbaiki rumah tangga kita. Aku ingin menjadi suamimu lagi, Ran. Baik secara lahir maupun batin," jawab Victor serius.
Rani menatap Victor. Masih belum berani penjawab pernyataan itu. Rani takut, jika pernyataan itu hanyalah hayalan belaka. Rani tak berani berharap.
"Ini beli di mana? Kayaknya enak. Emang boleh ya beli-beli makanan gini?" tanya Rani, berusaha mengalihkan perhatian Victor.
"Boleh, kan Vita pesan online. Terus ketemuan sama abang gojeknya di depan RS. Dia juga yang minta izin sama pak petugas, supaya borgol ku dilepas aja saat ketemu sama Dilan. Takut psikis putra kita terganggu. Maafin aku ya Ran. Cuma bisa nyakitin sama ngrepotin kamu," ucap Victor sungguh-sungguh.
__ADS_1
Rani tersenyum sekilas. Masih berusaha menutupi rasa yang ada di dalam hatinya saat ini. Namun, tidak dengan Victor yang terus berusaha menunjukkan rasa yang ia rasakan untuk sang mantan istrinya saat ini. Sungguh, Victor bahagia bisa terbuka pada Rani dan ia juga berharap Rani akan menyambut cintanya. Walaupun tidak sekarang ia mendapatkan jawaban. Victor tetap berharap cinta Rani tetap untuknya.
Bersambung...