Mantan Terindah

Mantan Terindah
Gagal Maning


__ADS_3

"Jangan biarkan hati retak, hanya karena sebuah harapan yang tak bisa menjadi kenyataan."


***


Sebulan kemudian....


Malam ini, udara serasa dingin. Langit gelap gulita. Tak ada satu bintang pun yang berkerlip di sana. Kilatan cahaya membawa bunyi petir membuat siapapun yang mendengarnya akan mengkidik ngeri.


Namun suasana itu menjadi terasa syahdu bagi pasangan pengantin baru sekelas Bima dan Vita.


Kini, mereka sedang berbaring di kamar pribadi milik sang pria, yang itu artinya, terhitung dari malam ini, kamar ini juga menjadi miliknya.


"Apa kamu takut?" tanya Bima, sembari melirik sang istri yang terlihat gugup berada di kamar pribadinya.


Sebenarnya ini wajar, sebab ini adalah pertama untuk Vita berada dikamar seorang pria.


Meskipun dia sudah terbiasa tidur bersama pria yang ada di sampingnya ini, tetapi tempat ini ... membuatnya sedkit kurang aman. Di sini, di kamar ini adalah milik Bima. Yang artinya, kuasa penuh ada di tangan sang pria. Vita merinding membayangkan dia tak akan bisa lari lagi dari tugasnya sebagai seorang istri.


"Sedikit," jawab wanita ayu ini.


"Mau, Mas, peluk?" tanya pria tampan ini lagi.


Vita mengangguk sembari tersenyum sekilas. Sebab ia memang gugup.


"Sini!" Bima merentangkan kedua tangannya, siap menerima tubuh sang istri untuk ia lindungi.


"Terima kasih, Imamku," ucap Vita.


"Kembali kasih, Makmumku." Bima memberikan kecupan manis di kening sang istri.


Seperti biasa, untuk menghilangkan kegugupanya, Vita memilih memainkan kancing baju sang suami. Entahlah, melakukan hal itu sudah seperti hobi baginya. Vita sangat senang dengan itu.


"Mas."


"Heemm."


"Boleh Vita tanya sesuatu?" tanya Vita.

__ADS_1


"Boleh, tanya saja." Bima melirik sayang pada sang istri.


"Eeemm, sebelum nikah sama Vita, emangnya masnya nggak ada pacar gitu? atau cewek yang lagi ditaksir?" tanya Vita.


"Nggak ada. Tapi pernah ada. Sayangnya cinta kami nggak dapat restu. Papa nggak suka sama dia, karena dia profesi yang dia tekuni," jawab Bima jujur.


"Ohh, emang dia kerja apaan?" tanya Vita, penasaran.


"Dia seorang entertain atau lebih tepatnya dia seorang model and Dj," jawab Bima, jujur.


"Wow, bojoku selerane keren juga yo," canda Vita.


Bima tersenyum. Lalu mencolek hidung mancung sang istri.


"Dia ambil kerja seperti itu juga karena keadaan, Dek. Ayah ibunya sudah meninggal dan dia harus menghidupi ketiga adiknya yang masih kecil-kecil. Sebenernya mas kasihan sama dia, tapi mau gimana lagi, orang tua tak merestui, mas pun nggak berani ngambil langkah. Karena bagi Mas, menikah itu ibadah jadi harus di awali dengan baik. jika awalnya tidak baik, maka bagaimana pernikahan bisa berjalan baik. Mas sangsi soal itu," ucap Bima.


"Pernikahan kita juga diawali dengan tidak baik loh, Mas. Mas nggak takut?" pancing Vita.


"Tidak diawali baik bagaimana? Restu udah kita kantongin, bukankah tinggal bagaimana kita menerimanya, iya kan? Kamu ini .... mancing-mancing. Kan kita pacaran tapi halal, Dek. Mau kita ciuman sampek bibir kita jontor juga nggak pa-pa. Halal, Dek, halal," jawab Bima gemas.


"Hahahah, masnya lucu. Ehhh, satu lagi Vita denger masnya ngajak kak Zi merried ya?"


"Oooo, kirain. Tapi masnya pilih kasih. Giliran baby kak Zi aja, mau. Giliran babynya Vita ditolak," ucapnya, merajuk manja.


"Beda, Sayang. Zi jalurnya bener. Kamu jalurnya bikin kesel. Gimana bisa disamakan. Udah, sebaiknya nggak usah dibahas. Nanti malah cemburu. Repot masnya nanti," canda Bima.


"Ih, emang siapa yang cemburuan, Vita nggak cemburuan. Masnya itu yang posesif." Vita memayunkan bibirnya, lalu dengan gemas, Bima pun mengecup bibir wanita yang dicintainya itu.


Vita yang menginginkan hal serupa tentu saja langsung menyambut kecupan itu dengan penuh cinta.


"Kamu nyaman nggak tinggal di sini?" tanya Bima. Tentu saja , pertanyaan ini wajib ia utarakan, sebab yang Bima tahu, kehidupan yang ia berikan untuk sang istri saat ini, bisa dikatakan sangat sederhana.


Dibanding dengan kehidupan yang pernah suami pertama wanita ini berikan kepadnya.


"Di sini nggak masalah, Mas. Aku pernah hidup jauh dari kata sederhana ketika kuliah di Sydney. Kalau nggak percaya nanti masnya bisa tanya sama Fira, adiknya bang Zein. Kenal kan?" ucap Vita.


"Mas percaya, Dek. Mas tahu, kamu bisa membawa diri, di mana pun kamu berada. Tetapi .... emmm ... kira-kira kapan Mas boleh buka puasa," ucap Bima, sedikit menjebak Vita.

__ADS_1


Terang saja, menyadari kemodusan sang suami membuat Vita gemas. "Dasar, tukang modus," serang Vita.


"Habis, kita udah nikah dua bulan lebih, Dek. Masak cuma cium-cium doang! Kapan dong dikasih izin mengemudi. Kan SIM-nya udah jadi dari kapan tahu, Dek," ucap Bima memelas.


Spontan, melihat wajah sang suami memelas namun modus itu, terlihat begitu menjengkelkan dan menggemaskan. Membuat Vita langsung tertawa.


"Ih, ngeselin, dia malah tertawa," ucap Bima.


"Habis masnya lucu, kalo mau ambil ya ambil aja toh, Mas. Kan ini hak masnya," ucap Vita pasrah.


Tak ayal, selepas mendapat lampu hijau, Bima pun tak ragu memulai.


Dengan lembut dan penuh kasih sayang, ia pun membelai wajah sang istri. Membacakan doa untuk sang wanita sebelum ia menggaulinya.


Lalu mereka saling melempar senyum, sebelum bibir mereka menyatu. Saling memanggut lembut. Saling menyalurkan hasrat yang terpendam. Saling meraba dan membuka kancing baju satu sama lain.


Tak ada perbincangan lagi. Yang ada hanyalah suara deru napas yang coba mereka tahan. Sebab ini adalah pengalaman pertama mereka. Mereka berdua sama-sama gugup. Takut, malu tapi ingin.


Bima terus melanjutkan aksinya. Tangannya begitu lembut bergerilya. Sesuatu yang ada di dalam dirinya juga telah siap sempurna. Siap untuk menerobos ke dalam surga kenikmatan yang dimiliki oleh sang istri.


Namun, ketika jari jemarinya hendak menarik satu lembar kain pertahanan milik sang istri, ponsel miliknya berdering. Membuat konsentrasi mereka buyar seketika.


"Astaga! Siapa lagi yang ganggu... aaaggghhhh...! ucap Bima kesal.


Spontan Vita pun tersenyum menahan tawa. Tak ingin mempermalukan dirinya sendiri, ia pun segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.


Sebenarnya Bima enggan mengangkat ponsel tersebut. Namun, deringnya tak henti-henti.


Menyadari profesi sang suami adalah pekerja sosial, dengan lembut Vita pun meminta sang suami untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Sayang, nggak boleh begitu. Mungkin ada seseorang yang membutuhkan uluran tanganmu," ucap Vita.


"Tapi kenapa harus sekarang, nggak bisa besok pagi aja kah?" Bima terlihat kesal dan memelas.


"Tak apa, aku siap menunggumu," ucap Vita lagi, mencoba membesarkan hati sang suami.


"Baiklah!"

__ADS_1


Meski malas, Bima pun mengangkat panggilan telpon tersebut dan benar saja, panggilan telpon itu memang datang dari pihak rumah sakit di mana dia bertugas. Mereka menyatakan bahwa ada pasien korban kecelakaan yang membutuhkan bantuannya segera.


Bersambung ...


__ADS_2