
.Gracia sudah menangis di samping mobil Dior. Dia menutup wajahnya dan menyayangkan perbuatan pamannya. Paman yang selama ini ia hormati dan kasihi. Bukan hanya itu, selain Gracia mencintainya, Gracie juga mengagumi keceriaan dan tanggung jawabnya kepada keluarganya. Memang Marcel dan ayahnya yang berjuang menjadi tulang punggung ketika masalah krisis tersebut. Dan Marcel yang akhirnya berjuang sendiri berdagang bersama Pammy untuk menghidupi dua keluarga. Sementara ayahnya harus fokus dengan penyakit ibunya, Greta. Tadinya, Samuel, ayah Marcel membantunya dari tabungan dan sedikit warisan untuk Marcel, namun ketika dia meninggal, keadaan menjadi berat. Marcel tidak pernah mempermasalahkan membiayai dan memberi makan keluarganya dan keluarga Revo, namun memang hatinya memiliki akar pahit dan dendam untuk keluarga Dion.
Gracia dan Morgan sangat mengetahui itu. Setelah kondisi berdagang sangat memungkinkan Marcel dan Morgan yang semakin beranjak besar membuat sebuah perusahaan minuman mengikuti jejak Revo. Revo pun kerap kali membantunya dan akhirnya perusahaan mereka bergabung. Morgan yang pintar dan ahli dalam memanagement yang akhirnya mengurusi perusahaan Andez Drink tersebut. Mereka memperoduksi berbagai jenis minuman semua kalangan. Morgan tetap membagi pendapatan untuk keluarga pamannya, Revo dan juga untuk keluarganya. Karna Revo benar benar harus membiayai Greta yang ternyata memang tak lama usianya.
Gracia kembali menarik napas berkali. Dia menangis sesenggukan dan tersenggal. Dia ingin keadaan seperti dulu. Meskipun, pamannya tidak pernah menyukai ibunya yang sejak sakit, namun Marcel tetap menyayanginya seperti anak perempuannya. Tapi, mengapa sekarang dia bahkan tidak setuju dan bahkan membenci cintanya. Dior. Selama ini Gracia selalu menuruti Marcel. Tidak pernah membangkang sedikitpun. Untuk kali ini saja, Greta hanya memohon restu.
Greta terus menundukan kepalanya sembari menunggu Dior dan ayahnya yang ternyata sedang membiarkan dirinya tenang terlebih dahulu. Secercah bayangan seorang pria berbadan tinggi dan cukup baik mendekatinya. Dia lah orang satu satunya yang selalu menjaga dan melindungi Gracia.
"Gracie?" Panggil pria itu. Gracia mendongakan kepalanya sambil menghapus air matanya. Dia terkejun namun juga terharu. Dia kembali menangis dan langsung memeluk pria itu.
"Kak Morgaaann ...." Katanya dengan uraian air mata membasahi kemeja Morgan.
"It's oke! Jangan menangis! Dia tetap pamanmu dan tetap dad ku!" Ujar Morgan dengan nada menenangkan.
Gracia mengangguk.
"Aku akan bicara padanya. Kau tenanglah. Sekarang kau hanya perlu berdoa dan tetap berbahagia bersama Dior." Tambah Morgan mengelusi punggung adik sepupunya itu.
Gracia mengangguk lagi namun semakin menangis.
"Ini mungkin akan sulit, tapi aku yakin kau bisa mengatasinya. Ini bukan apa apa. Kau pasti tidak akan lupa kalau bahkan kita pernah makan satu kali saja dalam satu hari. Sedangkan sekarang, kau bisa makan apapun yang kau mau. Kau bisa pergi kemanapun kau mau dan yang terpenting, kau bersama orang kau cintai dan juga mencintaimu. Kau mengerti maksudku kan?" Morgan terus berkata kata untuk menenangkan Gracia.
"Iiyyyaaaa kkkaaaaakkk ..." Gracia malah semakib menangis karna kata kata bijak kakaknya yang selalu menenangkannya sejak dulu.
"Sudah diamlah, sekarang kau pergi. Serahkan masalah pamanmu padaku. Aku akan menghubungimu jika ada kemajuan."
Gracia mengangguk sambil menarik dirinya. Dia melihat kakak sepupunya itu. Morgan lalu mengusap air mata Gracia dengan ibu jarinya. Lalu dia mengarahkan tubuh adik sepupunya itu ke arah Dior dan Revo.
"Sekarang, pergilah kau bersama mereka. Ingat, kau sekarang punya aku dan mereka. Dan bibi Pammy mu. Jangan kau lupakan, dia begitu mencintaimu. Kami semua akan mendukungmu. Oke?" Kata Morgan merangkul Gracia.
"Terimakasih kak. Semoga hanya kau yang bisa meluluhkan hati paman Marcel. Aku sangat berharap kak!" Saut Gracia mengucek matanya.
"Pasti! Kau tenang saja. Pergilah!"
Gracia pun pergi bersama Dior dan ayahnya. Dior menawarkan Gracia dan Revo untuk tinggal di apartemennya. Dia memiliki satu apartemen miliknya sendiri. Revo sangat berterimakasih pada Dior. Dior bahkan sempat menawarkan Gracia dan Revo tinggal di rumah ayah dan ibunya, namun Revo tidak sepantasnya berada di sana. Dia tidak enak dengan Dion. Dior mengerti bahwasanya harga diri seorang pria benar benar dipertaruhkan. Dior tidak memaska. Sejatinya, sebenarnya dia mengerti calon mertua nya itu ingin berada di mana. Mungkin Revo hanya ingin bersama Gracia anaknya dan juga bersama sepupunya, Marcel.
...
Morgan memasuki rumahnya. Dia melihat ruang kerja ayahnya yang bersampingnya dengan ruang tamu terbuka. Pasti ayah dan ibunya ada di sana. Dia menghampiri ke dua orang tuanya yang benar saja. Mereka berdua ada di sana dan sedang sedikit berdebat namun tampak Marcel memegang dahinya dan Pammy masih bersandar di sofa single nya.
"Mom?" Panggil Morgan.
Pammy menoleh.
"Ah, tumben sekali. Mengapa kau sudah pulang? Kau terlambat, Paman Revo mu dan Gracia sudah pulang. Oh tidak, sudah pergi dan tidak akan kembali! Karna siapa? Karna ke-egoisan seorang paman yang dielu elukan oleh keponakannya. Bukan hanya keponakannya, bahkan istrinya, anaknya dan sepupu tercibtanya sangat mengangguminya. Tapi apa? Dia bahkan tak ada setitik rasa kerekaan dan restu demi suatu kebaikan. Demi sebuah kedamaian!" Pekik Pammy yang seterusnya dihubung hubungkan dengan prilaku suaminya yang mengecewakannya.
Marcel dengan sigap mengangkat wajahnya dan menatap tajam istrinya.
__ADS_1
"Ada apa? Mengapa kau memandangku seperti itu? Ini kenyataan! Sudahlah, buang buang waktu berbicara baik baik denganmu. Benar kata Dior si pintar itu. Percuma menghancurkan sebuah batu dengan sehelai bulu unggas. Sesuatu yang bodoh!" Decak Pammy lagi lalu beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan anak laki laki dan suaminya.
Morgan masih berdiri mematung di sisi sofa melihat kepergian ibunya. Ibunya saja yang adalah istrinya saja tidak bisa meluluhkan hati ayahnya, bagaimana dirinya?
"Dad?" Panggil Morgan tetap dalam tumpuan kakinya dan tangannya di saku celananya.
"Kalau kau hanya ingin membuatku berubah pikiran, lupakan! Aku tetap tidak akan menyetujui Gracia menikah dengan Dior. Tidak akan!
"Aku sudah tahu. Kau tenang saja Dad. Aku bukan mau menyuruhmu menyetujui pernikahannya. Aku hanya ingin mengatakan kalau Gracia adalah anak perempuanmu! Em, mungkin hanya dia yang paling menurutimu ketimbang kami semua keluargamu. Dia yang tidak pernah marah dan selalu membuat reda emosimu. Aku saja pernah membentakmu sampai kau menamparku. Aku anak kandungmu tapi sepertinya kau lebih mencintai Gracia. Hem, malang sekali nasibnya. Sudah ibunya tiada dan sekarang dia hanya ingin mencari sosok yang bisa berjalan berdampingan dengannya. Memberikan SELURUH yang ia butuhkan sebagai seorang wanita. Aku dan kau otomatis tidak bisa. Kau sebentar lagi akan tiada bersama mom dan paman revo. Aku tentu sangat tidak bisa. Biar bagaimana pun hanya Dior Prime yang dapat menafkai dia luar dan dalam, jasmani dan rohani. Jangan sampai kau menyesal dad. Oiya, aku sangat ingat apa yang dikatakan grandpa sebelum dia pergi. Cukup bahagiakan aku dan Gracia. Cucunya. Hanya itu. Kalau kau seperti ini? Ah, Kau saja yang menjawab."
Begitulah kata Morgan dengan santai namun sedikit dingin dan penekanan. Dia lalu pergi meninggalkan ayahnya. Dia tidak ingin mengharapkan respon ayahnya. Semoga saja ayahnya luluh. Sementara, sepertinya dia akan membuat kerjasama terhadap keluarga Prime agar menjalin kedekatan dan keakraban lebih mendalam.
Marcel terdiam. Dia mencerna kata kata anaknya. Semua yang dikatakan anaknya benar. Begitu juga yang dikatakan istrinya. Entahlah, bagaimana perasaan dia sekarang. Dia masih sangat kesal dengan keluarga Dion dan Viena. Sejak di bangku sekolah. Ah, masih sangat pahit untuk dikenang kembali. Marcel masih tidak mau memikirkannya. Biar saja seperti ini dulu, pikirnya.
...
Tepat pukul 3 sore Revi terbangun karna seperti mendengar suara Greta berbisik di telinganya untuk mencari Gracia. Dia tertidur sejak pulang dari rumah Marcel di apartemen Dior. Dior sudah kembali ke kantornya sementara Gracia ingin sendiri di kamar yang sudah ditunjukan kekasihnya. Dior akan kembali setelah selesai urusannya di kantor. Dia tetap harus menjalankan tugasnya sebagai direktur Hotel Prime sekarang.
"Gracie?" Panggil Revo menuju kamar anaknya. Gracia tidak menjawab.
"Gracie? You oke?" Tanya Revo sambil membuka pintu kamar Gracia. Ketika ia membukanya, dia tidak menemukan Gracia dimana pun. Dia lalu menuju kamar mandi yang bergabung pada kamar tersebut. Itu adalah kamar Dior.
Revo kembali mengetuk pintu dan memanggil anaknya namun tidak ada jawaban. Dia membuka pintu kamar mandi dan tidak ada anak semata wayangnya itu.
Revo agak panik. Dia lalu menuju dapur yang bersekat. Dengan ruang tengah. Tidak ada juga. Akhirnya dia menghubungi ponsel Gracia. Tidak biasanya Gracia seperti ini.
Dior langsung berdiri ketika mendengar Gracia tidak di apartemennya. Ini hari jumat, setahu Dior, hari ini Gracia tidak ada kelas. Wanitanya itu yang mengatakan padanya.
"Rick, periksa semua laporan ini dan cap saja, besok aku yang akan menandatanganinya. Aku harus mencari Gracie." Perintah Dior memanggil Rick.
"Kemana dia Tuan Muda?" Tanya Rick ikut merasakan kecemasan tuannya.
"Entahlah, emosinya sedang dalam keadaan tidak baik. Aku tinggal ya?" Ijin Dior.
"Baiklah bos. Hati hati!"
Dior segera keluar dari hotel. Dia melajukan mobilnya menuju rumahnya. Mungkin Gracia ke rumahnya. Sesampainya di rumah tidak ada siapapun.
"Shit! Mengapa aku tidak menghubungi Zhavia atau Zefanya?" Pekik Dior dan segera menghubungi Zhavia terlebih dahulu.
"Aku tidak tahu kak. Aku memang sedang di kampus, tapi aku tidak melihatnya." Jawab Zhavia menerima panggilan kakaknya di sebrang sana.
"Siapa?" Seorang pria di sebrang sana yang sedang bersama saudara kembarnya menimpali pembicaraan Zhavia yang ikut panik.
"Gracia, Pat. Kau melihatnya tidak?" Jawab Zhavia sedikit menjauhkan ponselnya karna dia merasa pria yang adalah temannya itu mengetahuinya.
"Ooh, sepertinya dia ruang tari. Tadi ketika aku kesini, aku melihatnya." Kata teman Zhavia mengingat melihat Gracia. Gracia selalu bersama Zhavia jadi teman yang satu jurusan dengan Zhavia ini mengetahuinya.
__ADS_1
"Kak? Kata Patrick dia di kampus di ruang tari. Kau kesini saja!" Kata Zhavia segera memberi tahu kakaknya. Dior sedikit mengangkat alisnya mendengar Zhavia sedang bersama seorang pria namun hatinya sedikit lega karna mengetahui dimana kekasihnya berada.
"Patrick?" Selidik Dior yang memang agak posesif terhadap adiknya.
"Ya, dia temanku!" Jawab Zhavia tegas.
"Pacar juga tidak apa apa. Baiklah aku segera kesana." Celetuk Dior.
Dior mematikan panggilan dan menuju ke kampus Zhavia dan Gracia.
Sesampainya di sana, Dior lebih dulu melewati ruang tarik suara. Dior agak mengintip karna mungkin ada Zhavia di dalam dan ternyata benar. Tampak Zhavia sedang bernyanyi mungkin sedang berlatih dengan seorang pria yang mengiringi nya bermain piano. Dior tersenyum tipis, mungkin itu Patrick pikirnya. Dior tidak mau menganggu dan terus menuju ke ruang tari. Dia masih mengingat ruang ruangannya karna baru selang 1 tahun dia lulus juga dari universitas ini.
Dior tiba ke ruang tari dimana terdapat kaca di setiap sisi dindingnya. Benar saja, di sana Gracia sedang menari balet kontemporer dengan sebuah musik yang bergaya lembut namun tetap memiliki irama beat yang serasi. Dior belum memanggil Gracia. Dia hanya memperhatikan. Dia merasa Gracia sedang mencurahkan semua emosinya terhadap setiap tariannya. Dior melihat setiap lekuk tubuh Gracia yang begitu sempurna, pantas saja banyak yang hendak mengejar dan menggodanya.
Sampai akhirnya lagunya berganti menjadi lagu melankolis yang cocok untuk berdansa. Dior menghela napas dan tersenyum kecil. Dia menghampiri kekasihnya itu dan menarik tangan Gracia untuk masuk ke dalam pelukannya. Hal ini sontak membuat Gracia terkejut. Dia menatap Dior dengan takjub. Dior tersenyum. Dia lalu menggerak gerakan tubuh Gracia sehingga Gracia mengetahui maksud kekasihnya itu . Mereka pun berdansa dengan berpelukan.
"Gracia, aku mencemaskanmu, lain kali kau harus bilang padaku kau ingin kemana, aku pasti menemanimu!" Kata Dior mengelus pipi Gracia di tengah gerakan kecil tari mereka yang membuat mata Gracia berkaca kaca dan sedikit haru. Penuturan kekasihnya sungguh menguatkan dan menenangkannya.
...
...
...
...
...
dudududuu dirimu sigap sekali mas dior, eneng juga maauuu 😍😍
.
next part 4
perjuangan mengalahkan hati Marcel masih berlanjut, stay tune gaes ..
bakal ada drama apa lagii yaa?
.
jangan lupa LIKE dan KOMEN yaaa
kasih juga RATE dan VOTE di depan profil novel yaa
.
thanks for read n i love youu 😍
__ADS_1