Mantan Terindah

Mantan Terindah
Malam Syahdu Terkontaminasi Cemburu


__ADS_3

Benar saja, setelah diizinkan meraba perut rata sang istri, Bima langsung naik ke atas ranjang. Memulai aksi buka puasa. Seperti yang ia inginkan. Seperti yang ia minta. Bima tersenyum senang. Malam ini, ia merasa seperti mendapatkan hidupnya kembali. Entahlah, nyatanya Vita adalah sumber dari segala sumber kebahagiaannya.


Bima mengelus mesra wajah sang istri. Mencium keningnya hangat. Ia tak peduli pada sesuatu yang nantinya akan menghadang cinta meraka. Yang Bima pikirkan saat ini adalah yang penting Vita tahu, bahwa dirinya sangat mencintai. Mencinta pamrih.


Pelan namun pasti, Bima memulai aksi nakalnya. Meraba, mencumbu setiap inci tubuh sang istri. Mencium bagian-bagian tubuh wanita itu. Tanpa terlewati sedikit pun.


Minimnya penerangan membuat suasana semakin terasa indah. Vita begitu menikmati apa yang dilakukan sang suami. Bahkan ia juga membalas setiap apa yang di lakukan Bima. Begitupun pria tampan itu. Keaktifan Vita dalam bermain, sungguh membuat Bima semakin bersemangat.


Malam semakin larut, namun dua sejoli itu masih sibuk meluapkan kerinduan yang ada. Lengguhan dan ******* manja mengiringi tugas yang sedang mereka kerjakan.


Di akhir pertanyaan, Bima tersenyum puas. Hasratnya telah tersalurkan. Rasa rindu yang membelenggu mereka berdua sudah melebur jadi satu. Bersama dengan keringat yang membasahi tubuh mereka.


"Terima kasih, Sayang. Sungguh malam ini sangat luar biasa," puji Bima, berbisik nakal.


"Sama-sama, Sayang. Aku mencintaimu." balas Vita, tak terpancing sedikitpun bisikan mesum itu. Bagi Vita, ia adalah milik pria tampan ini, yang berarti Bima berhak melakukan apapun. Bukankah begitu?


Sungguh, ini adalah saat terindah dalam hidup mereka berdua. Dipisahkan, lalu kembali dipertemukan. Bima dan Vita akhirnya menyadari bahwa waktu tidak bisa mereka beli. Mereka ingin tetap bersama, tak ingin dipisahkan, dengan apapun juga.


"Tidurlah, ini sudah sangat larut. Mas nggak mau, kamu dan calon bayi kita kenapa-napa," ucap Bima.


"Ih, sekarang aja ingat, kamu dan bayi kita. Tadi dibilang suruh pelan-pelan, malah ngebut," jawab Vita sembari menciutkan matanya.


"Habis, udah lama Mas puasa, Sayang. Harap dimaklumi ya." Bima tersenyum, sembari menyembunyikan wajahnya di lengan sang istri.


"Dasar mesum! Nakal. Dah ah, Vita mau bobo." Vita memiringkan tubuhnya, lalu memeluk tubuh kekar pria yang dicintainya ini.

__ADS_1


"Mesumku kan cuma buat kamu, Honey. Entahlah, setiap kali ngelihat kamu, rasanya Mas gemas saja. Eh, udah tahu belum kabar terbaru dari Nadia sama Gani?" tanya Bima.


"Nggak, Vita belum tahu apapun."


"Heeemmm, dasar nggak update. Bulan ini mereka mau nikah tahu, Yang," ucap Bima.


"What? Serius?" pekik Vita.


"Ih, ini udah malem. Jangan keras-keras. Serius, mereka mau nikah. Orang siang tadi mereka fitting baju, tapi belum ambil foto prewed kayaknya. Wajah Gani masih belum ganteng habis nyium aspal," ucap Bima.


"Iiihhhhh, jahatnya. Gitu-gitu Gani juga ganteng tahu. Beruntung banget itu Nadia bisa dapet oppa Gani. Uhhh, idola banget pokoknya, udah ganteng, baik, perhatian, lemah lembut. Pokoknya keren deh," puji Vita, semangat. Seakan tak menyadari bahwa pria yang saat ini sedang mendekapnya mulai menunjukkan rasa ketidaksukaannya.


"Udah puji-pujinya!" Bima menatap kesal.


"Hehehe, cuma becanda doang," balas Vita.


"Aku juga mengakui kok, Pak. Kalo anda sangat tampan. Hanya saja, mulut Anda sedikit pedas," canda Vita lagi. Tak ayal, Bima yang tengah terbawa arus cemburu, tentu saja bertambah kesal.


"Aku nggak suka kalo kamu puji-puji laki-laki lain," ucap Bima, terus terang. Vita menatap mata sang suami dengan lembut. Tersenyum manja. Lalu memberikan kecupan penuh cinta di bibir tampan itu.


"Kamu adalah pemilik utuh cintaku, Suamiku. Jangan khawatir. Aku nggak akan pernah berpaling denganmu. Percayalah," ucap Vita, berbisik manja. Membuat Bima kembali terbuai.


"Aku sangat sayang sama kamu, Vit. Aku nggak akan pernah rela kalo perasaan yang kamu miliki terbagi. Aku akan sangat marah jika itu terjadi," ucap Bima, serius.


"Pun denganku, Suamiku. Kamu tahu sedalam apa rasa ini untukmu," balas Vita.

__ADS_1


Jika sudah begini, tak ada alasan bagi mereka untuk tidak melanjutkan percintaan panas mereka.


Bibir kembali menyatu, saling memangut, memberikan kenikmatan. Tak sampai di situ, Bima yang memang masih merindukan sang istri, tentu saja jiwa kelelakiannnya kembali bangkit, dan babak berikutnya di mulai. Kali ini lebih lembut. Lebih dalam. Lebih menjiwai. Ya, Bima memang tak ingin menyakiti Vita dan calon bayinya.


"Heeemmm, aku tahu.


***


Kebahagiaan bukan hanya milik Bima dan Vita, kebahagiaan juga jadi milik Zein. Pria tampan ini begitu antusias ketika Stella dan Juan memperkenalkan dirinya sebagai ayah biologis Berliana dan bocah itu juga tidak menolak. Bocah cantik itu begitu bahagia. Meskipun mungkin dia belum bisa memahami apa yang ibu dan ayahnya sampaikan.


"Selamat ya, Pi! Akhirnya buah dari kesabaran Papi terbayar sudah," ucap Zizi.


"Makasih, Mam. Ini semua tak lepas dari doa-doamu, dukunganmu, kepercayaanmu sama Papi," jawab Zein.


"Mami hanya mendoakan, Pi. Tapi ketulusan hati dan kedewasaan sikapmu lah yang membuat ini semua terjadi."


"Makasih untuk semua, Sayang. Oiya, Papi minta maaf, belum bisa pulang. Papi sekalian urus kerjaan yang di sini ya. Kasihan Lutfi, apa lagi Fira kan sekarang nggak bisa bantu," pinta Zein.


"Iya, Pi. Pokoknya Papi harus tetap jaga kesehatan. Jaga diri baik-baik, ya. Kami bertiga selalu nunggu Papi pulang, heemm!" ucap Zizi.


Zein pun menghiyakan apa yang di katakan sang istri. Zein dan Zizi juga sedang menikmati kisah mereka yang lagi hangat-hanyatnya.


Namun, Zein sepertinya lupa, bahwa ia harus menceritakan sesuatu pada Bina dan Vita atas permintaan sang ayah.


Sebelum terbang ke Batam, Zein dan Laskar sudah mendiskusikan perihal. Victor. Namun, Zein sepertinya memang lupa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2