Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - EZEKHIEL & ZEFANYA PART 20 EKSTRA


__ADS_3

Lanjutan part 20 ...


Sekitar pukul 11 mereka semua sudah siap berangkat ke rumah sakit. Zhavia akhirnya terpaksa tidak membangunkan Patrick karena Patrick tampak pulas tidur di sofa besar itu. Mereka pun meninggalkan Patrick tidur di sofa kamar apartemen Ezekhiel dan Zefanya sementara mereka bertiga menuju ke rumah sakit menemui Dokter Erika.


Dokter Erika sangat tersanjung karena bisa bertemu dengan kembaran Zhavia. Zhavia pun menceritakan masalah yang dialami saudara kembarnya dan saat itulah Zhavia mengetahui kalau Ezekhiel yang bermasalah. Zhavia ikut bersedih dengan keadaan pernikahan kembarannya itu tapi dia salut karena pasangan itu tetap terlihat tenang bahkan lebih romantis. Zhavia memperhatikan Ezekhiel terus merangkul pinggang Zefanya berdekatan dengannya sejak turun dari mobil. Zhavia senang karena Ezekhiel terus menepati janjinya untuk tidak pernah meninggalkan Zefanya lagi.


Dokter Erika ikut prihatin dengan keadaan Ezekhiel. Namun, Erika mengatakan ini bukan akhir semua. Kasus Ezekhiel masih dianggap ringan dan bisa ditanggulangi dengan gaya hidup sehat juga meminum obat. Dia sudah memberikan obat penambah kualitas sel spermatozoa dengan kandungan Gingseng yang juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan fungsi lainnya yang sangat bermanfaat bagi Ezekhiel.


"Obat ini sangat cocok jika anda imbangi dengan olah raga teratur untuk menambah stamina, tuan Ezekhiel. Dan untuk Nyonya Zefanya aku akan memberikan vitamin yang membantu meningkatkan kesuburan Anda setiap bulannya. Tetap lakukan hubungan dua hari sekali dan jangan pernah terbeban. Anggap saja semua adalah proses untuk menuju sebuah kemenangan, bagaimana Tuan dan Nyonya Dimitri?" Kata Dokter Erika dengan ramah dan penuh keakraban.


"Terimakasih dok, senang bisa mengenal anda. Kalau aku ada waktu, bulan depan aku akan kemari lagi bersama suamiku, bagaimana tuan Ezekhiel?" Ucap Zefanya dan meminta tanggapan suaminya.


Ezekhiel mengangguk tersenyum ramah.


"Senang bisa membantu anda semua," ujar dokter Erika tersenyum lebar.


"Baiklah dok, selamat siang, kami permisi,"


"Ya, Nyonya Kwan, titip salamku untuk suamimu, siap siap menjadi Daddy siaga," kata Erika lagi dengan penuh kehangatan.


"Benar Dok, terimakasih atas perhatiannya, permisi," balas Zhavia bersama dengan Zefanya dan Ezekhiel.


Mereka bertiga tidak langsung pulang tetapi makan siang di motel Prime sekalian Zefanya melihat motel ayahnya itu. Patrick pun juga dihubungi Zhavia agar pergi ke sana. Setelah itu mereka berpasang pasangan berjalan jalan sambil menikmati pusat kota Honululu yang semakin tertata rapi.


...


Sementara itu di Springfield,


Allegra memasuki ruangannya pagi itu. Kemarin dia tidak bisa mengejar pria yang ia anggap Morgan itu sementara dia masih enggan untuk menghubunginya. Kepala Allegra agak pening karena menangis semalam. Dia agak menyesal tapi juga tidak bisa menarik lagi kata katanya. Seandainya itu bukan Morgan atau Morgan tidak mau lagi bersamanya biarlah menjadi cerita cinta yang harus gagal lagi dan lagi.


Allegra berjalan menuju ke meja kerjanya sambil merogoh tas nya untuk meraih ponselnya. Sepertinya dia harus membalas pesan Rosie. Dia menyadari kalau dirinya memang terlalu berlebihan kala itu dan pernyataan Rosie sudah meyakinkan kalau sebenarnya mereka tidak ada hubungan apa apa. Bukan hanya itu, entah mengapa kemarin Zefanya juga memberinya pesan menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Allegra memang tidak terlalu dekat dengan Zefanya tapi kadang arah bicara mereka berdua lebih sesuai ketimbang Allegra dengan Zhavia.


Namun, baru saja Allegra hendak duduk, dia melihat dua kuntum mawar putih berada di atas mejanya. Allegra mengernyitkan dahinya. Bunga ini mirip seperti bunga yang kemarin. Allegra langsung melihat isi pesannya.


Meskipun bunga ini berjumlah dua, tapi hatiku tetap satu untukmu, tidak ada yang lain ...


Entah mengapa Allegra sangat yakin ini dari Morgan. Mengapa pria itu tidak menemuinya langsung, pikirnya. Allera memperhatikan bunga itu dan isi pesannya dia semakin merindukan Morgan. Ada yang salah dengan hatinya. Biasanya jika dia sudah mengatakan putus, Allegra tidak mau memikirkan atau malah membuatnya merana seperti ini. Apa perbuatannya sudah salah?


Allegra pulang lebih cepat dari kantornya. Dia sudah sedikit lega karena sudah membalas pesan Rosie. Rosie malah mengatakan lagi akan pergi ke Springfield jika dirinya belum bisa bersama sementra Rosie juga tidak tahu keberadaan Morgan. Berkali kali Allegra bertanya pada Xelino tapi Xelino menutupi semua kabar tentang Morgan karena Morgan yang memintanya. Morgan ingin melakukan hal yang tidak bisa dilupakan Allegra.


Ketika Allegra hendak mendorong pintu apartemennya, sebuah tangan juga mendorong pintu itu sehingga terbuka lebih cepat dan juga mendorong dirinya untuk masuk.


Tangan tersebut menyandarkan Allegra ke dinding dan menatapnya dengan sangat intens. Allegra terkejut siapa pria yang melakukan ini padanya.


"Apa kabar Alle?" Tanya pria itu tersenyum menggoda.


"Untuk apa lagi mencariku dan mengirimiku banyak bunga seperti itu?" Decak Allegra yang sebenarnya bingung harus menanggapi seperti apa padahal di dalam hatinya senang akhirnya melihat pria ini.


"Kau tidak merindukanku?" tanyanya.

__ADS_1


"Tidak!"


Pria itu melepas kungkungannya dan menuju ke sofa besar Allegra lalu merebahkan tubuhnya di sana.


"Aku tidak sengaja melewati apartemenmu dan aku merasa mengantuk jadi aku kemari. Jangan lupa, setengah apartemen ini adalah uangku," kata pria itu melirik tersenyum menggoda.


"Oh, begitu ya? Baiklah aku akan pergi dari sini, kau ambil saja apartemen ini!" dengus Allegra hendak menuju ke kamarnya.


"Pergilah jika tidak ingin lagi melihatku karena kita sudah berbeda alam," sela pria itu menaik turunkan alisnya. Allegra pun menghentikan langkahnya dan kembali berbalik.


"Kau mengancamku?!" Allegra mendelik.


"Demi mendapatkanmu!" Saut pria itu menoleh dan menyeringai.


"Kau keterlaluan Morgan! Apa yang kau inginkan?!" decak Allegra mulai sedikit kesal.


"Dirimu! Jangan munafil Allegra, kau masih mencintaiku dan ingin bersamaku! Lepaskan egomu dan kemarilah, peluk aku!" saut Morgan menggoda dan membuka tangannya.


"Cih, lupakan!" Saut Allegra memasuki kamar dan hendak membersihkan dirinya.


Allegra mengurung dirinya di kamar sementara membiarkan Morgan tidur di sofa. Allegra mencari kesibukan dengan membaca laporan laporan dari setiap bagian perusahaan untuk ia tanda tangani. Sampai akhirnya dia merasa lapar dan harus membuat sesuatu untuk makan malam juga. Allegra keluar dari kamar dan menuju ke dapur. Ketika dia harus melintasi ruang tamu dia melihat Morgan masih tidur di sana. Allegra sedikit khawatir dan bertanya tanya apakah pria yang masih ia cintai itu sudah makan apa belum.


Allegra menarik napas dan memeriksa keadaan Morgan yang tampka tidur dengan pulas. Allegra pun memperhatikan Morgan. Allegra merasa napas Morgan agak tersenggal dan ternyata Morgan agak gelisah. Allera pun menyentuh dahi Morgan dan ternyata agak menghangat.


"Kepala ku sakit Allegra," kata Morgan hendak memegang dahinya tapi tangan Allegra masih di sana sehingga dia menyentuh punggung tangan Allegra. Allegra sontak menarik tangannya dan anehnya Morgan tidak menahan.


"Kau, kau, apa yang kau butuhkan?" tanya Allegra terbata.


Deg!


Itu kata katanya setiap Morgan sakit dan Allegra yang selalu merawatnya. Kalau Morgan di Legacy, Allegra akan berkata kalau suaranya yang akan menyembuhkannya.


Morgan melirik dan menunggu Allegra memijat kepalanya. Allegra salah tingkah, mengapa jadi secanggung ini. Morgan seperti memancing dirinya untuk melakukan yang biasa ia harus lakukan.


"Alle, kepalaku makin sakit!" keluh Morgan lagi.


Akhirnya Allegra memijat dahi Morgan. Morgan menyeringai berhasil. Dia sedang menerapkan apa yang Xelino ajarkan padanya. Setelah beberapa menit Allegra menyudahinya.


"Aku lapar, aku ingin makan sesuatu, kau mau sesuatu?" kata Allegra dan berdiri.


Morgan malah menarik tangan Allegra sehingga wanita itu berada di atas dadanya.


"Aku mau memakanmu, Allegra!" desis Morgan.


"Morgan, lepaskan aku, kita sudah tidak ada hubungan lagi?!" Allegra mencoba melepaskan diri.


"Semudah itu kau melupakan cintamu padaku hanya karena kesalah pahaman? Bagaimana kalau wanita itu bukan Rosie? Apa kau tetap marah padaku seperti ini?" selidik Morgan dengan wajah serius.


"Tetap!" jawab Allegra sinis.

__ADS_1


"Allegra, apa kau sudah tidak mencintaiku? Jawab jujur dan tatap mataku!" tanya Morgan memegang kencang pergelangan tangan Allegra.


"Aku, aku, aku, aku tidak, uhm..."


Belum Allegra menyelesaikan kalimatnya, Morgan sudah membungkamnya dengan sebuah ciuman. Morgan mendorong kepala Allegra dan mencium bibirnya. Allegra tidak bisa menolak karena pegangan Morgan padanya terlalu kuat dan dia juga merindukan ciuman ini. Morgan tahu kalau Allegra akan berkata hal yang menipu dirinya. Dia tidak mau mendengarnya sehingga dia mencium bibir itu. Morgan terus merasakan bibir lembut nan dingin itu. Morgan juga sangat merindukan kekasih hatinya itu.


Setelah mereka berdua kehabisan napas barulah Morgan sedikit merenggangkan pengukuhannya.


"Aku mau masak, aku lapar!" Decak Allegra menarik dirinya sampai berdiri dan langsung melarikan diri dari Morgan. Wajahnya sudah memerah dan dia masih belum bisa menerima Morgan walau dalam hati mengatakan ingin.


Morgan tersenyum lebar melihat respon Allagra. Tidak sampai situ Morgan menggoda Allegra. Dia pun menuju ke dapur dan duduk di meja makan yang memang terdapat di depan dapur. Morgan duduk di kursi makan sambil memperhatikan Allegra memasak. Allegra hanya memasak ramen instan dan yang membuat Morgan senang kalau ternyata Allegra membuat dua ramen dan memberikan padanya.


"Makanlah agar kepalamu tidak sakit lagi," kata Allegra.


"Allegra?" Panggil Morgan karena Allegra terus menunduk. Allegra pun akhirnya mendongakan kepalanya memandang Morgan.


"Thankyou, Ting!" Kata Morgan mengedipkan sebelah matanya membuat Allegra makin salah tingkah di buatnya. Allegra kembali menunduk dan meniupi ramennya.


Mereka berdua makan dalam diam tapi tatapan Morgan tidak beralih ke arah Allegra. Dia terus menatap Allegra sambil terus menyeruput ramennya. Allegra makan dengan cepat karena sangat canggung sekaligus memendam penyesalan. Ingin seperti semula tapi dirinya yang memutuskan semua ini. Setelah ramennya habis terlebih dulu ketimbang Morgan, Allegra langsung beranjak dan hendak menuju ke kamarnya. Namun, lagi lagi Morgan menahannya. Morgan kembali menarik tangannya dan membuat Allegra duduk di pangkuannya.


Mereka saling menatap dan sulit untuk Allegra beranjak dari rengkuhan tangan Morgan yang sangat menguasainya.


"Ijinkan aku tidur denganmu, aku tahu kau merindukanku dan aku akan membayar semua siksaan hatimu. Allegra, saat ini di hatiku hanya namamu seorang. Aku hanya mencintai wanita bernama Allegra. Jangan dingin begini denganku karena hal itu juga akan menyiksa hatimu, kau membohongi dirimu sendiri," kata Morgan mengelus wajah Allegra.


Allegra terdiam dan tidak tahu lagi harus menanggapi seperti apa. Morgan tidak banyak bertanya lagi. Dia pun menggendong Allegra masuk ke dalam kamarnya. Morgan membaringkan Allegra dan dia tidur di sampingnya. Dia kembali menarik tubuh Allegra untuk masuk dalam pelukannya.


"Allegra, aku tahu kalau kita saling merindukan, aku akan membuktikan padamu kalau cintaku hanya untukmu. Aku serius Alle!" kata Morgan memejamkan matanya dan merasakan tubuh wanitanya ini.


"Morgan, aku ..."


"Tidurlah, biarkan aku yang memperbaiki hatimu yang terluka dan merasa dibohongi. Aku akan membentuknya menjadi baru lagi dan aku akan ada selalu di dekatmu. Tunggulah Allegra, kau tidak bisa lari lagi dariku karena sekali kau menyentuh hatiku kau tidak bisa menghilang begitu saja. Aku pasti akan menemukannya,"


Deg!


Degup jantung Allegra terus merontak tak menentu. Pria ini memang pria yang sangat ia cintai, sungguh berbeda dengan bekas bekas kekasih lainnya. Sepertinya, dia yang sudah salah.


...


...


...


...


...


bersambung


jangan lupa LIKE dan KOMEN nya

__ADS_1


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2