
Bima dan Vita menunda kepulangan mereka ke Semarang. Mereka berdua memilih berangkat ke Jakarta. Ditemani langsung oleh Laskar dan juga ibu Laila, untuk menemui Victor. Ingin meminta penjelasan tentang masalah yang sebenarnya. Dan mereka juga mau tahu apa yang diinginkan pria itu sebenarnya.
Di pesawat...
"Sebenarnya, Vita malas ketemu pria itu, Mas," ucap Vita lirih.
"Mas, tau. Tapi mau bagaimana pun dia tetap abang iparmu. Mau sampai kapanpun itu tetap berlaku. Kita bisa saja membenci, tapi kita juga nggak boleh memutuskan tapi silaturahmi. Kalo mantan suamimu masih ada, Mas yakin, dia pun akan melakukan ini. Berhubung dia sudah berpulang, maka kitalah yang harus mewakilinya." Bima mengelus kepala sang sang istri yang tertutup hijab senada dengan dress yang ia pakai itu.
"Iya Pak dokter, aku paham. Aku pun hanya menyampaikan apa yang aku rasakan. Aku hanya malas, itu saja." Vita memeluk manja lengan sang suami. Seakan tidak ingin terpisah jarak dengan pria itu, meskipun barang sejengkal pun.
"Manja ya," bisik Bima.
Vita tersenyum, lalu ia pun berucap lagi, "Pengennya rebahan, tiduran, nggak ngapa-ngapain. Udah, gitu aja!"
"Boleh, Mas paham kok. Itu wajar terjadi sama ibu-ibu lagi hamil muda. Boleh ngidam apapun, asal jangan membenciku," ucap Bima.
"Membencimu? ya nggak lah!" ucap Vita.
"Tapi ada loh, Yang. Istri hamil ngidamnya benci ama suaminya."
"Masak?"
"Ada, Mas ada temen yang begitu. Jangankan tidur seranjang, lihat muka suaminya aja pengen marah."
"Nauzubillah, Mas. Semoga aku nggak kek gitu ke kamu. Aku nggak mau durhaka. Biar awal pernikahan kita nggak baik, tapi aku tetap ingin menghormati mu sebagai imamku. Mencintaimu sebagai pria yang rela mengambil tanggung jawab atasku. Pokoknya aku mencintaimu," jawab Vita manja.
Kini, tak ada lagi keraguan di dalam hubungan mereka. Cinta Bima telah di sambut baik oleh Vita. Wanita itu juga mau dan rela menerima baik buruk dirinya. Lalu, apa lagi yang mereka ragukan. Selain memupuk cinta yang telah tumbuh antara mereka.
***
Di lain pihak, mantan istri Victor tekejut karena tempat tinggalnya disatroni beberapa orang yang tak di kenal.
Mereka mengaku pada wanita itu bahwa mereka adalah utusan Victor dan meminta wanita itu untuk segera meninggalkan Jakarta.
Sebab kota ini sudah tak aman lagi untuknya.
Banyak orang yang mengincar nyawanya saat ini.
"Jangan ngarang! Aku dan Victor nggak ada hubungan apapun selain kami hanyalah mantan suami istri," tolak wanita itu.
"Terserah anda mau percaya atau tidak! yang jelas, Pak Victor meminta kami untuk menyampaikan ini. Beliau tidak ingin ada dan putra semata wayangnya dalam bahaya, itu saja," ucap pria itu.
__ADS_1
"Sejak kapan dia peduli padaku dan putraku, bukankah ia pria egois yang mementingkan egonya sendiri. Astaga! Kalian nggak usah ngarang!" tolak wanita itu lagi.
"Astaga! Kenapa anda keras kepala banget nyonya. Ini silakan anda lihat, ini adalah video kiriman dari Bapak Victor yang meminta anda dan putra anda ikut bersama kami," ucap pria itu mulai tak sabar dan berniat memaksa.
"Tidak, jangan sentuh saya. Sebaiknya kalian keluar!" usir wanita itu berani.
Tak ayal, kesabara yang di miliki segerombolan orang tersebut pun sirna. Mereka murka dengan penolakan-penolakan itu.
Tanpa basa-basa, Orang-orang tersebut pun menodongkan senjata, dan memaksa wanita itu ikut dengan mereka.
"Lepaskan brengsek, jangan sentuh putraku!" teriak wanita itu.
"Diam! Atau kami akan lebih kasar!" ancam pria berkemeja hitam itu.
"Sudah ku duga, kalian pasti penjahat, kalian pasti pembohong. Lepas, brengsek!" teriak wanita itu sambil meronta.
Tak ingin wanita yang mereka incar ini melarikan diri, beberapa pria itu pun langsung menarik tangan wanita itu dan memaksa sang wanita masuk ke dalam mobil mereka.
Beruntung, aksi pria-pria jahat itu langsung di hadang oleh kedatangan Om Laskar dan beberapa anak buahnya.
"Lepaskan wanita itu atau akan ku lenyapkan kalian," ucap pria itu lantang. Tak segan- segan pria paruh baya ini pun langsung meminta anak buahnya untuk cepat bertindak. Karena inilah misi mereka yang sesungguhnya. Sesuai amanat yang pernah Victor minta kepadanya.
"Jangan ikut campur!" tolak pria itu kasar.
"Ringkus mereka, dan kirim mereka dalam keadaan tak berdaya ke rumah bos mereka. Paksa mereka mengakui ketangguhan kita," bisik Laskar pada salah satu anak buahnya.
Tak ingin mengecewakan sang bis bos, pria itu dan anak buahnya pun segera bertindak. Dengan gesit mereka langsung meringkus ke empat pria yang memaksa wanita itu, agar bertekuk lutut pada kesatuan yang dibesut oleh Laskar sendiri.
Tak diragukan lagi, hanya butuh beberapa menit, mereka pun sudah berhasil meringkus beberapa orang yang berani menantang bos mereka itu.
keempat preman tersebut langsung tak berdaya. Bahkan ada satu di antara mereka sampai rahangnya patah. Akibat bogem mentah yang di hadiahkan oleh anak buah Laskar
Peperangan sengit tak terhindarkan, hingga darah pun menghiasi pantai pekarangan wanita yang disinyalir adalah mantan istri Victor.
"Aku takut, Mas! Astaghfirullah...!" pekik Vita ketika melihat pria yang hendak menyerang kawanan anak buah Laskar.
"Kalo takut jangan lihat, Yang!" ucap Bima sembari menutup tangan sang istri.
"Ayo pegi dari sini, Mas. Aku nggak mau di sini!" ajak Vita.
"Ya, sebaiknya kita memang pergi dari sini, Mas pun nggak mau terjadi sesuatu pada kandunganmu," jawab Bima.
__ADS_1
Namun demikian, mereka tak ingin di bilang tidak beradap. Mau bagaimana pun mereka tak bisa meninggalkan Laskar sendirian. Mereka harus tetap menjaga adab.
Bersambung...
Sambil nunggu emak update, kalian bisa kepoin karya bestie emak Yes🥰🥰🥰
Cuplikan di Bab: SEBUAH KEAJAIBAN.
Sesuai kesepakatan keesokan harinya, Dhanu dan Salwa pun menikah walaupun pada awalnya sangat sulit mengajarkan Dhanu untuk berijab qobul, dan selalu salah karena keterbatasannya. Namun kyai Zainal dengan sabarnya tetap membimbing Dhanu hingga pada akhirnya mereka di nyatakan sah!, oleh para saksi.
"Sekarang Wawa udah jadi istri Adan yaa.?" tanya Dhanu saat Salwa membawa Dhanu ke kamarnya, setelah tadi mereka menyaksikan kepergian Dharma yang tadi sempat menitipkan Dhanu pada Salwa dan Kyai Zainal.
"Iya mas Ardhan, sekarang Wawa, udah jadi istrinya Mas Ardhan." jawab Salwa lembut.
"Horree..horree..Adan sekarang punya istri.." sorak Dhanu sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan, bak anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.
Salwa tersenyum lucu melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak itu. " jangan loncat-loncat Mas nanti kamu jatuh." ujar Salwa dengan lembut.
"Iya Wawa, Adan nggak loncat lagi kok, tapi nanti kita main mobil-mobilan ya?" balas Dhanu dengan wajah polosnya.
"Iya Mas, nanti kita main mobil-mobilan ya." balas Salwa dengan senyum manisnya. " Tapi sekarang mas Ardhan bobo dulu ya," lanjutnya dengan nada lembutnya.
"Baiklah Wawa, Adan sekarang mau bobo, tapi Wawa jangan pergi ya?"
"Iya Mas, Wawa nggak kemana-mana kok."
"Asyiiik, ya udah deh Adan sekarang bobo, ya Wawa." kata Dhanu yang kemudian ia pun mulai memejamkan matanya
"Iya Mas, " balas Salwa masih lembut, namun baru saja Dhanu memejamkan matanya, ia sudah kembali membuka matanya lagi
"Wawa, Adan nggak bisa bobo, kalau nggak di giniin kepalanya Adan, kalau di rumah Bi Ijah giniin kepala Adan Wawa," kata Dhanu dengan wajah polosnya, sambil ia mengusap rambutnya sendiri dari kata giniin.
"Oh baiklah, sekarang Wawa usap-usap kepala Mas Adhan ya."
"Hu'um" balas Dhanu, yang kemudian ia kembali memejamkan matanya setelah Salwa membelai-belai lembut rambut Dhanu, sambil dia bersholawat, membuat Dhanu senang mendengarnya.
Begitulah keseharian mereka setiap harinya, walaupun Dhanu tahu kalau Salwa adalah istrinya. Namun ia memperlakukan Salwa hanya seperti teman bermain baginya, begitu juga dengan Salwa, yang dengan sabarnya ia mengurus dan menemani Dhanu bak seorang ibu yang mendidik anaknya. Hingga pernikahan mereka berusia dua minggu, sebuah keajaiban pun datang pada Dhanu.
Di dalam tidurnya Dhanu ia bermimpi bertemu seorang kakek-kakek, berjubah putih, serta memakai sorban putih, lalu sang kakek meletakkan tangannya di dahi Dhanu yang terlihat bingung melihat sang kakek, namun itu hanya sesaat karena tiba-tiba Dhanu melihat masa lalunya, dan ia juga melihat kejahatan sang tante yang menyebabkan kematian orang tuanya serta saudaranya, membuat hatinya menjadi sedih, bercampur dengan kemarahan.
"Sekarang kamu sudah sembuh nak, lakukanlah yang terbaik, untuk keluarga mu, juga selamatkanlah harta kamu, dan bawalah kejalan kebaikan."
__ADS_1