Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - ZHAVIA & PATRICK PART 13


__ADS_3

Cinta terlarang terjadi karena ada obsesi yang tidak menyadari daerah sekitar kalau sebenarnya hal ini ditolak. Namun, karena kekuatan cinta sejati lebih besar maka hal hal yang tabu menjadi tak kasat mata. Zhavia memantapkan diri untuk tidak mau lagi dekat dengan Daniel yang telah salah mengartikan pertemanan ini. Zhavia lebih memilih Patrick yang lebih sibuk dari pada Daniel karena Patrick adalah suaminya, cintanya yang kekal yang sudah membuat ikrar antara langit dan bumi. Namun, apakah keputusan Zhavia malah menjadi Mala petaka bagi rumah tangga mereka?


...


Zhavia keluar dari restoran itu sambil mengusap matanya. Dia hendak menangis karena perilaku dan pikiran Daniel terhadap dirinya. Daniel merasa Zhavia seperti kebanyakan wanita yang ditelantarkan oleh suami atau pacar nya lalu mencari kasih sayang dari pria lain dan menjalin hubungan di dalamnya. Zhavia tidak habis pikir kalau Daniel merencanakan ini semua bahkan dia ingin mengkhianati sahabatnya yang adalah suaminya.


Padahal selama ini Zhavia sudah menganggap nya sebagai teman. Seperti layaknya dirinya menganggap Eden dan Hoshi tetapi sama dengan pertemanan antara dirinya dan Adeline atau Amber. Zhavia akui memang Daniel tampan, lalu bagaimana dengan Eden dan Hoshi? Mereka juga tampan tapi tak setitik pun Zhavia ada rasa pada mereka hanya karena mereka memberikan sedikit perhatian apalagi menjadi pengganti Patrick di saat dirinya kesepian.


Zhavia masih menoleh ke belakang dan melihat Daniel terduduk di sana memegang dahinya seperti frustasi. Namun, Zhavia tidak kembali berbalik. Dia tidak peduli. Dia tidak mau berurusan dengan Daniel. Kalau seperti ini dia harus menjauh dari Daniel. Sementara dia harus menutupi dari Patrick. Dia tidak mau karena masalah ini Patrick memecat Daniel. Bisa saja hal itu terjadi.


Kini Zhavia jadi enggan kembali pulang ke rumah karena juga tidak selera melihat suaminya yang kembali dilanda kesibukan. Entah mengapa akhir akhir ini Zhavia kembali dilanda semua emosi dan pikiran. Negatif. Sebentar lagi usia Zena menginjak dua tahun. Dia harus menenangkan diri untuk menyiapkan pesta ulang tahun kejutan untuk Zena nanti.


Zhavia akhirnya memutuskan untuk ke apareetemen Eden dan Adeline. Setidaknya dia bertemu Adeline dan si kembar. karena Patrick di rumah, Eden pasti ada di sekolah. Zhavia bisa bercakap cakap dengan Adeline mengenai masalah dirinya yang terus berengkat dengan prilaku Patrick. Bukan hanya itu, Zhavia harus mencurahkan semua kesesakan dalam hatinya selama ini yang sudah malas ia utarakan pada Patrick. Biasanya Adeline menyimpan kata kata ampuh yang membuatnya lebih tenang dan mengerti Patrick lagi dan lagi.


"Zhavia, aku senang sekali kau datang, lihat aku membuat roti panggang isi hazelnut. Hazelnut ini kubuat bersama Mommy. Ayo, cicipi!" Kata Adeline seraya menyuruh Zhavia masuk ke dalam apartemennya dan duduk di meja pantry dapur mereka. Adeline memang sedang memasak untuk cemilan Joshua dan Jocelyn.


"Wah, tampaknya menggeliurkan, Adeline, biarkan aku mencobanya," balas Zhavia tampak antusias.


"Silahkan!" Saut Adeline lalu memperhatikan Zhavia sasaat. Zhavia tampak lelah dan terhadap lingkaran hitam samar sama di bawah matanya. Zhavia merasa kalau Adeline sedang memperhatikannya.


"Ada apa melihatku seperti itu, Adeline?" Zhavia melirik sahabatnya.


"Seharusnya, aku yang bertanya, ada apa denganmu? Apa kau bertengkar lagi dengan Patrick?" Selidik Adeline


Zhavia menggeleng. Tadi dia sempat melupakan Patrick bahkan Daniel tapi seperti nya dia tidak bisa menyembunyikan nya dari Adeline. Adeline satu satunya sahabat yang paling mengerti dirinya setelah Molly. Namun, Molly juga sekarang sangat sibuk. Dia menjadi komponis di sebuah management artis dan sesekali juga membantu Patrick di gedung sekolahnya. Zhavia sudah jarang bertemu Molly.


"Zhavia, kau tidak bisa menipumu! Aku merasa karena beberapa hari ini aku juga menutut sebuah waktu atau liburan panjang pada Eden. Eden dan suamimu sama! Melakukan pekerjaan keras bagai kuda sampai tidak tahu diri sendiri. Aku kesal, Eden demam tapi dia masih ingin masuk karena dia cemas pada Patrick yang mau terlibat dalam setiap bagian. Aku marah padanya dan mengancam tidak usah kembali lagi dan mengeluh semua nya sakit kalau dia benar benar ingin bekerja!" Keluh Adeline menceritakan dirinya dan Eden. Namun, Eden lebih menghargai Adeline ketimbang Patrick.


"Eden demam, Adeline? Kapan?" Tanya Zhavi


"Beberapa hari yang lalu, kenapa?" jawab Adeline dan bertanya lagi.


"Pantas saja Patrick waktu itu agak emosi karena tidak ada yang membantunya. Kami juga berdebat tapi tidak terlalu parah karena aku juga sudah malas," ujar Zhavia memotong lagi roti panggang itu.


"Jadi kau tidak bertengkar dengannya?" selidik Adeline lagi.


"Tidak! Waktu itu sudah sangat malam.dia juga lelah. Dan lagipula bagaimana kita bisa bertengkar kalau kita jarang bertemu. Sudahlah mau aku seperti apa akan terus seperti ini selamanya, Adeline. Itu gedung sekolah musik milik kita. Patrick dan suamimu yang memimpin, lalu kita bisa apa?" tutur Zhavia mencoba memahami keadannya.


"Bisa mengingatkannya Zhavia sayang! Sekarang kau sudah paham kalau gedung sekolah musik itu di bawah kepemimpinan suami mu dan suami ku, jadi kita yang harus memberikan mereka dukungan, kita harus mengerti mereka, merawat mereka dengan baik supaya kasih sayang selalu melingkupinya. Mereka tidak akan mencari perhatian di tempat lain untuk menggantikan pengertian yang seharusnya kita berikan," kata Adeline menyarankan.


"Tapi Adeline, Patrick benar benar sangat sibuk! Apalagi akhir akhir ini!" sungut Zhavia memberitahu sahabatnya.


"Jadi, kau sudah tidak mencintainya lagi? Lalu bagaimana dengan suamiku yang berada pada tekanan suamimu?" Kata Adeline bertolak pinggang di depan Zhavia. Zhavia berpikir. Sepertinya Adeline lebih tersiksa dari pada dirinya.


"Maafkan aku Adeline. Aku tetap mencintai Patrick, kau tenang saja. Bisa apa aku tanpanya? Dia memang tetap mengirimiku pesan dan terkadang mengirimiku makan siang ketika aku selesai mengajar," saut Zhavia.

__ADS_1


"Nah kan, kita menjadi istri hanya bisa mengerti jadi kau jangan sedih Zhavia. semua pasti ada masanya. Kalau sudah terlalu kelewatan seperti Eden kemarin barulah kau bisa marah. bukankah kemarin kau marah sekali pada Patrick?" tanya Adeline ingin tahu.


"Ya, dia pulang dalam keadaan mabuk di hari ulang tahunku," kata Zhavia menundukan kepala nya dan malas mengingat nya.


"Sewaktu pagelaran orkestra itu? Kalau itu aku juga memarahi Eden meninggalkan suamimu hanya bersama Hoshi dan Daniel. Mereka kan masih lajang. Benarkan mereka tidak bisa menjaga Patrick?" saut Adeline menaikan alisnya.


"Begitulah, tapi memang setelah itu tidak terulang lagi. Namun, ya seperti itu Adeline, aku tetap merindukan Patrick yang dulu. Yang selalu ada waktu untukku," balas Zhavia makin bersedih.


"Sabar, Via. Aku mengerti dirimu, sangat mengerti, aku pun selalu sedih dan bingung jika Joshua berkata : Daddy not here again! Atau Jocy yang mengatakan : where is Daddy? Daddy tidak makan malam di rumah! Apa yang harus kukatakan jika dua anak kembar itu berkata padaku seperti itu. Apa Zena tidak mencari ayahnya?" selidik Adeline .


"Mencari dalam diam. Zena sepertinya mengerti, Daddy working, begitu katanya, aku tahu pasti Patrick yang selalu memberinya pengertian. Mereka sehati sejiwa dan tidak bisa dipisahkan, Adeline," ujar Zhavia tersenyum tipis.


"Sejatinya anak perempuan memang lebih dekat dengan ayahnya, begitu juga dengan Jocy," saut Adeline menyetujui pernyataan sahabatnya.


Zhavia mengangguk dan kembali menikmati roti panggang ya. Tak lama anak anak Adeline menghambur keluar dan memberi salam pada Zhavia. Zhavia malah beristirahat di sana sampai malam, sampai dia lupa memberitahu Patrick, Sandra atau Dessy sekalipun. Patrick malah mendapat pesan kaleng dari sebuah nomor tak dikenal.


NOMOR TAK DIKENAL


Kalau nanti kau menyia nyiakan Zhavia, aku minta maaf akan mencurinya darimu!


Begitulah isi pesannya. Patrick mengucek matanya sore itu. Dia baru saja bangun dari tidur panjangnya. Patrick kembali membaca dan mengulang setiap mata per katanya. Siapa yang mengirim pesan ini. Patrick tidak menemukan Zhavia. Patrick jadi panik. Dia bertanya pada Dessy kalau Zhavia belum pulang. Patrick menghubungi Zhavia tidak terjawab. Patrick memeriksa jadwal mengajarnya tapi dia tidak memiliki jadwal sore. Patrick jelas panik. Apalagi baru saja mendapat pesan itu.


"Adeline, kau tahu di mana Zhavia?" Tanya Patrick akhirnya menghubungi Adeline.


"Dia di rumahku, dia tertidur sepertinya dia demam Pat jadi aku tidak tega membangunkannya," jawab Adeline di seberang sana.


"Entahlah, sepertinya dia merindukanmu tapi dia malas mengatakannya padamu!" kata Adeline memberi tahu.


"Malas? "


"Karena kesibukanmu dan suamiku!" sindir Adeline.


"Argh, kenapa selalu menyindir hal itu, kami bekerja untuk kalian! Mengapa tidak ada pengertian sedikit saja!" dengus Patrick.


"Kau mau menjemputnya atau aku yang mengantarnya?" tanya Adeline yang juga malas menjawab keluhan Patrick yang begitu terus.


"Aku akan menjemputnya,"


Ketika Patrick keluar dari kamar, Zena yang bermain di dekat meja makan karena mendampingi Dessy yang sedang menyiapkan makan malamnya. Zena melihat ayahnya dan langsung menghambur ke pelukan ayahnya.


"Daddy, where you going?" tanya Zena.


"Zena? Kebetulan sekali. Kau mau ikut?" ajak Patrick menggendong Zena.


"Where?"

__ADS_1


"Ke apartemen Paman Eden dan Bibi Line,"


Zena mengangguk. Patrick pun mengajak Zena dan membiarkan Dessy di rumah bersama Sandra dan Alex yang akhir akhir ini lebih senang di kamar atau di ruang perpustakaan. Mereka sudah semakin tua takut mereka membutuhkan apapun.


Sesampai di sana Zhavia memang agak demam. Patrick memegang dahinya. Zhavia masih tertidur sampai merasakan tangan dingin suaminya membelai pipinya.


"Patrick?" Kata Zhavia yang seperti sudah mengetahuinnya. Dia langsung membuka matanya.


"Ada apa denganmu?" tanya Patrick kini mengelus wajah Zhavia.


"Tidak apa apa, kau menjemputku? Aku lupa mengabarimu, aku minta maaf," ucap Zhavia juga memegang wajah suaminya.


"Apa kah ada masalah? Apa ada seseorang yang mengusik atau menganggumu? Katakan padaku Zhavia!" tanya Patrick cemas mengingat pesan kaleng itu.


Deg!


Apa Patrick tahu soal Daniel menyatakan cinta padanya? Hem, Zhavia harus berkelit terlebih dulu.


"Kau! Kau yang mengusikku karena sulit sekali mengerti dengan kesibukanmu, aku merindukanmu Pat! Engg ..." Rengek Zhavia memeluk Patrick. Patrick tersenyum membalas pelukan Zhavia. Dia juga sangat merindukan pelukan dan kemanjaan istrinya.


"Aku juga sayang, maafkan aku, tolong mengertilah, aku hanya bisa berkata ini, sesungguhnya aku memang harus berkutat di dalamnya," ucap Patrick tidak tahu lagi memberikan pengertian pada Zhavia.


"Ya Pat, tidak apa apa, kau sekarang menjemputku aku sudah senang," balas Zhavia menarik diri dan tersenyum.


"Mommy!" panggil Zena tiba tiba memasuki kamar tamu Adeline.


"Zena? Kau mengajaknya, Pat?" ujar Zhavia pada suaminya yang tersenyum.


"Yes, my Daddy Pat," saut Zena malah menghambur ke pelukan ayahnya. Zena sudah sangat sering bertemu ibunya.


"Zena saja tahu siapa yang harus di peluk, Pat! Hay Via, kau sudah baikan?" tanya Eden sudah berdiri di daun pintu kamar.


"Sudah Eden, aku hanya lelah saja, terimakasih. Kau baru pulang?" tanya Zhavia kembali.


"Ya, aku baru saja pulang dan melihat hawa hawa pemimpin yang ditaktor datang berkunjung!" jawab Eden bergurau.


"Heeemmmm!!!" Saut Patrick menoleh tajam ke arah Eden. Zhavia malah tertawa dan kembali menghadapkan wajah suaminya padanya.


"Makan malam lah di sini, Pat, Via, dan zenaku!!" ajak Eden.


"Oke paman!"


...


lanjut di bawah ya 😁

__ADS_1


tetap LIKE dan KOMEN part ini ya 😁


thanks for read and i love you 💕


__ADS_2