
...Jangan jadikan hal menjadi sesuatu yang besar karna akan menjadi bomerang itu sendiri...
Rival sengaja menyuruh Franda untuk membawakan air mineral kehadapannya karna hanya kebetulan hanya ada Franda didekatnya saat ini yang sedang berdiri disebelah Cerry. "Lo anterin gue kalau lagi haus. Ya udah gue tanding dulu." Ia melengos begitu saja tanpa menunggu terlebih dahulu jawaban dari Franda.
Albert berbisik pelan ke telinga Franda membuatnya sedikit panas. "Rival tuh suka sama lo, jadi lo jangan cuek sama dia. Gue harap lo ngerti." Lalu Albert berlalu begitu saja meninggalkan Cerry dan Franda.
"Dia ngomong apaan tadi? Kok dia bilang Rival gitu sekilas."
"Ya udah kita kesana aja yuk." Franda menarik tangan Cerry agar cepat ke lapangan melihat pertandingan basket.
Tapi tiba-tiba saja Lusi mengambil paksa botol mineral dari tangan Franda dan membawanya begitu saja "Eh kenapa dibawa, itu punya----"
"Punya Rival kan? Ya udah." Langkahnya berjalan didepan. Franda hanya bisa menarik nafas dan sabar menghadapi orang-orang yang gak suka.
Suara teriakkan sudah terdengar dari luar, basket merupakan salah satu ekstrakulikuler yang paling diminati setelah sepak bola apalagi dari kaum hawa yang senang sekali menonton permainan itu. Beberapa lawan sudah menghadang menggunakan baju biru dengan kaus putih didalamnya. Kebetulan sekali Rival memiliki warna yang berlawanan karna dirinya merupakan ketua basket.
Wasit sudah meniup peluit itu tandanya permainan sial dimulai.
1
2
3
Penonton bersorak dari pinggiran lapangan, ada juga yang maju kedepan lebih dekat. Suara teriakkan jatuh kepada Rival sang ketua basket. Chiko yang merupakan anggota baru justru juga menyaingi Rival ketua. Kalau bukan masalah bayar membayar Rival bakalan gak akan pernah mau mengikut sertakan Chiko di anggota tim basket. Sorot mata pun sangat terlihat jelas kalau mereka berperang dingin. Rival sengaja tidak mengoper bola ke Chiko yang padahal sangat jelas sekali Chiko ada didekatnya bahkan didepannya hanya beberapa langkah saja. "Val, kenapa lo gak oper ke Chiko?" Kesal Rudy yang melihat sifat yang kekanak-kanakkan seperti ini. Ia hanya menarik nafas sebentar lagi melanjutkan kembali.
"Urusan kita belum selesai ya." Ucap Rival yang sengaja mendorong bola basket yang mendarat ke Chiko tapi ia hanya diam dan diam.
Dipinggiran sana ada Lusi yang sudah siap memberikan air mineral yang masih penuh yang sudah berkhayal kemana-mana ketika Rival nanti akan mengucapkan terima kasih dan memberikan senyum.
"Gimana nih cer kalau Rival marah?"
__ADS_1
"Udah ah gak mungkin lah dia marah sama lo kan ada Lusi yang pegangin? Sama aja kan? Udah ah gue pengen teriakkin Rival, lo mau teriakkin siapa nih Chiko?"
"Ah." Pikiran Franda langsung saja buyar ketika mendengar ucapan Cerry. Dengan terpaksa Franda dan Cerry mencari tempat yang kosong untuk melihat pertandingan basket.
...•••...
Rival meminta botol mineralnya tadi yang ia sempat ia titipkan. "Mana punya gue?" Ia menjulurkan tangannya. Lusi tampak tak terlihat ketika pertandingan tadi belum usai ia mengitari sekitarnya tapi percuma Lusi tidak ada.
"Lo nyari apaan? Botol gue mana? Gue haus nih." Ia mengibas-ngibaskan bajunya yang sudah penuh dengan keringat.
"Eeee, jangan bilang botol mineral gue lo minum? Mana punya gue jawab!"
"Eee, tadi sama Lusi val dia yang am----" Belum Cerry menjawab Rival mendorong bahu Franda dengan singkat dan kesal.
"Lo ngapain kasih minum gue ke Lusi? Bukannya dipegangin emang berat? Gue haus tau gak." Kasar Rival yang membentak Franda dengan nada tinggi.
"Eee, anu. Ee tadi...." Ia juga bingung karna Rival sudah terlanjur marah.
"Ma-----"
"Em, lo jijik sama gue? Lo suka sama Chiko? Cowok itu? Makan tuh makan!" Loh kenapa Rival malah marah hanya sekedar masalah sepele seperti ini didepan orang banyak didepan orang-orang yang memperhatikan mereka dengan teliti. Malu? Ya pasti malulah. Apalagi ketika Chiko tepat berdiri sejajar dengan Franda ia hanya tersenyum agar Franda tidak mudah terpancing emosi ini semua salah paham.
"Kenapa lo malah senyum? Lo suka beneran sama Chiko?"
Belum juga Franda menjawab Lusi datang dan langsung memberikan air mineral yang ia ambil tadi dari tangan Franda tapi ia malah bertingkah seolah Franda lah yang memaksa. "Nih val punya lo. Si Franda nitip sama gue tadi sorry ke bawa ke kantin."
"Apa? E--- emang dasar lo ya."
Dari kejauhan terdengar suara Roy kakak Rival sedang menegurnya melangkah lebih maju membuka barisan yang urakan. "Val, lo tau gak suara lo kedengeran dari kelas gue, lo gak malu apa? Lo bukan anak kecil lagi val."
"Kak, lo gak tau apa kalau misalnya cewek cupu ini tuh gak amanah orangnya, lo tau gak?"
__ADS_1
"Gak amanah gimana?"
"Ya dia gue titipin botol mineral buat tanding basket, tapi setelah gue pengen ambil di malah kasih ke Lusi? Gimana gak marah gue?"
"Trus, lo marah?"
"Ya iyalah."
"Udah mending lo ganti baju sana, gak usah marah-marah lagi. Gue ke perpus dulu gue yakin lo bakalan temukan jawabannya." Bisikan Roy membuat bulu kuduk Rival merinding apa coba maksud dari ucapannya itu.
Temukan jawaban?
"Yuk fran kita ke kelas aja." Franda masih bingung dengan sikap Rival yang berubah-rubah tiba-tiba bisa baik dan bisa semarah mungkin apalagi hal yang sangat sederhana sekali.
Chiko mendekat "Semakin lo marah semakin lo nunjukkin kalau lo suka sama Franda." Tepuk Chiko yang langsung ia turunkan begitu saja.
Franda masih ingat sekali ketika kedua bola mata Rival marah, apa sih salah Franda sampai-sampai Rival sebegitunya kesal? "Gue heran deh sama Rival, fran kenapa dia marah banget sama lo ya? Dan kenapa kak Roy ganteng gitu duh."
"Gue juga gak tau cer, iya sih kak Roy ganteng gitu beraura banget menunjukkan seorang kakak yang baik dan benar."
"Bukan hanya sebagai kakak doang fran, tapi sebagai seorang pacar."
"Hus jangan ketinggian deh."
"Ih boleh aja kali." Cerry membayangkan kalau Roy jadi pacarnya.
"Iya juga sih kalau emang takdir dan jodoh kan bakalan gak tau juga kedepannya kayak gimana. Emang lo beneran suka sama kak Roy?"
"Ya suka sih, ya kali aja gitu bisa jadi pengagum rahasianya juga yang bakalan jadi pacarnya haha."
"Do'ain ya haha."
__ADS_1