
"Patrick, siapa gadis itu? Kau mengenalnya?" Pria bernama Stanley itu malah berbisik menanyai Gracia pada Patrick. Patrick menengglengkan kepalanya heran dengan temannya ini yang masih suka bercanda padahal Dior di sana sudah mengeluarkan aura aura dinginnya sampai Patrick saja merasa ngeri.
"Ehm Stan, sebaiknya kau minta maaf dulu pada mereka. Kau mambuat Gracia terjatuh." Jawab Patrick ikut berbisik.
"Oh tentu!" Balas Stanley tersenyum dan menghampiri Gracia dan Dior di sana.
"Maafkan aku nona! Aku sangat terburu buru dan sepertinya aku sudah telat, apa ada yang bisa ku bantu untuk ke ruang p3k?" Ucap Stanley berusaha sopan namun tampaknya tidak sesuai dengan Dior. Stanley malah mau meraih telapak tangan Gracia, tapi Dior lebih dulu meraihnya.
"Kami tahu apa yang harus kami lakukan!" Ujar Dior dan menarik tangan Gracia menjauh dari pria itu, Patrick dan Zhavia. Gracia belum berkata apa apa karna dia terus mendesis merasakan luka luka kecil yang menghiasi telapak tangannya .
"Haiz Stan, mengapa pekerjaanmu selalu membuat orang kesal?" Patrick berdecih menepuk pelan bahu Stanley dan menggeleng gelengkan kepalanya. Sementara Stanley terheran melihat Dior dan Gracia meninggalkannya.
"Aku salah? Aku meminta maaf dan mau mengantarnya ke ruang p3k." Stanley membela diri.
"Untuk apa kau mau memegang tangannya?" Selidik Patrick yang sedikit tahu Bagaimana keposesifan Dior pada kekasihnya.
"Tangannya terluka, Pat! Aku mau membantunya!" Decak Stanley berusaha membuat temannya mengerti.
"ngomong ngomong, Bukannya kau terburu buru?" Gumam Zhavia hendak menyudahi pembicaraan ini.
"Oh my God benar! Aku mengikui street dance competition di alun alun taman Pat!" Stanley teringat dan dia harus segera pergi.
"Kau masih menari?" Patrick masih bertanya tanya.
"Tentu, lalu untuk apa aku hidup? Kau juga masih menekan nekan tuts itu kan?" Jawab Stanley.
"Berlebihan kau! Kenal kan dulu ini kekasihku!" Kata Patrick lagi menarik tubuh Zhavia yang terus di belakangnya.
"Kekasih apa?! Jangan dengarkan, aku Zhavia!" Protes Zhavia dan mengenalkan dirinya dengan masam.
"Hay Zhavia, aku Stanley, Stanley Naraya! Mungkin kau pernah mendengarku? Kau tahu, ibuku model papan atas, dulu, haha!" Stanley mengulurkan tangannya dan membangga banggakan dirinya tentang ibunya padahal dia tidak menyebutkan nama ibunya.
"Tidak! Aku tidak pernah mendengarmu atau mengetahui ibumu. Mungkin kau yang pernah mendengarku, aku Zhavia Prime! Aku harus menyusul Gracia dan kakakku, permisi!" Saut Zhavia yang agak tidak suka dengan orang yang terlalu percaya diri dan terus bergurau tiada henti.
"Pantas saja mereka kakak adik, sama sama tidak jelas! Ya sudah pat, aku sudah sangat terlambat. Kalau kau sempat, kau saksikan ya? Sampai jumpa, oh iya, aku akan bersekolah di sini untuk semester awal, bye!" Seru Stanley dan dia meninggalkan Patrick perlahan. Patrick belum sempat menanyai banyak dan mungkin dia bisa menonton temannya itu.
Patrick segera menghampiri Zhavia yang menyusul Dior dan Gracia.
Gracia dan Dior sudah duduk di sebuah restoran. Untung saja mereka tidak bersama Zefanya, kalau tidak mungkin Zefanya yang akan memarahi pria bernama Stanley itu. Zefanya ke tempat lain terlebih dahulu karna melihat aksesoris yang membuatnya tertarik bersama kekasihnya.
"Emm, kak Dior, maafkan temanku ya?" Ucap Patrick ketika mereka sampai menyusul Dior dan Gracia. Dior hanya tersenyum tipis sambil membersihkan luka di telapak tangan Gracia.
"Dia itu siapa mu sih Pat? Mengapa dia sangat percaya diri?" Tanya Zhavia mengintrogasi.
"Em, kak Dior, apa kau pernah mendengar Bellavista Hotel? Dulu di Legacy ada, tapi tidak terurus jadi hanya ada satu satunya di Honolulu yang terkenal setelah jajaran jajaran apartemen milik kekasihnya Zefanya." Patrick mulai memberitahu dan mengingat Dior merupakan pewaris hotel terkenal setelah ayahnya.
Dior setengah melirik Patrick. Dia menaikan satu alisnya. Dia memang pernah mendengar nama hotel itu sesekali disebutkan ayahnya, namun dia tidak pernah terlibat kerjasama.
"Ada hubungan apa memangnya? Kau ini kalau menjelaskan yang jelas Pat! Ini bukan pelajaran musik!" Decak Zhavia tak sabar menepuk pelan bahu Patrick.
"Iya iya! Dia anak dari direktur utama hotel itu. Stanley Naraya. Ibunya mantan model terkenal di Legacy dan Honolulu dan kakak nya Jacklyn Naraya, penari balet profesional di Honolulu yang di juluki .." Patrick tidak menyelesaikan.
"Jacklyn? Si Flaminggo Merah Muda, Tuan Muda?" Sela Gracia yang tampaknya mengetahui penari yang sama dengan kesukaannya.
"Nah, kau sangat mengenalnya Gracia! Ya dua kakak adik itu penari. Kami satu sekolah ketika high school di Honolulu. Mereka tinggal di Honolulu. Entah mengapa Stanley kemari. Ibu mereka cantik sekali. Aku sampai iri mereka berdua masih memiliki keluarga lengkap. Belum lagi ayahnya yang begitu perhatian pada mereka. Padahal ayahnya merupakan ayah tiri Jacklyn, tapi dia tidak pernah membedakan malah menganggap seperti anaknya sendiri. Mereka sanga baik, seperti kedua orang tuamu, Zhavia, kak Dior!" Gumam Patrick yang seketika teringat pada kedua orang tuanya yang tidak harmonis.
"Kenapa kau jadi membahas orang tua, kau tidak usah sok sedih! Ayo kita pesan makanan. Kita sudah tahu siapa temanmu itu. Ya kalau bukan orang penting bukan temanmu! Ayo!" Zhavia mengalihkan kesedihan temannya itu dengan mengajaknya memesan makanan.
Sementara Dior masih terdiam dengan kejadian tadi. Seharusnya dia bisa membuat Gracia menghindar. Dior masih membersihkan luka luka Gracia dan Gracia sedikit mendesis karna Dior membersihkannya agak menekan.
"Kak sakit!" Gracia meringis.
"Hem, maafkan aku Gracie, aku tidak bisa menjagamu!" Dior menundukan kepalanya dan mengelus pelan tangan Gracia.
__ADS_1
"Kenapa kau yang meminta maaf kak? Ini hanya luka luka kecil. Tidak masalah." Gracia ikut menunduk mencari cari wajah tunangannya.
"Seharusnya aku memperingati pria itu!" Gumam Dior menyesal.
"Stanley Naraya?" Gracia memastikan.
"Rasanya kau sangat mengingat namanya?" Gumam Dior lagi menaikan alisnya tersenyum kecil.
"Namanya hanya terdiri dari dua kata kakak, bagaimana dengan namamu? Aku sangat mengingatnya, Vincent Edior Prime. Ehm, mengapa orang tidak memanggilmu Vince kak? Aku menyukainya, terdengar sangat misterius dan cool seperti aunty Viena. Aku sangat mengidolakan ibumu. " Balas Gracia mendekatkan wajahnya di depan Dior dan mencolek pelan dagu pria itu. Dior kembali dengan senyum tipisnya.
"Tenang saja kak Dior, aku baik baik saja. Kau jangan khawatir!" Tambah Gracia lagi memegang wajah kekasihnya dan mengembangkan senyumnya. Dior sudah sangat tenang dengan kata kata murni tunangannya itu.
Setelah mereka makan siang yang mana mereka sudah bergabung dengan Zefanya dan Ezekhiel, mereka memutuskan berjalan jalan sebelum menaiki puncak bianglala. Mereka berjalan jalan dan melewati kerumunan alun alun tempat diadakan street dance competition yang tadi dikatakan Stanley.
"Zhavia, aku ingin melihat Stanley menari. Kau juga mau ikut melihatnya?" Ajak Patrick yang rindu dengan temannya ketika menari itu.
Zhavia mengangguk sambil menyeruput minumannya.
"Aku juga ingin melihatnya, ayo Tuan Ezekhiel?" Zefanya menarik tangan kekasihnya karna penasaran dengan kerumunan ramai ini. Pasti para penarinya sangat pakar.
Sementara Gracia juga sangat ingin melihatnya. Pasalnya ini juga keahliannya dan dia juga bisa mempelajari gerakan gerakan yang mungkin bisa ia kembangkan. Namun, dia masih mengingat kejadian tadi dan wajah kekasihnya Dior tampak masih masam tak senang. Wajah Dior masih menegang dengan tatapan melihat kerumunan dan kedua saudara kembarnya yang melihat kompetisi itu. Gracia tersenyum tipis. Dia tidak boleh membuat kekasihnya juga muram. Dia harus menghargai perasaan pria nya juga.
"Kak, aku ingin permen kapas!" Kata Gracia kemudian. Dior mengangguk dan menggandeng Gracia menuju ke kedai permen kapas namun Dior menangkap Gracia yang tampaknya ingin melihat acara itu.
Setelah membeli permen kapas itu, Dior merangkul Gracia kembali ke kerumunan itu untuk melihat acaranya.
"Eh, kak? Kenapa kita kesini? Aku tidak mau melihat!" Tanya Gracia sedikit terheran.
"Lihatlah, aku tidak apa apa! Kau ingin mempelajari gerakan gerakannya kan?" Dior terus merangkul pundak Gracia melihat acara street dance itu. Gracia pun mengikuti arahan ajakan kekasihnya. Dipikirnya selama Dior yang mengijinkan. Ini menjadi tidak masalah.
Mereka lalu menonton di sana dan kebetulan giliran Stanley yang menari. Ini merupakan solo dance kata sang MC. Setelah tadi Stanley tampaknya sudah menari secara kelompok.
Stanley menari hip hop dance dan sedikit bergaya kontemporer dengan sentuhan lagu r n' b yang membuat melihatnya takjub termasuk Gracia. Dengan lagu dari Chris Brown berjudul Undecided, Stanley menari dengan lugas dan lekukan tubuhnya tidak kaku. Lentur seperti pegas yang bergoyang sehingga sangat indah dilihat. Sorak sorai sudah mengiringi dance pria itu. Gracia sudah tersenyum melihat semua gerakan indah itu. Ternyata pria yang menurutnya mengesalkan itu benar benar pandai menari.
(Yang mau liat Stanley nge-dance cek di utub aja Dino - Undecided)
"Tarian yang bagus, kau melihatnya kan kak?" Tanya Gracia mengajak bicara kekasihnya.
"Iya, kau begitu cantik Gracie!" Dior malah bergumam memuji Gracia.
Glek! Gracia tersadar. Sedari tadi prianya tidak memperhatikan tarian itu tapi dirinya. Gracia menjadi sedikit tidak enak karna memperhatikan pria lain dibandingkan kekasihnya.
"Kakak? Kau tidak melihat tariannya?" Selidik Gracia sedikit menekuk pipi pipi nya.
Dior menggeleng dan tersenyum.
"Maafkan aku tidak mempedulikanmu kak, padahal aku ingin kita berduaan. Yasudah, ayo kita pergi dari sini?"
Gracia menarik tangan Dior untuk menjauhi kerumunan.
"Ada apa Gracie? Zefanya dan Zhavia masih di sana. Tidak apa apa jika ingin melihat tarian pria itu." Kata Dior dengan wajah tenangnya.
"Tidak mau! Sebaiknya kita antre di bianglala itu saja!" Gracia menolak dan tidak mau membuat Dior sedih. Gracia harus peka sebelum terlambat. Lagi pula dia hanya mengagumi gerakan Stanley. Tidak lebih.
"Tapi lebih cantik jika hari sudah gelap sayang."
"Baiklah kita jalan jalan saja." Ajak Gracia mengalungkan tangannya pada lengan Dior. Dior mengusap puncak kepala Gracia gemas. Sepertinya Gracia takut dirinya marah karna memperhatikan pria lain. Dior menjadi semakin mencintai wanitanya ini.
Sementara itu Stanley sempat menangkap sekilas Gracia melihat pertunjukannya. Entah mengapa hatinya jadi tak menentu dan ingin lebih mengenal wanita itu. Mungkin dia bisa bertanya pada Patrick jika nanti bertemu lagi. Stanley tersenyum mengingat pandangannya yang takjub pada tariannya.
Selang beberapa jam tepat pukul 5 sore mereka bertiga mengantre bianglala itu. Mereka menaiki bianglala itu masing masing 1 untuk 1 pasangan. Zhavia bernyanyi ketika menaikinya sedangkan Patrick malah tertidur.
"Bangunkan aku jika sudah selesai! Aku lelah sekali!" Kata Patrick sudah memejamkan matanya.
__ADS_1
"Tidur saja kerjamu Pat!" Dengus Zhavia melihat pemandangan Legacy.
"Pulang nanti aku akan shooting drama zhavia!" Patrick menyindiri kehidupannya yang sedikit banyak sudah diketahui Zhavia.
"Bicaramu! Biar bagaimana pun mereka keluargamu!" Zhavia berusaha netral karna dia menaruh simpati pada Pierre, kakak Patrick dan bukan Patrick.
"Oke stop, jangan diperpanjang!" Pinta Patrick malas.
Sementara Zefanya dan Ezekhiel saling berangkulan melihat pemandangan kota Legacy. Begitu juga dengan Dior yang terus merengkuh pinggang Gracia sambil menatapnya. Dior terus memandangi wajah manis Gracia yang penuh kelembutan sampai rasanya Gracia bergidik merasakan tatapan juga senyum pria itu.
"Kakak! Jangan terus memandangku!" Gracia sangat tersipu malu. Sebenarnya dia senang tapi dia benar benar tak kuat dengan pandangan teduh Dior.
"Hari ini kau begitu cantik sampai meruntuhkan emosiku terhadap pria tadi! Dan sampai aku tidak mau cemburu kalau kau memperhatikan tarian pria itu. Kalau saja aku memiliki keahlian menari, aku ingin mempelajarinya agar bisa menari bersamamu Gracie!" Kata Dior meraih rambut Gracia dan memainkannya.
"Kakak .." Gracia terharu lagi dengan kata kata Dior.
"Benar! Di bawah terang rembulan, aku ingin menari bersamamu Gracie, sehingga bulan saja tahu betapa aku sangat mencintaimu." Dior tersenyum.
"Kak Dior cukup! Aku tidak sanggup mendengar kata katamu." Gracia telah tersipu malu sampai menutup wajahnya. Pria yang selama ini hanya ada di impiannya nyatanya begitu mencintainya sampai seperti ini. Rasanya dia ingin menghentikan waktu dan merasakan saat saat yang begitu indah ini.
"Diamlah! Hanya ini yang bisa kukatakan. Dengarkan detak jantungku Gracie!" Dior kembali meraih tangan Gracia dan di letakan di dadanya.
"Kau merasakannya Gracie?" Tanya Dior.
Gracia mengangguk sambil tersenyum malu.
"Berdetak dan cepat bukan? Karna begitulah ritmenya jika aku bertemu denganmu dan berdekatan denganmu. Seperti pertama kali bertemu. Dan, kau lah memang cinta pertamaku. Pertama dan terakhir bahkan" kata kata Dior sungguh sampai ke sumsum sumsum wanitanya.
Gracia mengangguk dan rasanya sulit untuk tidak menangis. Gracia sudah meneteskan air matanya dan tak lama memeluk kekasihnya itu.
"Aku hanya ingin mengatakan semoga tidak ada kata berpisah dan selalu mengerti satu sama lain. Tidak ada umpatan atau pertengkaran dan saling terbuka. Bagaimana kak?" Kata Gracia dengan lirih dan pasti. Dior tersenyum mengangguk. Dia mengelus punggung Gracia. Selamanya dia juga ingin selalu bersama wanita ini. Apapun yang terjadi nanti sebisa mungkin, Dior tidak mau melepaskan tangan Gracia. Ingin selalu membuatnya nyaman dan merasa hanya dirinya yang pantas untuk wanita ini.
...
...
...
...
...
Dior, luluh lantah eke 😍😍
.
next part 10
yak yak yak, itulah Stanley Naraya
siapanya siapa tuuhh? wkwkwkwk
bagaimana perannya nanti setelah ini?
apakah akan mempengaruhi hubungan Dior dan Gracia?
stay tune gaess 😍😍
.
Jangan lupa bubuhkan LIKE kalian pada gambar jempol dan berikan KOMENTAR untuk menunjang novel favorite kalian ini 😁😁
.
__ADS_1
Kasih juga yuk RATE dan VOTE nya di depan profil novel yaa 😍😍
Selamat membaca n i love you gaes 💋💋