Mantan Terindah

Mantan Terindah
Menjalankan Rencana


__ADS_3

Ikatan batin antara anak dan orang tua memang tidak bisa terpisahkan. Contohnya saat ini, meskipun bocah cantik ini belum tahu bahwa pria yang memangkunya saat ini adalah ayah kandungnya, ia tetap mau bergelut manja. Seperti seorang anak dan ayah pada umumnya.


"Apa Kakak Liana tahu, Om Zein ini juga papinya Liana loh," ucap Stella, mulai mau terbuka dengan kenyataan yang ada.


Liana sedikit terkejut, namun ia langsung tersenyum.


"Jadi sebenernya, Kakak Liana sama dedek Juna itu, punya dua papi, punya dua mami juga. Terus di rumah Papi Zein, juga ada dua dedek bayi lagi, ada satu mami lagi," ucap Stella berusaha menjelaskan keadaan yang ada pada sang putri, agar nantinya anak ini tidak bingung dengan keadaan yang ada.


"Benarkah? Jadi Kakak punya two mami and two papi?" tanya bocah cantik ini, penasaran.


"Ya, apakah Kakak senang?" tanya Stella.


"Ya, Kakak senang. Tapi bolehkah Kakak ketemu dedek bayi di rumah papi Zein, Mami?" tanya Liana lugu.


"Tentu saja, kenapa tidak? Nanti kalo Kakak libur, kita ke rumah papi Zein and mami Zi, kita lihat dedek bayi. Apakah mereka juga manis seperti Kak Liana." Stella tersenyum.


"Promise, Mami?"


"Ya, tentu saja. Sekarang Liana main sama dedek Juna dulu ya, Mami mau ngobrol sama papi Zein dulu. Oke!" pinta Stella.


"Oke, Mami," jawab bocah cantik itu seraya beranjak dari pangkuan Zein. Sedangkan Zein sama sekali tak bisa berucap apapun. Ia terlalu terpesona dengan kecerdasan dan kecantikkan putrinya. Sungguh, Zein hanya bisa tersenyum. Padahal sebenarnya ia juga menahan tangis bahagianya.


"Amazing, Ste. Thank you kamu udah didik dan nge-besarin putriku jadi secantik dan semanis itu," ucap Zein ketika Liana beranjak dari pangkuannya dan berlari ke arah adiknya yang sedang bermain.


"Sama-sama, terima kasih juga kamu sudah mau sabar menunggu. Semoga saja Liana bisa menerima ini. Aku harap kamu lebih bersabar lagi, karena nantinya akan ada pertanyaan-pertanyaan lagi setelah ini." Stella tersenyum.


"Apapun demi kebahagiaan Liana, aku siap Ste. Demi menebus kesalahanku padanya. Aku siap!" jawab Zein tulus.


"Aku seneng, Zein, kamu udah dewasa. Sangat dewasa malahan. Istrimu pasti wanita luar biasa." Stella tersenyum.

__ADS_1


"Kamu benar, Ste, dia adalah wanita luar biasa. Begitu lembut dan sabar ngadepin aku. Kalo nggak, pasti udah ninggalin aku. Kamu tahu kan, betapa kakunya aku!"


"Ya, kamu memang menjengkelkan. Eh, ngomong-ngomong, kok Vita mau ke sini? Ada angin apa? Kemarin aku ajakin nggak mau, katanya mau tinggal di Semarang aja. Kalian lagi nggak main hati lagi kan?" cecar Stella curiga.


"Ishhh, ya nggak lah! Apaan? Dasar curigaan. Aku sama Vita sudah end, Stella, end. Nggak ada lagi kisah di antara kami. Catet itu. Aku bawa adikmu ke sini atas permintaan suamimu. Paham!" jawab Zein tegas.


"Maksudnya?" tanya Stella, penasaran.


Zein pun mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto Bima yang sedang duduk di pesawat bersama Juan. Mereka dikabarkan sedang dalam perjalanan menuju ke sini.


Stella terlihat sangat terkejut, lalu wanita cantik ini pun bertanya, "Bagaimana bisa?"


"Ya bisa lah," jawab Zein, lalu pria tampan ini pun menjelaskan detail kronologi yang terjadi pada Bima.


"Astaghfirullah, jahat sekali mereka!" ucap Stella, kesal.


"Dunia bisnis memang kejam, Ste. Ya memang begitu adanya. Makanya kita dituntut selalu waspada. Tapi ya sudahlah, percuma aku jelasin panjang lebar ke kamu. Aku tahu kamu lemot. Susah mencerna masalah yang berat-berat," ucap Zein sedikit bercanda.


"Hah, sudahlah. Tugasku sudah selesai, sekarang tinggal kamu pinter-pinter cari cara buat kasih kejutan untuk adikmu. Aku lelah berdebat dengan mu Ste, kamu lambat sekali berpikir. Sebaiknya minta Juan jangan sering-sering ninggalin kamu. Rajin olahraga ranjang, biar kamu cerdas dikit," canda Zein lagi.


"Dasar mantan gila, mesum, stress.. aku nggak akan nganggep ucapanmu itu. Dah sana hus hus... bikin kotor rumahku saja," usir Stella kesal.


Zein hanya terkekeh. Tak ingin kehilangan moment terbaiknya bersama buah hati, Zein pun mendatangi Berliana, tentu saja untuk berpamitan.


"Papi Zein pulang dulu ya, Sayang. Kapan-kapan Papi datang lagi sama mami Zi and dedek bayi, oke!" ucap Zein seraya memeluk dan mencium kening sang putri.


"Oke, Papi. Janji!" pinta Liana sembari memberikan jari kelingkingnya pada Zein. Zein pun menyambut uluran jari itu. Kemudian mereka saling berjanji.


Agar tidak menciptakan rasa iri di hati Liana dan Juan, Zein juga berpamitan dengan bocah tampan itu. Sungguh Zein tak ingin membedakan mereka. bagi Zein, mereka berdua adalah buah hatinya.

__ADS_1


Selepas berpamitan dengan Liana dan Juna, Zein pun kembali mendekati Stella dan tentu saja, untuk berpamitan.


Obrolan santai antara dirinya dan Stella seakan semakin mempererat tali persaudaraan mereka. Dan Zein maupun Stella sangat menghargai itu.


***


Rasa mual dan pusing yang Vita derita selepas naik pesawat tadi, sudah tidak berasa lagi.


Agar tidak menciptakan kekhawatiran di hati sang kakak, Vita pun keluar kamar dan berniat mencari wanita itu.


Terlihat Stella sedang asik berjibaku di dapur. Sepertinya ia sedang menyiapkan hidangan istimewa.


"Lagi ngapain kak? Bang Zein mana?" tanya Vita.


"Masaklah, abangmu mau pulang. Zein udah kabur dari kapan tahu," jawab Stella. Singkat. Tentu saja agar tidak menimbulkan kecurigaan Vita.


"Ohhhh, sorry kak. Tadi Vita pusing banget. Begini ya rasanya ngidam. Ya ampuuun!" ucap Vita, sedikit mengeluh.


"Yang sabar, namanya mau dapet hadiah, pasti ya susah-susah dulu. Nanti kalo udah lulus ujiannya juga bakalan berasa indah," jawab Stella, sedikit memberi kode.


"Kakak benar, sepertinya aku harus banyak bersabar. Harus banyak ikhlas. Biar tidak terlalu stres. Tapi jujur, Kak. Ujian hidupku saat ini sangat berat," ucap Vita, terlihat sangat sedih.


"Kakak tahu, tapi yang harus kamu ingat adalah Tuhan nggak akan kasih cobaan di atas kemampuan hamba-Nya. Percayalah, kamu pasti bisa. Oke!" ucap Stella seraya memberikan pelukkan untuk sang adik.


Keasikan mereka ternyata tak luput dari perhatian seseorang yang saat ini sedang bersantai di kamar tamu rumah itu. Dari CCTV yang terhubung dengan ponselnya, pria itu terlihat tak sabar ingin segera keluar. Namun sayang, kamar di mana dia berada saat ini sengaja di kunci oleh Juan dan Stella, agar seseorang tersebut tidak mengagalkan rencana mereka.


Bersambung...


Sambil nunggu Emak update, kalian bisa tongkrongin karya bestie emak yesπŸ₯°πŸ₯° Di jamin pasti suka... 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2