
Kehidupan di dunia ini seperti roda. bisa berada di atas atau di bawah. Bisa merasa senang terus menerus tetapi juga bisa merasakan keterpurukan dan kekelaman. Semuanya bisa kita hindari atau rasakan tergantung cara kita menjalani ini semua. dengan bijaksana atau gegabah. Apa yang terjadi dengan Zefanya dan Ezekhiel selanjutnya? Bagaimana anak anak mereka dan kondisi keluarga mereka kemudian?
...
"Sakit sekali perutku Zhavia!!!!" Pekik Zefanya merintih pada Zhavia.
"Iya iya, sepertinya kau akan melahirkan!!" saut Zhavia menopang tubuh Zefanya di depannya.
"Sabar Anya, Tuhan pasti melindungimu!" kata Viena juga mengelus tangan salah satu anak kembarnya itu.
"Mom, ini sakit sekali!" keluh Zefanya terus menerus.
"Lagipula untuk apa kau tadi ke dapan. Kalau saja kita tetap di dalam tidak akan seperti ini!" decak Zhavia ikut menyesal karena insiden tersebut.
"Maafkan bibiku, Zhavia, mom!" ucap Ezekhiel kemudian melihat dari kaca depan mobil.
"Sudah kau mengemudi saja dengan cepat dan fokus sebelum air ketubannya pecah," sela Claudia yang juga ikut bersama mereka duduk di depan.
"Tapi dia sudah berdarah aunty!" pekik Zhavia lagi.
"Selama Zefanya masih tersadar semua masih aman. Tenanglah!" kata Claudia lagi menenangkan.
Ezekhiel benar benar merasa bersalah dengan sikap bibinya. Dia akan menuntut semuanya jika terjadi apa apa pada Zefanya dan anaknya. Bukannya dia tidak mau mengundang. Sudah sering kali Ezekhiel dan Zefanya menghubungi Salma tapi tak ada jawaban. Ezekhiel menghubungi Tanya dan Tasya mereka berjanji akan memberitahu ibunya tapi entah mengapa malah menjadi seperti ini. Ezekhiel benar benar bingung dengan keluarganya. Ezekhiel malah merasa memang tidak mempunyai keluarga lagi selain Carlos, Zefanya dan seluruh keluarga serta kerabat istrinya.
Bersama dengan keluarga Zefanya saja, Ezekhiel tidak harus mencemaskan apapun karena mereka malah menganggap Ezekhiel seperti keluarga dalam. Ezekhiel hanya bisa merapal doa agar istrinya kuat sampai ke rumah sakit. Dia benar benar menyesal. Mengapa dia tidak bisa menahan Salma dan melindungi istrinya?
"Anya, bertahan Anya! Maafkan aku?" Ucap Ezekhiel setengah menoleh dan kembali lagi ke depan.
Di tengah rintihan Zefanya, dia merasa kecemasan suaminya yang membawa kemudi.
"Aku, aku tidak apa apa, sayang, kau, kau fokus saja bawa aku cepat ke rumah sakit!" Saut Zefanya dengan pelan dan Ezekhiel mendengarnya. Ezekhiel mendengar setiap keluhan dan rintihan serta air mata yang keluar dari mata indah istrinya.
Tanpa sadar Ezekhiel juga menitikan air matanya. Dia terharu dengan pengorbanan istrinya selama ini. Claudia yang duduk di samping Ezekhiel merasakan kekhawatiran keponakan iparnya itu.
"Tenang lah, Zefanya akan baik baik saja dan melahirkan anakmu," saut Claudia menepuk pelan lengan Ezekhiel. Ezekhiel mengusao matanya agar tidak menangis. Viena dan Zhavia juga merasakan sulitnya perjuangan mereka sampai melahirkan saja harus dipenuhi drama seperti ini.
Zefanya tidak merintih atau meringis lagi, tapi dia terus memegang perutnya. Dia menunduk juga merapal doa agar dia kuat dan tetap sadar.
Sesampainya di rumah sakit Ezekhiel langsung keluar dari mobil. Zhavia juga sudah keluar dan bertukar dengan Ezekhiel. Ezekhiel yang meraih Zefanya dengan Viena membantu dari dalam. Ezekhiel menggendong Zefanya memasuki rumah sakit. Claudia sudah lebih dulu ke ruang gawat darurat. Zefanya melingkarkan tangannya pada leher Ezekhiel dan menunduk.
"Kita sudah sampai Anya! Tenanglah! Aku akan selalu menemanimu!" Ujar Ezekhiel dengan sangat protektif.
Claudia sudah membukakan pintu ruang gawat darurat dan suster tentu sudah penuh persiapan menyambut Zefanya.
"Istriku mau melahirkan cepat penangananya!" pekik Ezekhiel memasuki ruangan.
__ADS_1
"Baik, anda tunggu di luar tuan,"
"Tidak, aku mau disini, dia masih sadarkan diri! Tolong pliss!" pinta Ezekhiel ingin selalu bersama Zefanya.
"Eze, tetaplah di sini, ahhh!!!" Pinta Zefanya mengulurkan tangannya.
"Lihat, istriku membutuhkanku!"
Akhirnya sang suster mengijinkan Ezkehiel. Mereka memeriksa kandungan Zefanya dan memang benar hendak melahirnya. Air ketubannya sudah pecah. Suster memanggil dokter Lilian . Padahal lokasi Legacy ke pinggiran Summer jauh tetapi pikiran Ezekhiel hanya mengarah kemari.
"Siapkan ruang operasi! Nyonya Zefanya telah kehabisan tenaganya!" Perintah Dokter Lilian.
Zefanya memang sudah tampak lemah dan hampir kehilangan kesadaran kalau suaminya tidak mengajaknya bicara. Dokter Lilian yang menyuruhnya.
"Anya, Anya, aku di sini sayang, kau jangan takut! Sebentar lagi kita akan melihat anak anak kita. Akhirnya sayang penantian kita selama ini terbayarkan. Kau harus bertahan ya? Kita orang pertama yang harus melihat anak anak kita," kata Ezekhiel terus berkata kata di depan wajah istrinya.
"Aku mengantuk Eze,"
"Jangan tertidur dulu, sebentar lagi operasi akan dilakukan. Bersabarlah,"
Dan akhirnya operasi dimulai. Selang selang infus sudah menghiasi tangan Zefanya karena semakin lama Zefanya semakin melemah. Detak jantungnya terdengar sangat kecil dan napasnya tak menentu. Terkadang Zefanya ingin menutup matanya dan tertidur.
"Zefanya, kau harus kuat! Kau harus melihat anak anak kita," pinta Ezekhiel memohon terus menerus.
"Aku mengantuk sayang, tidak bisakah aku tidur sebentar?" kata Zefanya melemah.
Tak lama kemudian terdengar tangis seorang bayi laki laki yang diangkat oleh dokter Lilian. Dokter Lilian memperlihatkan bayi itu dan menunjukan jari telunjuknya. Zefanya melihatnya tersenyum dan menyebut nama Steven. Ezekhiel sudah mengecupi dahi Zefanya. Akhirnya dia memiliki anak. Belum sampai di situ, selang beberapa menit Dokter Lilian kembali menunjukan seorang bayi perempuan dengan tangis yang tak kalah jauh melengking dari kakaknya.
"Sydney juga sudah lahir sayang, terimakasih atas semuanya. Kau yang terbaik. Kini aku merasa, aku telah memiliki keluarga baru dengan kau dan anak anak kita. Terimakasih Zefanya!!!" ucap Ezekhiel mengecupi kening Zefanya.
Zefanya hanya mengangguk dan dia tidak bisa menahan kantuknya. Zefanya pun tertidur tapi seluruh kondisinya menurun. Tekanan darah menurun, detak jantung sangat kecil.
"Zefanya, jangan tidur sayang, bangunlah!! Kau sudah berjuang! Kita harus menikmati semua ini!!!" bisik Ezekhiel walau Zefanya sudah memejamkan matanya.
Ezekhiel tetap menemani Zefanya sampai operasai selesai. Dokter Lilian menghampiri Ezekhiel.
"Nyonya Zefanya hanya butuh istirahat panjang tuan, anda tidak perlu khawatir. Sebaiknya kau melihat anak anakmu untuk di doakan dan diberi berkat biarkan kami membersihkan Nyonya Zefanya dan beristirahat di ruang perawatan," kata dokter Lilian memberikan kepastian pada Ezekhiel dan menenangkannya.
"Zefanya baik baik saja kan dok?" selidik Ezekhiel cemas.
"Ya, dia sudah melewati masa masa perjuangan di mana hanya wanita yang mengetahuinya. Dia sangat lelah. Hanya itu," balas Dokter Lilian tersenyum.
"Baiklah, kalau dia baik baik saja, aku akan menemui anak anakku dulu," saut Ezekhiel.
Ezekhiel pun menuju ke ruang bayi khusus bayi dengan berat badan di bawah normal. Kedua bayi Ezekhiel dan Zefanya sehat namun tetap memiliki berat di bawah normal yaitu sama sama 2.2kg. walau sangat baik dalam ukuran bayi kembar tetapi mereka tetap harus berada di inkubator terlebih dahulu.
__ADS_1
Kebetulan di sana sudah ada keluarga Zefanya. Tampak Dion merangkul istrinya karena hendak melihat cucunya.
"Mom, Dad," panggil Ezekhiel. Semua kelurga melihatnya.
"Tuan Ezekhiel, bagaimana Zefanya? Di mana dia?" Tanya Zhavia lebih dulu menghampiri Ezekhiel. Dia orang paling panik melebihi Claudia, Dion, bahkan Viena sekalipun. Belum pernah Zhavia melihat Zefanya selemah ini meski waktu itu Ezekhiel pernah meninggalkannya.
"Dia baik baik saja, Via. Sebentar lagi akan dibawa ke ruang perawatan," jawab Ezekhiel yang mengerti perasaan saudara kembar istrinya.
"Oh thanks God! Aku panik sekali!"
"Tenang sayang, kita tunggu saja ya?" Saut Patrick yang sejak tadi menenangkan istrinya yang sangat khawatir dengan kembarannya.
"Mom, Dad, ayo ikut aku ke dalam meliht cucu kalian," kata Ezekhiel kemudian pada Viena dan Dion.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam. Kedua bayi itu tampak menggeliat geliat dan sedikit terisak. Namun, ketika Viena meminta menggendongnya mereka si bayi laki laki malah tertidur. Ezekhiel menggendong si bayi perempuan dengan Dion di depan mereka.
"Aku seperti melihat Zefanya dan Zhavia waktu lahir dulu, Viena," gumam Dion memandang istrinya.
"Benar suamiku, mereka sangat merah dan mirip sekali dengan wajah blasteranmu Eze, terimakasih telah memberikan kami cucu yang mengingatkan kami pada si kembar Via dan Anya.
"Sama sama mom, dad. Em, bisakah Kalian memberi nama depan atau tengah untuk anak anak kami?" pinta Ezekhiel yang belum sempat bertanya pada mertuanya.
"Aku sudah memikirkannya jika kau bertanya padaku. Zeuciel dan Zeonya. Ada nama kalian semua di sana," kata Viena tanpa mengalihkan pandangannya pada si bayi laki laki.
"Zeuciel? Zeonya?" Ezekhiel tersenyum lebar hanya ingin mengetahui kepanjangannya.
"Ya, Zeuciel, Zefanya dan Ezekhiel lalu Zeonya, Eze dan Anya. Bagaimana? Kau tahu kan, ibu mertuamu paling ahli merancang sesuatu apalagi merangkai kata, tidak lupa dia siapa kan, sir?" saut Dion sedikit bergurau.
"Yes dad! mantan CEO perusahaan iklan paling fenomenal," balas Ezekhiel bangga.
Dion terkekeh.
"Baiklah, aku sudah memutuskan nama nama anakku dan pasti Zefanya menyutujuinya," kata Ezekhiel kemudian.
Dion dan Viena tersenyum merasa bangga dan bahagia dengan semua ini walau ada rasa sakit dan pilu untuk mendapatkannya.
"Welcome to the world Zeuciel Steven and Zeonya Sydney Dimitri. I love you all now and ever after ..." Ucap Ezekhiel mengecup kening Sydney dan melihat Steven dengan senyum sumringah bercampur sedikit haru.
...
tamat haha belom deng 😁
satu episod ekstra lagi ya di bawah 😊
tetap komen dan like part ini yaa 😇
__ADS_1
thanks for read and i love you 💕💕