Mantan Terindah

Mantan Terindah
MTS2 - DIOR & GRACIA PART 23


__ADS_3

Banyak yang berkata kalau sabar itu adalah hal yang paling sulit dilakukan. Kita terus mengucapkan kata itu namun kenyataannya sangat sulit merasakannya. Kita terus mempelajarinya setiap hari dan melatihnya setiap saat tetapi kita sering mendapatkan kejadian yang menguji kesabaran kita. Bisa mengerjakan ujian tersebut atau tidak. Bisa menanggapinya dengan baik atau tidak.


Sabar itu adalah bagaimana kita menahan diri dan keinginan yang tidak seharusnya terjadi. Mencoba bertahan dalam situasi yang bertolak belakang dengan kita dan tidak mengeluh. Hal ini sulit? Sangat! Meskipun terlihat menerima, namun nyatanya sangat menyayat hati. Ada mereka yang meluapkan lewat tangisan atau mencoba melupakan dengan melakukan kegiatan yang membuat kesibukan.


Tetapi, bagaimana dengan sabar dal perasaan? Ketika perkataan tidak sejalur dengan perasaan yang sesungguhnya. Rasanya agak sesak namun tidak dengan Dior. Meski sakit dia menerima. Dia mencoba menahannya sendiri dan tidak berbagi dengan sesamanya. Yang dia tahu, dia mencintai wanitanya dengan hatinya bukan dengan emosi atau keegoisannya. Kesibukan yang ia dapatkan nyatanya dapat menghalau pikiran negatifnya terhadap wanitanya, Gracia. Dan apa yang ia pertahankan, dia benar benar menahan emosinya berbuah manis. Gracia semakin mencintainya. Gracia tidak merusak kepercayaan Dior akan dirinya. Gracia tidak pernah menanggapi kebaikan Stanley yang juga sempat membuatnya salah tingkah. Gracia selalu tegas pada Stanley dan menghargai perilaku Dior padanya.


Dior sudah menyatakan rasa cemburunya pada Gracia dan Gracia memakluminya. Mulai saat ini, Gracia akan lebih peka terhadap Dior. Dia ingin membalas rasa cinta yang sebenarnya tidak disangka sangka kalau Dior bisa mencintainya sedalam ini.


"Semoga apa yang kuberikan padamu membuatmu juga semakin mencintaiku, Gracie!" Ucap Dior menikmati langit sore di taman taman kecil Hotel Prime. Setelah mengambil hasil akhir semester tahun ini, Gracia mendatangi Dior yang berhalangan menjemputnya. Siang tadi, Dior ada rapat bersama Ezekhiel.


"Pasti kak! Aku semakin mencintaimu. Malah aku merasa, aku yang tidak pantas untukmu." Kata Gracia mengalungkan tangannya di lengan Dior.


"Jangan berkata seperti itu. Aku akan selalu mencintaimu, bahkan kalau suatu saat kau membenciku, aku akan tetap menaruh namamu di hatiku, Gracia!" Saut Dior menoleh ke arah kekasihnya itu.


"Tidak, sepertinya sangat sulit aku membencimu kak." Gracia tersenyum sumringah.


Dior pun memeluk Gracia disaksikan matahari terbenam perlahan lahan. Rasa rasanya matahari yang hangat itu selalu menjadi saksi kalimat cinta mereka sehingga kehangatan selalu menaungi kisah cinta mereka. Ketika rasa dingin menyerang sepertinya tidak ada artinya ketika matahari cinta mereka kembali terbit dan terbenam di saat mereka menyatakan perasaan mereka.


....


Gracia tertidur selama penerbangan ke Springfield. Dia agak lelah karna setelah drama musikal dan pengambilan hasil akhir semester, Morgan sudah memesan tiket ke Springfield dua hari setelahnya. Morgan dan Dior memang sudah berencana di tanggal itu mereka akan pergi. Gracia hanya menuruti karna dia mengikuti jadwal Dior. Gracia juga sudah membatalkan rencana latihan menari bersama teman temannya dalam mengisi waktu liburan. Tentu saja dia lebih memilih bersama Tuan Dior nya bertamasya ke Springfield. Mereka hanya bertiga.


Revo tidak ikut karna agak mengalami flu. Tadinya Zhavia hendak ikut namun pergi ke Japanis bersama Zefanya dan Ezekhiel nampaknya lebih mengasikan karna Zhavia sudah pernah ke Springfield bahkan sering. Gracia sempat sebal akan itu namun Dior mengatakan kalau mereka akan bertandang sebentar ke rumah Leon sehingga mereka akan bertemu dengan Jessie dan Allegra. Jessie anak dari adiknya Leon yang pertama (pasangan Angel dan Jerry). Usianya hanya beda satu tabun dengan Dior. Sedangkan Allegra anak kedua nya. Allegra seumuran dengan Gracia, jadi mereka cukup akrab juga bersama Zhavia dan Zefanya.


Sedangkan Xelino tinggal di sebuah apartemen di perbatasan kota dan desa Springfield. Sesekali dia pulang ke desa untuk melihat perusahaan argo bisnis yang ditugaskan oleh atasannya. Dior dan Morgan akan bertemu di perusahaan argo bisnis pusat yang berada di pusat kota Springfield. Dior sudah berbicara dengan Xelino dan sudah membuat janji. Dior juga sudah menyewa kamar di Atkinson de Angel Motel & Resort. Hal ini memudahkan mereka jika akan pergi ke desa karna letaknya yang ada di perbatasan kota dan desa. Mereka tidak menginap di apartemen Xelino karna tidak besar. Xelino sudah memperingatinya .


"Kalau saja Zhavia ikut, kita pasti boleh menginap di apartemen Xelino, kak." Kata Gracia ketika Dior menjelaskan tempat yang menjadi penginapan mereka.


"Xelino menyukai Zhavia, Dior?" Selidik Morgan . Mereka berbincang bincang setelah landing dari pesawat menunggu koper mereka dari bagasi.


"Sepertinya tapi Zhavia tidak menyukainya, haha!" Jawab Dior terkekeh.


"Ya, adikmu yang satu itu agak menyeramkan ketimbang Zefanya." Gumam Morgan.


"Mereka berdua sama saja kak Morgan, hanya kak Dior yang pendiam." Saut Gracia bergabung dengan pembicaraan mereka.


"Apa, kakak Dior mu bahkan pernah menantangku! Aku kan kakakmu! Dia adik iparku!" Dengus Morgan mengingat sewaktu Dior menghadang Morgan untuk mengambil alih Gracia.


"Meski begitu usia kita tidak jauh berbeda, sir!" Dior tersenyum.


"It's oke! Em Dior, siapa pemilik Atkinson de Angel? Apa masih kerabat paman Leon?" Tanya Morgan kemudian karna sering mendengar nama itu.


"Kau mau tau pemiliknya kak? Dengar baik baik ya? Biar aku yang memberi tahu." Celetuk Gracia sudah tersenyum senyum.


"Siapa?"


Dior juga sudah tersenyum senyum.


"Paman Jerremiah Atkinson, ayahnya Allegra Yerika Atkinson, HAHAHAHAHAA!!!" Jawab Gracia sangat senang. Dia memang berniat menjodohkan kakak sepupunya itu dengan Allegra. Gadis yang lincah, punya segudang keceriaan walau agak sedikit pemarah dan sulit mengendalikan emosi (seperti ibunya).


"Ah kau serius Dior? Kita akan menginap di sana? Bagaimana kalau kita bertemu dengan si gadis singa itu?!" Morgan sedikit melebarkan matanya.


"Ya, kau akan di terkam kak!." Gracia terkekeh .


"Kita cari hotel lain saja Dior!!" Pinta Morgan. Dia malas sekali jika dihadapkan dengan gadis yang bisa memarah marahinya di depan Banyak orang. Pasalnya Pammy jarang sekali memarahi Morgan.


"Tenang saja, Allegra ada di desa menemui ibu, kakak dan ayahnya. Lagi pula motel itu sudah memiliki manager manager nya tersendiri, Morgan. Aunty Angel lebih ingin di desa." Kata Dior tersenyum. Dior agak serasi dengan Morgan yang tidak begitu suka bergurau melainkan lebih ke arah serius. Jadi sangat sulit ditemui jika ber adu gurauan dengan Dior karna mungkin hanya sesekali.


"Selamat!!" Morgan menghela napas


"Kau takut sekali atau merindukannya kak?" Gracia masih belum puas menggoda kakaknya itu.


"Terus saja kau menggodaku! Dior, jangan salahkan aku jika dia bersamaku, aku akan meninggalkannya!" Ancam Morgan sebal.


"Aku tidak akan bersamamu, aku akan bersama kak Dior terus ,haha!" Gracia mengalungkan tangannya ke lengan Dior dan menyandarkan kepalanya di pundak kekasihnya itu.


"Cih! Sekarang kau sudah bisa bersilat lidah!" Decak Morgan dan mengambil koper nya yang sudah turun dari bagasi


Dior terkekeh berpandangan dengan Gracia.


"Kau usil sekali sayang!" Dior mencubit hidung Gracia dan Gracia tersenyum kecil.


...


Mereka pun tiba di Atkinson de Angel Motel and Resort. Dior sudah menyewa 2 kamar.


"Morgan, kau mau sekamar denganku atau mau kamar sendiri? Kalau mau kamar sendiri biar aku memasankannya lagi." Kata Dior yang hanya memegang dua kartu kunci.


"Untuk apa? Aku kamar sendiri, kau bersama Gracia lah!" Celetuk Morgan santai.


"Hah?" Dior agak terkejut dengan ijin kakak iparnya itu.


"Kau jangan kaku Dior! Kau pun sudah pernah bermalam dengannya kan?! Sudah sana kalian berdua satu kamar saja. Aku mengijinkan! Oke, sini kamar ku!" Morgan menarik kunci kartunya untuk menuju ke kamarnya. Sedangkan Gracia di samping Dior menunduk malu. Dia jadi mengingat kejadian waktu ulang tahunnya. Dior merasa tenang dengan semua yang terjadi dan menghormati dirinya. Padahal Gracia tidak masalah jika pada akhirnya Dior menginginkannya.


Dior menoleh ke arah Gracia yang canggung dan gugup. Dia tersenyum dan sedikit menghela napas.


"Aku tidak masalah jika harus tidur dengan gadis cantik ini! Ayo Gracie!" Dior menggandeng tangan Gracia menuju ke kamar mereka. Gracia pun hanya bisa tersenyum malu menerima ajakan kekasihnya.

__ADS_1


Mereka sudah memasuki kamar mereka. Kamarnya tidak terlalu Basar namun sangat rapi dan homie. Jerry dan Angel memang merancang ruangan ini agar merasa seperti rumah sendiri. Dengan dinding berwarna putih dan terdapat teras di dekat tempat tidur yang menampilkan taman yang begitu asri. Ruangan tanpa sekat ini menjadi semuanya tampak mudah jika hendak ke dapur dan menyantap makan juga berkumpul dengan keluarga. Terdapat sofa panjang untuk dua sampai tiga orang dan di depannya ada televisi LCD berukuran kecil.


"Wah, kamarnya cukup sejuk kak! Tanpa pendingin ruangan juga pasti akan nyaman." Kata Gracia membuka tirai jendela di samping tempat tidur yang meng akses langsung ke teras.


"Ya kau benar Gracie! Bersihkan dirimu dan kembali beristirahat. Em, kalau kau keberatan tidur denganku, kau bisa tidur di tempat tidur itu dan aku di sofa saja Gracie." Kata Dior meletakan koper koper mereka di samping tempat tidur.


Gracia lalu berbalik menatap Dior. Dia mengernyitkan dahinya sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan kekasihnya itu.


"Kau tidak ingin tidur denganku kak?" Tanya Gracia menatap Dior dengan raut wajah bersedih.


"Hah? Bukan begitu Gracie, aku takut kau memang tidak ingin tidur bersamaku." Jawab Dior datar.


"Hem, terserahmu saja kak! Aku akan membersihkan diriku." Balas Gracia sedikit kecewa dengan sikap Dior yang kurang tegas namun Dior terpaksa melakukan ini. Dia hanya ingin menghormati Gracia dan membuat kekasihnya itu menikmati malam pertama yang sesungguhnya.


Dior pun menghela napas. Mungkin dia bisa hanya berbaring bersama Gracia nanti. Selang lima belas menit, Gracia selesai membersihkan dirinya. Dia mengenakan gaun tidur di atas lutut berbahan saten berwarna peach tentu dengan jubahnya. Dior menatapnya cukup takjub dengan Gracia yang semakin cantik dengan balutan kain berbahan licin nan mengkilap itu. Gracia yang sedang mengeringkan rambutnya juga melihat Dior yang terus memandangnya.


"Kak? Ada apa? Mengapa kau melihatku seperti itu? Ada yang salah denganku?" Selidik Gracia mendapatkan wajah kekasihnya yang tampak menegang.


"Ah tidak Gracie, kau hanya terlihat manis dengan gaun tidur itu." Dior menggelengkan kepalanya di dekan meja makan.


"Aku suka mengenakan ini ketika tidur kak. Kau suka?" Gracia tersipu tapi juga ingin mengetahui respon kekasihnya.


"Em, semoga hanya aku yang bisa melihatnya." Gumam Dior menundukan kepalanya mempersiapkan alat makan malam mereka. Dior sudah memesankan makanan untuk mereka.


Gracia tersenyum mendengar penuturan spontan itu. Dia pun menghampiri kekasihnya


"Gracia, aku sudah memesan makanan kesukaanmu, makanlah dulu." Kata Dior mempersilahkan Gracia duduk dan menyantap makanannya.


"Kau tidak membersihkan diri kak?" Tanya Gracia basa basi.


"Ya setelah makan." Jawab Dior fokus dengan makanannya. Wajahnya sudah memerah karna penampilan Gracia yang menguji dirinya.


"Kak Morgan tidak makan bersama kak?" Tanya Gracia lagi memecah kecanggungan.


"Dia keluar mencari udara segar, melihat lihat kota Springfield." jawab Dior sesuai apa yang dipesankan Morgan.


"Kenapa tidak mengajak kita?" selidik Gracia memain mainkan sumpitnya.


"Entahlah, biarkan saja. Kau tidak ingin berduaan bersamaku?" Kata Dior melirik menggoda Gracia. Gracia mengangguk tersipu malu. Wajahnya agak memerah dan memikirkan tubuh Dior ketika nanti keluar setelah membersihkan diri.


Setelah makan malam selesai, Dior bergegas membersihkan dirinya. Gracia menonton televisi karna belum terlalu mengantuk. Selang lima belas menit, Dior bergabung di samping Gracia dengan sweater putih dan celana bahannya. Gracia menoleh dan merasakan aura ketampanan kekasihnya yang semakin nyata. Lagi lagi entah mengapa rasa gugup dan canggung itu muncul lagi dari dalam diri Gracia. Padahal mereka sudah berciuman dan berpelukan. Bahkan selalu bergandeng tangan dan Gracia pun sudah pernah menghampiri Dior ke kamarnya.


Dior merasakan kecanggungan ini dan menarik tubuh Gracia untuk masuk ke dalam rangkulannya.


"Kau suka menonton film gracie?" tanya Dior.


"Kau ingin menonton apa? Film horor? Atau komedi? Atau romance?" tanya Dior lagi meraih remot tv di atas meja kecil di depan mereka duduk.


"Romance!"


"Oke ..walau aku tidak begitu menyukainya, baiklah.." Dior pun memasang sebuah video yang terdaftar pada tayangan TV kabel tersebut. Entah apa judulnya, Dior asal menekan saja.


Sebuah film cinta klasik dari sebuah kerajaan. Gracia sudah mulai takjub dengan alur awal cerita. Sementara lama kelamaan, Dior tampak bosan dan dia agak mengantuk. Setengah film berlangsung, Dior tertidur di pundak Gracia ketika bersamaan adegan berciuman. Gracia tersentak karna dia pikir Dior gendam menciumnya. Dia menghela napas ketika dia melihat kekasihnya ternyata tertidur. Gracia masih menatapnya. Gracia tersenyum. Dia sangat beruntung memiliki kekasih yang sangat tampan seperti Dior. Tidak ada yang kebetulan, semua terjadi begitu saja. Gracia mengelus perlahan pipi Dior lalu menyapukan bibir kekasihnya itu. Tubuh Gracia berdesir. Mungkin masa pubertas nya yang semakin meningkat mengingat usianya sudah menginjak dua puluh satu tahun.


Tak berapa lama ia tersadar, dia hendak menarik tangannya namun Dior menahannya. Nyatanya sejak tadi, Dior merasakan tangan halus Gracia.


"Gracie, apa kau tidak takut jika aku merasakan dirimu?" Tanya Dior masih memejamkan matanya dan memegang tangan Gracia. Kepalanya masih bersandar di pundak Gracia. Entah jawaban spontan atau keinginan dalam diri, Gracia mengangguk tegas. Dior lalu membuka matanya dan menoleh menatap Gracia. Dia meraih wajah Gracia dan akhirnya mencium bibir Gracia. Awalnya agak lembut dan menghayati. Gracia sampai memejamkan matanya. Namun semuanya berubah menjadi lumatann yang cukup menggairahkan sampai terdengar decak saliva mereka. Menautkan indera perasa mereka dan menikmatinya. Dior sedikit mendorong tubuh Gracia sehingga Gracia tertidur di sofa dan Dior berada di atasnya. Dior menarik diri dan memperhatikan wajah Gracia yang tampak pasrah. Dior tersenyum sementara Gracia masih malu membuka matanya.


"Aku mengantuk Gracie, bisakah kita tidur?" Itulah yang akhirnya dikatakan Dior lagi. Gracia membuka matanya. Sepertinya Dior tidak akan melakukan apa apa padanya. Ada perasaan sedikit lega tapi juga tak senang.


Gracia akhirnya mengangguk dan dia sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Dior selanjutnya. Dior beranjak lalu menggendong Gracia ala bridal style. Dior kembali meraih bibirnya. Mereka kembali berciuman sambil Dior terus berjalan ke tempat tidur. Dior lalu merebahkan Gracia dengan sangat lembut dan dia ikut berbaring di sampingnya. Dior menarik tubuh Gracia untuk masuk dalam pelukannya dan dia memejamkan matanya tertidur. Gracia masih sangat terkejut dengan semua perlakuan Dior yang sederhana namun mampu membuat hatinya tak karuan. Dia sedikit mendongak dan melihat di sana Dior sudah terlelap. Gracia tersenyum, dia sudah senang bisa menerima perlakuan romantis singkat ini. Gracia juga mencoba tertidur sambil memegang dada Dior. Bagian tubuh kekasihnya yang ia sukai.


Keesokan paginya, Morgan mengetuk pintu kamar Dior dan Gracia. Waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi. Gracia yang mendengarnya terlebih dahulu berusaha memindahkan tangan Dior yang posisinya sudah memeluknya dari belakang. Gracia perlahan melakukannya agar Dior tidak terbangun namun ketukan kakak sepupunya lagi akhirnya membuat kekasihnya setengah sadar.


"Siapa Gracie? Kenakan bajumu lagi, jangan seperti itu!" Kata Dior masih ingat kalau kekasihnya masih mengenakan gaun tidur tipis itu.


"Ya kak, aku akan mengenakan sweater ku, sepertinya kak Morgan. Aku akan membukakannya." kata Gracia segera mengenakan sweater dan membuka pintu.


Gracia pun membuka pintu kamarnya.


"Gracia, mana Dior? Ayo kita ke permandian air hangat? Fasilitas baru yang harus dicoba." ajak Morgan yang sudah membawa handuk.


Gracia mengangguk setuju. Dia lalu menyuruh Morgan untuk menunggu di dalam selagi dia membangunkan Dior. Ketika Dior sudah bangun dan Gracia hendak mengganti pakaian, ponsel Gracia berbunyi. Stanley yang menghubungi.


"Halo Stan! Bagaimana kabarmu?" Gracia cukup bersemangat mengangkat panggilannya karna merasa Stanley akan menyampaikan kabar gembira.


Dior mengerutkan dahinya agak tak suka tapi dia diam saja dan menuju ke dapur mengambil air. Morgan sedikit memperhatikan kalau sepertinya Dior cemburu namun tidak mempermasalahkan.


"Oh begitu? Tidak apa apa, tunggu saja. Turnamen itu akan terus berlanjut kan? -- baiklah, bersemangatlah, kabari aku jika sudah membawa piala -- ya ,aku akan menyampaikannya -- oke baiklah, bye .." Gracia menutup panggilan dan mencari kekasih nya tetapi dia malah mendengar Dior masuk ke dalam kamar mandi dengan sedikit membanting pintunya. Gracia cukup terkejut.


"Ada apa dengannya kak?" Bisik Gracia pada Morgan yang sudah tersenyum kecut.


"Ada apa kak? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Gracia benar benar tak sadar.


"Untuk apa kau mengangkat panggilan pria dengan sangat bersemangat dan wajahmu berseri seri?!" Decak Morgan yang memiliki tingkat kecemburuan yang cukup akut.


"Hah, itu Stanley kak. Kak Dior juga mengenalnya." saut Gracia polos.

__ADS_1


" Tapi dia pria yang menyukaimu kan?" Morgan sedikit tahu dari Revo.


"Iya, tapi Stanley bahkan menitip salam untuk kak Dior, kak." Gracia masih mempertahankan statement nya kalau dirinya hanya berteman.


"Ah, kau masih belum mengerti perasaan pria, Gracie! Kau urus dulu kekasihmu, aku akan menunggu di kolam." Decak Morgan yang agak sulit membicarakan urusan cinta dengan adiknya yang terkadang masih sangat polos.


Tak lama Dior keluar dengan sudah membawa handuk.


"Di mana Morgan?" tanya Dior berusaha menormalkan wajahnya.


"Kak, apa kau cemburu Stanley menghubungiku?" Gracia langsung bertanya dengan tatapan menuduh.


"Sedikit, lupakan saja! Di mana Morgan, Gracie?" Dior terus mengalihkan.


Gracia lalu menarik tangan Dior. Dia lalu memeluk kekasihnya itu.


"Kak, jangan begini, aku hanya mencintaimu, percayalah." kata Gracia pelan dan lembut.


"Iya Gracia, tenang saja!" Kata Dior menarik diri. Dia tidak mau membahas terlalu panjang karna akan ada kesalah pahaman yang berkepanjangan. Dia lalu mengecup kening Gracia dan melangkah keluar. Gracia menghela napas dan mengikuti Dior menuju ke permandian air hangat.


Gracia harus berpisah dengan Dior dan Morgan karna pria dan wanita harus memisahkan diri. Di dalam permandian air panas, Gracia berpikir apa yang salah dengan dirinya sehingga dia tidak begitu peka dengan Dior. Padahal Gracia tidak pernah meminta macam macam pada kekasihnya itu. Hem, Gracia malah berpikir dirinya yang agak agresif pada nya. Tapi, selama ini Gracia belum pernah melihat Dior dekat dengan wanita mana pun. Gracia jadi bingung sendiri. Gracia memutuskan menyelesaikan berendam nya lebih awal. Dia mengenakan dress terusan percis di atas lutut dengan bagian leher sabrina yang memperlihatkan pundak Gracia yang mulus dan bersih.


Ketika dia hendak berbelok ke kamarnya ada dua orang pria yang hendak bertanya sesuatu dengannya. Tapi karna penjelasan yang panjang membuat Gracia dan kedua pria tersebut akhirnya bercaka cakap. Tak lama kemudian, Dior datang bersama Morgan. Mereka juga sudah menyelesaikan berendam nya dan berpikir kalau Gracia sudah kembali. Ketika Dior dan Morgan melihat itu, salah satu pria ada yang hendak memegang pundak Gracia karna melihat ada binatang kecil di sana.


"Don't touch her!" Bentak Morgan. Morgan hendak menghampiri namun Dior menahannya.


"Kembalilah ke kamar mu, aku yang akan membawa Gracia ke kamar." kata Dior pada Morgan.


"Baiklah Dior. Hey kalian pergi sana!" Kata Morgan lagi sebelum pergi. Dior lalu menghampiri mereka. Gracia agak takut karna tatapan Dior sama ketika Dior melihat dirinya menari pertama kali dengan Stanley. Datar, tajam dan menusuk.


"Sedang apa kalian?" tanya Dior sedikit memancarkan aura dinginnya.


"Kami hanya bertanya, em gadis ini juga tampan manis dan friendly." jawab seorang pria yang terkesan dengan wajah lugu Gracia.


"Hey, sudah ayo kita pergi! Sepertinya dia kekasihnya!" bisik temannya yang merasakan ketajaman tatapan Dior yang membuatnya sedikit ngeri.


"Ya, tatapan nya menyeramkan sekali! Baiklah terimakasih Grace ya!"


"Sudah ayo!"


Kedua pria itu akhirnya pergi dan Dior masih menatap Gracia bahkan menghampirinya lebih dekat lagi.


"Kak? Mereka hanya menanyakan tempat padaku!" Gracia mencoba menjelaskan apa yang terjadi.


Dior masih terdiam dan terus menatap Gracia, bahkan dia sedikit melirik dari bawah dan terus menjalar ke bagian atas. Gracia memang begitu manis, cantik dan tubuhnya sangat terawat.


Sementara Gracia yang tampak cemas malah berpikir Dior akan memarahinya atau akan mengata ngatainya.


"Kak? Kenapa kau memandangku seperti itu? Apa, apa, .." Gracia hendak menangis dan dadanya cukup sesak.


"Apa kau menganggapku gadis tidak benar ya? Seperti aku menari dengan Stanley, di situ kau sudah mengira aku wanita gampangan yang senang dipegang pegang oleh pria ya? Begitu ya?! Kenapa kau berpikir seperti itu kak?" tanya Gracia agak sensitif dan dengan nada yang cukup memekakan telinga.


Dior tampak bingung. Tidak ada sedikitpun pikirannya yang menganggap Gracia seperti itu. Dior mengernyitkan dahinya.


"Sudahlah, kau hanya bisa diam! Terserah apa yang kau pikirkan!" Decak Gracia lagi sedikit kecewa dan memasuki kamarnya.


...


...


...


...


...


Lah neng, dirimu ngapa? Harusnya Dior yang marah marah ngapa jadi situ 😂😂


Sabar Dior, kan seumuran Ade lau 😁😁


.


Next part 24


Disinilah semua terealisasi haha


Apaan vii?


Entah, stay tune aja 😊😊


.


Jangan lupa LIKE DAN KOMEN nyaa karna akan menambah semangat penulis untuk trus UP haha


Jangan lupa juga kasih RATE DAN VOTE di depan profil novel ya😍😍


.

__ADS_1


Thanks for read n i love youu 💕


__ADS_2