
Tepat pukul 10 malam Dior dan Gracia pulang dengan wajah yang sungguh bahagia. Ayahnya Gracia masih di rumah Dior berbincang bincang bersama Viena dan Dion dengan wajahnya yang agak lelah karna memikirkan pamannya.
"Selamat malam. Kami pulang." Sapa Dior memberi salam kepada kedua orang tuanya dan juga Revo. Kedua saudara kembarnya mungkin sudah tidur dan keluarga paman Leon nya sudah kembali ke rumah mereka. Xelino pasti ikut bersama ayah dan ibunya.
"Selamat malam Dior. Wah kalian tampak senang sekali." Saut Viena.
Dior yang merangkul Gracia membungkukan tubuhnya memberi hormat pada orang tua mereka. Begitu juga dengan Gracia yang mengikutinya. Mereka berdua lalu ikut bergabung di sofa ruang tamu itu. Revo dan Gracia saling berpandangan. Revo tersenyum tipis dan Gracia merasa kalau ayahnya sedang menanggung sebuah beban yang sangat ia ketahui. Gracia sedikit berbisik pada Dior dan Dior mengangguk. Dia hanya ingin duduk di samping ayahnya.
"Ada apa dad?" Bisik Gracia dan ayahnya hanya menggeleng tersenyum.
"Gracia, apa kau lelah? Kau ingin tidur bersama Zhavia atau Zefanya?" Tanya Viena kemudian. Revo lalu melirik tajam Viena. Viena dan Dion merasakan lirikan tidak enak itu.
"Viena, bukannya aku tidak menghargai kecemasanmu terhadap Gracia, tapi memang kami harus kembali ke rumah Marcel terlebih dahulu.
"Ada apa dad? Mengapa kau menjadi sensitif begini?
"Em, Gracia, daddy mu hanya mengkhawatirkan paman Marcel mu. Kalian bisa pergi tapi biarkan Dior mengantar kalian." Sela Dion yang merasakan benar benar kecemasan istrinya terhadap anak semata wayang Greta itu.
"Oh iya aku mengerti! Baiklah, ayo kita kembali dad. Kau jangan takut, aku akan selalu menemanimu. Kau masih memiliki ku dad, kau jangan takut! Aku ingin sekarang kita berdua bersatu. Tidak boleh berbeda pendapat. Ayo, kita harus tegas terhadap Paman Marcel. Dia tidak bisa selalu mengintimidasimu terus Dad!" Kata Gracia dengan penuh ketegasan. Dia benar benar sudah bosan dengan kata kata dendam yang selalu pamannya itu ungkapkan. Sementara dia dengan sabar menuruti semua keinginan pamannya. Namun, mengapa sekarang dirinya ingin sebuah kebahagiaan cinta, pamannya tidak bisa memberikannya padanya?
Revo menatap anaknya. Dia meraih tangannya dan menggenggam nya erat. Revo tersenyum sedikit lega dan memiliki kekuatan untuk menghadapi Marcel.
"Aku merasa mommy mu selalu bersamaku sekarang Gracie. Karna dirimu. Terimakasih
"Kita harus bersatu dad! Tuhan dan Mommy beserta kita! Ayo kita kembali!" Tutur Gracia dan sudah mulai berdiri.
"Ayo paman! Biarkan aku yang mengantar kalian." Kata Dior juga berdiri.
"Baiklah."
Revo pun pergi setelah mengucapkan terimakasih dan salam pada Viena dan Dion. Viena masih dengan wajah sedih menuju ke kamar bersama suaminya. Dion merasakan sedikit penyesalan dalam hati istrinya.
"Viena, jangan bersedih, Dior pasti bisa menyelesaikannya. Kau tahu bagaimana kepintaran dan kebesaran hatinya? Dia pasti bisa mempengaruhi hati Marcel, sehingga Marcel memberikan restu hubungannya dengan keponakannya itu .
"Ya sayang." Saut Viena masih menunduk
"Tenanglah." Kata Dion lagi merangkul dan mengelus lengan istrinya.
Viena terus berdoa di dalam hatinya semoga tidak akan terjadi badai besar pada keluarganya, khususnya hubungan anak tertuanya dengan peninggalan berharga sahabatnya.
...
Mereka bertiga sudah sampai di depan rumah Marcel. Hari sudah sangat malam. Revo dan anaknya saling berpandangan.
"Dior, pulanglah, kami akan menyelesaikannya. Kau sudah mau menjaga Gracia nanti, untuk urusan ini, biar aku saja dan Gracia dulu yang menyelesaikannya.
"Biarkan aku menunggu paman. Sampai kalian masuk ke dalam rumah, aku akan kembali
__ADS_1
"Baiklah." Kata Revo mengalah dan dia menuju ke pintu rumah sementara Gracia masih meminta ijin pada kekasihnya..
"Kak, doakan aku!" Kata Gracia mengulurkan tangannya ke dalam mobil dan Dior memegangnya.
"Ya, kau pasti bisa Gracia, hubungi aku jika kau sudah di tempat tidur ya?" Tanggap Dior menggenggam lebih erat tangan mungil itu. Gracia mengangguk dan menarik tangannya. Dia pun menyusul ayahnya.
Revo menarik napas sebelum membunyikan bel rumah tingkat dua itu. Bel pertama tidak ada jawaban. Begitu juga dengan bel kedua dan ketiga. Revo sudah menunduk. Revo merasa Marcel memang tidak ingin menerimanya. Gracia juga merasa seperti itu karna mereka pasti mendengar. Pasalnya kamar Marcel dan Pammy berada di bawah sedangkan Morgan, anak Marcel dan Pammy ada di atas.
Revo sudah menundukan kepalanya. Sehina ini kah dirinya di hadapan sepupunya. Padahal selama ini pun dia setia dan berusaha menuruti apa kemauan sepupunya. Mengapa ego dan emosinya tidak bisa dikesampingkan dulu dan menghargai dirinya. Setidaknya merasa duka cita atas kepergian istrinya.
"Dad, mungkin mereka sangat lelah sehingga tidak mendengar bel yang kita bunyikan. Kita mencari hotel di sekitar sini saja bagaimana?" Kata Gracia mencoba membuat ayahnya tenang. Revo menoleh ke arah Gracia. Dia memegang wajah anaknya. Dia mengangguk dan tersenyum. Percis sekali seperti Greta. Dia ataupun anaknya itu tidak pernah memaksakan kehendak mereka untuk melawan Marcel. Melainkan terus mengerti dan mengerti. Revo jadi sangat merindukan istrinya itu. Istrinya, Greta selalu memberikan hal positif padanya. Betapa dia sungguh kehilangan, namun anaknya sudah cukup untuk menggantikan kerinduannya.
Dior melihat semuanya. Dia melihat calon istri dan mertuanya terdiam di luar sana. Dia pun turun dari mobil. Dia mendekati pasangan ayah dan anak itu.
"Paman, sudahlah, besok saja kita kesini lagi. Mari ku antar ke Hotel Prime. Kalian bisa beristirahat di sana kalau kalian merasa tidak enak pada kedua orang tuaku. Aku akan merahasiakannya. Lalu besok pagi kita segera kemari lagi. Lagipula dad dan Paman Leon tidak akan ke Hotel. Mari paman?" Kata Dior yang sangat sama pemikirannya dengan Gracia. Dior mengulurkan tangannya pada Gracia dan mereka bergandengan tangan menuju mobilnya.
Revo pun menyetujuinya karna tidak ada pilihan lain. Revo pun menyusul pasangan sejoli itu.
Sementara itu di dalam rumah Marcel, Morgan yang baru pulang dari kantor dan sudah mendengar semua cerita dari ibunya mendengar suara bel itu. Namun ayahnya melarangnya keras. Morgan tidak bisa melawan ayahnya. Dia pun duduk di anak tangga menyesali semua ini. Dia pun belum bisa berbicara pada ayahnya. Mungkin dia harus mencari waktu untuk membantu adik sepupunya yang sangat ia sayangi itu.
~Maafkan aku Gracia, untuk saat ini aku belum bisa membantumu. Semoga Dior menjagamu dengan baik.~ pekik Morgan dalam hati ketika mendengar lagi suara bel yang Gracia atau Revo nyalakan.
Paginya Dior pun sudah bergegas kembali menjemput Revo dan Gracia. Dia merasa juga ambil bagian untuk menyelesaikan masalah ini.
Kali ini mereka yakin akan diterima masuk ke dalam rumah itu, namun Revo meminta Gracia dan Dior menunggu di luar. Biarkan Revo dulu yang berbicara baik baik pada sepupunya yang keras kepala itu. Pammy yang melihat Gracia sudah memeluknya. Dia senang kalau keponakan kesayangannya itu tampak segar dan tetap bahagia di tengah kesedihannya atas meninggalnya ibunya. Pammy sangat paham, siapa yang membawa semua perubahan ini.
"Kau mau minum sesuatu Revo?" Tanya Pammy.
Revo menggeleng.
"Cepat bicara! Aku harus pergi ke Indian menemani Morgan membeli bahan baku produksi." Kata Marcel ketus.
"Simple! Sekitar dua atau tiga minggu lagi, Gracia akan bertunangan dengan Dior. Ini sudah menjadi keputusan! Kau harus menerimanya!" Kata Revo tanpa menatap mata sepupunya.
Marcel terbatuk dan wajahnya menegang. Hatinya sakit karna merasa di khianati.
"Revo! Kau ini gila atau apa hah? Kau mau menikahkan Gracia dengan Dior? Kau lupa apa yang ayahnya si Prime busuk itu lakukan terhadapku terhadapmu yang tidak mau membantu kita! Kita mengharapkan dia! Kita sudah bersahabat! Mengapa dia tidak mau membantu kita?! Kau berpikir dong!!!" Bantah Marcel ketika Revo mengatakan akan mengadakan pertunangan Dior dan Gracia minggu minggu ini.
"Aku hanya menuruti keinginan terakhir Greta!" Kata Revo duduk di sofa dan menundukan kepalanya.
"Terus saja kau menuruti wanita itu!"
"Marcel! Greta sudah meninggal!" Pammy mengingatkan.
"Cih, entah kemana hatimu sekarang, Marcel! Bahkan kau tidak ikut bersedih ketika aku mengatakan kalau istriku, satu satunya keluargaku, satu satunya wanita yang teramat mencintaiku setelah ibuku setelah ayahmu, sudah pergi SELAMANYA! Lama lama kau seperti binatang!" Revo berdecih dan beranjak dari duduknya. Dia kecewa dengan sepupunya.
"Untuk apa aku bersedih? Dia meninggal karna penyakitnya! Hah, kuberitahu padamu Revo! Kesalahan terbesarmu adalah dikenalkan Viena oleh Greta, mendekatinya, menjadikan Greta kekasih dan menikahinya, itu adalah kesalahan terbesarmu di dunia ini!"
__ADS_1
"PAMAN! KAU BENAR BENAR KETERLALUAN!" Gracia menyeruak masuk ke ruang kerja Marcel yang sejak tadi memang menunggu di luar bersama Dior.
"Kau ini saudaraku atau bukan hah?!" Revo dengan amarah atas perkataan Marcel mendekati Marcel.
"Jangan Revo, aku mohon, tenanglah! Maafkan Marcel!" Pammy menahan Revo yang hendak memukul Marcel.
"Paman, tenanglah!" Dior menarik lengan Revo.
"Paman, aku benar benar kecewa denganmu! Aku akan tetap bersama kak Dior, dengan atau tidak dengan restumu! Aku benci padamu! Mommy ku sudah meninggal, kau benar benar tidak menghargai perjuanganku dan daddy ku untuk selalu bersamamu! Aku selalu menghormatimu sama seperti daddy ku karna siapa? Kuberitahu padamu paman, mommy ku tahu kau sangat sangat membencinya, tapi sedikitpun mommy ku malah menyuruhku menghormatimu dan tidak boleh membantah perkataanmu tapi ini yang kau katakan pada daddy ku! Kau tahu, berarti sama saja kau tidak menginginkan aku di dunia ini!!! Kau jahat! Bibi Pammy, aku pergi dari rumah ini!!" Gracia sungguh kecewa pada Marcel. Dia berbalik dan meninggalkan ruang kerja itu dan menuju keluar.
"Hah, kalian semua sudah hebat! Kalian melupakan pengorbananku untuk membiayai kami semua! Karna siapa? Karna ucapan licik keluarga Prime kan?! Khususnya kau Dior Prime! Kau memang hebat! Sejak dulu kau dan ayahmu tidak ada bedanya!" Teriak Marcel menjadi jadi.
"Cukup! Kau jangan lagi menjelek jelekan calon menantuku!" Ucap Revo tajam.
"Sudah paman, ayo kita pergi dari sini, tidak ada gunanya berbicara dengan seorang yang terhormat namun hatinya keras melebihi sebuah batu karang!" Dior mengajak Revo untuk keluar dari rumah Marcel. Marcel semakin geram dan marah mendengar ucapan Dior yang sungguh mengatainya.
Revo akhirnya mengikuti Dior keluar ruang kerja Marcel.
"Ingat Revo! Aku tidak akan mengulanginya! Aku tidak akan menganggapmu satu satunya keluarga ku jika kau mengirimiku undangan pernikahan Dior dan Gracia!" Ancam Marcel sedikit ada guratan ketakutan mengatakan hal ini karna sepertinya Revo tidak akan mengindahkan perkataannya.
"Itu sudah menjadi urusanku!" Ucap Revo sedikit menoleh dan kembali berjalan bersama Dior.
...
...
...
...
...
Hahaha! Aku uda mau nangis n kezeeell sama Marcell, pasti ada beberapa yang samaan ni, uda kmaren juga kesel sama penyanyi ini, eh salah bukan penyanyi dia wakakak 😝😝
.
Next part 3 yukk ..
Apakah Marcel akan terus mengeraskan hatinya?
Apa yang akan dilakukan Morgan tampan? Eh Morgan Andez maksudnya haha 😍😍
.
Jangan lupa LIKE KOMEN VOTE RATE pkoknya sesuatu yang mendukung aku, aku suka sangaat!!! Love you pokoknya!!
..
__ADS_1
Thanks for read laf you somuch 💕