
Sebelum masuk ke ruang introgasi, terlebih dahulu Bima memberikan pelukan untuk menenangkan wanita cantik ini. Tak lupa, ia juga memberikan kecupan di kening Vita. Tentu saja, itu adalah bentuk cintanya untuk sang pemilik hati. Untuk memberi wanita itu kekuatan. Keberanian dan kepercayaan ini, bahwa dia tidak sendiri.
"Ingat kata, Mas. Jangan jawab pertanyaan yang sekiranya hanya memancing dan mengarah untuk menjerumuskanmu, mengerti!" ucap Bima mengingatkan.
"Oke," jawab Vita lembut. Lalu ia pun menyerahkan tas tangannya kepada sang suami.
"Ingat ya, Yang. Poin terpenting dalam kasus ini adalah bahwa tanda tangan yang tertera di file kedua, itu bukan asli tanda tangan almarhum Luis kan?" ucap Bima mengingatkan.
"Vita yakin, Mas!"
"Bagus, pokoknya yang harus kamu inget, apapun yang terjadi, Mas, akan selalu bersamamu. Mengerti?" Bima menarik pinggang sang istri dan kembali memberikan pelukan.
"Makasih, Mas. Makasih udah percaya sama Vita. Udah mau mencoba memahami Vita. Pokoknya terima kasih buat segalanya," ucap wanita cantik ini.
"Apapun yang aku lakukan untukmu, belum sebanding dengan maaf yang udah kamu kasih ke Mas, Honey. Jika diingat, ucapan Mas begitu sering menusuk hatimu. Tapi hatimu begitu besar mau melupakan dan memaafkan. Bukankah seharusnya aku yang harus lebih banyak bersyukur?" balas Bima.
"Jika Vita boleh meminta, Vita mohon... tetaplah seperti ini, jangan berubah lagi," pinta wanita cantik ini.
"Aku mencintaimu, Istriku. Insya Allah, Mas, akan jaga segalanya untukmu. Agar jangan sampai kita saling menyakiti, seperti di awal kita nikah." Bima tersenyum, begitupun Vita.
Tegang, sudah pasti. Bima sangat tahu kualitas seorang Vita. Wanita itu kelewat lugu. Kadang-kadang mudah ditipu. Bima takut jika sifat lambat pintar wanita itu akan keluar. Sebab wanita biasanya akan lugu dan oon ketika ketakutan.
__ADS_1
Bima melepas Vita dengan sedikit ketegangan. Rasanya tak rela melihat sangat istri masuk ke ruang interogasi itu sendiri.
"Sabar, Bro. Vita pasti bisa nglewatin ini," ucap Juan menguatkan.
"Semoga, Bang. Aku sih percaya, hanya saja tadi dia kurang percaya diri," jawab Bima jujur.
"Ya, kita harus bisa memaklumi. Di depan kamu sama di hadapan pria lain kan beda, Bro. Tenang aja. Kalau sama kamu ya wajar dia oon, orang ada rasa rikuh, ada rasa nggak enak, ditambah ada rasa malu. Jadi ngeblank. Tapi kalo profesional begini, pasti lain lah," jawab Juan.
"Semoga, Bang. Ngomong-ngomong, terima kasih, Bang. Udah mau belain istriku. Bang Re, makasih banyak. Zein, thank you," ucap Bima.
"Nggak masalah, kami harus tahu, kami bertiga ini, biarpun hubungan kami pernah berada di titik di mana kami merasa muak dengan satu sama lain. Tapi kami juga tidak rela, kalo salah satu dari kami menderita. Apa lagi perihal keluarga, itu adalah harga mati buat kamu, bener kan Jun, Re!" ucap Zein, ikhlas.
"Ya, Zein bener, Pak Bim. Kami bertiga memang seperti itu. Dan kami berharap, anak cucu kami bisa menjaga hubungan ini," jawab Rehan.
"Wahhh, kan saya nggak enak. Bapak kan suami bos saya," jawab Rehan, masih menjaga sikap.
"Nggaklah... kita sama. Lagian Vita kan juga udah nganggep abang, kakak dia sendiri," jawab Bima.
"Okelah kalo begitu. Sebaiknya kita memang berteman!"
Mereka berempat pun saling melempar senyum.
__ADS_1
***
Di lain pihak, Randika langsung meninggalkan tempat di mana ia dan Clara melakukan ijab qobul mereka.
Hatinya terpukul hebat. Apa lagi ia sempat melihat air mata wanita yang ia cintai itu jatuh menetes tepat setelah ia mengikrarkan ijab qobul nya untuk Clara.
Sebenarnya Randika ragu tentang kebenaran, apakah calon bayi yang kini di kandung Clara itu, sebenarnya bayinya atau bukan. Tetapi ia pun tak punya bukti untuk membuktikan itu sekarang.
Tepat di persimpangan jalan, ia melihat seorang wanita yang sedang berjalan seorang diri. Sedang menangis. Ya, Randika tahu, jika wanita itu sedang menangis.
Randika menghentikan laju mobilnya. Tanpa basa-basi, ia pun langsung memeluk wanita yang ia buat terluka itu.
"Nad, sorry," ucap Randika.
"Untuk apa?" jawab Nadia, terdengar lirih. Namun, Randika sangat tahu, jika pertanyaan itu mewakili kekecewaan sekaligus rasa sakit yang kini sedang dirasakan oleh wanita cantik ini.
"Maafkan aku, Sayang. Aku janji, aku bakal cari tahu kebenaran tentang bayi itu. Tolong beri aku waktu, Sayang!" Pinta Randika memohon.
"Untuk apa? untuk apa? Aku membencimu! Kamu jahat padaku, Ka. Kamu jahat!" teriak Nadia marah.
Randika tidak menyalahkan ledakan emosi yang di rasakan oleh seorang Nadia. Itu adalah ekpresi wajar untuk seseorang yang dilanda kekecewaan. Namun, Randika tak mau putus asa. Ia berjanji akan membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
__ADS_1
Sayangnya Nadia tidak peduli. Baginya penghianat tetaplah penghianat.
Bersambung...