Mantan Terindah

Mantan Terindah
Rengekan Gani


__ADS_3

Nadia membaca baris demi baris pesan teks milik Gani bersama ibunya. Gadis cantik ini jadi merinding sendiri.


Pantas saja Gani jadi gusar begini. Ternyata mereka jago ngegas dan ngancam. Alhasil anaknya jadi labil bin aneh.


Kasihan kamu Gan, Gan... Semoga Tuhan memberimu jodoh terbaik.


"Piye? Gelem ora? (gimana? mau tidak?)" tanya Gani.


"Gelem nyapo lo? Dehhhh... arek ini mancing perkoro? (mau ngapain? Dih anak ini nyari masalah?)" Nadia melirik kesal.


"Ora ngono lo, Nad. Iki ibu karo ayahku otewe mrene. Terus aku mesti ngomong piye jal? Ahhh, wis mbuh lah, aku manut," ucap Gani gusar. (Bukan begitu, Nad. Ini mama sama papaku lagi perjalanan ke sini. Terus aku mesti ngomong sama mereka apa. Aahh, nggak tahu lah. Aku ikut aja lah)


Sepertinya Nadia masih belum menyadari bahaya yang mengancamnya. Kedatangan kedua orang tua Gani ke tempat ini, bukankah sama dengan menjebaknya.


Namun, Nadia benar-benar tidak berpikir sampai sana. Bahkan dia masih santai dan mencoba memberikan nasihanat untuk Gani dengan bijak.


"GIni aja Gan, jangan di buat susah, kamu kan banyak temen cewek di kantor. Tinggal kamu pilih aja to. Yang menurutmu paling baik!" ucap Nadia.


Gani menatap Nadia, lalu ia pun menjawab, "Nad, kamu kayak nggak tahu aku aja. Aku kan anti sosial. Kecuali urusan kerja. Teman pria saja bisa dihitung jari, apa lagi temen cewek, yang deket yang cuma kamu doang," ucap Gani, jujur.


"Pokoknya, sekarang gini aja, Gan. Kamu selesaiin urusan kamu. Nanti masalah orang tuamu, aku coba bantu ngomong. Siapa tahu mereka mau ngertiin kamu. Mau memahami kamu. Biar nggak dipaksa nikah dalam waktu dekat ini," ucap Nadia.

__ADS_1


Gani menatap Nadia. Ingin percaya. Namun, ia juga berharap bahwa gadis yang ada di depannya ini mau menjadi istrinya.


"Ahhh, pokoknya aku nggak mau tahu lah. Nanti kalo ibu sama ayahku mau aku nikah di hari itu juga, maunya, aku nikahnya sama kamu. Terserah kamu mau apa nggak. Pokoknya sama kamu. Itu aja, titik. Dah lah! makin lama debat sama kamu makin nggak nemu-nemu jalan keluarnya, " ucap Gani, enggan berdebat dengan gadis yang mulai menjengkelkan baginya.


"Kok jadi aku diikut-ikutin. Ini kan masalah kamu sama calon istrimu, sama ibu ayahmu, gimana sih? Aneh dah!" Nadia ikutan kesal.


"Kenapa sih pada nggak bisa santai? Pada nggak bisa ngertiin aku. Baru juga patah hati, masak dipaksa suruh kawin. Ya Tuhan!" Gani menekuk kakinya dan menyembunyikan wajahnya di antara sela-sela kakinya tersebut.


"Itu karena mereka khawatir sama kamu, Gan. Mereka takut kamu nggak bisa move on dari mbak mantan. Makanya suruh buru-buru nikah. Mungkin, mereka mikir dengan kamu menikah, kamu bisa melupakan dia," jawab Nadia santai.


"Tapi nggak secepet itu juga kali, Nad."


"Ya, mungkin mereka eman, udah bayar WO, catering mahal-mahal. Masak nggak jadi acaranya."


"Ya Allah ya Tuhanku. Mengapa Engkau mengizinkanku bertemu dengan pemuda model aneh gini. Gini lo, Gan. Ini bukan urusan elunya bagaimana? Tapi ... yang namanya menikah itu, butuh mental yang kuat. Harus ada dasar cinta. Biar pondasi kuat, kokoh, tahan banting. Menikah itu nggak asal kek gini, Gani. Ya Allah ya karim. Coba aku tanya, kamu ngebet banget ngajakin aku nikah, emang kamu cinta sama aku?" cecar Nadia.


"Nggak! Tapi aku sayang!" jawab Gani jujur.


"Nah makanya. Kamu cuma sayang sama aku sebagai sahabat kan. Bukan sayang seorang cowok pada ceweknya. Buka ketertarikan seorang pria pada wanita. Iya Kan. Kan aneh kalo kamu tiba-tiba ngajakin aku nikah, tapi kamu nggak cinta. Lagian aku kan bukan kriteria kamu, Gan. Kamu kan suka yang cantik, manis, ceria, yang punya dada berisi, gemoy, semohay, bohay. Pokoknya yang cantik hakiki lah. Sedangkan aku, jelek, item, kerempeng, dada rata, iya kan. Ini pun kamu yang bilang semalam. Jadi gimana tu, masak mau punya istri kek begitu. Emang nggak malu kalo ajak cewek ke kondangan, yang digandeng ceweknya model begini. Aneh kamu ni Gan, Gan!" Nadia melirik Gani, aneh.


"Aku nggak peduli, yang penting mulai sekarang, kamu pacarku, calon istriku. Nanti kalo ibu sama ayahku datang, aku bilang aja, udah punya pengganti Mariska. Nggak usah repot nyariin jodoh. Titik," ucap Gani santai.

__ADS_1


Nadia tak menjawab. Namun juga tidak peduli. Baginya Gani sedang konslet. Tidak perlu jadi folowers-nya.


Unfriend aja Nad, unfriend, ... Nadia tersenyum sendiri membayangkan kekocakan Gani. Ternyata pria yang memiliki karisma berwibawa bisa oleng juga karena cinta.


Gani.. Gani.. kamu kok menggemaskan banget kalo oon. Emang bener kata orang, kalo cinta bisa mengubah segalanya. Sabar ya, Gan... Mungkin belum waktunya kamu ketemu jodoh.


Nadia tersenyum sambil menahan tawa.


"Ojo guyu! (jangan tertawa!)" Gani memperingatkan.


"Ora lo ora, (Nggak lo nggak), santai bos, santai. Belanda masih jauh." Nadia terkekeh.


"Siapa bilang Belanda dekat," gerutu Gani kesal.


Nadia kembali melirik Gani. Ternyata Gani memang sangat kocak jika galau.


Masih belum menyadari bahaya yang mengancam, Nadia kembali bersiap, mengemas alat make up dan juga skin care miliknya.


Nadia tak mau ambil pusing dengan kegalauan Gani. Sebab baginya, apapun yang Gani katakan bukan dari hati, melainkan emosi sesaat.


Semuanya akan segera berubah, ketika dia, si Gani, mendapatkan tambatan hatinya yang sesungguhnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2