
Enggan menghiraukan rengekan Gani, Nadia pun meraih ponselnya dan menghubungi sangat adik yang hendak menjemputnya.
Tak ayal, Gani pun protes.
"Kok malah telpon adikmu sih, Nad? Kan kita mau ketemu sama ibuku!"
"Dihhh... siapa yang mau ketemu sama ibumu, orang aku mau pulang sih!" jawab Nadia. Ingin menghindar, tak mau terjebak ke dalam masalah yang kini dihadapi Gani dengan kedua orang tuanya.
"Ya nggak bisa gitu dong, Nad. Kamu jadi temen nggak asik, Nad. Katanya mau bantu aku ngejelasin ke mereka. Gimana sih?"
"Emang harus sekarang?"
"Nggak Nad, tunggu lebaran semut." Gani cemberut, kesal.
Nadia tersenyum menahan tawa.
"Iya, nanti aku bantu ngomong sama ibumu. Ojo nesu to yo (jangan marah), Santai, santai... " Nadia tersenyum.
"Ogak ono sing lucu, ra sah nguyu (Nggak ada yang lucu, nggak usah ketawa)," larang Gani.
"Iyo lo, Iyo... sensitif men to, Abang Gani Zeyenk. Abang lagi PMS ya?" canda Nadia.
"Opo meneh kui ? (apa lagi itu?)" tanya Gani.
"Tamu istimewa, Gan? Nggak tahu juga?" Nadia mencebikkan bibirnya.
"Ah, mboh lah... " Gani melirik kesal.
"Hahahaha, Adek kok nesunan. Was mending kita keluar, kita tunggu ibu sama ayamu di lobi. Kalo di kamar gini, takutnya kita disangkanya habis ngapa-ngapain, iya kan?" ajak Nadia.
__ADS_1
"Oke! marilah," balas Gani.
Sayangnya sebelum mereka melangkah meninggalkan kamar hotel ini, pintu di ketuk sangat keras. Seseorang yang ada di depan pintu tersebut juga terdengar berteriak marah.
Gani dan Nadia saling menatap. Bingung plus salah tingkah, sebab tak menutup kemungkinan, tamu yang datang membawa amarah.
"Siapa itu, Gan?" tanya Nadia takut.
"Nggak tahu, Nad. Tapi kalo ibu sama ayahku, kenapa gedornya kek nggak ada aturan gitu?" Gani ikutan gugup.
"Sebaiknya kamu buka, Gan. Nggak usah takut, toh kita nggak nglakuin apapun?" jawab Nadia.
"Kamu benar, Nad. Kita kan nggak melakukan apapun. Ngapain takut!" Gani langsung bersemangat. Sebab ia merasa tidak melakukan apapun dengan Nadia. Pasti mereka bisa melewati ini.
Gani berjalan melangkah mendekati pintu itu. Tanpa aba-aba, ia pun langsung membuka pintu kamar itu.
Betapa terkejutnya, Gani. Mariska datang membawa keluarganya ibu dan ayahnya. Ada juga ibu dan ayah Gani.
"Wanita ****** apa? kamu jangan fitnah ya?" balas Gani tak terima.
Tanpa meminta izin Mariska langsung menerobos masuk dan menghampiri Nadia.
Nadia yang saat itu belum siap, apa lagi dalam keadaan kaki yang masih sakit, tentu saja sangat shock, terkejut, apa lagi Mariska langsung menampar dan mendorong Nadia, hingga gadis itu tersungkur.
"Aaggghhh... " pekik Nadia kesakitan.
"Mariska! Apa-apaan kamu?" Gani langsung berlari dan memeluk Nadia yang saat itu hampir diinjak oleh Mariska.
"Minggir Gani, pelakor ****** ini harus menerima akibatnya. Karena dia telah berani menggoda calon suami wanita lain?! " teriak Mariska emosi.
__ADS_1
"Dia bukan pelakor, aku dan dia nggak ada hubungan apapun. Jangan memutar balikkan fakta kamu!" balas Gani emosi. Masih setia memeluk Nadia dan melindungi gadis tersebut.
"Bukan pelakor kamu bilang, ha? Kalian sekamar. Kita nggak buta, Gani. Cewek sama cowok sekamar, nggak ngapa-ngapain, bukankah itu bullshit." Mariska menatap Gani berani.
"Kami nggak serendah itu. Asal kamu tahu itu!" balas Gani.
"Kamu pikir, kami percaya gitu. Sekarang aku tanya, ngapain semakan mutusin aku. Minta pernikahan kita dibatalkan. Apa maksudnya ha? Kalo bukan karena pelakor murahan ini? Apa Gani?" serang Mariska lagi, gadis ini juga bersiap menyerang Nadia.
"Jangan sentuh dia, brengsek!" teriak Gani, sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah Mariska. Pertanda amarahnya telah sampai di puncak.
Mata Gani memerah, rahangnya mengeras. Gani benar-benar marah, bahkan Mariska pun langsung memundurkan langkah, sebab dia takut.
"Gani tenang, Nak, tenang!" pinta ayah pemuda tampan ini.
"Gimana Gani bisa tenang, Yah. Wanita ular ini yang penghianat. Lalu hanya karena melihat aku bersama gadis lain di hotel, seenaknya saja dia memutar balikkan fakta. Asal kalian semua tahu ya, Nadia bukan gadis seperti itu. Kami dekat, karena akulah yang menyebabkan kaki gadis ini terluka. Kedekatan kami hanya sebatas abang dan adik. Tapi jika kamu menuduh aku dan dia ada apa-apa, baik... akan ku jadikan kenyataan tuduhanmu itu, dan sebaiknya kamu bersiap menjadi tamu undangan di pernikahan kami nanti." Gani semakin erat memeluk Nadia. Sedangkan Nadia masih menyembunyikan wajahnya di dada pria yang saat ini sedang berusaha melindunginya dari serangan Mariska.
"Tu kan, Bu, Yah.... dia yang berselingkuh, bukan Mariska! Riska cuma happy fun sama temen-temen, kenapa dia sewot. Kenapa dia langsung nuduh Rizka yang selingkuh? Ini nggak adil, Yah!" ucap Mariska, masih bersikeras memutar balikkan fakta.
"Eh, kamu jangan sok polos ya! Apa yang aku ucapkan adalah benar. Aku nggak asal ngomong. Aku memiliki banyak bukti soal semua kebohonganmu dan sekarang, aku sudah muak. Aku nggak akan pernah lagi termakan rayuan mulut berbisamu itu. Terserah ayah sama ibuku mau percaya siapa. Pilih percaya sama aku atau percaya sama wanita murahan ini. Yang jelas, aku nggak akan pernah nikah sama wanita ular ini!" ucap Gani, seraya mengambil ancang-ancang untuk membopong Nadia dan membawa gadis ini keluar dari kamar menjengkelkan ini.
Tak ayal, semua pun terdiam mematung. Tak menyangka, bahwa Gani bisa setegas ini. Tak percaya, bahwa Gani bisa semarah ini.
Kedua orang tua Gani mengikuti pemuda itu dari belakang. Mencoba menghadang Gani. Hendak meminta penjelasan dari pemuda itu. Tetapi sayang, Gani sama sekali tidak ingin mendengarkan mereka.
Ia terus saja melangkah. Melangkah meninggalkan hotel ini, untuk kembali membawa Nadia tempat yang aman dari serangan siapa pun.
Bukan hanya itu, Gani juga berniat membawa gadis yang ada di dalam gendongannya ini ke rumah sakit. Tentu saja untuk memeriksa kembali kaki Nadia akibat serangan dari Mariska.
Bersambung...
__ADS_1
hay hay sayangku semuanya.. thank yang udah ngikuti kisah Mas Gani n Mbak Nad, Yes... jangan lupa kepoin kecerdikkan Revania dalam menyelamatkan dan memperjuangkan hak sang suami, dalam My Wife My Angel😘😘😘ditunggu krisan nya di sana🥰🥰🥰