
"Victor, please... jangan lakukan itu. Dia itu adikmu. Adik iparmu. Dia nggak tahu apa-apa. Aku mohon!" pinta seorang wanita yang selama ini dekat dengan pria itu.
"Siapa kamu berani melarangku?" tantang Victor.
"Aku memang bukan siapa-siapa mu, sekarang. Tapi aku peduli sama kamu, Vic. Aku kenal kamu. Kamu bukanlah pria seperti ini. Ini bukan Victor yang aku kenal. Ingat Vic, ibumu adalah wanita baik hati. Dia tak pernah membalas orang-orang yang pernah menyakitinya. Lalu kenapa kamu seperti ini. Aku yakin, jika mommy-mu masih ada, dia pasti akan malu memiliki anak jahat dan keras kepala sepertimu!" ucap wanita itu kesal.
"Jangan bawa-bawa mommy-ku. Aku seperti ini karena ingin membalas perbuatan jahat mereka pada mommy, aku benci mereka semua. Mereka harus merasakan apa yang mommy dan aku rasakan," balas Victor tak mau kalah.
"Vic, siapa yang mau kamu balas? Adik ipar mu? mau jangan ngarang, dia nggak tahu apa-apa itu?"
"Ahhh, kamu juga nggak tahu apa-apa, sebaiknya kamu pergi!" usir Victor, marah.
"Oh, oke. Aku akan pergi, tapi jangan menyesal. Sebagai mantan istri, aku hanya ingin ayah dari anakku menjadi baik. Agar idola putraku ini menjadi pria tidak membuatnya kecewa. Aku hanya ingin, putra kita bangga memiliki ayah sepertimu. Tapi aku salah Vic, kamu sama saja. Tidak berubah. Dah lah, terserah mu!" ucap wanita itu seraya beranjak dari tempat duduknya.
Victor yang pada dasarnya memiliki sifat keras kepala, sama sekali tak mempan dengan bujukan wanita itu. Terlebih dia, si wanita itu hanyalah mantan istri baginya. Bukan siapa-siapa dan tak akn menjadi siapa-siapa.
Namun, ketika matanya menatap kepergian sang mantan istri, tak sengaja, mata Victor menangkap seseorang bocah laki-laki. Bocah itu sedang duduk di ruang tunggu. Menatapnya dengan tatapan rindu. Victor bisa merasakan itu. Sebab hatinya bergetar.
Tegang, Victor langsung menurunkan kakinya, menegakkan tubuhnya. Seakan membuat ancang-ancang untuk berlari ke arah bocah yang menatapnya penuh kerinduan.
Victor adalah manusia biasa, seburuk-buruknya kepribadiannya, jika di hadapkan dengan yang namanya anak, siapa yang kuat. Siapa yang tidak luluh.
Di detik berikutnya, mata Victor kembali melihat sang putra sedang digendong oleh sang mantan istri, masih menatapnya. Melihatnya dengan mata nanar. Seakan menyampaikan kerinduan yang mendalam padanya, tetapi tak mampu menyalurkannya. Bukankah itu sangat menyakitkan untuk anak itu. Bahkan untuknya, hati Victor serasan ikut merasakan rasa sakit putra semata wayangnya itu.
__ADS_1
Bocah tampan itu terus menatapnya dari gendongan sang bunda. Victor tak kuat. Hingga ia pun meneteskan air mata untuk pertama kalinya. Sebab hatinya tergugah melihat tatapan memelas bocah tampan yang ia tinggalkan sejak masih berusia dua tahun itu.
Kini, usia bocah itu sudah mau empat tahun. Berarti dia sudah tak memedulikan bocah itu selama hampir dua tahun.
Di mana hati nuranimu, Vic. Kamu pernah di posisi putramu, itu sangat sakit, bukan? Lalu kenapa kamu menyakiti putramu tanpa mengingat bahwa apa yang kamu lakukan adalah jahat. Apa bedanya kamu dengan papamu jika begini. Benar kata Maharani, kamu memang pria jahat. Maafkan daddy, sayang!
Semenit berlalu, mantan istri dan juga anak semata wayangnya tidak terlihat lagi Tapi tatapan bocah itu seakan membuat jiwanya terguncang. Nasehat demi nasehat yang mantan istrinya berikan seakan mulai bisa merasuk ke dalam aliran darahnya. Sehingga membuat Victor berpikir untuk menggantikan aksi balas dendamnya ini. Fokus menjalani hukuman agar bisa bebas dan bisa menjaga putra semata wayangnya sendiri.
***
Di sisi lain...
Bima merasakan sesuatu yang lain. Ia merasa setiap langkahnya ada yang mengawasi. Entah itu musuh atau orang yang ingin melindunginya.
"Maafkan mas, sayang. Kamu pasti sekarang sedang kebingungan. Mas juga nggak tahu, kirain ditugasin di rumah sakit besar. Ehhh, ternyata malah di pedalaman." Bima tersenyum sendiri.
Bima masih belum mencurigai apa pun. Dia masih menjalankan pekerjaannya seperti biasa. Kegundahannya hanya satu, tidak bisa menghubungi sang istri.
Padahal, jika dia tahu, saat ini ada beberapa pasang mata yang bersiap mencelakainya. Beberapa pasang mata itu ternyata bukan hanya suruhan Victor. Tetapi suruhan orang-orang yang selama ini hanya memanfaatkan pria itu.
"Pak Dokter, maaf, ada yang mencari anda?" ucap seorang pria berbadan tegap, seperti salah satu anggota yang bertugas bersamamu.
"Siapa ya? apakah pasien? " tanya Bima, berasa aneh. Sebab di sini ia tidak mengenal siapapun.
__ADS_1
"Kami kurang tahu, Pak. Tapi sepertinya bukan pasien."
"Oke, terima kasih!" jawab Bima. Kemudian ia pun beranjak dari tempat duduknya.
Betapa terkejutnya dia karena yang mencarinya adalah Gani dan beberapa orang yang mengawalnya. Tak ayal, Bima pun bertanya-tanya. Bukankah ini aneh.
"Gani kan?" tanya Bina seraya mengulurkan tangan, mengajak pria itu untuk berjabat tangan.
"Yap, Pak. Ini saya," jawab Gani.
"Ada apa?"
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa menyampaikan kabar yang saya bawa ini di sini. Tetapi sebaiknya anda harus segera pergi dari sini!" jawab Gani, seraya mempersilakan Bima untuk ikut bersamanya.
"Ada apa sih?" Bima masih berusaha meminta penjelasan dari Gani.
"Silakan ke mobil dulu, nanti akan kami jelaskan, Pak!" ucap salah satu ajudan yang mengawal Gani.
"Oh oke, tapi sebentar aku rapikan dulu barang-barang ku!"
Mereka semua mengangguk, menyetujui permintaan Bima. Namun begitu, mereka tetap waspada sebab banyaknya mata-mata yang mengincar pria yang kini sedang menjadi target seseorang itu, sangat banyak. Hingga jujur, mereka yang hanya berlima, sangsi bisa melawan mereka.
Bersambung...
__ADS_1