
"Rubi ayo makan sayang, dua hari ini kamu belum makan." Rubi seakan stres dan belum bisa menerima kenyataan ini ia begitu saja selalu murung dan mengunci kamarnya ketika sudah pulang sekolah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.
"Rubi gak lapar kok mah. Taruh aja." Senyumnya dengan miring.
"Kamu kepikiran sama apa?" Ia mencoba untuk memancing yang padahal ia sangat tau banget kalau misalnya Rubi seperti ini ya karna Rubi masih belum bisa menerima yang kemarin.
"Kamu semangat dong, mana Rubi anak mama yang mama kenal? Mama doain semoga kamu bisa dapatin apa yang kamu mau ya nak? Kalau gitu mama turun dulu jangan lupa dimakan." Rubi mengangguk ia sekilas melihat makanan diatas meja yang masih belum ia sentuh.
Tepat dimalam itu, ketika menyuapkan kue kepada Chiko matanya melirik kearah Rival disamping itu ada Franda ia seakan menciptakan sesuatu yang baik-baik saja. Kali ini ia tumpahkan kesedihan mengingat moment dulu yang sangat indah hingga sulit untuk dilupakan.
Flashback On
Ia sudah menunggu Rival yang tak kunjung datang mengecek jam tangan yang melingkar di tangan kiri. Biasanya Rival adalah cowok yang sangat tepat waktu, apalagi ketika moment mereka. Hari sudah mulai mendung dan matahari juga mulai tenggelam hanya warna jingga kekuning-kuningan yang terlihat nyata tepat didepan Rubi ia takut kalau Rival lupa, atau ada hal yang membuatnya tidak datang. Rubi mencoba untuk menghubungi Rival dan tampaknya tak ada reaksi sama sekali. Ia mulai lelah dan merasa kecewa ia ambil kembali tulisan kecil disamping kiri.
"Loh kenapa kucel kayak gitu?" Mendengar hal itu membuat Rubi memalingkan kepalanya, suara itu tampak tak asing.
Senyuman yang khas terlihat dari garis wajah Rubi yang berubah seketika. "Kenapa?"
"Jangan sedih? Maaf ya?"
"Ih jahat banget, aku hampir khawatir loh. Kamu lama amat sih aku kirain udah lupa sama aku. Sebel deh."
"Hahaha enggak lah, enggak pasti lupa aku sengaja bikin kamu kesal dulu biar akhirnya manis. Coba kita kesana yuk. Kayaknya sunsetnya keren juga." Rubi mengangguk dan tidak sabar.
"Jangan lupa, buat langgeng ya. Semoga kita sama-sama bareng terus."
"Karna matahari aja datang disaat moment indah tepatnya sore hari, dimana semua orang mengharapkan datang kembali. Jangan tanya cuma sebentar karna yang lama bakalan bosan tapi beda sama hubungan kita jangan tanya lama karna yang sebentar itu gak cukup."
"Karna Rivaldo." Lanjutnya yang mendadak puitis.
"Hahaha gombalnya keterlaluan."
"Biar kamunya gak lupa. Seneng gak? Foto dulu yuk biar jadi moment."
Flashback off
Foto yang terpampang indah diatas meja seakan langsung ia ambil dan ia robek begitu saja tak ada lagi kata yang indah, moment yang indah percuma gitu. "Mana janji kamu, mana janji kamu? Bohong banget."
...•••...
Kebetulan banget kalau misalnya Chiko duduk sedang memainkan ponselnya dan diapit oleh kedua temannya. "Chik, gue boleh duduk disini?" Chiko mengangguk paham dan ia hanya diam. "Ya udah, kalau gitu kita cabut dulu ya chik." Ucap kedua sahabatnya.
"Gue mau bantu buat Rubi balik sama Rival." Seakan magnet apa yang memalingkan kepala Chiko kewajahnya berubah begitu saja.
"Se---- serius? Gimana caranya?"
"Lo tenang aja, semua akan balik seperti semula." Sahut Franda dengan gugup apalagi ketika perasaannya belum yakin kalau ini akan berhasil melibatkan beberapa orang untuk menjadi alat dirinya.
"Serius fran? Makasih banget ya lo udah baik sama gue." Chiko begitu kegirangan akhirnya Franda mau membantu agar Rival dan Rubi bersatu. Tapi tatapannya itu loh yang membuat Franda sedikit canggung apalagi ketika tangan Chiko menyentuh bahu Franda dengan pekat sekali.
"Eh sorry, gue seneng aja akhirnya Rubi bisa balik lagi. Tapi lo jangan bilang ini ke Rival kalau gue yang nyuruh ya?"
"Iya, semua akan baik-baik aja."
Keakraban semakin membuat orang yang melihat seakan menafsirkan aneh apalagi kalau orang yang baru melihat Franda dan Chiko pasti dalam pikiran mereka kalau mereka berdua berpacaran, lagi pedekate atau temen rasa pacar. "Eh, bentar itu Chiko sama Franda pacaran ya?"
"Gue juga gak tau, tapi bagus sih kalau mereka deket kan Rival dengan mudah gue deketin." Lusi tersenyum licik dan berharap akan menjadi kisah selanjutnya.
__ADS_1
"Emang Rival mau?"
"Eh, ngomong apa lo?" Ketus Lusi. Untung aja Rival gak denger.
"Rival?" Panggil orang yang berdiri didepan kelas dia merupakan adik kelas Rival.
"Nih buat kakak, aku udah buatin."
"Apa?"
"Eeem, makanan. Dimakan ya kak. Jangan lupa buat folback ya."
"Em, makasih." Ya begitulah yang membuat Rival sering hemat uang karna ada saja yang memberinya makanan.
...•••...
Malam harinya jam tujuh malam Franda masih ragu untuk memainkan ponselnya untuk menghubungi Rival terlebih dahulu apalagi Rival merupakan cowok yang rada jutek. Tapi kalau mereka gak dekat maka gak bisa buat masuk nyuruh Rival untuk deket sama Rubi.
"Hai, val. Udah ngerjain tugas?" Seagresif itu Franda? Bukan Franda yang biasanya ia lebih memberanikan diri untuk dekat dengan Rival bakan chat duluan.
^^^"Ya, kenapa? Tumben lo chat gue?" Masih dengan keketusan Rival yang tak kunjung berubah.^^^
"Enggak kok, enggak papa cuma nanya doang."
^^^"Oh, gitu. Entar lo gue jemput ke lomba kak Roy."^^^
"Iya pasti."
Chat yang sebentar banget, yang membuat Rival sedikit merasa aneh dengan sikap Franda yang lebih terbuka dan mencoba untuk akrab. Ia merebahkan kepalanya dan tersenyum menyilangkan tangan dibawah kepala.
"Kok makin hari gue deket aja ya sama Franda. Gila, tuh cewek bikin gue penasaran aja."
"Loh kok gue jadi kepikiran sama Franda?"
Rival menatap dua ikan hias kecil diatas meja kedua pasang betina dan jantan yang mondar-mandir begitu membuat pikiran tenang dan menghilangkan stres. "Coba aja kalau gue jadi ikan hias pasti gue gak mikir gini. Loh kok gue jadi ngelantur gini?" Lalu ia memejamkan kedua matanya dan mematikan lampu tempat tidur.
...•••...
"Coba liat deh Rival kayaknya seneng gitu?"
"Bener kan kata gue." Dari awal Albert sudah menduga kalau Rival dan Franda akan menyatu dan hanya waktu yang menyatukan mereka berdua. Tarikan senyum terlihat sekali dari rahang Albert, sebagai sepupu ia sangat tau siapa karakter Rival yang tersembunyi.
Rudy menyenderkan kepalanya ke tembok menyilangkan kaki dan tangan diatas dada memperhatikan Rival dan Franda lagi ngobrol diluar kelas. "Modus tuh Rival, Franda bisa suka juga ya sama Rival. Gue kita bakalan takut sama sikap Ervan yang kayak gitu."
"Trus lo kapan? Gaya lo doang playboy sampai sekarang masih jomblo iye ken?"
"Apaan sih lo, lo tuh A-L-A-Y hahaha." Rival pun senyam-senyum sendiri lebih tepatnya kayak orang lagi kasmaran.
"Ah jadi melo gini kalian, kalian cowok bukan sih?" Rudy sudah berdiri dan mengambil bola untuk memulai permainan futsal. Ia melempar bola kearah Rival dan tersenyum nakal karna ia yakin Rival akn terkejut.
Brukkk....
"Ah lo mah gitu."
Sontak mereka langsung tertawa. "Hahaha."
Permainan futsal seakan permainan yang sudah jarang sekali mereka lakukan apalagi dikala seperti ini. Tiba-tiba saja Rival terlentang ketika menyepak bola dengan begitu spontan kakinya begitu keram dan sakit. "Kok kaki gue kok tiba-tiba keram sih?"
__ADS_1
"Eeeeh, val lo kenapa? Mungkin kita gak pemanasan kali ya bert kita harus ngapain nih?"
"Ya udah bawa Rival ke bangku panjang mungkin aja dia keram kan udah lama gak main lagi jug kalian langsung main kenceng."
"Aw sakit woy, kok keram gini sih? Gimana sih guys."
"Ya udah lo ambilin air mineral aja kali ya."
"Nih." Rival meneguknya.
"Makanya val kita tadi seharusnya pemanasan dulu."
"Gue juga gak tau kenapa kaki gue keram, gue kira biasa aja kan soalnya juga biasa kan? Aw sakit banget ini sumpah."
"Val, Telfon lo nyala tuh." Suara getaran dan lampu yang menyala dari ponsel Rival yang ada dikantung celananya.
"Franda?" Ia langsung saja mematikan ponselnya karna takut dikecengin. Kan udah beberapa hari ini mereka sering chatting gitu.
"Siapa val?"
"Gue juga gak tau sih. Mungkin aja fans gue."
"Hahaha kocak lo val dikala kaki lo lagi keram bisa aja lo ngelucu."
...•••...
"Loh kaki lo kenapa?"
"Gak papa kok cuma keram aja kemarin main futsal."
"Hah serius?"
"Udah deh gak usah lebay lo tadi habis makan pete ya?"
"Eh, iya sorry." Lusi langsung menutup mulutnya dengan cepat karna aroma yang begitu menyengat.
Dari kejauhan Franda melihat Rival ia ingin menjalankan misinya tapi masih ragu karna ada Lusi disampingnya.
"Eh, fran." Teriak Rival. Apakah bisa sekontak ini?
"Eh,. Kok bisa manggil." Langkah kaki yang semakin menghampiri.
"Gimana tugas les udah kan?"
"Hah les?" Sejak kapan les? Perasaan gak ada. Pikir Franda.
Rival menarik langsung tangan Franda dengan aneh. "Ya udah kita duluan ya lus."
Pantas saja kalau Lusi heran dengan sikap Rival kali ini. Bisa-bisanya mereka sedekat ini.
"Les apaan sih val?"
"Gak usah diingat lagi. Gue cuma pengen jauh dari Lusi."
"Oh, gitu. Tapi btw jadi kan yang soal lomba kakak lo?"
"Iya pasti, besok gue jemput. Ajak Cerry sekalian ya. Soalnya dia kan suka tuh sama kak Roy." Franda mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Oke, kalau gitu gue duluan ya." Rival mengangguk dengan kedua tangan didalam kantung celana. Langkah Franda perlahan semakin jauh dan Rival tersenyum tipis. Entah kenapa setiap dekat terasa nyaman, dan apalagi jauh terasa aneh. "Apa itu yang namanya jatuh cinta yang tersembunyi?"