
Hadiah terindah tidak harus dibungkus dengan kertas kado yang berkilau dan cantik. Begitu juga dengan kehidupan yang berakhir indah tidak harus dengan jalan yang lurus, malahan dengan melewati beberapa masalah dan tantangan, hasil yang di dapat akan jauh lebih berharga dan indah. Ezekhiel dan Zefanya sudah sampai taraf berjuang yang keterlaluan. Mereka berharap kalau doa yang mereka panjatkan akan menjadi kenyataan. Selama mereka memiliki waktu dan tenaga untuk bernapas, mereka akan melakukan apapun untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Tidak peduli jika gagal dan gagal lagi, mereka yakin Tuhan akan memberi keindahan melebihi apapun.
...
Zefanya dan Ezekhiel telah menaiki pesawat menuju ke Nederland. Zefanya sudah membicarakan semuanya pada ibunya. Ibunya tentu sangat mengerti dengan apa yang akan dilakukan anak dan menantunya. Untuk sementara perusahaan iklannya diurus oleh Rosie dan Vegra juga di bantu oleh Lexa. Viena harus membantu Amy menjag Darren karena Gracia semakin sibuk dengan sekolah tarinya.
Sementara perusahaan Ezekhiel tentu dipegang ahli oleh Theo dan Carlos. Namun, Ezekhiel meminta tolong Dior untuk memantau sesekali. Mereka berencana akan tinggal satu bulan di Nederland. Mereka akan tinggal di apartemen kecil juga milik Dimitri Group. Mereka tidak mencemaskan akan tempat tinggal, yang Ezekhiel khawatirkan lebih ke makanan Zefanya yang memiliki Alegri dengan makanan berlemak tinggi. Ezekhiel harus bisa mengingatkan dan menjaga istrinya dengan baik.
Penerbangan ke Nederland membutuhkan waktu 10 jam dengan satu kali transit di Japanis. Ezekhiel dan Zefanya sudah berhenti sebentar di Japanis dan kini mereka berada pada penerbangan yang sesungguhnya menuju ke Nederland. Zefanya tampaknya terus terjaga selama penerbangan.
"Sweetheart, bangunlah sebentar, kau belum makan sejak dari Legacy," kata Ezekhiel mengelus pipi Zefanya agar terbangun.
"Aku tidak lapar Eze!" Saut Zefanya masih memejamkan matanya.
"Sedikit saja, kau jangan begini, kita akan melakukan serangkaian proses, kalau kau sakit sedikit saja, semua akan terbengkelai, dengarkan aku sayang! Kalau bukan aku, siapa yang harus kau dengarkan?" Pinta Ezekhiel lagi memohon.
"Hem, apa di sini ada roti daging sayang? Aku ingin itu saja," tutur Zefanya pelan.
"Sepertinya ada, biar kupesankan," balas Ezekhiel menekan tombol request makanan di bagian resto.
"Apa kau baik baik saja, Anya? Wajahmu agak memucat," tanya Ezekhiel lagi dengan cukup khawatir.
"Aku takut Eze, sejak tadi aku khawatir. Aku khawatir takut semua ini sia sia. Kita sudah melakukan semuanya tapi tidak ada hasilnya. Aku merasa akan terjadi sesuatu di Nederland," saut Zefanya sudah menegakan tubuhnya.
"Kau kenapa sayang? Mengapa kau jadi pesimis begini?" Ezekhiel memastikan.
"Karena sebenarnya aku kurang percaya diri. Aku juga tidak mau terlalu membebanimu, tuan Ezekhiel ku!" Balas Zefanya yang selalu takut menyakiti perasaan suaminya mengenai kehamilan seperti ini.
"Tidak ada membebani, kita hanya perlu menjalaninya, oke? Sudah tenanglah! Aku bersamamu. Apa pun yang terjadi nanti aku juga tidak akan kecewa. Kalau hal terakhir ini juga tidak berhasil. sudah, aku juga berhenti berjuang. Kita hadapi dunia ini berdua saja, bagaimana Zefanya? Kau lebih tenang mendengar penuturan ku?" Kata Ezekhiel lagi tidak pernah bosan memberi semangat pada istrinya.
Zefanya memandang suaminya lekat lekat. Benar apa yang dikatakan suaminya. Zefanya juga tidak mengerti mengapa tiba tiba dia merasa seperti tidak yakin dan akan terjadi sesuatu. Zefanya pun menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam pelukan suaminya itu. Ezekhiel mengusap belakang kepala Zefanya agar istrinya itu tidak sedih atau cemas lagi.
"Tenanglah, Anya! Tuhan berserta kita! Trust me!" Bisik Ezekhiel pelan dan mesra.
Zefanya mengangguk lagi. Tak lama dua buah roti daging datang dengan air mineral juga kopi hangat untuk Ezekhiel. Zefanya hendak meraih roti tersebut tapi malah Ezekhiel yang meraihnya lebih dulu. Dia membukanya dan menyuapi Zefanya. Zefanya sampai tersenyum melihat sikap suaminya yang begitu perhatian. Tidak sedikitpun berkurang sama sekali.
...
Ternyata hujan rintik gerimis menghiasi pusat kota Nederland. Zefanya dan Ezekhiel telah mendarat dan tepat pukul 5 sore mereka tiba. Zefanya mengeratkan Coat panjang yang ia kenakan. Dua koper besar mereka telah diangkut oleh petugas yang Ezekhiel sewa sampai ke luar bandara menuju ke mobil jemputan mereka.
"Kau kedinginan sayang?" Tanya Ezekhiel merangkul pinggang Zefanya.
"Sedikit sayang, em apa kita langsung ke apartemen kita?" Tanya Zefanya kembali.
"Ya, ada apa, Anya?" Selidik Ezekhiel menoleh ke arah Zefanya.
"Tidak ada, aku hanya ingin tidur. Rasanya sangat lelah berada di pesawat selama ini," balas Zefanya tersenyum tipis.
"Padahal dulu kita pernah satu kali ke sini, Anya bersama Zhavia, Gracia dan Dior waktu itu. Kau ingat kan?"
__ADS_1
"Tentu! Tapi sudah lama sekali ya,".
"Benar, Anya! Baiklah kita harus segera ke apartemen. Aku juga mengantuk karena tidak bisa tidur selama penerbangan," keluh Ezekhiel menggiring istrinya.
Zefanya mengangguk. Ezekhiel terus merangkul istrinya sampai ke mobil. Mereka pun menuju ke apartemen.
Lagi lagi kegelisahan menghampiri Zefanya ketika tengah malam dia terbangun. Mungkin karena terlalu gugup mengikuti program hamil besar ini jadi banyak kata kata yang terngiang seperti tidak bisa bisa mengikuti program ini atau sebenarnya semua kesalahan terdapat padanya. Zefanya mengubah posisinya menjadi duduk di antar tempat tidurnya. Ezekhiel masih terlelap di sampingnya. Zefanya menoleh dan mengelus pelan pipi Ezekhiel.
"Mengapa aku begitu takut sementara aku mempunyai suami hebat seperti pria ini!" Gumam Zefanya melihat wajah tenang suaminya yang tertidur pulas.
Keesokan hari nya mereka pun bersiap hendak menuju ke Rumah Sakit khusus program hamil dan bayi tabung di pusat kota Nederland. Jaraknya membutuhkan waktu satu jam dari apartemen mereka untuk sampai. Sepanjang perjalanan Ezekhiel terus memegang tangan Zefanya agar lebih rileks menemui dokter Vivian yang dokter Lilian maksud.
"Selamat pagi, kami hendak bertemu Dokter Vivian," kata Ezekhiel pada pusat informasi.
"Mohon maaf tuan, Dokter Vivian sedang bertugas di Oriental. Apakah anda Tuan Ezekhiel dan Nyonya Zefanya?" kata seorang perawat memberitahu dan bertanya kembali.
"Ya, benar. Apa dokter Vivian meninggalkan pesan untuk kami?" tanya Ezekhiel memastikan.
"Ya, dokter Vivian sudah menunjuk Dokter Thomas untuk melayani program bayi tabung anda dan Nyonya Zefanya," kata si perawat mengenai dokter pengganti.
Seketika Zefanya pernah mendengar nama itu. Jantungnya sedikit berdesir. Apa ini yang ia takutkan sepanjang perjalanan.
"Dokter Thomas? Ah baiklah di mana kami bisa menemuinya?" tanya Ezekhiel lagi.
"Silahkan Tuan dan Nyonya ke lantai dua, di sana akan ada ruangan besar di samping ruangan Dokter Vivian bertulisan Dokter Thomas," jawab si perawat mengarahkan jari telunjuknya ke atas.
"Ada apa, Anya?" tanya Ezekhiel pada istrinya.
"Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, Eze," kata Zefanya menundukan kepalanya.
"Nama siapa? Dokter Thomas?"
"Ya, Thomas Alewi, apakah itu namanya?" selidik Zefanya mencoba mengingatnya.
"Jika iya, dia siapamu, Zefanya?"
"Em, bekas kekasihku sewaktu masa sekolah. Dia memang sangat pintar sampai aku malu menjadi kekasihnya. Dia memang tampan dan kukira sangat baik," kata Zefanya menatap Ezekhiel dengan sedikit muram.
"Anya, apa maksudmu menceritakan ini?"
"Entahlah, perasaanku tidak enak! Apa kita kembali saja, tunggu sampai dokter Vivian kembali Eze," kata Zefanya memberi saran. perasaannya memang sangat tidak enak.
"Tidak! Kita harus segera berkonsultasi. Aku tidak akan peduli dia mantan mu atau bukan. Memang kau akan kembali menyukainya?" tutur Ezekhiel mengerutkan keningnya.
"Cih, kau tampan sekali jika cemburu seperti itu!" saut Zefanya terkekeh melirik suaminya.
"Kau begitu jujur menceritakan mantan kekasihmu itu. Sepertinya dia meninggalkan kenangan indah denganmu," cibir Ezekhiel.
"Mana ada, aku malah agak membencinya!"
__ADS_1
"Kau harus menceritakan padaku nanti!"
Zefanya mengangguk dan melingkarkan tangannya ke lengan suaminya menuju ke lantai dua.
Benar sudah kecurigaan Zefanya. Dunia ini benar benar sempit! Tapi, dengan begini Zefanya akan tahu, apa yang pernah dikatakan mantan kekasihnya itu benar atau tidak.
Nama yang terpampang di depan pintu ruangannya itu adalah : dr. Thomas Alewi, Sp. OG.
"Zefanya, aku suamimu! Kau tenanglah!" kata Ezekhiel menggenggam erat tangan istrinya.
"Iya sayang!"
Ezekhiel dan Zefanya mengetuk pintu dan membukanya perlahan. Seorang perawatan menyambutnya.
"Apa anda sudah membuat janji?" tanya si perawat.
"Ya, dokter Vivian yang merujuk kami pada dokter Thomas," jawab Ezekhiel.
"Baik tunggu di sini dulu tuan,"
Ternyata ruangan tersebut masih merupakan ruang tunggu dan akan memasuki satu ruangan lagi untuk bertemu dengan Thomas. Tak lama perawat tersebut memanggil Zefanya dan Ezekhiel.
"Zefanya Adonia Prime. Apa kabar sayang? Long time no see!!" panggil seorang pria di belakang Ezekhiel dan Zefanya.
Deg!
Jantung Zefanya seperti ingin pecah karena mendengar suara merdu yang dari dulu tidak berubah. Ezekhiel dan Zefanya berbalik melihat pria yang memanggil Zefanya dengan sangat akrab sementara Zefanya malah bingung bagaimana menanggapinya.
"Zefanya? Kau tambah sempurna, aku menyesal telah menduakanmu waktu itu. Halo tuan . Selamat atas pernikahan kalian. Aku Thomas Alewi. Dokter spesialis kandungan," kata Thomas mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan. Ezekhiel juga mengulurkan tangannya.
"Ezekhiel," jawab Ezekhiel datar. Sebelumnya Ezekhiel tidak pernah merasakan cemburu sedalam ini karena tidak tahu menahu mengenai mantan mantan Zefanya. Tapi sekarang dia berhadapan dengan pria setinggi dirinya dengan perawakan yang tegas dan terlihat muda. Dia memang cukup sempurna.
"Mari masuk ke ruanganku," kata Thomas lagi mempersilahkan.
"Zefanya, kau beruntung sekali sudah menikah dengan seorang tuan Ezekhiel. Sedangkan aku belum menikah sama sekali. Dokter Vivian hendak mengenalkan anaknya padaku tapi tidak pernah berhasil," keluh Thomas seperti hendak mencurahkan isi hatinya.
"Oleh sebab itu, dulu kau jangan seenaknya mengatakan hal yang belum terjadi. Kau terlalu percaya diri!" dengus Zefanya kesal dengan kesombongan Thomas dulu.
"Ya, aku bersalah. Aku tidak tahu aku harus menyesal atau tidak. Tapi, tenang saja, aku akan membantu kalian mendapatkan keturunan," saut Thomas tersenyum lebar.
"Cepat katakan apa yang harus kami lakukan?" Tanya Ezekhiel dengan sangat tegas. Zefanya merasakan aura aura tak senang suaminya. Dia pun memegang tangan Ezekhiel. Ezekhiel menoleh dan tersenyum tipis.
...
lanjut part 25 ekstra ya 😁
jangan lupa tetap LIKE dan KOMEN nya yaaa 😊
thanks for read and i love you 💕
__ADS_1