
"Jangan menguji kesabaran kami, Victor! Aku bisa saja ******* habis ragamu. Atau kamu memilih putramu? Bagaimana dengan putramu, apakah dia tak sebeharga itu?" tanya Laskar dengan ancaman khasnya.
"Jangan sentuh putraku, Brengsek! dia tak tahu apa-apa!" balas Victor marah.
"Bima? lalu bagaimana dengan Bima? Bukankah dia juga tidak tahu apa-apa?" Laskar tak mau kalah.
"Bukan aku yang memberikan perintah itu brengsek! Awalnya aku memang meminta orang-orangku untuk menghabisi pria itu dan istrinya, tapi aku nggak bisa bayar mereka dan tentu saja mereka nggak mau kerja. Gimana dikatakan bahwa aku adalah dalang dari pembunuhan itu. Untuk membayar pengacara saja aku nggak mampu. Untuk apa aku buang-buang uangku untuk menambah masa hukuman ku, Ha? Katakan, apakah aku sebodoh itu?" Victor mulai tak sabar dengan tekanan yang diberikan oleh Laskar.
"Oke.... jika ini bukan karenamu, aku percaya. Tapi.... tidak semudah itu kamu bisa lepas dari genggamanku!" ucap Laskar, lalu ia pun memukul wajah Victor hingga darah segar keluar dari hidung dan sudut bibir pria itu.
"Brengsek! Sudah aku katakan, dalang semua ini adalah dia. Dan selama ini aku telah termakan hasutan para bajinagn itu. Perusahaan itu milik papaku, aku terbakar cemburu karena dalam surat wasiat itu papah tak mencantumkan namaku. Tetapi sekarng aku sadar, bahwa aku tak membutuhkan itu. Nyatanya ibuku bisa menghidupiku, bisa menyekolahkanku tanpa bantuan keluargaku. Andai aku menyadari itu dari dulu. Aku pun nggak akan terjerumus di dalam penjara biadab ini." Victor menatap tajam ke arah Laskar, sesekali ia juga meronta marah.
"Bagaimana papamu tidak memberikan sepeserpun warisannya kepadamu? Apakah kamu anak haram?" tanya Laskar penasaran.
"Aku bukan anak haram, Bodoh. Hanya ibuku tidak dianggap menantu karena ibuku anak orang tak punya. Mereka memusuhinya lalu megusirnya dari rumah," jawab Victor jujut. Namun sayang, Laskar malah tertawa mendengar cerita Victor. Ia berpikir bahwa Victor hanya mengarang agar dirinya kasihan.
"Silakan anda tertawa, aku tidak peduli," ucap Victor, kali ini suaranya melemah karena ia tidak terpengaruh dengan ledekan itu.
"Oke, aku percaya. Terima kasih telah memberikan kami info penting. Tapi, jika sampai kamu berbohong, maka anakmu ... lenyap, mengerti! Nyawa harus dibayar dengan nyawa." Laskaar menepuk pipi Victor, lalu ia dan anak buahnya pun meninggalkan tempat di mana Victor di tahan.
__ADS_1
***
Laskar tidak bisa menutup telinga dengan informasi yang ia dapat dari Victor. Bisa saja informasi itu benar adanya.Laskar tak mau salah langkah. Menghakimi orang yang sebenarnya adalah korban.
"Amankan anak dan juga istri pria itu, pastika dia juga aman dari jangkauan musuh. Jangan sampai musuh menyakiti mereka. Jika Apa yang dia katakan benar, berarti di sini dia juga korban," ucap Laskar pada anak buahnya.
"Baik, Bos!" jawab anak buah Laskar.
Tak menunda waktu lagi, mereka pun segera mengubah strategi. Yang awalnya ingin menghancurkan Victor dan juga keluarganya. Kini Laskar mengubah rencananya. Malah melindungi pria itu. Sebab, menurutnya, Victor hanya salah jalan. Bukankah begitu?
Apa yang Laskar ketahui belum ia umumkan pada Zein maupun Juan, karena ia masih membutuhkan banyak bukti untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan. Untuk sementara ini,Laskar memutuskan untuk menyimpan sendiri informasi yang ia daparkan dari Victor.
***
Juan mengirim asistennya itu kembali ke tanah Jawa, karena menurutnya pulau ini tidak aman untuk pria tampan itu. Setidaknya sampai Gani pulih.
Tepat pukul tiga sore waktu setempat, pesawat yang membawa Gani pun sampai di tempat tujuan.
Nadia yang saat ini sudah bisa berdiri tanpa bantuan tongkat terlihat sangat cantik dengan dress berwarna pink muda. Rambut panjangnya dikuncir ekor kuda. Bibirnya memakai liptik senada. Nadia terlihat begitu manis.
__ADS_1
Senyum terus mengambang sempurna ketika melihat kedua orang tua Gani melambaikan tangan kepadanya.
Nadia membalas lambaian tangan itu. Telihat Gani tersenyum sambil duduk di kursi roda. Satu orang ajudan yang ditugaskan untuk mengawal Gani dan kedua orang tuanya, mendorong kursi roda yang dinaiki oleh Gani.
"Assalamu'alaikum!" sapa Gani pada kekasih hatinya.
"Waalaikumsalam, calon imamku," jawab Nadia lirih, namun Gani bisa mendengar jelas jawaban dari mulut manis itu.
Kebahagiaan yang kini Gani rasakan menuntun pria itu untuk membisikkan sesuatu di telinga wanita yang sangat ia cintai ini.
"Apa?" tanya Nadia ketika mendekatkan telinganya dengan bibir sang kekasih.
"Kamu cantik," puji Gani.
Nadia tersenyum lalu tanpa malu-malu ia pun memberikan kecupan di kening sang kekasih, sebagai wujud ia bahagia. Gani selamat dari maut.
"Jangan pergi melawan bahaya lagi!" pinta Nadia, menatap sang kekasih dengan tatapan sendu. Seakan ia memang tak ingin ada bahaya yang mengintai Gani.
"Insya Allah," jawab Gani.
__ADS_1
Gani tak bisa berjanji karena mau bagaimanpun perintah atasan tidak dapat ia tolak. Namun ia berjanji untuk menjaga diri demi orang-orang yang menyayanginya.
Bersambung ...