Mantan Terindah

Mantan Terindah
38. Marah Dan Kecewa


__ADS_3

...Tinggalkan jika itu membuatmu sedih, dan segera buat meminta maaf selagi ada kesempatan...


Rival berfikir apakah ia keterlaluan memperlakukan seperti itu kepada Franda apalagi kata-kata yang kasar bahkan menyinggung perasaan Franda sediri. Ia pun gelisah sambil menatap kearah atas, ia ingat sekali kalau Roy juga marah bahkan bilang kalau Rival keterlaluan sekali. Ia pun mengambil ponsel yang tergeletak diatas kasur.


Rival mencoba untuk chat Franda dan meminta maaf, layar ponsel yang dipenuhi dari grub-grub yang ada disana.


Sorry soal ucapan gue.


5 menit tak ada balasan dan Rival dianggurin oleh cewek untuk yang pertama kalinya.


Ia tidak menyerah lalu ia menelfon Franda untuk sekedar meminta maaf.


Telfonnya nyambung tapi gak diangkat sama sekali.


Kesal?


Ia melemparkan asal hingga ponselnya terjatuh ke lantai.


...•••...


Seharian dari pagi sampai pulang menjelang Franda sama sekali tidak menatap atau menegur Rival, so... bukan sok jual mahal tapi ia emang gak mau lagi kenal sama itu orang. Selama pelajaran berlangsung pun Rival menatap Franda, ia emang cowok bodoh yang hanya mengambil keputusan sepihak.


Bima berbisik kearah Albert. "Rival kayaknya baper banget sama apa yang ia lakukan itu."


"Iya banget, makanya jangan gengsi. Hahaha."


Franda mempercepat langkahnya karna ia harus segera mendahului Rival "Cer, gue duluan ya."


"Val Franda buru-buru tuh cepet kejar dia, buruan sebelum lo terlambat." Tepuk Albert yang melihat Franda keluar dari kelas. Rival pun mengejar Franda.


"Fran,"


"Fran."


"Maafin gue, gue gak---" Rival menahan tangan Franda dengan keras hingga ia kesakitan, Franda sengaja membuang muka kearah lain. Ia benar-benar tidak perduli lagi dengan Rival. Ia pun tidak perduli pesan yang masuk ke ponselnya bahkan ia blokir nomor itu.


"Lepas."


"Gak gue gak mau lepasin sebelum lo maafin gue, lo harus maafin gue dulu baru gue lepasin tangan gue." Karna suasana masih ramai jadi mereka ada saja yang kepo dengan mereka berdua.


"Minta maaf apa? Lo salah emang gue pengen balik val, udah lepasin. Mau apa sih sebenarnya?" Kedua bibi Franda bergetar, ia sakit sekali mendengar kata-kata Rival apalagi dituduh hal yang tidak ia lakukan. Chiko datang dan melepas tangan Rival. Kepalanya pun menunduk kebawah dan tidak mau menatap Rival seperti biasanya.


"Oh pahlawan baru datang, ngapain lo?"


"Lo yang ngapain?"


"Fran, lo gak usah dengerin dia ya. Bukan gue yang naruhnya, gue aja baru tau."


Franda hanya menggelengkan kepalanya ia tetap saja melangkah pergi. Percuma saja melerai mereka berdua gak akan pernah aku.


"Fran, sorry kalau kemarin itu menyinggung lo."


Tetap saja Franda tidak perduli. Rival langsung saja masuk kedalam mobil dan mengejar Franda dengan mengiringinya dari samping. "Fran, maafin gue."


"Maafin gue." Ia tidak putus semangat dan mendului langkah Franda dengan menyalip kedepan.


Rival malah menyuruh Franda untuk masuk kedalam mobil dengan paksa.

__ADS_1


Kasar? Emang Rival cowok kasar, tapi disatu sisi kalau bagi orang yang gak kenal dia, dia adalah orang yang paling rela berkorban.


"Akh..." Ia mengacak-ngacak puncak kepalanya sendiri sambil menendang apa saja yang ada didepan.


"Kenapa lo val?"


"Udah deh, ngapain kalian ada di sini?"


Ia pun kembali ke kelas untuk menemui ketiga sahabatnya yang masih disana.


Sumpah kenapa bisa seperti ini? Ia juga tidak menyangka sama sekali bisa seperti ini.


"Val, lo sih emang keterlaluan. Kira-kira lo tau gak sih siapa yang nempel foto itu? Trus ketahuan banget itu editan."


"Editan?"


"Iya editan, gue aja gak sengaja nemu lem di laci Milka kalau gak salah."


"Di Laci Milka?"


Rival langsung berfikiran kalau itu ulah mereka berdua, dan Rival juga sangat tau kalau mereka berdua emang gak suka dengan Franda.


"Apa itu ulah mereka?"


"Bener banget, mending lo cari mereka buat klarifikasi itu semua sebelum terlambat."


"Kalian bisa bantu gue?" Rival berbisik untuk mengerjai Milka dan Lusi.


"Oke gue paham, emang cerdas lo val. Gue yakin pasti mereka berdua gak bakalan lagi menampik. Emang dari awal gue udah nyangka sih mereka. Lo harus minta maaf sama Franda. Lo gak mau kalau Franda direbut sama Chiko? Trus kayaknya kak Roy juga suka sama dia."


"Kak Roy?"


...•••...


"Tuh mereka berdua makan disana, Rud kayaknya lo samperin mereka lo inget kan rencana kita tadi jangan sampai lupa?"


Rudy hanya mengangguk dan menjalankan misinya untuk membongkar Milka dan Lusi.


"Hai kalian, kalian lagi makan kok gak pulang langsung?" Ekspresi pertama dari Milka dan Lusi adalah terkejut mereka merasa aneh dengan kehadiran Rudy dihadapan mereka.


"Lo ngapain disini tumben sendiri?" Lusi emang susah buat dikadalin ia justru tipe orang yang curigaan jadi harus lebih hati-hati.


"Eee, enggak sih gue pengen curhat aja kalau misalnya----"


"Eh, gak jadi." Rudy sengaja seperti itu agar terlihat nyata.


"Ngomong aja kali rud, apa ada hubungannya sama Rival?"


Rudy dengan gaya sok polosnya ia mengangguk. "Kalau boleh tau apa?"


"Gue gak suka sama Franda."


"Hah?"


"Gue gak percaya, sama sekali nggak percaya apa yang lo omongin barusan."


"Ye gue seriusan kali, makanya gue pengen kerja sama nih sama kalian."

__ADS_1


"Apa tuh."


"Gimana kita bikin bangku Franda kita taruh lem aja?" Rudy mulai memancing kata kunci "Lem" karna beberapa waktu lalu mereka menemukan lem di laci Milka.


"Wah jangan modus itu lagi deh, soalnya udah pernah." Mendengar dengan kepolosan Milka, Lusi pun menginjak sepatu Milka karna sudah mengatakan hal itu ke Rudy yang merupakan sahabat Rival.


"Tapi lo jangan bilang ke siapa-siapa ya."


"Iya pasti." Rudy pun berfikir kalau dugaan Albert emang benar kalau mereka berdua yang jadi pelakunya.


"Gimana kalau kita permalukan Franda aja di kelas, dengan bilang dia yang mengambil uang gue?" Licik atau jahat?


Tidak bisa di toleransi Rudy pun bertepuk tangan dan memberikan kode.


"Lo ngapain rud" Belum sempat Rudy menjawab Bima, Albert dan Rival datang memergoki mereka.


"Oh jadi kalian berdua?" Suara Rival mengeras dan membuat Milka dan Lusi terkejut sekali bahkan wajah mereka dikit pucatnya dan tangan yang gemetar. Rival kalau lagi marah dia suka sekali yang namanya meledak-ledak bahkan diluar nalarnya.


"Bukan gue val, bukan gue." Milka malah menunjuk wajah Lusi begitu saja. Rival menarik paksa tangan Lusi dan Mika. Lusi dan Milka terkejut sekali ketika Rival, Bima dan Albert tiba-tiba muncul karna aneh dan bikin mereka benar-benar tersudut.


"Mau lo apa?" Rival menarik kerah Lusi,. Semua pasang mata menatap mereka. Albert, Rudy dan Bima berusaha untuk mengontrol sikap Rival yang Lusi cewek gak seharusnya ia begitu walaupun ia benar-benar marah.


"Val udah val."


"Mau lo apa sih?"


"Bikin keruh sekolah aja? Apa Franda bikin rugi lo hah? Gak kan? Lo mau gue permalukan?" Lusi pun diam dan menunduk malu tidak bisa berkata-kata lagi.


"Gue suka sama lo!!"


"Hahahah lo suka sama gue?"


"Gue bahkan tambah benci pas tau lo busuk kayak gini Lus, gue awalnya respect sama lo tapi apa?"


"Kasih gue kesempatan val, gue suka sama lo sejak lama."


"Guys gak penting kita disini buang-buang waktu."


Sebelum itu Rival kembali dan mengangkat dahu Lusi. "Tunggu, apa jangan-jangan lo berdua yang ngedit foto di mading?"


"Bukan gue tapi Milka val." Suara Lusi melemah dan ketakutan.


"Enak aja lo bilang, lo yang nyuruh gue buat edit lus, lo lupa?" Lantas Milka membela dirinya.


"Udah cukup val, mending kita cabut aja dari sini. Gue takut ketularan gak baik."


...•••...


Selama didalam mobil Rival hanya diam dan bingung kalau ia malah menyalahkan Franda yang justru tidak salah apapun. "Akh, gue harus ngapain."


"Udah val lo tenang aja Franda bakalan maafin lo kok."


"Maafin?" Tanya Rival yang ragu.


"Kalau lo yakin dan percaya selagi lo mau berusaha buat minta maaf ya pasti bakalan dimaafin dan kalau gak sung-----"


"Gue serius dan gue sungguh-sungguh buat minta maaf." Mendengar hal mereka hanya mencengir ringan dibalik Rival. Dan semakin terlihat kalau Rival udah suka sama Franda.

__ADS_1


"Huh, iya val. Gue selalu dukung lo kok."


__ADS_2