
...Berjalan apa adanya dengan perbedaan yang semakin jelas...
Tak ada lagi tegur sapa, dengan semua yang direncanakan oleh Franda.
Hambar,
Mungkin kata itu yang menggambarkan itu semua. Hari ini tepat UTS mereka semua, guru-guru membagikan soal dan lembar jawaban kepada siswa/siswi yang sudah rapi di meja dan kursi mereka. Franda begitu seksama membaca soal ujian dan mengamati setiap soal yang bagian lembarannya bahkan ketika itu juga sorot mata Rival tidak sengaja mengirim sinyal ke Franda karna meja mereka sejajar dan otomatis beradu pandangan yang tidak sengaja. Tidak ada senyum ataupun tawa semua seakan hambar. Albert, Rudy dan Bima hanya bisa mengelus dada dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Kedua sorot mata yang membuang pandangan satu sama lain. Franda juga sebenarnya merasakan hal ini entah kenapa ia sedih ketika Rival cuek dan mendengar kabar bisa tunangan dengan Rubi? Tapi bukankah itu ia mau selama ini?
Apakah ini cinta? Atau sedang jatuh cinta?
Cerry juga bisa merasakan hal itu, ia tau rasa sakit itu pasti ada. Apalagi cintanya tidak akan pernah terbalas oleh Roy cowok yang selama ini ia suka sejak lama.
"Fran."
"Kenapa cer?"
"Kita fokus dulu ya." Ucapnya, ia tidak mau ikut campur akan itu. Dan semenjak Roy dan Franda dekat sakit itu semakin terasa dan perih.
"Iya cer, semoga kita bisa sekelas lagi ya nanti. Gue gak mau kita pisah."
Senyum tipis pun tergambar untuk menyetujui ucapan Franda.
Bel pun ternyata berbunyi, waktu yang membuat mereka membuka pikiran mereka untuk mengerjakan soal. Pastinya deg-deggan banget, apalagi soal-soalnya nanti.
Semoga kamu bisa ngerjain ya, Fran." Gumam Rival dalam hati.
Seakan dayung bersambut.
"Iya kamu juga." Gumam Franda dalam hati.
"Awww."
"Kenapa kamu?"
"Enggak bu, ketarik doang." Sahut Franda dengan refleks. Ternyata Rival masih perduli buktinya aja ia menengok dan sempat berdiri tapi langsung duduk kembali.
"Duh!"
"Grogi ya diliatin Rival?" Albert sengaja menggoda Franda. Lekukan senyum dan kedua mata yang menyipit.
Kenapa harus terjebak diantara ini?
Fokus!
Fokus!
Fokus adalah tujuan utamanya!
Toh jodoh gak ada yang tau dan jodoh sudah diatur oleh tuhan.
***
Akhirnya Ujian pertama pun sudah berakhir dengan soal Bahasa Indonesia yang begitu rumit sekali ditambah juga PKN yang juga beradu pikiran. Albert menahan Rival yang melengos begitu saja sebelum Franda keluar. "Val lo beneran udah gak sama Franda?"
Ia hanya diam melihat Franda masih didalam ruangan ditambah juga senyum tipis yang menandakan kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa.
"Gue udah bosen tau gak sama hubungan kalian." Albert terus saja memaksa Rival agar mereka berdua kembali.
Rival mendekat dan berbisik ke telinga Albert "Gue udah balik sama Rubi, gue sadar kalau gue dan Rubi ditakdirkan bersama. Udah ya gue capek. Lagian belajar dulu lah yang bener." Ketika itu juga Rival pergi meninggalkan Albert yang diam saja setelah mendengar jawaban itu.
Gue tau lo bohong val!
Terkadang hati dan ucapan akan menjadi berbeda ketika seseorang merasa kalau mereka termasuk dalam cinta yang sesungguhnya. Dan itu dialami oleh Rival.
"Rud, Bim. Beneran ya? Rival sama Rubi? Semua semakin aneh ya percintaan Rival agak kandas gitu hahaha."
"Hahaha, iya juga ya. Rival juga baperan."
"Hahaha."
"Rival agak miring ya sekarang hahaha."
"Lo miring juga gak?"
"Gak lah! Gue cuma doyan makan doang!" Sahut Bima, ya seperti biasa memakan roti yang ada ditangannya itu.
***
Albert
Coba lo kembali dengan Rival, Rival itu orang baik. Dan lo bakalan menyesal tinggalin dia.
Suara pesan pun bergetar, Franda meraba ponsel yang ada ditempat tidurnya. Tapi.
Tapi beberapa detik kemudian ia terkejut sekali melihat nama Albert yang tumben banget mengirim sms. Anehnya...
Anehnya ia mengirimkan pesan yang mungkin sama dengan pengirim sebelumnya. Tapi siapa?
__ADS_1
Franda mencoba untuk mengingat itu.
"Yah nomor tidak dikenal itu? Nomor misterius itu jadi Albert? Loh kok bisa?" Gumamnya dalam hati.
Albert? Kenapa pesan ini dari Albert? Apa dia yang selama ini si sms misterius? Apa dia yang selama ini dukung gue sama Rival?
Albert?
Albert?
Albert?
Ia langsung berdiri dan mondar-mandir didepan kaca, masih belum percaya kalau itu Albert. Oh jadi selama ini dia pengirim pesan itu? Masih belum percaya sama sekali.
Sedangkan disisi lain, Albert merasa kesal sekali ketika ia baru tersadar kalau ia sedang melakukan kebodohan yang sangat fatal. Melakukan sesuatu yang selama ini ia pendam. Terkuak dengan ketidaksengajaan.
"Kenapa sih gue ceroboh banget jadi orang."
"Ish!!!! Akh... sialan. Kenapa gue sebodoh ini sih." Albert kesal kenapa ia malah mengirimkan ke nomor yang sudah di simpan oleh Franda. Jadi sebenarnya selama ini yang meneror Franda adalah Albert, ia sangat menginginkan kalau mereka berdua menjadi couple sejati dan berharap sekali kalau Franda akan membawa pengaruh baik untuk sepupu sekaligus sahabatnya itu.
Dan ia sangat yakin sekali kalau besok atau kapanpun kalau bertemu dengan Franda habislah sudah.
Gimana kalau gue----"
Gimana kalau Franda kasih tau Rival? Gimana kalau Rival tau? Gimana kalau mereka marah sama gue? GIMANA!!!!!!!!
"Bert, kamu kenapa teriak didalam kamar?" Suara samar itu jelas dari bawah.
"Iya mah enggak papa cuma nonton drama Korea doang kok!" Sahut Albert asal dan menutup kembali pintu kamarnya. Dan menyenderkan punggungnya tepat dibelakang pintu.
"Hah Albert suka sama drama Korea? Perasaan mama gak suka tuh anak!"
***
Ujian kedua pun akhir terlewati dengan sangat memuaskan.
Hujan mulai turun, jalan raya yang awalnya kering kini berubah menjadi basah akibat hujan yang begitu lebat sekali. Sedangkan Franda sama sekali membawa payung lipat ataupun jas hujan yang selalu ada didalam tasnya. Berteduh dipinggiran jalan, hujan semakin saja turun dan hampir satu jam menunggu disini. Dua preman ada disana sedang menghadang, prasangka buruk pun terus saja menghantui pikiran Franda tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan berusaha untuk tidak takut karna ia yakin selama orang itu tidak melakukan sesuatu yang negatif maka ia akan tetap tenang dan kalau dua preman itu melakukan sesuatu hal yang diluar ekspetasi maka ia akan teriak sekencang kencangnya sampai orang-orang membantunya. Perlahan melewati jalan mereka, cuma itu jalan satu-satunya untuk keluar dari area sekolah. Lantas saja kedua bola mata mereka terus saja mengawasi Franda.
"Hei, hei cantik sendirian aja!"
Dan benar saja mereka menghalangi Franda mengapit langkah untuk maju kedepan.
"Bang permisi!" Suara itu agak sedikit bergetar dan takut. Badan pun sudah dipenuhi oleh air.
"Hei cantik, Galak banget sih!" Godanya lagi. Awalnya ia ingin berteriak untuk meminta bantuan dan disisi lain tempat ini adalah tempat kekuasaan mereka untuk melakukan sesuatu dan Franda disini orang asing yang tidak memiliki kapasitas bergerak.
"Siapa tuh?" Seseorang langsung saja keluar dari mobil untuk membantu seorang perempuan yang digoda oleh dua orang preman.
Ia mengeluarkan selembar uang untuk diberikan kepada preman itu. "Ini buat kalian berdua, awas lo ya berani ganggu dia." Lalu ia kedalam mobil dan pergi meninggalkan dua preman itu.
"Makasih ya mas, kalau gak ada mas sa-----" Saking gugupnya ia tidak melihat siapa yang menolongnya itu. Dari tadi ia hanya menunduk dan ketakutan.
"Hahaha, jadi manggilnya mas nih sekarang? Gue seumuran kali sama lo!" Ketawa itu dan suara itu. Perlahan ia menengadah dan terkejut ketika....
"Chiko?"
"Makasih ya chik, lo bantuin gue." Ralatnya dan perlahan tersenyum.
"Iya sama-sama fran, lo gak papa kan? Takut ya? sampai-sampai lo lupa gue!" Ia menatap kearah Franda yang basah kuyup, kedinginan dan sedikit menggigil. Ia hanya tersenyum tipis dan mengambilkan air mineral dibelakang.
"Diminum dulu aja, gue adanya cuma ini."
"Kok bengong aja? Mau gue bukain?" Sontak Franda menggeleng pelan dan meneguk air mineral yang diberikan oleh Chiko.
"Tadi gue kasih uang aja, gak baik sih dan bisa buat mereka ketagihan tapi it's oke aja sih. Dari pada kenapa-napa iya kan?" Ocehnya sekali lagi.
"Makasih ya kalau gitu." Sahutnya yang tadi berterima kasih.
"Hm."
"Mau gue anterin balik gak? Boleh gak nih entar gue dilab----"
"Boleh kok."
"Oke." Menggaruk kepala yang tidak terasa gatal sama sekali itu adalah hal yang mungkin tidak disadari oleh setiap orang.
"Btw, dingin banget ya? Kalau gue kalau kedinginan meluk orang biar hangat." Ia berusaha untuk meramaikan keadaan mobil agar tidak hening kayak kuburan.
"Maksudnya?"
"Enggak ah, lupain aja. Gue pengen ngelawak tapi gak lucu ya? Maaf.
"Haha aneh-aneh aja. Ya udah nih gue ketawa."
"Telat fran!"
"Maaf."
"Bayar dulu goceng!"
__ADS_1
"Males ah, udah kaya."
Sebentar lagi mereka akan sampai, Mobil pun berhenti tepat didepan rumah Franda. Hujan sudah mulai reda dan daratan dibasahi oleh air hujan, subur dan rezeki dari maha kuasa.
"Eh, bentar! Habis ini langsung ganti baju atau keramas ya. Soalnya kepala lo basah kena hujan biar gak sakit kepala, saran gue aja ya."
"Iya. Makasih ya chik udah anterin balik, mau mampir dulu?"
"Gak usah gue balik dulu ya. Salam sama nyokap, bokap, adik, kakak, cing, enya. babe. Hahaha dah gue balik ya assalamua'laikum."
"Waa'laikumsalam, hati-hati."
"Dah." Lambaikan sederhana dari mereka berdua.
Franda seneng banget bisa dikelilingi oleh orang-orang baik, Dikala ada masalah maka ada jalan keluar, dan dikala ada orang yang tidak perduli masih ada orang-orang yang perduli yaitu orang yang tidak diduga sebelumnya.
Kerutan senyum tergambar dari wajah Chiko, ia tau Rival pasti menyesal telah melepas Franda dan ia tau Franda adalah perempuan baik.
Sebelum masuk dibiasakan agar terbiasakan mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Melihat Franda basah kuyup langsung menimbulkan reaksi. "Ya ampun basah banget, ganti baju sekarang. Mama buatin teh hangat ya. Awas kalau gak ganti."
"Iya mah, ganti baju dulu ya."
Makanan sudah tersedia diatas meja dan pasti enak banget untuk dimakan. "Sama siapa tadi pulang? Rival atau Roy?"
"Sama temen mah, Chiko."
"Kenapa gak bareng Rival, biasa sama dia."
"Rival udah balik duluan mah, eh mah enak banget tumben buatin ini biasa juga enggak bakalan deh."
"Kepengen aja soalnya, enak gak. Enak kok enak nambah kan hehe."
Sederhana itu bisa membuat bahagia, bahagia dengan sederhana. Sesederhana kita bisa mendapatkan bahagia, bahagia dan sederhana memang dua kata berbeda tapi dua hal yang berdampingan satu sama lain.
***
"Oh makasih ya mas." Biasa barang online Chiko datang dan diwakili oleh mama. Tanpa pikir panjang ia pun membawanya langsung ke kamar Chiko, dan melihat Chiko ada di balkon.
Chiko melamun didepan balkon kamarnya, tepatnya cuaca yang lebih redup dan sementara matahari masih terlihat jelas. Lekukan senyum tergambar dari kedua bibirnya, tepatnya senyum tipis. Kedua tangannya menggenggam gagang pagar kiri dan kanan. "Dia cantik dan sederhana."
"Dia siapa?"
"Dia adalah seorang perempuan."
"Namanya?"
"Namanya......"
Chiko membalikkan badan langsung dan ternyata itu, "Mamah? Mamah sejak kapan disana?"
"Siapa sih? Cie anak mama suka sama cewek, siapa sih?"
"Hahah Enggak kok mah, enggak sama sekali."
"Ngelantur aja, biasa mah anak abg hahaha." Sahutnya yang mengalihkan pembicaraan.
Dengan anggukan tidak percaya, ia pun mendekat dan berbisik ditelinga Chiko dengan jawaban yang menggelitik dari Chiko. "Naksir cewek ya? Jangan lupa kenalin ke mama ya. Kali aja cocok."
"Oh iya mah, tadi aku ngerjain soalnya gampang banget, syukur kan mah? mamah seneng kan? Jarang-jarang lo aku bikin mamah bangga hehehe." Kalau sudah seperti ini Chiko berusaha untuk mengatasi rasa gugup dan tegangnya itu agar tidak ketahuan kalau ia sedang menutupi masalah pribadinya itu.
"Seneng dong, ya udah jangan disembunyiin, muka kamu tuh merah kayak kepiting rebus."
Sontak Chiko memegangi kedua wajahnya dan mengambil ponsel lalu bercermin disana. "Ah iya juga."
"Mama juga pernah muda chik, jangan suka bohong deh."
"Mama ngapain kesini, tumben?"
"Nih, paket kamu datang. Mama udah teriak-teriak dibawah gak digubris."
"Makasih mah muah."
...•••...
Tiffany dan Hito ada diruang tamu, membuat Rival kebakaran jenggot melihat kemesraan mereka berdua. Biasanya nih ya, cuek banget. Tapi ini beda banget. "Aaaaaaa, enak gak? Aku bikin sendiri kok."
"Enak cuma agak keasinan aja sih."
Rival tiba-tiba berdiri dihadapan mereka. "Lo kenapa? Ngapain ganggu kita sih udah sono bareng Rubi kek, Franda kek."
"Jangan pacaran disini dong, To lo jadi nikah sama Tiffany?"
"Eeee---"
"Apaan sih lo val, efek kenapa lo! Udah ah pergi yu, ember lo." Tiffany menarik Hito yang mungkin gak enak jawaban enggak karna butuh waktu.
"Biasa orang putus cinta, kan iri hahaha."
__ADS_1
"Hus, awas lo ditabok sama Rival."
"Haha iya." Bisik Tiffany kembali.