Mantan Terindah

Mantan Terindah
33. Bekal Dan Dikenalin Ke Orang Tua


__ADS_3

Franda sengaja membuat nasi goreng spesial untuk Rival, kenapa Rival? Karna Franda kepikiran sama pesan yang ia baca di rumah melainkan sebuah surat kalau Rival harus lebih diperhatikan dan dia lagi sakit itu yang membuat pikiran Franda kepikiran. "Buat siapa?*


"Buat... buat temen mah di sekolah soalnya dia sakit."


"Oh sekalian ambil susu didalam kulkas, buat dia."


Franda mengangguk. Ia menaruh nasi yang masih panas yang sudah siap untuk ia masukkan kedalam wadah kecil. Ditambah telur mata sapi diatasnya yang sengaja ia hias agar lebih menarik. "Semoga aja lo suka, dan semoga cepat sembuh. Dan gue bisa bawa lo ke Rubi." Senyum Franda.


...•••...


Bukan hanya Franda yang membawakan bekal untuk Rival tapi Cerry yang juga membawakan untuk Roy cowok yang selama ini dia suka. Ia juga sempat tak yakin kalau masakannya tidak enak.


Sejak tadi Cerry dan Franda sengaja menunggu di kantin karna biasanya Rival dan teman-temannya atau Roy juga sering nongkrong buat nunggu bel berbunyi. Walau suasana masih belum ramai tapi sepertinya membuat jantung yang terus berpacu.


"Fran gimana nih? Gue takut buat kasih ke kak Roy? Gue gak pede buatnya. Gak usah aja kali ya."


"Udah mending lo tarik nafas, gue temenin lo buat kasih ke kak Roy. Oke?" Cerry mengangguk dan perlahan ia mendekat ke meja Roy yang asik mengobrol dengan sahabat-sahabatnya. Roy dan teman-temannya akhirnya datang juga berbarengan dengan Rival.


"Ya udah gue temenin buat kasih bekal yang lo buat ya?"


Awalnya Roy masih belum ngeh tapi langkah yang semakin dekat yang membuat mereka melirik kearah depan.


"Kak Roy nih buat kakak." Ucap Franda yang mewakili Cerry yang tidak bisa berkata-kata karna malu. Roy pun bingung dengan sikap Franda yang tiba-tiba memberikan.


"Dari Cerry kak." Lanjutnya agar tidak menyangka kalau dirinya yang memberikan.


"Se---moga suka ya kak." Cerry langsung menarik Franda untuk menjauh karna sorot mata mereka kearahnya.


"Gue kasih ini dulu ya ke Rival." Franda memberanikan diri untuk memberikan nasi goreng untuk Rival yang sengaja ia buat tadi pagi entah apa yang membuat Franda membuat nasi goreng untuk Rival.


"Rival."


"Apa?" Ia menaruh diatas meja dan memberikan tempat makan yang masih tertutup rapat lengkap dengan kantongan plastiknya.


"Ini gue sengaja buatin ini buat lo. Maaf kalau lo gak enak."


"Apa ini? Nasi goreng? Tumben lo buatin gue? Gue kan gak nyuruh lo buat buatin?" Sahutnya yang sedikit negatif. Mungkin Rival tidak suka dengan buatannya ia pun berniat untuk mengambilnya kembali.


"Ya udah kalau gak mau." Tapi tiba-tiba saja ditahan oleh Rival.


"Kalau udah dikasih jangan diambil lagi."


"Fran, dia cuma gengsi doang. Liat aja wajah Rival merah gitu." Sambar Albert didepan Franda dan kedua sahabatnya.


"Ya---- ya udah makasih kebetulan banget gue belum pesen mayan uang jajan gue simpan." Sahutnya membuka bekal yang sudah dipersiapkan oleh Franda tadi pagi. Franda ragu dengan rasa nasi goreng ia buat soalnya rada asin gitu karna kebanyakan garam. "Semoga suka."


Rival melihat nasi goreng yang begitu acak-acakkan namun dibalik itu lengkap dengan 4 sehat lima sempurna.


"Tumben banget Franda kasih lo bekal, lo yang nyuruh dia ya?"


"Enak aja, gue masih punya harga diri ya. Ya dia suka kali sama gue makanya dia kasih gue bekal."


"Tapi kenapa Cerry juga kasih bekal buat kakak lo?"


"Hah? Apa mereka janjian?"


"Udah makan aja, gak usah balik nanya atau buat aja? Kayaknya enak tuh." Rival menarik dan menyuap untuk pertama kali. Ia mengunyah dengan perlahan.


"Enak juga." Lalu ia memakan lagi dan lagi.


Kenapa ya akhir-akhir ini Franda baik banget sama gue? Kok dia kayak perhatian gitu?" Gumam Rival.


Rudy dan Bima saling tatap satu sama lain mereka mencengir pelan.


"Lo seriusan val gak mau deket sama Franda? Kayaknya dia udah mulai suka sama lo, dan lagi pula sia-sia aja gitu kalau Chiko ngerebut dia dari lo soalnya dia cewek langka."


"Apaan sih?"


Ceery terus memperhatikan Roy yang menyicipi, walaupun biasa saja tapi ia tetap saja deg-deggan.


"Ini gak bisa dibiarin mil, gue gak mau kalau misalnya Rival direbut sama Franda. Gue gak mau."


"Tenang aja kita rencanain rencana selanjutnya. Kita gak kasih ampun sama Franda. Dia gak pantas sama Rival yang pantas itu lo."


...•••...


Ia mensejajarkan langkah kakinya dengan Franda. "Gimana?"


"Gi--- gimana apanya?"


"Udah deket kan sama Rival?"


"Trus?" Ia mengkerutkan dahinya dengan bingung walaupun tau arah tujuan Chiko kemana.


Chiko menggigit bibir bagian bawahnya dan bingung harus memulai pembicaraan dari mana. "Lo seriusan kan bantuin Rival buat deket sama Rubi?"


Diam.


"Iya, tapi gue gak janji ya chik, ya udah kalau gitu gue duluan." Franda meninggalkan Chiko yang tadi menghampirinya.

__ADS_1


Chiko juga tidak memaksa sesuai dengan kemauannya tapi ini berhubungan dengan seorang sahabat maka sebagai sahabat yang baik ia akan melakukan apapun untuk sahabatnya. Ia sempat suka dengan Rubi tapi itu dulu sebelum ia tahu kalau Rubi suka sama Rival dan akhirnya mereka berpacaran tapi sekarang ia sudah melupakan hal itu dan berniat untuk membuat Rubi bahagia dengan cara menyatukan Rival dan Rubi dengan kesalahpahaman Rival saja waktu itu. Dari sana Rival sungguh membenci dirinya hingga sekarang.


Chiko menuju ke mobilnya dan singgah sebentar ke rumah Rubi.


Ia juga mulai tertarik dengan Franda, walaupun tidak begitu dekat tapi membuat Chiko ingin mengenal dan dekat. Apalagi ketika saputangan itu, yang membuat pertemuan mereka dimulai.


...•••...


"Gue pengen ketemu sama Franda chik."


"Ma--- maksudnya?"


"Temuin dia sama gue, gue pengen ngomong sebagai perempuan ke perempuan. Kasih kesempatan buat gue ketemu sama dia ada hal yang pengen bilang sama dia."


Chiko mendengar hal itu masih bingung, apa ia harus menuruti kemauan Rubi? Jelas ini tidak mudah walaupun mereka sempat bertemu.


"Mau kan chik? Lo mau gue bahagia kan?"


Chiko menarik nafas berat. Lalu ia mengangguk.


Rubi memeluk Chiko spontan.


***


Tiffany mendekat, sedangkan Hito sedang bermain games online di bangkunya. Ia takut sebenarnya dengan hal ini, ia juga belum siap kalau kedua cowok yang ada di rumah sudah mengetahui hubungannya dengan Hito apalagi ketika perlombaan waktu itu jelas sekali mereka sedang menyinggung tentang Hito terutama Rival yang membuat telinganya terasa panas langsung. "Gimana?" Tiffany bingung dengan hubungan yang mereka jalani selama ini seakan hubungan tanpa status.


"Gimana apanya?" Ucap Hito yang bingung apa yang dimaksud oleh Tiffany ia menghentikan permainan games onlinenya.


"Gimana sama hubungan kita? Kak Roy sama Rival udah mulai tau sama hubungan kita." Tiffany menunduk takut dengan hubungan diam-diam ini.


Hito menarik dagu Tiffany keatas sejajar sengan kedua bola matanya. "Kamu cerita?"


"Enggak sama sekali, aku gak pernah cerita apapun sama mereka. Aku takut gimana dong."


Sebenarnya ia juga tidak siap dengan hubungan yang harus diketahui terutama keluarga Tiffany.


Ia menarik nafas sebentar. "Ya, ya udah mau gimana lagi. Entar aku kapan-kapan main ke rumah kamu."


"Seriusan kamu berani? Kedua cowok yang ada di rumah itu agak galak loh orangnya." Sahutnya yang masih ragu.


Hito dengan percaya diri ia mengangguk saja karna sudah terlanjur ketahuan. Didalam hatinya masih ragu dan takut.


Cowok emang gitu disaat pihak cewek lagi bingung ia malah asik melanjutkan games online dan mementingkan hal itu.


"Kenapa sih tiff?"


"Gue takut kenalin Hito ke keluarga gue."


Tiffany menggeleng langsung.


"Nah ya udah nanti malam hari siap ya."


...•••...


Jam sudah menunjukkan hampir jam 7 malam ia sejak tadi mondar-mandir didepan teras rumah.


"Emang kamu beneran ngajak aku ke rumah kamu?" Ucap Hito yang gugup dan tidak siap dengan suasana seperti ini. Masuk kedalam gerbang aja ia sudah gugup dengan kaki yang gemetar. Sejak tadi Tiffany menunggu Hito di teras ia resah dan gelisah.


"Ini udah didepan rumah? Kamu gak mau masuk. Ya--- udah masuk aja dulu biar aku jelasin nantinya. Disana juga lengkap Rival, Kak Roy sama mamah papah juga."


Mendengar hal itu nyali Hito ciut bukan kepayang. Jantungnya berdebar kencang tak karuan melihat pintu yang terbuka lebar suara tv yang terdengar jelas apalagi ini masih jam tujuh malam yang biasanya lagi santai-santai di ruang tamu atau ruang keluarga.


Hito memenjamkan mata sebentar dan menarik nafas. Tiffany yang lebih dulu masuk kedalam dan Hito mengikutinya.


Dan...


Jeng-jeng... apa yang ditakuti oleh Hito terjadi sorot mata mereka langsung kearahnya. Apalagi disaat ia masuk untuk pertama kalinya, ekspresi yang datar. Tiffany sudah duduk di sofa yang masih kosong ia memberanikan diri untuk ikut duduk disamping Tiffany.


"Siapa dia?" Ucap papah yang membuka suara terlebih dahulu.


"Ehem,,, cieee." Sedangkan Rival yang sudah tau dari awal malah lebih santai begitupun Roy yang juga sudah mengetahui itu walau hanya sekedar tau.


"Kenalin ini Hito."


"Hallo, om tante. Saya Hito." Ia mencoba untuk tetap santai dan tidak untuk grogi.


"Mereka udah pacaran mah, gimana udah cocok belum mereka?"


"Apaan sih lo." Kesal Tiffany yang malah dikecengin oleh Rival.


"Jadi gimana? Apa maksud kamu tiff?"


Sebagai seorang laki-laki yang berani  Hito memberanikan diri untuk memperkenalkan diri didepan mereka. "Eee, saya pacar Tiffany om tante ,kak. Sebenarnya mereka juga seumuran tapi karna menghormati saja.


"Oh, gitu. Kok gak main kesini? Kalian baru pacaran?"


Tiffany dan Hito merasa adalah zonk mereka saling tatap satu sama lain.


Lalu seketika dengan kompak mengangguk yang padahal bukan seperti itu. Mereka sudah berpacaran sejak beberapa bulan yang lalu tapi karna belakangan ini Rival tau dan diikuti oleh Roy terpaksanya mereka mengakuinya secara mendesak.

__ADS_1


"Gitu dong ngaku, ya udah sih gak usah ada tegang gitu emang kayak lamaran aja."


"Cie udah bilang lamaran aja, wmang ada calon kak?" Tiffany balas mengejek.


"Emang ia kak?"


"Ah kok jadi bahas gue, gak nyambung kali." Kesal Roy ujung-ujungnya dia lagi dia lagi.


"Kayak kita dulu yah."


"Ah mamah didepan mereka jangan kayak gitu jadi malu tau gak."


"Hahahahaha."


"Bentar ya aku buatin minum dulu."


"Latihan ya tiff."


"Gue jitak juga lo ya." Ancam Tiffany.


...•••...


Keesokannya harinya Tiffany merasa lega karna sudah mengenalkan Hito ke keluarganya apalagi semua diluar ekspetasinya selama ini bakalan dibully atau apa. Hito pun memberanikan diri untuk itu memperkenalkan dirinya.


Raut wajahnya tidak agi tegang apalagi setiap pagi atau hal apa pasti ia selalu tegang ketika ada bisik-bisik yang membuatnya menggelitik disaat membahas Hito.


"Cie udah ketemu sama papah sama mamah? Tegang gak?"


"Iya tegang banget tau gak."


"Hahaha sama. Jadi kita gak pacaran diam-diam lagi kan?"


"Iya." Jawabnya malu-malu.


Flashback on


"Gimana kamuh ketahuan gak sama papah sama mamah kamu?"


Tiffany menarik nafasnya sebentar dengan jantung yang berpacu cepat. Tempat ini menjadi tempat mereka janjian berdua. Ia masih belum berani untuk mengatakan kalau mereka sudha berpacaran. "Aku capek tau gak?"


"Capek kenapa?"


"Capek pacaran diam-diam mulu."


"Ya kamu gak mau buat aku ke rumah kamu gimana dong?"


"Ya aku masih belum yakin Hito."


"Ya udah kita makan ini aja yuk? Aku udah beliin ini dari tadi."


"Gulali pink? Emang masih ada?"


"Ya ada dong." Sahutnya sambil tersenyum lebar.


"Ih gemes deh." Tiffany mencubit kedua pipi Hito dengan gemas.


Flashback Off


"Kenapa diem aja? Lagi mikirin apa?"


"Mikirin kita dulu kalau pacaran harus janjian, harus diam-diam dan itu ternyata bisa kita kita lewati ya?.


"


"Hahaha iya, apalagi pas hujan waktu itu. Kamu sama akuh basah kuyup."


"Hahaha inget banget. Kamu gak ngaku kalau kamu kentut kan? Hahaha."


"Ye enak aja, itu gak bener itu." Kesal Hito.


"Hahaha."


...•••...


Rubi membuka hadiah yang masih terbungkus oleh kado merah. Warna itu beda sendiri dari warna pink warna kesukaannya, ia sangat ingat sekali kalau kado itu tepat dipegang oleh seseorang yang ia harapkan sekali. Ia masih belum siap untuk membukannya.


Perlahan ia mengambil dan membukanya secara perlahan. Kartu ucapan kecil yang di tulis oleh tulisan tangan.


Selamat ulang tahun Rubi, semoga berbahagia. Dan semoga jadi pribadi yang jauh lebih baik lagi ya.


Ia langsung saja menangis seketika, bukan karna kartu ucapan atau tulisan yang ditulis. Tapi makna dari tulisan itu begitu dalam dan ia juga sangat kenal betul siapa pemilik tulisan itu.


Dia adalah...


Rival. Yang selama ini membuat hari-hari Rubi berubah, menjadi sosok yang jauh lebih baik dan suatu ketika ia sudah berusaha ia malah kehilangan siapa yang sudah merubahnya itu dengan alasan Rubi dituduh berselingkuh dengan sahabatnya sendiri yaitu Chiko, gak sama sama sekali ia tidak pernah berpacaran dengan Chiko yang sudah ia anggap sahabat bahkan seorang saudara. Memang terkadang persahabatan seorang laki-laki dan seorang perempuan gak akan pernah saling suka, itu suatu pernyataan yang sering ditampik biasanya mereka saling suka satu sama lain, atau bertepuk sebelah tangan. Tapi itu tidak berlaku bagi Rubi ia tetap akan selamanya menganggap Chiko adalah sahabat terbaik dan ia anggap sebagai saudara kandung sendiri.


Sebuah boneka kecil yang ia dapat dibalik kado itu, boneka yang sering kali mereka temui di mall biasanya Rival membelikan kalau Rubi kepengen beli atau sekedar memberi kode. Rival memang cowok yang sangat susah buat dilupakan. Harapan itu masih ada, dan masih bisa ia perjuangkan.


"Val, ayo jadi Rival yang aku kenal dulu." Harapannya dalam hati masih tersimpan.

__ADS_1


Yang biasanya jam segini Rival udah kasih kabar atau bertanya Rubi merasa ada yang hilang dari hidupnya selama ini, tak ada kebiasaan itu lagi dan mungkin tidak bisa terulang kembali.


__ADS_2