
Assalamu'alaikum🥰🥰
Saya, Rini Sya... selaku penulis novel ini, meminta maaf yang sebesar-besarnya. Karena jarang up. Emak lagi sibuk di dunia nyata teman-teman, juga sempat ada pembengkakkan di leher, jadi dokter menyarankan untuk rehat mikir dulu, tapi sekarang emak dah oke. Siap manjain kalian dengan tulisan indah emak. Semoga kalian tetap suka🥰
oke next...
****
Satu jam berlalu, akhirnya waktu yang diberikan pihak berwajib pun habis. Saatnya Victor kembali ke tahanan. Namun sebelum itu, tak lupa ia pun mencoba menyampaikan apa yang ia inginkan pada sang mantan istri.
"Aku titip Dilan ya, Ran." Victor menatap Rani penuh kerinduan. Sedangkan Rani hanya menunduk. Sebab jujur, ia merasa tak rela dengan kepergian Victor kali ini. Sungguh.
"Aku minta maaf untuk semua yang udah aku lakuin ke kamu, ke Dilan, ke kalian. Aku minta maaf karena selama ini tak bisa melihat kebaikanmu. Aku harap, kamu memaafkanku. Dan aku juga berharap, kamu mau menungguku. Menunggu kebebasanku. Aku ingin kita memperbaiki semuanya, Ran. Kamu mau kan memulainya lagi denganku?" tanya pria tampan ini. Ia juga memberanikan diri meraih tangan Rani dan menciumnya mesra.
Rani sendiri tidak menolak. Ia membiarkan pria yang memang masih menjadi pemilik utuh hatinya itu memahami dirinya. Bahwa nyatanya, hatinya masih mengharapkan pria ini mau kembali padanya yang berniat, mau memperbaiki kesalahannya.
"Kamu mau kan nungguin aku?" tanya Victor.
Rani menatap Victor, lalu ia pun menjawab, "Aku nggak bisa menjawab iya atau tidak, untuk saat ini Vic. Jujur, ucapanmu waktu itu, waktu kamu bilang tidak bisa mencintaiku, aku masih mengingatnya. Rasanya aku belum bisa melupakan itu, Vic. Sungguh aku terluka kala itu."
"Maafkan aku... saat itu aku belum menyadari, bahwa nyatanya hatiku menginginkanmu, Ran. Maafkan aku," jawab Victor.
"Itu sebabnya aku ingin kamu memastikan dulu. Aku tidak masalah jika kita hanya berteman untuk selamanya, Vic. Aku tidak bisa menjalin rumah tangga dengan orang yang tidak mencintai ku. Jujur, ketika kamu mengatakan bahwa aku tak pernah ada di hati kamu, saat itu juga aku merasa seperti pelacur, Vic. Ditiduri tanpa rasa cinta. Aku merasa sangat sakit, itu sebabnya aku tak ingin mengulangnya lagi. Aku tak ingin menjadikan ragaku sebagai wanita rendahan seperti itu," jawab Rani jujur.
__ADS_1
"Sekali lagi aku minta maaf, Ran. Jika pada kenyataannya aku hanya memberimu luka. Namun, satu yang perlu kamu tahu, bahwa ketika aku menggaulimu, saat itu yang ada di pikiranku adalah kamu. Bukan wanita lain. Aku berani bersumpah soal itu," balas Victor tak mau kalah.
Rani tak menjawab apa yang Victor ucapkan. Sebab hatinya dilema. Antara percaya dan tidak. Antara ingin menerima namun takut. Ingin menolak namun juga tak rela kehilangan. Ahhh, entahlah... Rani masih gamang.
Victor tak ingin kegalauan Rani menjadi penghalang hubungan mereka. Dengan penuh keberanian, pria tampan ini pun menarik pinggang sang kekasih hati. Mendekap wanita ayu itu. Memaksa wanita itu untuk menatap matanya. Agar sang wanita mencari tahu sendiri jawaban atas keraguan yang ada di dalam hatinya.
"Apakah kamu tahu, Ran. Bahwa selama ini aku gelisah tanpamu?" tanya Victor.
"Kenapa?"
"Entah! Aku rasa, aku merindukanmu."
"Kenapa nggak telpon?" tanya Rani lugu, seakan lupa dengan pertengkaran yang pernah terjadi di antara mereka. Ataukah ini hanya pertanyaan yang ditujukan untuk menutupi rasa yang ada. Entahlah, hanya Rani yang tahu.
"Bagaimana telpon? Aku takut kamu menolakku."
"Tidak, Ran. Aku serius. Aku sangat takut menghubungimu. Aku takut, jika aku nekat, aku malah menyakitimu." Victor masih belum mau melepaskan dekapannya. Meskipun beberapa kali Rani mendorong lembut dadanya.
"Lalu ini apa? Ini pun pemaksaan namanya," jawab Rani.
"Aku tahu, tapi aku ingin egois, Ran. Aku tidak mau menahan hatiku lagi. Maafkan aku!"
Rani diam, lalu memberanikan diri menatap mata pria yang kini mendekap nya.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana Vic? Haruskah aku menerimamu lagi? Haruskah aku percaya samamu lagi? Aku takut, Vic. Aku takut kecewa lagi."
"Kali ini, aku memohon padamu, Ran. Tolong berilah aku kesempatan sekali lagi. Tolong beri aku kesempatan untuk menebus kesalahanku. Tolong izinkan aku membuktikan, bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu.
Rani menundukkan kepalanya. Ia takut, Victor akan menangkap debatan aneh yang ada kini sedang mengepung jiwanya. Rani takut, ia akan gagal menahan inginnya. Ia juga takut, kalo pada akhirnya ia kalah menutupi apa yang sedang ia sembunyikan saat ini.
Yaitu rasa. Rasa yang memang hanya tercipta untuk pria yang memberinya satu putra. Rani takut terluka.
Victor sendiri tak mau kehilangan kesempatan di depan mata. Tanpa meminta izin, pria ini pun mendekatkan bibir mereka. Mencium lembut bibir itu penuh cinta. Penuh gairah.
Rani sendiri tak menolak. Sebab ia ingin. Ia menginginkan sentuhan Victor. Ia merindukan sentuhan lembut pria itu.
Sungguh mereka berdua sangat menginginkan ini.
Victor melepaskan ciuman mereka. Dengan perasaan yang sulit diartikan, Rani mencoba menyembunyikan kesedihannya.
"Jangan sedih, Sayang! Percayalah, aku pasti akan kembali. Aku akan kembali untuk membahagiakan kalian. Aku janji," ucap Victor, masih mendekap mesra Rani.
"Aku bodoh ya? Kamu pasti ketawain aku sekarang?" ucap Rani.
"Tidak, Sayang? Kamu tidak seperti itu. Akulah yang bodoh. Karena nggak bisa memahamimu. Justru aku bersyukur, Karena aku adalah pria yang beruntung. Bisa memiliki cintamu. Masih mendapatkan kepercayaan dan juga hatimu. Nggak ada lagi yang aku inginkan selain itu, Sayang. Kamu adalah hadiah terbaik yang Tuhan kirimkan untukku. Aku mencintaimu, Rani. Sungguh!" jawab Victor sungguh-sungguh.
Sekarang, tak ada lagi yang bisa Rani maupun Victor lakukan untuk menyembunyikan rasa yang memang ada di antara mereka. Cinta itu memang tercipta untuk masing-masing hati. Untuk apa lagi dititipi, benarkan?
__ADS_1
Dengan ketulusan hati dan keikhlasan yang ia miliki, Rani pun siap menunggu Victor kembali. Menunggu pria itu dengan cintanya, dengan ketegaran gang ia miliki.
End